
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Singha saat mereka duduk di teras. Rengganis mengangguk.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya."
Rengganis tersenyum.
Singha berdiri, dia mulai berjalan untuk melihat-lihat situasi dan keadaan rumah yang selama ini Rengganis tempati. Wanita itu mengekor di belakang Singha.
"Udara di sini sangat segar."
"Hmmm. Juga sangat tenang."
"Aku bisa bernafas dengan baik setelah sekian lama dadaku merasa sesak."
Rengganis tau yang dibahas Singha bukan tentang bagaimana dia bernafas.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Rengganis.
"Terimakasih karena telah menghubungiku." Singha menghentikan langkahnya. Dia berbalik agar bisa menatap wajah Rengganis.
Mereka saling menatap. Ada kerinduan yang sangat besar terpancar dari mata Singha. Bingung apa yang harus dia lakukan. Ingin memeluk tapi dia takut Rengganis tidak berkenan. Singha tersenyum, lalu menundukkan kepala.
"Aku merindukan kamu, Rengganis. Sangat," ungkapnya sambil melihat ke bawah.
"Aku juga," balas Rengganis sambil memberanikan diri memeluk Singha. Pria itu terkejut juga sangat senang. Dia membalas pelukan Rengganis dengan erat.
Semenjak pertemuan itu, komunikasi mereka berjalan dengan lancar. Sesekali Singha datang saat dia memiliki waktu luang. Hidupnya kini penuh semangat dan bergairah. Mendadak dia pun mau menjadi penerus perusahaan keluarganya.
"Sebentar ...." Yudistira mengorek kupingnya.
"Papi tidak salah dengar. Singha serius dan tidak bercanda, Pih. Singha mau belanja untuk menjadi penerus perusahaan keluarga kita."
Oma, Maria dan Yudistira saling menatap heran dengan perubahan yang terjadi pada Singha.
"Tapi Singha belum bisa fokus, karena Singha sendiri punya studio dan tidak mungkin Singha tinggalkan begitu saja. Karyawan di sana pun butuh perkejaan."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Yang penting kamu belajar dulu. Papi juga tidak mengurus satu perusahaan saja, kan? Kamu juga harus bisa begitu nantinya. Tenang saja, santai saja. Iya, kan, Bu?"
Oma mengangguk kaku karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Singha tersenyum penuh kebahagiaan. Dia tidak lagi murung seperti sebelumnya, juga tidak lagi mudah marah.
"Baby, mau ikut bermotor sama Daddy?" tanyanya saat hendak menidurkan Marsha. Anak kecil itu menganggukkan senang."Besok kita akan pergi ke suatu tempat, kamu sekarang tidur agar besok tidak kesiangan, oke."
"Iya, Dad. Daddy, apa Daddy sangat bahagia hari-hari ini? Aku senang Daddy terus tersenyum. Daddy juga gak gampang marah."
Singha memeluk Marsha, "Ya, Daddy sangat bahagia."
__ADS_1
Daddy bahagia, Baby. Pada akhirnya perasaan Daddy mendapatkan kepastian setelah sekian lama mengambang tak tentu arah.
Selain bekerja sebagai produser, kini Singha menyibukkan dirinya di perusahaan keluarga. Dia ingin terlihat hebat di mata Rengganis karena dia menjadi pimpinan sebuah perusahaan besar. Meski tidak pernah melihat, tapi Singha tau jika wanita suka pria seperti itu, itupun kata Santika yang suka sekali nonton drama Korea.
Singha ingin terlihat seperti itu di mata Rengganis. Seorang CEO, berpakaian rapi, modis, memakai mobil mewah dan berwibawa.
Keesokan harinya, setelah sarapan Singha segera siap-siap untuk pergi bersama Marsha menemui Rengganis. Rencana untuk mempertemukan mereka selalu saja gagal. Semoga kalo ini tidak gagal lagi, pikir Singha.
"Kak, mau ke mana?" tanya Izz.
"Pergi jalan-jalan sama Marsha."
"Oma ... Oma masuk rumah sakit. Dia pingsan."
"Gue gak percaya jika Lo yang ngasih info."
"Demi tuhan, ayo kita pergi ke rumah sakit."
Izza menyeret kakaknya agar dia mau ikut ke rumah sakit. Singha baru percaya setelah melihat apa yang terjadi. Oma tergolek lemas dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Oma tadi tidak ikut sarapan karena kepalanya pusing. Saat aku ke kamar tiba-tiba Oma pingsan, dan segera dibawa ke sini. Aku kembali untuk memberitahu kalian karena ponselku tertinggal."
"Singha, Izza." Santika dan .... Anggara datang bersama orang tua mereka.
Singha menggelengkan kepala.
"Oma ... Oma kenapa? Sebentar lagi aku melahirkan tapi kenapa Oma malah sakit?" Santika menangis sambil melihat Oma dari balik kaca.
"Apa kata dokter, Iz?" tanya Lusiana, ibunya Santika.
"Nenek terkena serangan jantung tapi untung tidak menyebabkan pembuluh darah pecah, jadi kemungkinan untuk struk itu tidak ada."
Budiono menghela nafas lega.
"Yudistira dan Maria mana? Kenapa mereka tidak terlihat?"
"Mereka dalam pejalan ke jepang. Mungkin sedang dalam pesawat makanya gak bisa dihubungi. Tapi aku sudah kirim pesan kok, Om. Begitu dibaca, mereka pasti akan menghubungi aku."
Budiono mengangguk.
Dia hari Oma tidak berada di ICU, hari ketiga dia sadar. Meski masih belum bisa ditemui banyak orang, setidaknya dia sadar dan sudah terlewat dari masa kritis.
Singha dan Izza masuk untuk menemui Oma mereka di hari ke 4.
"Oma ...." Singha menggenggam tangan Oma. Wanita itu tua itu tersenyum.
__ADS_1
"Jangan sedih, Singha. Oma baik-baik saja."
"Ada apa, Oma? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?"
Oma tersenyum.
"Singha, Oma ingin meminta satu hal sama kamu. Oma takut akan pergi dalam waktu yang cepat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok."
"Jangan bicara begitu, Oma. Katakan, apa yang Oma inginkan. Singha akan memberikannya."
Oma menarik nafas. "Menikahlah dengan wanita pilihan, Oma."
Perlahan Singha melepaskan genggaman tangannya. Permintaan Oma seperti petir di siang bolong.
"Oma ... Itu--"
"Oma tidak pernah meminta apapun sama kamu. Sebagai cucu tertua di keluarga, kamu seharusnya sudah memiliki istri. Oma ingin kamu bahagia, Singha. Oma ingin melihat kamu menikah sebelum Oma pergi."
"Maaf, Oma. Tapi--"
"Oma mohon."
Singha menggelengkan kepalanya. Dia bangun lalu pergi meninggalkan Oma dan Izza di ruang ICU.
Izza menoleh, dan melihat Singha pergi menjauh.
"Isssh! Oma belum juga ngomong siapa yang mau Oma nikahkan sama dia, dia udah keburu marah." Oma bangun dari tidurnya.
"Akting Oma kurang greget. Harusnya Oma ngomongnya sambil megap-megap kayak orang sekarat."
Plukkk! Oma memukul kepala cucunya.
"Lagian Oma gak ada kerjaan banget pake acara drama segala. Izz bahkan harus memohon pada owner rumah sakit ini agar mereka mau kerja sama. Malu tau, Oma."
"Ya kenapa gak di rumah sakit papi kamu aja sih."
"Di rumah sakit ini saja Singha tidak terbujuk, gimana di rumah sakit sendiri, bisa ketahuan kalau Oma sandiwara. Singha juga tidak akan percaya."
"Kamu benar. Duh, padahal Singha akan sangat bahagia kalau dia tahu siapa wanita itu. Gimana dong, Izza?"
"Izza juga bilang apa, gak usah drama kayak gini. Bawa aja langsung Rengganis nya ke rumah. Kok, susah. Lagian Oma gak pegel tiduran terus di sini?"
"Iya, kamu benar." Oma seperti mendapatkan Ilham. "Kita bawa saja Rengganis ke rumah."
"Kalau dia mau. Dia kan nolak Singha."
"Itu biar jadi urusan Oma. Oma yang akan pikirkan caranya."
__ADS_1
"Rencana apa lagi yang akan Oma lakukan? Hadeuuuh, ratu drama."