Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
tamu tak diundang


__ADS_3


Alunan musik yang lembut menyambut kedatangan Singha Rengganis saat menggelar acara resepsi. Memperlihatkan betapa cantik dan tampannya pengantin baru yang sedang berbahagia itu.


Ada rasa bangga pada diri Singha, terlihat jelas di wajahnya saat dia akhirnya berhasil mendapatkan Rengganis. Wanita cantik yang memiliki hati lembut.


Mereka berjalan perlahan, melambaikan tangan pada para tamu yang terpana melihat kedatangan mereka. Duduk di singgasana kebahagiaan seraya terus tersenyum ramah pada setiap mata yang melihat.


Akad nikah dilangsungkan secara tertutup. Hanya disaksikan keluarga dan sahabat karena Singha ingin acara tersebut benar-benar sakral dan khidmat.


Rengganis dipersunting oleh Singha dengan mahar berupaya logam mulia seberat 2,5 kg, dan yang tunai 2,5 Milyar. Tak hanya itu, Singha juga menghadiahi Rengganis dengan sebuah rumah mewah di komplek elit di kota tersebut.


Rangkaian acara pun dimulai. MC mulai melakukan tugasnya. Sambutan dari pihak keluarga, lalu acara pentas persembahan dari para sahabat juga persembahan para artis terkenal yang berada di bawah naungan Singha dan kawan-kawannya.


Ada acara dansa yang dilakukan mempelai, juga acara potong kue.



Setelah itu tamu dipersilakan untuk memberikan selama. Singha dan Rengganis juga kedua keluarga berdiri untuk menyambut para tamu.


Tamu yang sudah memberikan selamat, dipersilakan untuk melakukan acara bebas. Makan dan juga berbincang dengan para kolega yang ada di sana.


"Selamat ya, Pak Nugraha atas pernikahan putrinya. Semoga berbahagia."


"Terimakasih pak Aiman."


"Dan untuk pengantin, ini ada sedikit hadiah untuk kalian. Liburan ke eropa selama sepekan penuh."


Singha dan Rengganis mengucapkan terimakasih pada teman bisnis Nugraha atas apa yang dia berikan.


Selain Pak Aiman, Rengganis dan Singha mendapat banyak hadiah yang tidak pernah terbayang sebelumnya oleh Rengganis. Yang dia tahu, saat di kampung ada acara hajatan, orang-orang akan memberikan amplop yang berisikan uang dengan jumlah lima puluh atau seratus ribu rupiah.


Tidak disangka, hadiah kaum elit berbeda. Meski ada yang memberikan uang, tapi berupa cek. Kebanyakan dari mereka memberikan hadiah berupa barang. Entah itu alat rumah tangga seperti kulkas, dan yang lainnya. Ada juga yang memberikan kendaraan, emas batangan dan juga tiket liburan.


Bekum lagi barang-barang branded luar negeri.


Akad nikah dilakukan pukul sembilan pagi. Resepsi dimulai dari pukul dua siang dan sampai saat ini pukul delapan malam, Rengganis dan Singha masih berdiri menyambut tamu. Mereka diberi jeda untuk istirahat, namun tetap saja Rengganis tidak kuat menahan sakit di kakinya. Gaun yang besar dan berat pun semakin membuat tubuhnya lelah.


"Kenapa, Sayang?" tanya Singha setelah melihat Rengganis berkali-kali memegangi kakinya.


"Sakit. Aku gak kuat berdiri lagi."


"Duduk saja, tidak apa-apa."


"Kenapa?" Kenan menghampiri saat melihat wajah adiknya terlihat pucat dan lelah.

__ADS_1


"Capek," rengek Rengganis. Tanpa basa-basi, Kenan langsung memapah Rengganis keluar dari ballroom.


"Kamu di sini saja temani tamu sebentar lagi,"ujar Kenan pada Singha. Pria itu mengangguk.


Rengganis masuk ke dalam sebuah kamar yang ada hotel itu. Kenan segera memanggil penata rias untuk membantu Rengganis membuka pakaiannya.


Setelah berganti pakaian dan menghapus riasan, Kenan memeriksa kaki adiknya. Sedikit bengkak. Dia mengusap-usap kaki Rengganis.


"Harusnya tadi duduk saja kalau gak kuat, kenapa berdiri terus?"


"Gak enak sama tamu, Kak. Masa akunya duduk?"


"Mereka juga akan mengerti kok. Malah menyiksa diri sendiri."


"Aku cuma ingin memberikan yang terbaik, secara ini kan hari bahagiaku. Aku terlalu antusias sampai mengabaikan rasa sakit. Eh, gak kuat juga ternyata."


"Ya udah, sekarang kamu istirahat saja. Kakak temani sampai Singha datang."


"Kak?"


"Hmmm."


"Rebbeca gak ikut?"


"Oh. Mudah-mudahan sih dia beneran sembuh ya."


"Doain aja."


Rengganis membaringkan tubuhnya di atas kasur, sementara Kenan masih memijat pelan kaki adiknya.


Karena rasa lelah yang begituan teramat, Rengganis tidak lama pun tertidur. Berselang beberapa saat, Singha datang.


"Udah selesai?"


"Ya, beberapa tamu sudah pulang. Gimana keadaannya?"


"Kakinya bengkak, gue udah mijitin dia jadi lumayan lah berkurang. Karena Lo udah di sini, gue keluar ya. Tolong jagain adik gue."


"Pasti. Lo tenang saja."


Kenan menepuk pundak Singha sebelum keluar dari kamar.


Pintu tertutup. Singha menghampiri Rengganis. Kakinya masih bengkak meski sudah sedikit membaik.


Melihat Rengganis tertidur, Singha pikir rasa sakitnya sudah tidak begitu terasa. Dia memijat sebentar, lalu ikut membaringkan tubuh di samping Rengganis. Mereka saling berhadapan.

__ADS_1


Singha menatap penuh bahagia pada Rengganis. Kini wanita yang ada di hadapannya resmi menjadi istrinya. Singha memainkan anak rambut Rengganis yang menghalangi kecantikan wajah istrinya itu.


"Apa kamu benar-benar terlelap?" gumam Singha.


"Kamu terlihat lebih cantik saat sedang tertidur. Benar-benar menggemaskan." Singha mendekati istrinya, lalu mencium kening Rengganis.


Singha menarik selimut agar menutupi tubuh Rengganis lebih atas, dia pun ikut masuk ke dalamnya.


Meski ke depannya dia akan melihat Rengganis setiap hari, setiap saat, di setiap waktu akan tetapi dia tidak ingin mengalihkan pandanganya dari wajah Rengganis.


Hingga lama semakin lama Singha merasa ngantuk dan mereka pun terlelap.


Saat tengah malam, Rengganis terbangun karena merasa ingin ke toilet. Dia membuka mata perlahan dan tertegun saat melihat wajah Singha ada persisi di hadapannya.


Untuk sesaat Rengganis terkesima.


Singha pun ikut terbangun. Pun dengan Singha, dia sedikit terkejut saat melihat Rengganis begitu dekat di hadapannya. Mereka saling menatap dalam diam. Hingga keduanya sadar jika mereka adalah suami istri.


Mereka tertawa.


"Kenapa bangun?"


"Mau ke toilet."


"Oh."


Singha terlentang agar Rengganis bisa turun dari ranjang. Dia mengucek matanya agar bisa terbuka lebih lebar.


Saat keluar dari toilet, wajah Rengganis terlihat sedih cenderung kesal.


"Kenapa wajahmu yang ditekuk, Sayang?"


Rengganis terdiam.


Sinha menghampiri istrinya karena takut terjadi sesuatu selama di dalam.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu di dalam?"


Rengganis mengangguk.


"Kenapa?"


"Aku datang bulan."


Singha membeku. Lalu dia membalikkan badan dan berjalan lemas menuju tempat tidur. Menarik selimut, lalu menutupi tubuhnya hingga menutupi kepala.

__ADS_1


__ADS_2