Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Unboxing


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam tanpa ada yang berbicara sepatah katapun. Singha menancap gas nya agar segera sampai ke rumah Anggara. Beruntung dia mendapatkan alamat itu dari kakaknya Santika.


"Ini rumahnya bukan?"


"Hmmm."


"Terimakasih sudah mengantar," ucap Rengganis dengan nada yang masih kesal. Dia segera berbalik hendak masuk, namun tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Tiga mobil sudah berjejer, bersiap untuk keluar.


Mobil paling depan berhenti, pintunya terbuka lalu Bu Sari turun dari sana.


"Nis ...." Bu Sari memeluk Rengganis dengan erat. "Kamu ke mana aja? Kami semua cemas di sini. Habis dari mana kamu?" tanya Bu Sari sambil memeriksa keadaan Rengganis.


"Wajah kamu kenapa?"


"Bukan apa-apa."


"Lo kenapa sih bikin kita semua takut aja. Lain kali kalau pergi bawa ponsel."


"Maaf."


"Ini lagi, siapa orang ini? Apa jangan-jangan Lo pergi seharian sama dia?"


"Saya bertemu dia di jalan sedang tersesat, kami tidak pergi seharian. Lagian kami tidak saling kenal." Singha menjelaskan.


Dari arah belakang, datang sebuah mobil. Dia berhenti tepat di samping motor Singha.


"Nis." Anggara keluar. Dia berlari menghampiri Rengganis.


"Kamu ke mana aja? Saya nyari kamu kesana kemari. Dari mana saja? Kamu terluka tapi pergi begitu saja."


"Serius?" tanyanya meledek.


"Nis, saya minta maaf. Semua sudah selesai, kita akan menjalankan pernikahan kita sesuai rencana awal, oke."


"Apa semua laki-laki seperti kamu, Mas? Dengan mudahnya melepaskan hati yang lain demi hati wanita lainnya," tanya Rengganis sambil menatap Singha.


"Hentikan kalian semua, saya butuh istirahat."


Rengganis yang hendak pergi, kembali lagi.

__ADS_1


"Terimakasih telah menyelamatkan saya hari ini. Semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi di saat yang baik," ucapnya pada Singha.


Rengganis pergi.


"Nak, terimakasih telah mengantarkan anak saya pulang ke rumah."


"Sama-sama, Bu."


Bu Sari dan Amara kembali ke dalam menyusul Rengganis. Pun dengan Anggara, namun langkahnya dihentikan oleh Singha.


"Ada apa?" tanya Anggara tidak suka karena dia datang bersama Rengganis.


"Selesai? Apa kamu memutuskan hubungan dengan Santika? Aku memang tidak tahu banyak, tapi dari ucapan wanita tadi dan apa yang terjadi aku bisa menyimpulkan satu hal."


"Dari mana kamu tahu tentang Santika?"


"Dia anak dari adik orang tuaku. Secara jelasnya kami masih sodara."


Anggara terlihat terkejut.


"Jika menikah dengan wanita tadi, lalu apa yang terjadi pada Santika?"


"Itu bukan urusan kamu."


"Kamu mau apa sebenarnya? Jangan ikut campur urusan orang. Pergi sekarang sebelum aku kehabisan kesabaran."


Singha mengeraskan rahangnya, memakai helm, lalu menancap gas dengan kencang.


"Kenapa aku bisa tidak tahu jika Santika punya sodara seperti dia?" gumam Anggara.


Tok tok tok.


Anggara berusaha mengetuk pintu kamar Rengganis. Tidak ada jawaban.


"Nis, buka sebentar. Saya mau bicara."


Pintu terbuka.


Rengganis kembali ke atas kasur setelah membuka pintu kamarnya. Anggara pun ikut duduk di samping Rengganis.

__ADS_1


"Saya minta maaf atas apa yang terjadi hari ini."


"Bukan salah mas, kok. Mungkin saya saja yang tidak beruntung. Sekalinya bertemu pria baik, dia telah menjadi milik orang lain." Rengganis kembali meneteskan air mata.


Anggara dengan lembut mengusap air mata yang jatuh di pipi Rengganis. Seketika, amarah Rengganis pada Anggara hilang sudah. Wajahnya kembali memerah dan hatinya kembali berdegup untuk Anggara.


"Saya benar-benar panik setelah sadar kamu pergi. Bahkan Santika saya tinggalkan di sana sendiri."


"Saya tidak percaya," ucap Rengganis. Sementara hatinya sudah kalang kabut mendengar ucapan Anggara, terlepas benar atau tidaknya.


"Saya tidak bohong, Nis. Saya benar-benar cemas dan khawatir. Tapi untunglah kamu sudah pulang dengan selamat."


"Lalu apa keputusan, Mas?"


"Saya akan tetap menikahi kamu."


"Apa itu artinya mas akan melupakan wanita itu?"


"Saya akan berusaha."


"Benarkah?"


Anggara menatap Rengganis mencoba untuk meyakinkan gadis itu.


"Kalau begitu, coba buktikan." Rengganis memberikan tantangan pada Anggara. Anggara terdiam karena dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rengganis.


Dengan sekuat tenaga dia mengumpulkan keberanian, lalu mencium bibir Anggara.


Setelah apa yang dilakukan Rengganis, Anggara akhirnya mengerti. Lalu dia menjawab tantangan Rengganis dengan memberikan apa yang Rengganis inginkan.


Maafkan aku, sayang. Gumam Anggara di tengah-tengah permainannya bersama Rengganis.


"Maaf jika ini sakit," bisik Anggara pada Rengganis.


"Lakukan saja, Mas."


Akhirnya mereka sampai pada titik permainan. Keduanya terlentang dengan nafas tengah-tengah. Rengganis mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Sementara Anggara segera mengambil pakaiannya dan pergi meninggalkanku Rengganis seorang diri di dalam kamarnya.


Rengganis menangis sejadinya.

__ADS_1


Anggara berdiri di ujung kolam renang, menghisap batang rokok dengan penuh tenaga. Sesekali dia mengepalkan tangannya berusaha menahan emosi.


"Aaaaarrrrghhhh!" Anggara berteriak. Dia menghempaskan tubuhnya ke kolam renang. Menyelam cukup lama di dasar kolam berharap dia tidak akan pernah muncul ke permukaan lagi.


__ADS_2