
"Halo, Bro. Bro Lo di mana?"
"Gue? Lo mau tau aja apa mau tau banget?"
"Dahlah, salah gue nelepon Lo."
"Sorry, canda juga. Sensi banget Lo, Rey. Lagi datang bulan?"
"Iz, Lo ke rumah Kenan sekarang. Buruan jemput Rengganis terus bawa dia kampung halamannya. Sekarang juga."
"Pake acara bawa pulang kampung, gue mana tau kampung dia di mana."
"Gue shareLok, t*lol."
"Lo aneh, biar cepet kenapa gak telpon Kenan aja biar dia yang bawa Rengganis ke kampungnya."
Tut Tut Tut. Panggilan terputus.
"Reyhan beneran datang bulan apa gimana? Sentimen banget hari ini." Izza menatap layar ponselnya yang sudah menghitam.
Baru saja Izza hendak masuk ke ruangan pasien, ponsel dia kembali berdering.
"Apa? Lo datang bulan juga? Mau marah-marah gak jelas kayak Reyhan?"
"Gue tunggu di depan caffe HetHouse, jangan banyak nanya."
Tut Tut Tut.
"Ini lagi Singha, ketularan Reyhan kali dia."
Izza mengabaikan perintah kakaknya, dan masuk ke dalam kamar pasien untuk melakukan visit.
Visit selesai.
Ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk.
//Bapaknya Rengganis meninggal. Kita udah jalan, Lo nyusul aja nanti gue shareLok.// Rangga.
__ADS_1
"Aaah, si an*ing. Kenapa gak ada yang bilang dari tadi sih!"
Izza segera berganti pakaian, lalu mengambil mobilnya untuk menyusul teman-temannya. Sepanjang perjalanan Izza selalu berkomunikasi dengan Rangga yang kebetulan membawa mobil. Sementara yang lainnya pergi dengan motor agar bisa lebih cepat sampai.
Di kampung.
"Pak, sebentar lagi Rengganis datang. Jadi kita tunggu dulu."
"Iya, Mas. Kasian juga kalau Rengganis gak sempat liat bapaknya untuk yang terkahir kali."
"Bapak ini RT di sini, ya?"
"Iya, Mas. Saya RT di sini."
"Sudah lama, Pak?"
"Bisa dilihat lah mas dari uban saya yang banyak ini. Umur saya kan emang udah tua."
Lah, hubungan jabatan RT sama umur apaan? bapak jadi RT dari orok apa gimana?
Reyhan tersenyum kecut.
"Pasti tau, Mas. Saya yang mengurus apa-apa tentang mereka di sini," ujarnya dengan penuh rasa bangga.
"Waah, keren dong ya, Pak."
"Pasti, Mas. Pasti. Ada apa toh?"
"Begini, Pak. Rengganis ini kan katanya sering dipukuli. Kenapa ya alasannya kalau boleh saya tau."
Pak RT melihat ke sekeliling. Dia mengajak Reyhan pindah tempat duduk. Mereka pergi ke belakang rumah Rengganis. Di mana Rengganis dulu sering menyendiri di sana.
"Jadi begini, bapaknya Rengganis ini kesal karena istrinya yang bekerja di kota tiba-tiba pulang membawa anak. Katanya dia hamil diperkosa majikannya. Makanya Rengganis selalu dipukul karena dianggap anak haram. Tapi sebelumnya tidak, Mas. Hanya semenjak ibunya Rengganis kabur dari rumah."
"Kabur?"
"Iya, dia kabur karena gak tahan sama kebiasaan suaminya yang sering mabuk dan berjudi."
__ADS_1
"Kenapa Rengganis juga ditinggal? kenapa gak dibawa aja gitu. Kan kasian jadinya suka disiksa."
"Ibunya pergi sama laki-laki lain. "
"Oh, begitu rupanya."
Mereka terdiam sejenak.
"Sebenarnya bapak Rengganis ini orang baik. Dia hanya sakit hati karena di khianati istrinya. Dia tidak jahat seratus persen, Mas. Dulu ... Waktu Rengganis masih kecil, saya lupa umur dia berapa. Ya antara 3 atau 4 tahun lah, Rengganis itu demam. Sebagai seorang bapak dia sangat tanggung jawab. Dia datang dari rumah ke rumah meminta pinjaman uang untuk membawa anaknya berobat."
Reyhan merasa sedih mendengar penuturan pak RT. Bukan sedih haru pada sikap bapaknya Rengganis, tapi sedih atas hidup yang di alami wanita itu. Sejak kecil dia sudah hidup sengsara.
"Saat pertama ibunya pergi, sebagai laki-laki dia bingung harus merawat anak seperti apa. Kerja cuma mabuk dan berjudi, tidak tahu bagaimana caranya memasak. Dia kembali meminta makanan sisa pada kami untuk dia berikan pada bocah kecil itu."
Reyhan tersenyum miris.
Ada kebencian dan rasa kesal di dalam dada Reyhan tentang bapak Rengganis ini.
Singha, Lo harus tau cerita ini agar Lo bisa menyembuhkan inner child Rengganis yang gue rasa sangat parah.
Setelah berbincang lama dengan pak RT, Reyhan kembali masuk ke dalam rumah, di mana jenazah bapaknya terbujur kaku di sana.
Reyhan memasuki kamar yang ada di dala rumah itu. Dia melihat-lihat yang sebenarnya tidak ada yang perlu dia lihat karena isinya hanya tembok rapuh dengan sarang laba-laba.
Beberapa kali Reyhan batuk-batuk karena banyaknya debu.
"Syukurlah, Lo udah tinggal di rumah Kenan sekarang." Reyhan merasa sangat miris melihat seperti apa tempat dulu Rengganis tinggal.
Ada sebuah lemari usang di pojok kamar depan. Lemari itu sudah banyak digerogoti rayap di beberapa bagian.
Penasaran, Reyhan membuka lemari itu. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Hanya ada beberapa baju kemeja dan celana usang di sana. Jika dilihat dari pakaiannya sudah bisa dipastikan itu kemari milik orang tua Rengganis.
Di bagian bawahnya terdapat selimut tipis, juga kain tapi bercorak bunga yang sama-sama sudah lapuk.
Merasa tidak ada yang menarik perhatiannya, Reyhan membalikan badannya untuk kembali keluar. Hingga dia melihat ada yang tersembunyikan.
Reyhan mengambil selimut dan kain itu, dan ternyata di bawahnya ada sebuah laci tersembunyi. Buru-buru laci itu dia buka. Reyhan sangat terkejut melihat apa yang kini ada ditangannya.
__ADS_1
Terdengar suara riuh orang-orang di luar. Ternyata Rengganis yang dan lainnya sudah tiba. Reyhan segera memasukkan apa yang dia lihat ke dalam tas, lalu bergegas keluar untuk menemui temen-temennya.