Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Karena kita adalah jodoh


__ADS_3

"Ok, tolong ya siapkan dengan bagus. Saya tidak mau nantinya bikin malu. Harus bagus dan istimewa," ucap Maria dalam telpon. Dia sangat sibuk mempersiapkan acara pertemuan keluarganya dengan calon tunangan Singha.


Hanya pertemuan biasa, tapi effort Maria luar biasa. Apa yang selama ini dia inginnya yaitu menjodohkan putra kesayangannya dengan anak sahabatnya menjadi kenyataan.


Cake and cookies, buah, pakaian berserta alat makeup dan yang lainnya dia persiapkan dengan merek ternama negara.


Izza hanya menggelengkan kepala melihat ibunya seperti itu. Beberapa pelayan, Oma dan Daddy nya pun ikut dibuat sibuk.


Dokter muda itu celingukan mencari kakaknya.


"Apa dia di kamar?" gumamnya sambil pergi menuju kamar Singha. Benar saja, Singha ada di sana sedang membaca berkas entah apa itu.


"Kebiasaan banget Lo, buka pintu gak ketuk dulu."


Tok tok tok. Izza mengetuk pintu kamar kakaknya. Singha memutar bola matanya melihat sikap Izza.


"Lagi ngapain?" tanya Izza basa-basi.


"Lo gak liat?"


"Liat, tadi kan cuma basa-basi doang. He he he."


Singha menatap kesal adiknya.


"Are you oke?" tanya Izza khawatir. Singha tau adiknya itu mencemaskan dirinya.


"Ya, beginilah."


"Kenapa gak berjuang lebih kerasa lagi? Mami pake ancaman buat jodohin kakak sama wanita lain. Kenapa kakak gak pake ancaman juga buat menolaknya?"


"Lalu berakhir sampe kapan? Siapa yang akan menang nantinya? Lagi pula Rengganis menolak kalau tidak ada restu mami."


"Benar juga. Entah harus bangga atau ... Entahlah. Rengganis memang beda dari wanita lainnya."


"Terima takdir saja. Rengganis bilang, jika kamu memang sudah jodoh, sekuat apapun manusia berusaha tidak akan bisa menghalangi kami untuk bersama."


"Sebenarnya Lo suka gak sih sama dia? maksud gue tuh, dulu waktu ditinggal Lo kayak zombie, hidup tapi gak hidup. Kok sekarang Lo mau nikah sama orang lain kayaknya santai banget."


"Jika dada diibelah tidak sakit, gue mau deh dibelah."


"Mana ada kata jika pula. Lo sih gak beneran mau berkorban. Aneh Lo."


Izza melihat sekeliling kamar kakaknya. Tidak sengaja matanya melihat sesuatu di atas kasur Singha.


"Kotak apaan itu? Hadiah?"


Singha mengangguk.


"Buat?"


"Rengganis."


"Hadiah perpisahan?"


Singha menggelengkan kepala seraya tersenyum.


"Boleh gue liat."


"Liat aja."

__ADS_1


Izza bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju kotak cokelat dengan pita gold di atasnya.


"Waaaah."



"Biasa aja, gak usah kaget gitu."


"Andai saja ini adalah barang buat tunangan Lo dan Rengganis ya. Lo pasti akan bahagia."


...***...


Hari di mana Singha dan calon tunangannya itu bertemu pun tiba. Sejak pagi mereka bersiap diri. Membawa segala barang yang sudah di persiapkan sedemikian rupa.







"Ngomong-ngomong, mami tau dari mana ukuran sepatu wanita itu?" bisiknya pada Singha.


"Mungkin nyari di google."


Izza mendelik pada kakaknya.


Rombongan Singha pun mulai bergerak dari halaman rumahnya. Tidak lupa teman-temannya pun ikut mengantarkan dengan menggunakan motor besar mereka.


Perjalanan di mulai.


Dibandingkan dengan Singha, Izza terlihat lebih cemas. Dia mengkhawatirkan kakaknya yang mencintai orang lain tapi harus menikah dengan wanita lain.


Dia lebih takut lagi karena Singha terlihat lebih tenang. Yang Izza tau Singha itu seperti memiliki dua kepribadian. Dia bisa saja dengan ekspresif mengungkapkan apa yang dia rasakan. Tapi, Singha pun akan diam seribu bahasa untuk menekan perasaannya.


Bagi Izza, Singha adalah segalanya di dunia ini. Kakak yang memang terlihat galak tapi benar-benar perhatian. Jika dibandingkan Maria, Singha lebih perhatian padanya.


Namun, saat rombongan mereka hampir sampai, Izza merasa ada yang aneh. Dia celingukan untuk memastikan.


"Kak?"


Singha tersenyum.


"Aarrggghhh!" Izza histeris. Dia kesal karena merasa dibohongi oleh Singha. Akan tetapi rasa kesal itu hanya sebagai kecil saja di hatinya. Selebihnya adalah kebahagiaan yang tiada tara.


Izza memeluk Singha sambil menangis.


"Sorry gue bikin Lo khawatir."


Izza menggelengkan kepala. "Seribu kali gue akan bilang gak apa-apa."


Singha tertawa.


"Kita lihat bagaimana reaksi mami. Lo jaga dia baik-baik."


Izza mengangguk.

__ADS_1


Rombongan keluarga Singha pun sampai di kediaman wanita. Mereka turun satu persatu. Kedatangan mereka disambut oleh para pelayan dan orang kepercayaan keluarga wanita.


"Bro?" tanya Reyhan.


Singha mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum.


Tidak banyak bicara, mereka hanya diam menahan tawa bahagia saat berjalan di belakang keluarga Singha.


Mereka dipersilakan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Di sebuah aula yang ada di rumah itu.


Teman-teman Singha tertawa cekikikan saat melihat keluarga perempuan itu dan seseorang yang mereka sangat kenal.


"Gimana reaksi mami Lo nanti?"


"Itu adalah hukuman untuk dia." gumam Singha.


"Terimakasih saya ucapkan pada keluarga Pak Yudistira yang telah ... BLA BLA BLA ...." Sambutan dari pihak keluarga perempuan.


Kini sambutan dari keluarga Singha yang diwakili oleh Budiono. Singha lebih tertawa lagi saat Om nya itu memberikan sambutan.


Orang tua perempuan pun tiba. Maria terlihat sangat bahagia bercampur haru melihat sahabatnya tiba. Mereka saling melambaikan tangan seperti sahabat yang lama tak pernah jumpa.


"Mari kita sambut kedatangan tokoh utama kita hari ini," ucap pembawa acara.


Saat dia datang, beberapa orang sangat terkejut. Termasuk keluarga Yudistira. Maria langsung menoleh pada Singha yang ada di sampingnya.


"Katakan pada mami, apa kamu tau semua hal ini?"


Singha mengangguk mantap. "Kenapa mami terkejut? Bukankah mami ingin aku menikah dengan putri sahabat mami? Aku sebagai anak sudah menyetujuinya dengan senang hati. Seharusnya mami bahagia karena memiliki putra yang sangat penurut ini."


Maria sangat kesal pada Singha.


Kini, Singha dan perempuan itu duduk berhadapan. Hanya meja makanan lah yang menjadi penghalang mereka berdua.


"Maria ... Ini putriku. Putri yang hilang kini sudah kembali," ucap Nhabira dengan suara bergetar karena haru.


Maria tidak berkutik. Dia merasa syok karena wanita itu adalah Rengganis. Perempuan yang dia tolak mentah-mentah dan dia hina di hadapan umum.


Maria merasa tidak memiliki muka saat ini. Dia juga merasa menyesal tidak meminta foto shakeera setelah ketemu.


Bodoh! Gerutunya dalam hati.


"Mami, mami mau ngomong sesuatu gak sama Rengganis?" tanya Izza.


Maria mengigit bibirnya karena kesal pada Izza.


"Maria, tidak apa-apa. Apa yang kamu lakukan pada 'Rengganis' adalah bentuk kesetiaan janji kita dulu. Aku memaklumi dan aku memaafkan. Untuk saat ini, jangan bahas masa lalu lagi. Yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak kita, Maria."


Maria menundukkan kepala karena malu, dan dia juga sangat menyesal telah memperlakukan anak sahabatnya dengan sangat tidak layak.


"Aku minta maaf, Bhira." Mari mulai menangis sesenggukan. Kedua sahabat yang sejak lama tidak bertemu itu saling berpegangan erat sambil menangis.


Ya, sejak lama mereka tidak bertemu karena setelah Nhabira sakit, Nugraha melarang siapapun bertemu dengan istrinya. Bukan Karen hal lain, tapi semua demi kesehatan Nhabira. Nugraha tidak ingin ada hal yang membuat istrinya bertambah stress.


"Shakeera, Tante minta maaf."


Rengganis tersenyum pada Maria dengan kaku. Bagaimana tidak, Rengganis sendiri pun tidak tahu jika pria yang akan datang hari ini adalah Singha.


Kedua sejoli itu saling menatap satu sama lain. Mata Rengganis menunjukkan rasa bahagia dan juga sedih, mungkin juga marah karena dia tidak tahu jika itu adalah Singha. Sementara mata Singha terlihat sangat bahagia dan juga lega.

__ADS_1


__ADS_2