Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Dunia yang sempit


__ADS_3

Hari semakin gelap, Rengganis belum juga menemukan jalan raya sementara dia sudah jauh masuk entah ke mana. Dia tidak terpikirkan untuk kembali ke jalan saat dia pergi, dia hanya fokus jalan maju tanpa sadar ada jalan untuk kembali.


Samar-samar Rengganis mendengar suara orang-orang sedang berbincang. Dia sedikit senang karena akhirnya menemukan seseorang di area hutan itu.


Saat keluar dari semak di antar pepohonan, Rengganis membeku. Suara itu memang berasal dari manusia, banyak pula. Hanya saja ....


"Hei, kamu ngapain di sini?"


"Ck ck ck ck. Cuaca lagi dingin-dinginnya datang yang beginian."


Langkah Rengganis perlahan mundur sedikit demi sedikit. Dia merasa takut pada sekumpul pria yang sedang berbincang di pinggiran api unggun.


"Hentikan, apa kalian tidak lihat dia ketakutan?" ucap seseorang dengan badan paling tinggi dan besar di antara yang lainnya. Dia berjalan menghampiri Rengganis.


Melihat pria itu mendekat, Rengganis langsung mundur tanpa melihat apa yang ada di belakangnya. Dia menginjak potongan dahan ranting hingga membuatnya terjatuh.


Beruntung karena seseorang dengan cekatannya menarik tangan Rengganis hingga gadis itu tidak mendarat di atas tanah.


"Kamu baik-baik saja?"


Rengganis mengangguk ragu.


"Jangan takut, mereka tadi hanya becanda," ujar pria tinggi yang menghampirinya di awal.


"Kamu kenapa babak belur? Itu di wajah mu sepertinya darah." Satu orang lagi menghampiri sambil menyoroti wajah Rengganis dengan flash ponsel. Rengganis memicingkan mata karena merasa silau.


Mendengar ucapan pria tadi, yang lainnya ikut mengerubungi.


"Hey, Nona. Kamu habis diperkosa?"


"Mulut mu itu." Pria lain menutup mulut pria yang baru saja berkomentar.


"Biarkan dia duduk dulu. Kasih air biar tenang. Udah tau ketakutan malah diinterogasi. Ayo, kemarilah. Kamu duduk sana." Seorang pria dengan kulit putih dan terlihat kenyal itu berujar sambil memainkan api.


Rengganis pun duduk.


Setelah diberi air minum, satu dari enam orang yang ada di sana menghampiri. Dia membawa kotak obat.


"Maaf ya, aku akan mengobati luka kamu."


Rengganis hanya diam. Dalam hatinya dia takut setengah mati, hanya saja dia tidak punya pilihan selain diam.


"Jadi, kenapa kamu nyasar sampai sini malam-malam?"


Rengganis menatap satu per satu orang-orang yang ada di sana. Dia bingung harus mulai dari mana. Haruskah dia menceritakan kisah cintanya hingga dia berakhir di hadapan mereka?


"Dihajar bapak." Hanya itu yang bisa Rengganis katakan.


Hampir semua orang yang ada di sana terkejut.


"Bapak? Maksudmu ayah kamu? Ayah kandung kamu?" tanya orang yang mengobati Rengganis. Gadis itu menitikkan air mata.


"Sudah cukup, jangan tanya apa-apa lagi padanya. Aku akan membersihkan diri, kalian ikut?"

__ADS_1


"Sepertinya aku ikut. Seharian kita di hutan, tubuhku terasa lengket dan bau, ayo kamu juga ikut kami ke pemandian air panas."


"Saya?" tanya Rengganis.


"Kamu jangan ikut mandi, cukup ikut kami saja. Apa mau tinggal di sini sendiri?" tanya orang yang mengobati Rengganis. Dia sepertinya memang cukup cerewet untuk ukuran laki-laki.


"Kita ke sini naik motor, kamu mau ikut siapa?" tanya nya lagi. Rengganis melihat sekeliling.


"Dia ikut aku saja. Kalian tidak bisa dipercaya." ujar pria yang menolong Rengganis saat hendak jatuh.


"Benar, dia paling jago bawa motor di hutan. Kamu ikut saja sama dia. Dia gak gigit kok."


"Iya, cuma nyengat doang."


Mereka semua tertawa, terkecuali orang yang hendak membonceng Rengganis. Sepertinya dia orang yang cukup dingin dan tidak banyak bicara.


Mereka berjalan menelusuri hutan, semakin lama semakin terang. Terlihat lampu-lampu penerangan di jalan. Mereka keluar hutan dan masuk ke jalan beraspal.


Setelah membayar tiket masuk ke pemandian Ari panas, mereka berganti pakaian, semenit Rengganis menunggu di ujung kolam.


Pemandian itu nampak remang-remang karena minimnya penerangan. Kesannya terlihat romantis bagi mereka yang sedang dimabuk asmara, namun terkesan menyeramkan di mata Rengganis terutama karena kolam itu mengeluarkan uap, menambahkan kesan angker pada kolam itu.


Bukan purnama menerangi langit, cuaca yang benar-benar tidak bisa diprediksikan. Sebelumnya mendung hampir dikira hendak hujan, namun kini terang benderang.


Rengganis kembali memikirkan tentang dirinya yang menyedihkan. Air mata kembali menetes di wajahnya.


"Hei." Pria pemberi obat itu menyiratkan air pada Rengganis. "Jangan melamun, nanti kesambet."


Mata Rengganis tidak berkedip saat melihat pemandangan di depan matanya.



"Dahlah, semua akan kalah kalau urusannya sama dia. Mundur, mundur." Pria itu kembali berenang. Dia menghampiri yang lainnya dan mulai bercanda.


Rengganis mengalihkan pandanganya saat pria yang sedang dia tatap, membalas menatapnya.


Berkali-kali Rengganis melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, sudah sangat malam.


"Ada apa?" tanya pria tampan yang tadi ditatap Rengganis.


"Kamu mau pulang?"


"Ya, tapi aku tidak tahu alamat rumahnya."


"Cihh."


"Aku baru dua bulan di kota ini."


Pria itu menganggukkan kepala berkali-kali.


"Lalu, bagaimana caranya aku bisa mengantarkan kamu?"


Rengganis menggelengkan kepala sambil memasang wajah sedih. Pria itu tersenyum melihat ekspresi wajah Rengganis yang menggemaskan.

__ADS_1


"Siapa nama orang tua kamu?"


"Buat apa nanya nama mereka?"


"Siapa tau aku kenal."


"Sebenarnya aku di sini tinggal bukan di rumah orang tuaku. Aku babak belur juga bukan dipukul bapak, bukan juga diperkosa. Aku tinggal dengan orang yang bernama Anggara, dia calon suamiku."


"Anggara?"


"Hmm, kamu kenal?"


Pria itu menggelengkan kepala.


"Percuma dong aku menjelaskan panjang lebar."


"Tapi aku kenal seseorang yang mungkin kenapa dengan Anggara."


"Benarkah? Siapa orang itu?"


"Dia sepupuku, namanya Santika."


Rengganis merasa jantungnya berhenti berdetak. Entah kenapa dia merasa nafasnya sangat sulit diatur.


"Dari reaksimu, aku rasa kamu kenal dengannya? Ya, mereka cukup dekat sepertinya. Wajar jika kamu tau Santika."


"Aku baru mengenal dia hari ini. Dan dia juga lah yang menyebabkan aku berada di sini sekarang," ucap Rengganis ketus. Kalau Rengganis segera berdiri dan pergi meninggalkan pemandian air panas itu.


"Hey, tunggu!" Pria itu segera naik dari kolam, mengejar Rengganis.


"Ha, mau ke mana?"


"Woiii, Singha! itu anak orang diapain?"


"Ck! Baru juga hitungan menit, dia sudah membantu anak gadis orang lain kabur. Apa yang sebenernya dia lakukan?"


"Palingan karena ucapannya yang seperti sambal setan."


"Ngomong-ngomong tentang sambal setan, gimana kalau kita challenge lagi. Siapa yang bisa menghabiskan dua porsi ceker sambal setan Mpok Nur, aku akan berikan mobil terbaruku. Setuju gak?"


Empat orang yang lainnya saling menatap, detik kemudian mereka sama-sama menenggelamkan orang yang memberikan challenge tadi sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hey!" Pria yang bernama Singha itu menarik tangan Rengganis.


"Lepas!" Rengganis mencoba melepaskan tapi tenaganya tidak. Cukup kuat.


"Kenapa kamu marah?"


"Karena kamu sodara Santika. Aku membenci wanita itu. Kau tahu, dia memukulku beberapa kali dihadapan orang banyak. Aku bohong tentang bapak? Tidak. Dia juga sama, sering memukulku hingga aku pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Aku membencinya, aku benci pada mereka yang selalu menggunakan kekerasan untuk hal yang sangat sepele. Kamu sodaranya bukan? Aku tidak ingin dihajar juga olehmu."


"Aku dan dia tidak ada hubungannya. Kamu bersodara bukan berarti sifat kami sama." Singha menjelaskan dengan santai.


"Lupakan. Aku akan pergi dari sini."

__ADS_1


"Naik apa? Ke mana?" tanyanya tenang.


Rengganis terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Singha karena dia sendiri memang tidak tahu harus ke mana dan naik apa.


__ADS_2