
"Sepi?" tanya Rebecca pada Athala, saat mereka sarapan pagi. Rebecca bukan tidak tahu jawabannya dia hanya menyindir pada kehidupan yang sedang dialami .Bagaimana tidak ,Rebecca sejak kecil hidup berdua bersama kakaknya dan juga para pembantu di rumah itu ayah dan ibunya sibuk bekerja setiap hari.
Mereka bahkan tidak akan pulang selama berminggu-minggu demi pekerjaannya ke luar kota bahkan ke luar negeri. Bagi mereka uang adalah segalanya tanpa uang mereka tidak akan bisa hidup seperti saat ini. Hanya saja ibu dan ayah Rebecca lupa Jika seorang anak pun membutuhkan kasih sayang mereka tidak hanya materi.
Athala tidak menggubris pertanyaan adiknya dia menyembuhkan diri dengan ponselnya.
"Kamu juga sama saja mengabaikan keberadaan ku di rumah ini. Apa kehadiranku di dunia ini memang tidak berguna sama sekali?"
Athala masih diam.
Melihat sikap Athala yang dingin, Rebecca memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi, dia fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
Selesai sarapan mereka berdua sama-sama pergi keluar, kebetulan mobil Rebecca sedang rusak jadi mau tidak mau dia mau meminta tumpangan pada Atala.
Saat penjaga rumah membuka gerbang tiba-tiba ada seorang pria berlari masuk ke dalam halaman rumah mereka.
Pria yang diduga sakit jiwa itu menusuk Athala yang hendak masuk ke dalam mobil. Rebbeca menjerit-jerit histeris saat melihat pisau tertancap di samping perut Athala. Darah segar langsung mengucur dari gagang pisau itu hingga menetes ke lantai garasi mobil.
Penjaga rumah Athala dan beberapa orang yang saat itu berada di luar rumah, segera berlari menghampiri Rebecca. Mereka yang melihat Athala sudah berlumuran darah pun segera mengevakuasi Athala ke rumah sakit. dan yang lainnya mengamankan orang gila tersebut.
Sepanjang perjalanan Rebecca tidak henti-hentinya menangis. Dia bahkan meminta agar supir mempercepat laju mobil mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Athala segera mendapatkan pertolongan. Dokter dan petugas lainnya terlihat sangat sibuk dan juga panik.
Darah berlumuran di mana-mana sepanjang yang Athala lewati.
"Darah buruan!" Seorang dokter berteriak. Melihat hal itu, Rebbeca semakin panik. Dia bahkan tidak ingat harus menghubungi orang tuanya.
Mereka kemudian membawa Athala pergi menuju ruang lain. Seorang petugas menghampiri Rebbeca untuk meminta tandatangan nya sebagai keluarga pasien.
Athala harus dioperasi.
Rebbeca mengikuti mereka ke ruang operasi. Di sana Rebbeca ambruk. Dia hanya bisa duduk lemas dengan tatapan kosong.
"Lo Becca, bukan?" tanya seseorang. Rebbeca melihat orang itu dari ujung sepatu, kaki, tubuh hingga wajahnya.
"Iya, Lo Rebecca. Lo masih ingat gue kan?"
Rebbeca masih dengan ekspresi wajah yang sama. Menatap kosong karena syok.
"Athala ... Athala ....," ucap Rebbeca parau sambil menunjuk ruang operasi. Ada hal yang disadari Izza. Banyak darah di pakaian wanita itu. Dengan secepat kilat Izza masuk ke dalam ruang operasi. Setelah mematikan apa yang sedang terjadi di dalam, Izza kembali keluar lalu menelpon Kenan. Dia juga meminta Kenan untuk menelpon orang tua Athala.
"Ayo duduk dulu di sini." Izza memapah Rebbeca untuk duduk di atas kursi. Wajah gadis cantik itu sangat berantakan. Bau amis darah menusuk hidung Izza.
"Tunggu di sini, aku akan segera kembali."
__ADS_1
Izza pergi untuk membeli minum. Dia kembali membawa sebotol air mineral.
"Ayo, minumlah."
Dengan tangan yang gemetar, Rebbeca mengambil botol itu. Namun, sepertinya di kehilanganmu tenaga. Botol itu hampir jatuh jika Izza tidak sigap menangkap nya.
Dengan bantuan Izza, Rebbeca bisa minum.
Sesekali Izza ke dalam untuk melihat situasinya. Lalu kembali ke luar untuk menemani Rebbeca. Hingga Kenan dan Rengganis pun tiba.
"Becca."
Rebbeca yang semula seperti terhipnotis dan hanya bisa bengong, menangis histeris saat melihat kedatangan Kenan. Dia berlari ke dalam pelukan pria tegap itu.
"Tenang, semuanya baik-baik saja. Aku ada di sini."
"Pria itu ... Tiba-tiba dia datang ... Dan ... Dan ... Menusuk Athala." Rebbeca mencoba bercerita meski ucapannya tidak jelas.
"Sssst, jangan katakan apa-apa. Tenang saja, Athala akan baik-baik saja."
Rebbeca yang syok berat karena melihat Athala ditusuk, tubuhnya perlahan melemah lalu tidak sadarkan diri. Kenan ikut ambruk karena tidak siap dengan jatuhnya tubuh Rebbeca. Rengganis membantu melindungi kepala wanita itu agar tidak terbentur pada lantai.
Kenan segera memeluk tubuh wanita pujaannya.
Lampu ruang operasi masih merah, tapi dokter sudah keluar. Izza yang faham akan hal itu, langsung duduk lemas di atas kursi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Mereka masih diam. "Tolong, ada yang bisa menjelaskan sesuatu?"
"Athala pergi."
Rengganis menutup mulutnya. Sementara Kenan menangis sambil memeluk Rebbeca yang tidak sadarkan diri. Izza pun masih terdiam tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Halo ...."
"Sayang, apa kamu--" Singha tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar nada bicara Rengganis yang tidak wajar.
"Ada apa? Katakan ada apa?" Singha cemas. Dia takut sesuatu terjadi pada kekasihnya.
"Athala."
"Athala? Kenapa Athala?"
"Singha ... Athala meninggal."
"Apa?"
__ADS_1
Rengganis menangis.
"Sayang, ini tidak lucu. Kamu marah tapi jangan begini balas dendamnya. Aku tidak suka yang namanya prank."
"Aku di rumah sakit papi. Datanglah."
Singha sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Rengganis. Dia berusaha tetap tenang meski hatinya begitu berdebar cemas.
"Halo, tolong cari info tentang pasien yang meninggal hari ini."
"Hari ini tidak ada yang meninggal, Pak. Semua pasien aman."
Singha bernafas lega. Dia berpikir jika ini hanyalah rencana Rengganis untuk menjahili nya.
"Tunggu, Pak. Barusan ada kabar dari ruang operasi. Hari ini ada pasien meninggal karena penusukan."
"Katakan siapa namanya."
"Athala, katanya teman dokter Izza, Pak. Dokter Izza pun ada di sana sekarang."
Singha melemparkan ponselnya. Dia berlari secepat mungkin menuju mobilnya. Singha bahkan menabrak beberapa orang hingga terjatuh.
Apa? Lo pergi tanpa pamit? Sialan! Apa yang Lo pikirkan sampai Setega ini ninggalin gue, Athala. Please, jangan pergi. Jangan pergi.
Singha masih berlari. Namun, sesampainya di parkiran, dia sadar jika dia berlari ke arah yang salah. Mobilnya ada di basemen, tapi dia berada di parkiran luar.
Dia menjerit histeris dengan air mata mengucur deras. Singha berlutut sambil sesenggukan.
...***...
Orang tua Athala terlihat sangat sedih. Mereka bahkan belum bertemu selama dua pekan ini dengan putranya, tapi kini mereka bertemu untuk berpisah selamanya.
Rebbeca tersenyum sinis melihat kedua orangtuanya.
"Sedih? Kenapa? Harusnya kalian biasa aja sih, toh terbiasa gak ketemu kan?"
"Becca." Kenan mencoba menarik tubuh Rebbeca agar kembali duduk.
"Lepaskan, Ken. Aku hanya bicara apa adanya. Mereka bahkan sudah lama tidak bertemu dengan Athala, lalu kenapa harus sedih saat Athala pergi. Apa Meraka tidak tahu aku dan Athala selalu menangis berdua saat mereka pergi ke luar kota dengan alasan kerja!"
"Sssst, ayo duduk. Kasian Athala kalau dia tahu kamu begini." Kenan ikut berdiri dan masih berusaha menenangkan Rebbeca.
"Mereka bahkan tidak peduli saat Athala sakit. Dia bahkan tidak peduli dan hanya meminta perawatan untuk menjaga Athala saat dia cacar. Aku ... Aku harus melihat dia menangis menahan gatal dan perih di sekujur tubuhnya. Aku ... Aku ... Aku meminta ibu dan ayah membawanya ke rumah sakit. Tapi apa yang mereka katakan? 'jangan, malu. Apa kata orang jika Athala kena penyakit menjijikan', mereka berkata begitu, Ken."
Rebbeca menangis histeris dalam dekapan Kenan. Dia bahkan menjerit sesekali meluapkan emosinya.
__ADS_1
Rengganis yang mendengar cerita Rebbeca, tak kuasa menahan air mata. Dia teringat pada masa lalunya yang sama-sama menderita meski berbeda cara.
Singha yang mendampingi kekasihnya, mencoba memberikan rasa tenang dengan mengusap-usap pundaknya.