
Sesakit apapun luka yang diberikan oleh bapaknya, Rengganis tetap manusia yang memiliki hati. Rasa sedih itu tetap ada saat melihat tubuh bapaknya sudah terbujur kaku.
Orang mengatakan saat kita ditinggal pergi seseorang, maka yang kita ingat bukankah keburukannya tapi sebaliknya. Banyak hal yang membuat Rengganis menyesal, salah satunya adalah tidak pernahnya Rengganis menjenguk pria itu selama di penjara.
Hati Rengganis sakit, lebih sakit dari semua luka yang pernah ada di tubuhnya. Dia tak
Dia tak kuasa menahan kesedihan, hingga tangisannya pecah begitu jenazahnya masuk ke dalam liang lihat.
"Rengganis." Kenan yang selalu berada di dekatnya langsung sigap saat tubuh Rengganis hampir roboh.
Singha yang juga ingin merangkul tubuh Rengganis, kalau cepat. Tangannya mengepal kesal melihat Kenan menyentuh kekasih hatinya. Rahangnya mengeras.
Melihat apa yang terjadi, Athala segera memperingatkan Kenan untuk melepaskan tangannya dari bahu Rengganis.
"Sorry ...." bisik Kenan pada Athala. Kini, Rengganis berada di dala rangkulan Singha.
"Kamu harus kuat, Rengganis."
"Aku bahkan tidak pernah menjenguk dia selama di rumah sakit."
"Bukan salah kamu, kamu bahkan tidak pernah diberitahu Bu Sari di mana bapak dipenjara bukan?"
Rengganis kembali menangis.
"Singha ... Aku harus bagaimana sekarang? Semua orang pergi meninggalkan ku satu persatu," Rengganis menatap iba pada kekasihnya.
"Aku ada di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi," ucapnya sambil mendekap erat tubuh Rengganis.
Suasana terasa sepi, hanya terdengar suara angin yang menerpa menggoyangkan dahan pohon hingga daun saling bergesekan.
Meski terik, tapi hawa dingin menguasai.
Izza menghirup udara segar yang tidak pernah dia dapatkan di kota. Dingin angin pegunungan, dengan sinar matahari membuatnya merasa hangat dan nyaman.
Damai sekali di sini. Gumamnya.
Rengganis tidak lagi menangis. Dia hanya menatap pusara bapaknya sedari tadi. Penyesalan itu masih menghukum dirinya, hingga dia begitu sangat kesal pada keadaan.
"Sayang, ayo kita pulang." Singha membelai rambut kekasihnya.
"Tidak bisakah aku kembali ke hari kemarin, sebentar saja. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku memaafkan semua kesalahan bapak."
"Dia tau, dia pasti tau kalau putrinya memiliki hati yang baik. Dia tau kamu sudah memaafkannya."
Rengganis kembali menangis, memeluk pusara pria kejam itu.
"Pak, Ninis udah maafin semua kesalahan bapak. Ninis tau bapak seperti ini karena ibu. Ibu yang jahat, bukan bapak. Ninis memaafkan bapak, Pak. Ninis udah maafin semuanya."
Kenan yang sedari tadi sudah tidak sabar ingin memberikan support untuk Rengganis, duduk tepat di sampingnya.
"Rengganis, jangan beratkan langkah bapak kamu. Doakan saja dia." Kenan membelai kepala Rengganis.
"Ninis minta maaf, Pak."
"Rengganis ...."
Kenan menarik perlahan tubuh Rengganis, lalu mendekapnya. "Sudah, jangan menangis lagi. Kita semua ada di sini buat kamu."
Singha yang sudah cemburu sejak tadi, mencengkeram pergelangan tangan Kenan begitu kuat.
Mereka saling menatap dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian harus liat posisinya. Rengganis sedang berduka." Athala mencoba melepaskan cengkraman itu dari Kenan. Tapi bukannya lepas malah semakin kuat.
"Kenan, lepaskan tangan Lo dari Rengganis, oke." Athala berusaha membujuk Kenan yang sama-sama marahnya dengan Singha.
"Aku mohon, kalian pergilah. Aku masih ingin di sini."
Singha dan Kenan akhirnya melepaskan tangan mereka, setelah Rengganis berbicara.
"Aku akan tetep di sini," ujar Kenan.
"Ken," Reyhan menggelengkan kepala.
Satu persatu dari mereka meninggalkan pemakaman.
Singha yang tidak ingin kekasihnya sendirian, memantau dari jarak yang cukup jauh. Dia hanya ingin memastikan Rengganis tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Untung masih ada di sana, untung saya gak lupa." Seseorang datang dari arah belakang Singha.
"Hei!" Singha memanggil pria itu.
"Mas manggil saya?" tanya pria itu. Singha mengangguk.
"Mau ke mana? Jangan ganggu perempuan itu. Biarkan saja dia sendiri dulu."
"Saya mengerti mungkin Rengganis ingin sendiri dulu, tapi saya hanya ingin menyampaikan pesan dan amanah untu dia."
"Pesan dari siapa?"
"Bapak dan Bu Sari. Tadi saya baru tau kalau ternyata Bu Sari sudah meninggal. Makanya saya ingin menyampaikan ini pada Rengganis. Dulu Bu Sari bilang berikan ini pada Rengganis saat dia datang ke sini. Eh, ternyata ...."
"Berikan."
Singha tidak peduli, dia merampas berkas dan kotak yang dipegang peria itu yang tak lain adalah pak RT.
"Tapi, Mas. Itu punya Rengganis."
"Saya tidak akan mengambilnya, hanya akan memegang dan memberikannya nanti. Sekarang silakan bapak pergi, dan jangan ganggu dia."
Pak RT terlihat sangat kesal pada Singha, lalu dia pergi sembari menggerutu. Singha melihat sekilas map berwarna biru itu, lalu di kembali fokus memerhatikan Rengganis.
Malam semakin larut, mereka akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Bu Sari. Rengganis meminta Pak RT untuk membersihkan dan meminta salah satu warga di sana menyiapkan makanan untuk mereka.
Kerinduan Rengganis akhirnya terobati. Dia kini bisa kembali duduk di bawah pohon yang ada di belakang rumahnya. Meski kali ini tidak ada sinar bulan, tapi bagi Rengganis pemasangan gelap pun terlihat indah di matanya.
Seseorang berdehem.
"Rey?"
"Hai, boleh aku duduk?"
"Ya, tentu saja."
Reyhan duduk di samping Rengganis.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sepertinya kamu sangat bahagia duduk di sini menatap kegelapan yang ada di depan."
Rengganis tersenyum sambil mengayunkan kakinya.
"Setiap aku duduk di sini, aku selalu membayangkan masa kecilku saat bersama ibu."
"Ibu, ya? Mmm, ngomong-ngomong soal ibu, apa yang kamu ingat tentang dia?"
__ADS_1
"Emmm, apa ya? Aku tidak terlalu ingat. Wajahnya pun samar. Aku hanya mengingat belaiannya saja." Rengganis tersenyum getir.
Reyhan mengangguk pelan.
"Kamu pernah melihat sesuatu tentang... Ya tentang apa yang berkaitan dengan ibu kamu?"
Rengganis menoleh, "Maksudnya?"
"Ya, anything. Seperti benda peninggalan ibu kamu, misalnya."
Rengganis menggelengkan kepala. "Tidak ada apapun yang ibu tinggalkan untukku. Aku hanya ingat saat dia pergi, dia melirik padaku dengan tatapan sendu. Dia bilang 'ibu minta maaf karena aku tidak seharusnya berada di sini', aku rasa dia menyesal melahirkan aku."
"Bukan."
"Bukan gimana maksudnya?"
"Dia bukan menyesal karena melahirkan kamu, Rengganis."
"Aku gak ngerti."
Reyhan menarik nafas dalam. "Karena dia bukan ibu kandung kamu."
Rengganis terdiam.
"Mereka bukan orang tua kamu, Rengganis. Percayalah."
"Tu-tunggu, maksud kamu apa, Rey?"
Reyhan mengeluarkan sesuatu dari tas nya yang dia temukan di laci lemari orang tua Rengganis.
Sebuah kalung dengan liontin yang sangat cantik. "Ini aku temukan di laci lemari orang tua kamu. Jujur, awal aku datang ke sini untuk menyelidiki asal usul kamu, gak taunya bapak kamu meninggal. Dan, yaa. Ini yang aku temukan."
Rengganis membolak-balik kalung itu. "Tidak ada apapun di sini, ini hanya kalung indah saja."
"Ada inisial di balik liontin itu, lihatlah."
Rengganis membalikkan kalung itu lalu melihat ada inisial NNS.
"NNS? Apa itu?"
Reyhan menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu itu singkatan dari nama siapa. Tapi aku hanya yakin pada sesuatu karena kalung itu berada bersama dengan ini."
Reyhan kembali mengeluarkan benda yang dia temukan bersama kalung itu. Sebuah seragam pelayan.
"Nugraha ... Nhabira ... Shakeera."
Reyhan dan Rengganis langsung menoleh saat seseorang datang. Kenan berdiri dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Sejak lama dia berada di sana mendengarkan Rengganis dan Reyhan berbicara tanpa mereka sadari.
Kenan berjalan dengan langkah yang sepertinya kaki besarnya tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Rengganis masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Shakeera ...." Kenan berlutut di hadapan Rengganis yang sedang duduk. Diraihnya tangan Rengganis dengan lembut. Kenan bergetar. Tangisannya semakin tidak bisa dibendung.
"Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rengganis masih bingung.
Kenan tidak menjawab. Dia meraih tubuh Rengganis lalu mendekapnya erat sambil sesenggukan.
Hari bahagia yang dirasakan Kenan, setelah lama adiknya hilang kini ada di hadapannya. Bayi yang selalu ingin dia gendong, tapi dilarang ibunya kini bisa dia dekap.
"Shakeera ...." Kenan terus memanggil nama adiknya. Shakeera Aisy Nugraha. Kenan Devana Nugraha.
__ADS_1