
"Aku dan Anggara sudah lama saling kenal, mungkin sudah hampir tujuh tahun kami berpacaran. Cuma yaaa, ibu tidak pernah merestui hubungan kami berdua."
"Kenapa?"
"Ibu pikir aku terlalu pintar untuk jadi istri Anggara dan takut akan menguasai Anggara dengan semua harta yang dia miliki."
"Apa itu alasan ibu memilih saya? karena saya bodoh dan tidak mengerti apa-apa."
Anggara dan Santika saling menatap.
"Bukan begitu, mungkin ibu punya alasan lain memilih kamu. Kamu itu cantik, kata Anggara kamu juga baik."
"Jika karena cantik, kamu jauh lebih dari saya dalam segala hal. Alasannya sudah jelas, itu karena saya gadis kampung yang tidak mengerti tentang harta dan perusahaan."
"Saya akan mengikhlaskan kalian menikah," ucap Santika. "Saya hanya minta satu hal sama kamu, izinkan Anggara terus menjalani hubungan dengan saya, ya?"
Rengganis tersenyum miris.
"Kalian juga jelas menganggap saya ini bodoh bukan?"
"Bu-bukan begitu, Nis."
"Mas, mas mau kita tetap menikah?" tanya Rengganis.
"Tentu saja."
"Kalau begitu, belajar lah mencinta saya dan meluapkan wanita ini. Saya tidak mau menikah jika dalam hati mas masih ada perempuan lain."
Plakkk!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rengganis. Santika murka.
Rengganis menyunggingkan senyumnya yang sinis.
"Kau tahu, aku bahkan pernah menerima pukulan yang lebih keras dari ini," ucapnya dengan tatapan mata yang tajam ke arah Santika.
Sementara Anggara masih merangkul Santika agar tidak semakin menggila pada Rengganis.
"Ayo kita pulang, Mas."
Santika yang sedari Sari berusaha melepaskan diri dari Anggara mulai melunak. Ajakan Rengganis, apakah Anggara akan menurutinya? Santika penasaran. Dia menoleh, memandangi wajah kekasihnya mencari jawaban.
Perlahan tangan Anggara melemah, lalu turun perlahan. Dia tidak berani menatap kekasihnya, dan memilih untuk pergi menuju mobil.
__ADS_1
"Kau mungkin kekasih hatinya, tapi akulah yang akan menjadi istrinya. Kita lihat saja, pada siapa langit akan berpihak."
"Hh! Aku pikir Anggara benar bahwa kamu adalah wanita yang lugu dan baik hati, ternyata aku salah."
"Aku tidak pernah mengatakan baik buruknya diriku, hanya saja aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil suamiku. Ingat itu!"
Santika mengepalkan tangannya dan bersiap memukul Rengganis.
Bugh!
Rengganis tersenyum penuh kemenangan saat dia merasakan nyeri dan panas di hidungnya. Setelahnya, dia merasakan aliran hangat nan bau amis mengucur melewati bibirnya.
"Setidaknya Anggara harus tau seperti apa wanita yang dia cintai selama ini. Terimakasih karena telah menandainya sendiri," ucap Rengganis sambil menunjuk hidungnya selama yang berdarah.
"Kurang ajaaaar!" Santika berteriak histeris. Rasa amarahnya tidak bisa dia kendalikan, bukannya sadar sikapnya akan menjebak dirinya sendiri, Santika semakin kasar. Dia menjambak rambut Rengganis tanpa perasaan sedikitpun. Gadis desa yang dulu lugu itu membiarkan dirinya dihajar oleh Santika.
Orang-orang yang kebetulan ada di sana berusaha melerai.
Rengganis pura-pura menangis. Dia sengaja bersikap begitu mengenaskan.
"Dia pura-pura! Dia sengaja memprovokasi saya biar saya marah, Pak."
"Tolong antar saya ke mobil, Pak." Rengganis memelas.
"Jangan sentuh wanita itu." Anggara menepis orang yang membantu Rengganis.
"Maaf, Pak. Tadi mba ini dihajar sama wanita yang satunya lagi, kami hanya menolong. Tidak ada maksud lain."
"Oh, maaf, Pak. Terimakasih sudah membantu. Sekali lagi saya minta maaf."
"Iya, sama-sama."
Anggara memapah Rengganis menuju mobil.
"Anggara!" Santika berteriak.
Langkah Anggara dan Rengganis terhenti. Mereka membalikan badan untuk bisa melihat Santika.
"Sayang, dia pura-pura. Tadi aku emosi dan diprovokasi sama dia. Percaya sama aku, ya."
Santika berusaha mendekat. Untuk melindungi dirinya, Rengganis berpura-pura gemetar ketakutan. Dia berusaha berlindung di belakang tubuh Anggara.
"Kenapa kamu berlindung di belakang Anggara, tadi kamu malah mempersilakan diri untuk dihajar. Dasar kurang ajar!" Santika berteriak.
__ADS_1
"Hentikan!" Anggara balik meneriaki Santika.
"Sayang?"
"Cukup, Santika. Sudah aku katakan jika pertemuan ini harus membuahkan hasil yang baik. Jika seperti ini dan ibu tau, aku sudah tidak akan bisa lagi membela kamu."
"Tapi, sayang. Dia itu sengaja minta dipukul."
"Haruskah aku percaya?"
"Maksudnya kamu gak percaya sama aku?"
"Bukan begitu, sayang."
"Kita bareng bukan baru sehari dua hari, Anggara. Kamu masih belum kenal siapa aku? ngapain saja selama ini? Kamu malah percaya sama wanita yang baru saja kamu kenal!" Santika terlihat begitu emosi dan frustasi pada apa yang sedang terjadi.
"Aku sengaja mempertemukan kalian agar kamu bisa bicara baik-baik, kalau hasilnya malah Rengganis babak belur, itu sama saja kita bunuh diri. Selama ini ibu ragu sama kamu, kalau begini jadinya itu artinya kamu membenarkan keraguan ibu, Sayang." Anggara menjelaskan dengan nada yang lembut agar Santika tidak kembali emosi.
"Aku muak sama ibu kamu. Selama ini aku berusaha memperbaiki diri, aku berusaha menjadi apa yang dia inginkan, tapi hasilnya apa? Hanya karena aku berpendidikan dan pintar lantas ibu kamu curiga aku akan menguasai harta dan diri kamu. Gak masuk akal tau gak!?" Bibir Santika bergetar.
"Akuu minta maaf, Sayang." Anggara berusaha meraih tubuh Santika, lalu mendekapnya dengan lembut.
Rengganis memejamkan matanya karena tidak ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh Santika dan Anggara. Dia memutuskan untuk pergi, tanpa disadari Anggara ataupun Santika.
Rengganis terus berjalan tanpa arah tujuan. Baginya yang terpenting adalah menjauh dari pujaan hatinya yang sedang menenangkan hati wanita lain.
Rasa sakit yang ditimbulkan akibat ulah Santika mulai terasa meski pada awalnya biasa saja.
Kepalanya terasa sakit dan perih, beberapa helai rambut yang lepas bahkan menempel di wajah dan bajunya.
Hidungnya terasa nyut-nyutan.
Saat sadar, langkah Rengganis sudah sangat jauh dari tempat semula. Dia berada di tengah-tengah kebun teh. Saat melihat sekeliling, semuanya hanya pohon teh dan kebun kayu sengon disepanjang sisi kebun itu.
Rengganis mulai menangis. Dia duduk di atas batu besar sambil menatap hamparan hijau teh.
Dia menyeka darah di bawah hidungnya namun sudah mengering. Mengusap kepalanya yang pusing.
Mengasihani diri sendiri yang entah di manapun dia berada selalu saja mendapatkan luka fisik yang menyakitkan. Hanya saja ini lebih sakit dari pukulan bapak nya semasa di kampung. Rasa sakit itu karena diikuti oleh luka hati yang dirasakan Rengganis.
"Ternyata ada yang lebih sakit dari pukulan bapak. Jika tahu akan begini, aku lebih baik hidup sama bapak. Pak, jemput Anis."
Rengganis memeluk lututnya sambil terisak. Hari semakin sore. Matahari mulai berjalan ke peraduannya. Rengganis kembali melangkahkan kakinya meski dia tidak tahu harus ke mana. Yang penting dia harus mencari jalan raya. Setidaknya di sana akan ada seseorang, pikirnya.
__ADS_1