
"Apa yang kamu katakan pada pak Nugraha? Aku dengar dari Santika jika proyek itu kembali ke tangan Anggara," tanya Singha saat mereka makan malam di luar setelah memilih souvernir pernikahan.
"Emmm apa ya? Aku cuma minta papa balikin aja, udah."
"Hanya itu?"
Rengganis tampak berpikir, "Iya. Apalagi?"
Singha seperti tidak yakin pada ucapan calon istrinya. Singha yang tahu bagaimana Pak Nugraha merasa heran karena sosok Nugraha yang konsisten bisa luluh oleh Rengganis.
Sebesar itukah cinta Pak Nugraha untuk Rengganis? Dia sampai lupa pada prinsipnya berbisnis.
"Hai ...."
Rengganis dan Singha menoleh bersama padaa seseorang yang baru saja menyapa mereka.
Bahkan tanpa dipersilakan pun orang itu langsung duduk di kursi kosong meja makan mereka.
"Dion?"
Singha yang terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidak dikenal, semakin terkejut dengan Rengganis yang ternyata tau siapa orang itu.
"Ganggu?"
Rengganis menggelengkan kepala. "Habis dari mana? Sengaja mau makan di sini?"
"Iya."
"Sendirian?"
"Enggak."
Rengganis melihat sekeliling, sepertinya tidak ada orang yang datang bersama Dion.
"Kan ada kalian, jadi aku bertiga sekarang."
Singha mencoba mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan. Dia meletakkan alat makannya karena seleranya sudah sirna dalam sekejap.
"Udah persen? Aku panggil pelayannya ya."
Rengganis memanggilkan pelayan tanpa melihat ekspresi Singha yang sudah seperti banteng yang siap mengamuk.
"Kamu habis dari mana? Apa sengaja juga makan di sini?"
__ADS_1
"Aku habis nyari souvernir pernikahan."
"Pernikahan?"
Rengganis mengangguk. "Kami akan menikah dalam waktu dekat. Oh, iya. Kenalin itu Singha calon suami aku, dan ini Dion anak temen papa."
Baik Singha maupun Dion tidak ada yang mengulurkan tangan. Singha fokus pada makanannya yang hanya sekedar dia aduk, sementara Dion sibuk menatap Rengganis.
"Kalian kenapa sih? Ayo dong berkenalan."
"Besok aku main ke rumah ya, sudah lama tidak bertemu dengan Tante Nhabira. Terkahir bertemu saat beliau masih sakit."
"Boleh, datang aja. Mama pasti seneng ketemu sama kamu."
Dada Singha semakin tidak karuan. Seperti ada bom dalam dadanya yang siap meledak saat ini juga.
Dion sadar, calon suami Rengganis tidak suka dia berada di sana.
"Aku pamit, ya. Sampai bertemu besok di rumah."
"Oke, hati-hati ya."
Dion melambaikan tangan pada Rengganis, dengan wajah yang sengaja dibuat semanis mungkin.
Kemarin? Kenapa dia tidak cerita?
"Kemarin aku ke kantor papa, cuma pegawai di sana--"
"Aku sudah kenyang. Ayo kita pulang." Singha menyela ucapan Rengganis yang belum selesai.
"Udah? Aku masih mau makan."
"Take away aja. Nanti aku pesankan lagi."
Singha pergi ke kasir untuk membayar sekaligus memesan menu yang sama untuk dia bawa pulang.
Saat diperjalanan, Rengganis masih tidak sadar pada rasa. cemburu yang dirasakan Singha. Dia masih asik bercerita tentang segala hal sementara Singha diam membisu.
Mereka pun sampai. Rengganis turun dari mobil, dan Singha langsung memundurkan mobilnya secepat yang dia bisa. Tanpa berpamitan, Singha langsung pergi dari sana.
"Singha!" Rengganis mengejar mobil itu sampai depan gerbang.
Suara gaduh mobil Singha memecah keheningan malam dan sunyi nya komplek perumahan yang Rengganis tempati.
__ADS_1
"Dia kenapa sih?" gumam Rengganis sedih karena Singha mengabaikannya sejak tadi.
"Ada apa?" tanya Kenan yang melihat semua kejadian tadi dari dalam rumah.
"Gak tau, tiba-tiba dia kayak gitu. Kalau marah, harusnya dia bilang kan?" Rengek Rengganis.
"Tadi papa bilang kamu ke kantor ya? Ada Dion juga katanya."
Rengganis mengangguk. "Tadi saat kami makan pun Dion ada nyamperin."
Kenan mengangkat kedua alisnya. "Ck ck ck, adik kamu beneran gak tau Singha kenapa?"
"Enggak."
"Dia cemburu karena kehadiran Dion."
"Cemburu? Loh, aku kan gak ngapa-ngapain sama Dion."
"Adik, Sayang. Dengerin kakak, Singha itu tipe orang yang sebenarnya over protektif. Kamu harus tau itu. Dia bisa cemburu buta sama kamu meski kamu gak ngapa-ngapain sama Dion."
"Gak masuk akal, orang kita bicaranya juga depan Singha kok. Cuma ngobrol biasa aja."
Kenan tersenyum. "Singha kalau sudah mencintai seseorang, dia akan memberikan jiwa dan raganya. Dia akan memberikan seluruh hidupnya. Jadi, saat kamu melakukan kesalahan, dia akan sangat kecewa. Dia tidak suka kamu didekati pria lain. Aku aja kadang dicemburui, gimana orang lain ya kan?"
"Ini kabar baik apa kabar buruk?"
"Tergantung sikapmu mau menerima sebagai apa? Jika kamu menerima cinta Singha dan dunianya, maka kamu akan menikmati betapa beruntungnya dicintai seseorang begitu dalam Hanya saja kamu akan menderita jika menerima semua itu sebagai beban."
Rengganis menghela nafas dalam-dalam.
"Sudah malam, ayo kita tidur."
Kenan merangkul adiknya dan mengajaknya masuk ke rumah. Sementara Rengganis memikirkan hal yang membuatnya sedikit takut.
Setelah mandi dan bersiap untuk tidur, Rengganis mengambil ponsel untuk menelpon Singha.
Panggilan pertama, kedua, hingga enam kali Rengganis menelpon, tidak juga mendapat jawaban.
"Apa dia semarah itu? Padahal aku ngobrol di depan dia, jadi dia tau kami ngomong apa dan ngapain. Kenapa harus cemburu? Aku salah apa coba?"
Rengganis membaringkan tubuhnya, menarik selimut lalu mencoba menghubungi Singha sekali lagi, masih tidak ada jawaban.
Karena kesal, Rengganis pun menyerah. Dia mematikan ponselnya, menyimpannya di bawah bantal. Lalu tidur dengan lampu kamar yang dimatikan.
__ADS_1