
Rebbeca tertawa begitu kencang saat belum sebulan Athala pergi, orang tuanya kembali sibuk dengan dunia mereka sendiri. Jika saat ada Athala saja Rebbeca merasa kesepian, kini dia benar-benar sendiri di sana.
Butuh tekad kuat dan tenaga yang besar untuk mengumpulkan keberanian bagi Rebbeca agar bisa masuk ke kamar Athala.
Bau kamar itu masih sama. Wangi segar khas parfum yang selalu dipakai Athala. Dia melihat-lihat dinding kamar kakaknya yang penuh dengan catatan-catatan kecil. Foto-foto dirinya, Rebbeca, dan juga teman-teman yang lain.
Rebbeca melihat ada sebuah kotak merah yang berukuran sedang di atas meja Athala. Dia menghampiri lalu mengambil kotak itu.
Saya dibuka ada setumpuk foto, dan kotak kecil lainnya.
Rebbeca tersenyum saat melihat itu adalah foto mereka saat kecil. Seperti kembali ke masa lalu, Rebbeca mengingat setiap kejadian yang ada di dalam foto itu. Dia tersenyum bahagia seolah dia berada di sana.
Kotak kecil yang ada di dalamnya, Rebbeca buka. Ada sebuah kertas Yaang digulung kecil, lalu diikat sebuah tali dari serat kayu.
Aku rindu kamu yang dulu, Becca. Adikku yang manis dan manja. Aku ingin kita seperti dulu lagi. Bermain bersama dan berbagi cerita. Tapi, semuanya berubah setelah kau menyukai keindahan pelangi dari sudut pandang yang lain. Rebbeca, kembalilah padaku. Jadilah adik kecilku yang cantik. Aku rindu, Becca. Aku sangat rindu padamu. Aku mohon, sadarlah dan kembali ke pelukanku.
Isi surat itu membuat Rebbeca kembali menangis histeris. Athala yang selama ini diam, ternyata merindukannya. Dia merindukan adiknya yang dulu.
Setiap berada di rumah bersama Rebbeca, Athala selalu diam-diam menatap wanita itu dengan tetesan air mata. Dia membenci Rebbeca karena perubahan yang terjadi, tapi hatinya tidak bisa berbohong, dia begitu mencintai adiknya tersebut.
Lama menangis membuat Rebbeca akhirnya tertidur di kamar Athala, dengan keadaan gelap dan tirai yang terbuka.
Sinar matahari yang masuk melalui jendela, menyapa wajah Rebbeca yang masih terlelap. Wanita itu perlahan sadar, matanya berusaha menahan silaunya cahaya sang raja siang.
Dia duduk, lalu kembali melihat secarik kertas yang sejak malam dia genggam. Rebbeca mulai merapikannya kamar Athala, lalu pergi memberikan diri.
Hari ini dia membuat janji bertemu dengan Kenan di caffe tempat mereka biasa bertemu.
Wanita cantik yang terbiasa glamor itu kini berdandan sederhana.
Kenan yang melihat dari kejauhan semakin meleleh hatinya saat melihat Rebbeca yang terlihat anggun.
"Hai, lama nunggu ya?"
Rebbeca tersenyum, lalu menggelengkan kepala setelah menyeruput minuman yang dia pesan.
__ADS_1
"Matamu masih bengkak."
"Hmmm ... bagaimana tidak, aku kehilangan separuh nyawaku. Sakitnya tidak bisa dibayangkan oleh siapapun, Ken."
"Aku tahu. Karena aku pernah merasakan hal yang sama. Aku pernah kehilangan shakeera saat dia masih bayi."
"Tapi dia kembali."
"Kamu tahu? Mama aku bahkan pernah mengatakan jika dia lebih baik kehilangan anaknya dengan cara meninggal ketimbang hilang. Jika hilang, kita tidak tahu dia seperti apa, di mana? Dengan siapa? Hidup atau tidak? Jika mati di mana jasadnya. Gak ada kejelasan."
Rebbeca mengangguk.
"Aku tidak akan mengatakan sabar atau segera lah move on. Tetaplah dengan perasaan kamu saat ini. Sedih, kehilangan, dan merindukan. Itu tandanya kamu mencintai Athala. Tapi bukan berarti kamu menyia-nyiakan masa kini."
"Sulit, tapi aku pasti bisa. Aku ingin melakukan apa yang Athala inginkan sebelum dia meninggal."
"Bagus. Anggap saja itu adalah wasiat darinya."
Rebbeca menatap Kenan dengan mata nanar. Lalu dia menangis. "Aku masih ingat bagaimana matanya menatapku saat dia kesakitan. Matanya berbicara seolah mengatakan selamat tinggal padaku. Kau tau, Ken? Aku bahkan sempat marah padanya sebelum kami keluar rumah. Tapi ... Tapi saat kejadian itu terjadi, dia tersenyum seolah dia ingin mengatakan 'aku memaafkanmu'. Ken, sedetik saja aku ingin dia hidup, aku ingin bilang padanya kalau aku sayang sama dia."
Kenan menggenggam erat tangan Rebbeca. Dia tidak mengatakan apapun, atau memberi nasihat apa-apa. Karena kadang ... orang bercerita bukan untuk meminta pendapat, mereka hanya ingin didengar.
Tangisan Rebbeca perlahan reda, nafasnya pun mulai normal.
"Ini." Rebbeca memberikan gulungan kertas peninggalan Athala pada Kenan. Pria itu membacanya.
"Bantu aku, Ken. Aku mohon." Rebbeca menunduk kepala dalam-dalam, memohon pada Kenan agar dia membantu dirinya melaksanakan pesan terakhir Athala.
Sungguh diluar dugaan, Kenan yang selama ini berusaha mengajak Rebbeca kembali ke jalan yang benar, kini dia sendiri yang meminta bantuannya. 'Ada hikmah di balik musibah'. Mungkin pepatah itu berlaku saat ini.
"Dengan senang hati aku akan membantumu, Becca. Apa yang harus aku lakukan?"
Rebbeca mendongak, dia menatap Kenan dengan sangat serius. "Ayo kita menikah."
Kenan langsung mengangguk mantap.
...***...
__ADS_1
"Apa? yakin? kakak tidak sedang bercanda bukan? Kak ...."
Rengganis yang mendengar Kenan yang meminta izin padanya dan keluarga untuk menikah dengan Rebbeca, begitu terkejut.
Pun dengan Nhabira dan Nugraha.
"Ken, papa bukan tidak tahu siapa Rebbeca. Selama ini papa membiarkan kamu mendekati nya karena papa pikir kamu hanya iseng."
"Aku serius, Pa. Jika bukan Becca, maka tidak akan ada pernikahan dalam hidupku."
"Menikahlah, Nak. Mama akan merestui kamu."
"Ma?" Rengganis keberatan.
"Mama bangga sama kamu jika dia sampai insyaf. Dia hanya sakit, dan semua penyakit pasti ada obatnya. Obati dia, Ken."
Kenan menangis saat mendengar ucapan Nhabira. Nugraha pun tidak bisa mengatakan apa-apa jika sudah istrinya yang berbicara.
Pernikahan pun berlangsung. Hanya dalam sepekan saja untuk mempersiapkan semuanya. Tidak mewah, hanya ada keluarga dan para sahabat.
"Andai Athala ada di sini, dia pasti akan bahagia."
"Tapi jika Athala masih hidup, belum tentu pernikahan ini terjadi bukan?"
Singha dan Rengganis saling menatap sambil berpegangan erat. Mereka sangat bahagia melihat pernikahan Kenan dan Rebbeca, meski hati Singha terasa perih karena Athala tidak bisa menyaksikan apa yang selama ini dia impikan.
"Akan ke mana mereka setelah ini?"
"Entahlah, Rebbeca bilang dia ingin tinggal di tempat yang benar-benar hanya ada mereka berdua, agar Rebbeca hanya fokus pada Kenan. Emmm, di pulau yang terpencil mungkin. Intinya tidak ada spesies lain selain Kenan."
Singha menahan tawa mendengar ucapan Rengganis.
"Kenapa? Jangan ditahan kalau mau tertawa."
"Aku tidak ingin jadi pusat perhatian di acara pernikahan Kenan. Sudah, jangan bicara lagi."
"Ngomong-ngomong, kenapa kita jadi akur gini? Bukannya kita sedang marahan? Aku kan belum maafin kamu. Lepas, Ah!" Rengganis menarik tangannya, namun Singha menggenggamnya begitu erat.
__ADS_1