Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Kenal lebih jauh


__ADS_3

Duduk sambil melihat langit di rooftop adalah hal yang menyenangkan bagi Rengganis. Dia seperti berada di dunia lain. Tenang dan damai. Bintang kelap kelip sesekali menghadirkan senyum di wajahnya yang cantik.


"Sudah larut, Non. Nona belum tidur juga? Saya cari ke mana-mana." Inne datang sambil menguap.


"Coba kamu liat ke atas. Tenang bukan?"


Inne melihat langit sesuai ucapan Rengganis.


"Yang ada leher saya sakit, Non."


Rengganis tersenyum tertawa. "Kamu ngapain ke sini? Sana tidur lagi."


"Tadi saya ke toilet, entah kenapa ingin melihat ke kamar nona, kaget nona gak ada di kamar."


"Tau aku ada di sini?"


"Tau dong, Non. Ke mana lagi nona akan pergi melamun sendirian."


Rengganis kembali tertawa.


"Mungkin bagi Non yang sudah memiliki segalanya, melihat langit adalah hal yang menyenangkan. Ya karena non tidak memikirkan hal lain, non tidak punya beban pikiran. Tapi untuk kalangan saya yang jauh dari kata kaya, melihat langit adalah hal yang sia-sia."


"Kenapa?" Rengganis menoleh.


"Karena pikiran kami sibuk tentang bagaimana besok makan, bagaimana biaya sekolah, bagaimana ini dan itu."


"Kamu punya orang tua?"


Inne mengangguk.


"Baik?"


Pelayan itu kembali mengangguk.


"Kamu tau sendiri bagaimana saya ada di rumah ini bukan? Kamu juga pasti tau ada di mana saya sebelumnya? tapi kamu tau ini?" Rengganis memperlihatkan punggungnya, ada bekas luka di sana.


"Kamu tau tentang ini?" Ada bekas luka di kepala bagian pinggir Rengganis.


"Ini adalah luka yang sakitnya sudah hilang, tapi traumanya masih ada sampai saat ini. Mungkin di mata kamu orang kaya seperti kami tidak memiliki masalah, itu karena kamu hanya melihat dari sudut materi. Kami juga manusia, Inne. Kami memiliki masalah yang justru lebih berat."


"Non, itu luka bekas apa?"


Rengganis tersenyum. "Luka karena disiksa oleh bapak yang merawatku selama ini."


Inne segera menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Sekarang aku bahkan memiliki masalah yang sangat besar, Inne. Menatap langit adalah cara agar hatiku sedikit lega. Mungkin masalah ini tidak akan sanggup kamu hadapi jika menimpa dirimu."


"Maafkan saya, Nona."


Rengganis menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa. Manusia memang sering salah berprasangka pada manusia lainnya."


"Sawang sinawang mungkin ya."


"Apa itu?"


"Seperti yang saat ini terjadi, Non. Saya menganggap non tidak punya masalah, padahal banyak. Pun sebaliknya. Kita hanya menduga-duga kehidupan orang lain dengan melihat luar nya saja."

__ADS_1


Rengganis mengangguk.


"Sekarang ... Ayo kita ke kamar. Lebih baik kita tidur karena besok kita harus ikut tuan Singha untuk memilih undangan."


"Kamu benar. Ayo kita pergi."


...***...


Pagi menyapa. Aktifitas seperti kebanyakan orang lainnya. Mandi, sarapan, lalu bersiap untuk melakukan aktifitas lainnya.


Setelah sarapan bersama keluarga, Rengganis kembali ke kamar untuk bersiap-siap karena sebentar lagi Singha menjemput.



"Non, tuan Singha sudah datang." Inne masuk ke dalam kamar Rengganis.


"Aku sudah selesai."


Rengganis kembali melihat cermin, memastikan jika dirinya sudah terlihat sempurna tanpa ada yang salah sedikitpun.


"Udah cantik, kok, Non."


Rengganis segera menoleh pada Inne yang ada di belakangnya. Dia tersenyum senang, lalu berlari kecil menuju ruang tamu. Ada Singha di sana sedang duduk sambil minum jus jeruk.


"Uhuk!"


"Kamu kenapa?"


Singha sekali lagi melihat Rengganis.


"Kamu gak salah pake baju itu? Sayang, kita mau ke rumahku dulu."


"Aku tidak ingin keluarga ku terutama pria, melihat lekuk tubuhmu secara cuma-cuma. Biarkan aku saja yang menikmatinya, oke?"


Rengganis cemberut. Dia kembali ke kamar untuk berganti pakaian.


"Jangan marah, Nona. Benar apa yang dikatakan tuan Singha. Jadikan tubuh Nona itu mahal, hingga orang harus berjuang seperti tuan Singha untuk bisa menikmatinya."


Rengganis menata kesal pada Inne. Pelayan itu tertawa karena saat Rengganis marah, wajahnya akan terlihat sangat menggemaskan.



"Nah, ini dia. Ini baru calon istriku yang high value. Anggun dan berkelas. Jangan marah, ayo senyum."


Rengganis tetap cemberut.


"Jika hanya di depanku nanti, aku lebih suka melihat kamu tidak pakai apa-apa, serius."


Bugh!


"Awww."


Rengganis memukul dada kekasihnya.


Tibalah mereka di rumah Singha. Dari luar mereka mendengar suara yang ramai. Sepertinya ada tamu yang datang.


"Ngapain Lo di sini?" tanya Singha. Dia tidak suka melihat keberadaan Santika di sana, Singha takut Rengganis akan bertemu dengan Anggara.


"Maen, gak boleh emang? Oma mau ketemu cicitnya, salah?"

__ADS_1


Singha melirik sinis.


Sementara Rengganis fokus pada dua anak kembar yang sedang bermain di atas karpet bulu.


"Perasaan waktu itu cewek cowok, kenapa sekarang cowok semua?" tanya Rengganis.


"Namanya juga alat buatan manusi, wajar jika salah."


"Iya, sih. Boleh aku maen gak sama mereka?"


"Boleh. Lagi pula sebentar lagi Lo akan jadi budenya juga."


Rengganis tersenyum. Dia berjalan sambil membungkuk. Tersenyum manis pada dua bocah yang kini tersenyum padanya.


Santika menatapnya dengan tatapan sinis.


"Lo tau gak kenapa gue ada di sini?" tanya Santika.


"Kenapa?" Lalu Rengganis kembali bermain bersama bayi-bayi itu.


"Gue pergi dari rumah."


Seketika senyuman Rengganis, memudar.


"Rumah kami dijadikan jaminan ke bank untuk meminjam uang. Anggara menjalankan proyek, tapi gagal. Yaaa, daripada nunggu diusir, lebih baik pergi duluan."


"Gagal? Emang dasar laki Lo gak becus dalam segala hal," ejek Singha.


Santika menatap kesal pada Singha. "Itu karena proyek suami gue dihancurkan oleh nyokap Shakeera, yang tak lain adalah calon mertua lo ... Singha."


"Jangan mengada-ada. Ketidakmampuan nya jangan dialihkan dengan memfitnah orang lain. Seorang pengusaha seperti Pak Nugraha tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu."


"Tapi bagaimana jika itu dia lakukan karena untuk membalas dendam penderitaan putrinya?" tanya Santika dengan santai.


"Tidak mungkin papa melakukan itu. Meski baru bertemu dengannya, tapi aku yakin papa bukan orang seperti itu."


"Tanyakan saja langsung padanya."


Rengganis masih berbaik sangka dan tidak terpengaruh oleh ucapan Santika. Hanya saja dia juga tau bagaimana Anggara.


"Aku pergi." Rengganis langsung pergi meninggalkan rumah Singha.


"Sayang, tunggu." Singha mengejar Rengganis.


"Tunggu sebentar, mau ke mana?" tanya Singha sambil menarik lengan Rengganis.


"Tenang dulu, jangan buru-buru terpengaruh oleh ucapan Santika. Kita semua tahu bagaimana dia bukan?"


"Aku harus bertanya langsung pada papa."


"Sayang, dengarkan aku dulu. Sayang, papa kamu terkenal dikalangan pengusaha sebagai orang yang tidak pernah menyikut perusahaan orang lain. Jadi, kamu janga--"


"Tapi aku tau bagaimana Anggara."


Singha yang hendak melanjutkan ucapannya, langsung terdiam. Dia merasa kesal saat mendengar ucapan Rengganis.


Dadanya memburu.


Rengganis melepaskan tangan Singha, lalu pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2