Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Bobo bareng?


__ADS_3

Tempat tidur yang nyaman, ruangan yang besar, bersih dan wangi. Belum tentu bisa membuat seseorang merasa betah tinggal di sana. Sejelek apapun tempat tinggal sebelumnya, Rengganis merasa rindu pada rumahnya di kampung.


"Ruangan ini memang dingin sama seperti di kampung, tapi tidak segar. Hidungku terasa kering."


Membolak-balik badan ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari rasa nyaman meski tidak di dapatkan.


Rengganis terbangun dengan wajah kesalnya. Dia menyingkap selimut lalu turun dari tempat tidur.


"Semoga aku tidak nyasar di rumah ini," bisiknya saat keluar dari kamar. Hal yang membuat dia yakin tidak akan tersesat adalah berjalan menuju ruang tamu, membuka pintu utama lalu pergi ke luar.


Hanya sebatas itu. Sisanya dia kembali dibuat bingung.


"Ke Kana apa ke kiri ya? Kanan aja kali ya."


Dia berjalan ke arah kanan dari pintu. Menyusuri halaman yang begitu luas. Rengganis melihat sebuah taman dengan lampu yang terlihat sangat cantik. Banyak bermacam varian bunga tumbuh di sana.


Rengganis duduk di sebuah ayunan yang menghadap ke kolam ikan koi yang berbentuk tebing dan sungai buatan. Gemericik air membuatnya merasa tenang.


Melihat ikan besar berwarna oranye, putih, hilir mudik ke sana ke mari mampu menghadirkan senyuman di wajah Rengganis.


Dia perlahan berjalan, duduk di tepian, memasukan kakinya ke dalam kolam. Rengganis tertawa sendiri sambil berbincang dengan para ikan itu.


"Kenapa malam-malam di sini?"


Suara yang tiba-tiba muncul itu membuat Rengganis terkejut dan hampir jatuh ke kolam. Beruntung dia bisa mengendalikan tubuhnya.


"Mas?" ucapnya begitu menoleh ke belakang. Rengganis segera bangun dan menghampiri Anggara.


"Kenapa di luar? Kamu bisa sakit nanti."


"Gak bisa tidur."


"Kenapa?"


"Hidung saya kering, rasanya gak nyaman. Makanya saya keluar mencari udara segar, tapi tetep tidak dapat."


"Ini kota. Di sini tidak terlalu banyak pohon. Juga terlalu banyak kendaraan yang menyebabkan polisi. Makanya udaranya tidak segar."


"Polusi itu apa?"


"Asap kenalpot dari mobil, motor, juga asap dari pabrik dan lainnya."


"oooh." Mulut rengganis membulat sambil mengangguk-angguk.


"Ayo kita duduk."


Anggara mengajak Rengganis duduk di atas ayunan.


"Kamu rindu suasana kampung ya?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Biasanya sepulang dari toko, saya makan di belakang rumah. Di bawah pohon rindang. Indah banget tau, Mas. Kalau malam bulan purnama apalagi. Anginnya dingin dan segar."


Anggara tersenyum. Hatinya merasa sedikit iri pada keindahan yang pernah dirasakan oleh calon istrinya.


"Jika saja bapak tidak begitu jahat pada saya, mungkin saya masih ada di kampung saat ini. Kita jugaa tidak akan bertemu di rumah sakit, dan mungkin kita tidak akan duduk di sini seperti sekarang."


"kamu benar. Tapi terlepas bapak kamu jahat atau baik, kita akan tetap menikah."


"Kok bisa?"


Anggara menghela nafas, matanya lurus ke atas langit yang gelap tanpa ada satupun bintang yang bersinar. Sepertinya akan turun hujan.


"Ibu tidak ingin saya menikah dengan wanita kota. Dia sudah lama melihat kamu, menyelidiki keluarga dan sikap kamu. Itulah kenapa apapun yang terjadi kita akan tetap menikah."


"Mas punya pacar?"


Anggara langsung menoleh.


"Kalau punya pacar, kita batalkan saja pernikahan ini. Saya juga gak mau menikah sama mas jika mas memikirkan wanita lain."


"Pernikahan ini harus tetap terjadi tidak peduli bagaimana perasaan saya atau pun perasaan kamu."


"Tapi saya suka sama Mas. Maas baik, ganteng, wangi. Mas juga kaya raya. Saat tau akan bertemu sama Mas, saya suka merasa bahagia. Kadang suka pengen cepet-cepet ketemu. Bahkan saya masih ingat jelas bau parfum yang mas pakai. Hahaha."


Anggara terpaku mendengar pernyataan cinta dari Rengganis.


"Kamu itu cantik, tidak mungkin tidak ada pria di desa yang mau sama kamu."


"Saya ini terlahir dari keluarga yang miskin. Memiliki bapak yang jahat, tulang mabuk dan judi. Siapa yang mau besanan sama bapak, Mas?" Rengganis tertawa miris.


"Orang bilang saya ini terlahir dari ibu yang berselingkuh dengan pria lain. Makanya bapak benci sama sama saya."


Bibirnya tersenyum, tapi matanya berlinang air mata.


"Nis, besok kita jadi jalan-jalan bukan? Kita akan beli pakaian kamu dan juga ponsel. Biar tidak kesiangan, lebih baik kita tidur."


Rengganis menyeka air matanya yang terlanjur menetes.


"Ayo." Anggara mengulurkan tangannya. Rengganis menatap wajah pria tampan yang ada di hadapannya. Setelah melihat senyuman manis di wajah Anggara, Rengganis menerima uluran tangan itu. Mereka saling berpegangan menuju rumah.


"Kamu tidur, ya."


"Iya, Mas."


"Selama malam."


Mata Rengganis membulat lebar saat Anggara mengusap kepalanya dengan lembut. Ada aliran hangat dari ubun-ubun mengalir ke seluruh tubuh termasuk hati Rengganis.


Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dadanya terasa sesak, tapi tidak sakit. Wajahnya terasa panas. Rengganis menundukkan kepala tanpa berani menatap wajah Anggara.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa nunduk terus? Itu namanya tidak sopan, Nis. Kalau ada orang sedang berbicara, kamu haru menatap wajah dan matanya."


"Saya pamit, Mas." Rengganis mengangguk pelan, lalu berbalik untuk membuka pintu kamar.


Crekkkk! Rengganis berusaha membuka pintu tapi tidak bisa.


"Kenapa?"


"Loh, kenapa pintunya gak bisa dibuka ya?" tanya Rengganis panik.


"Masa? Coba saya buka."


Rengganis menyingkir agar Anggara bisa membuka pintunya.


"Benar tidak bisa dibuka. Ini pintu kenapa sih? Mas rusak. Kayaknya gak mungkin deh."


Saat sedang berusaha membuka pintu, Anggara melihat pelayan yang sedang menatap mereka. Pelayan itu menundukkan kepala seperti memberikan sebuah kode pada Anggara.


Tuan muda rumah itu menghela nafas dalam.


"Pintunya rusak. Ayo kita ke kamar lain."


Anggara menarik tangan Rengganis. Mereka berjalan begitu cepat. Menaiki anak tangga.


"Kok ke atas. Memangnya ada kamar lain di sana?"


"Kamar saya, ibu dan Amara."


"Saya tidur di kamar Amara?"


"Kamar saya."


"Hah?" Rengganis yang seperti terseret karena langkah Anggara lebih lebar, langsung menarik tangannya dari genggaman Anggara.


"Maaf, Mas. Saya memang orang kampung, saya juga calon istri Mas, tapi bukan berarti Mas bisa seenaknya memperlakukan saya. Maaf ya, Mas. Saya meski orang miskin masih punya harga diri."


"Kamu pikir kita mau ngapain? Kita hanya tidur. Memangnya orang tidur bisa apa?" tanya Anggara santai.


Rengganis kelabakan tidak bisa menjawab.


"Apa kamu mau tidur di sofa?"


"Nah, iya. Saya tidur di kursi tamu saja, Mas. Lagian kamar mas pasti dingin pake apa itu namanya ... Aaah, itu lah pokoknya. Nanti hidung saya kering. Saya tidur di kursi saja."


Rengganis segera membalikan badan, dia berlari sekencang mungkin dan turun menuju tangga.


Anggara menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil melihat sikap Rengganis.


Apa yang ibu mau? Apa harus sejauh ini, Bu? Aku bahkan sudah menyetujui untuk menikah dengan wanita pilihan ibu. Apa yang kurang?

__ADS_1


__ADS_2