
Meski dengan rasa malu yang begitu besar, Maria akhirnya mau meminta maaf pada Rengganis tentang apa yang sudah diperbuatnya dulu.
"Tante minta maaf, sungguh. Tante melakukan itu hanya karena--"
"Tidak apa-apa, Tante. Akupun jika memiliki putra kelak, akan mencari wanita yang baik untuk dia."
"Dia sama kayak kamu, Bhi. Baik dan santun. Aku dibutakan oleh rasa tidak sukaku padanya saat itu, hanya karena dia anak seorang narapidana."
"Aku faham, jutsru aku berterima kasih. Jika ternyata Rengganis bukan shakeera, maka kita gagal jadi besan."
"Iya. Ha ha ha."
Maria dan Nhabira berteman sejak lama. Tidak ada yang tahu karena mereka hanya bertemu di luar rumah. Tidak diperkenalkan pada keluarga dengan alasan tidak ingin ada dugaan KKN dalam bisnis suami mereka.
Rengganis ikut tertawa hanya sebagai formalitas. Matanya sedari tadi memindai ruangan mencari sang pujaan hatinya.
"Adik, kakak mau kenalin seseorang sama kamu. Yuk, ikut."
Rengganis diseret pelan oleh Kenan. Dia dibawa ke sebuah lorong di dalam rumah mereka.
"Itu dia."
"Serem amat," bisik Rengganis. Kenan menyenggol tangan adiknya.
"Hai, ini adik aku. Shakeera namanya." Kenan memperkenalkan Rengganis pada wanita yang sedang duduk itu. Dia pun berdiri, kalau mengulurkan tangan pada Rengganis.
"Halo, aku Rebecca. Adiknya Athala. Aku diundang ke sini oleh Kenan. Sorry, ya, aku datang."
"Gak apa-apa, kok. Aku malah seneng akhirnya bisa bertemu sama kamu. Pantas saja kak Kenan secinta itu sama kamu, ternyata kamu itu sangat cantik."
"Iya?"
Rengganis mengangguk secepatnya.
"Adik sama kakak sama aja ya, sama-sama pintar merayu."
"Titisan apa kali," ujar Rengganis. Mereka tertawa.
"Masuk aja, kenapa malah di sini?" tanya Rengganis.
"Aku gak suka keramaian."
"Oh, oke."
"Adik, kakak di sini dulu ya. Kamu masuk lagi aja ke dalam."
"Iya." Rengganis mendekati Kenan lalu berbisik, "Liat Singha gak? Dari tadi aku gak liat dia."
"Kayaknya ke kamar kamu yang baru, deh. Tadi dia minta sama kakak agar pelayan nganterin dia ke sana."
"Oh, oke. Aku pergi ya."
Kenan mengangguk.
"Bye, Becca. Nanti kita ketemu lagi, ya."
Rebecca melambaikan tangannya seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku di sini. Bukan di sana," Kenan menunjuk Rengganis.
"Emang secantik itu sih adik kamu. Gemes tau."
Kenan mengeraskan rahangnya.
...***...
Rengganis membuka pintu kamarnya. Dia melihat Singha sedang tertidur lelap di atas tempat tidur.
"Ya ampun, dia tidur? Ck, memangnya tadi malam kamu gak tidur, Sayang?" gumamnya sambil mendekati ranjang. Rengganis duduk di samping Singha.
"Aku bahkan lupa bagaimana kemarin aku merasakan penderitaan karena kini ada kamu di sisiku, Singha."
Rengganis merapikan anak rambut yang menghalangi mata Singha. Lalu mengecup kening kekasihnya itu.
Memakai gaun mini membuat Rengganis benar-benar merasa tidak nyaman. Dia tidak bisa bergerak dengan bebas. Untuk itu dia pergi menuju walk closet untuk berganti pakaian.
"Nah, ini kan nyaman."
Rengganis memakai kaos biru muda yang kedodoran alias over size dengan celana panjang joger berbahan kaos.
Rambutnya dia ikat ngasal. Setelah selesai dia kembali lagi untuk melihat Singha.
Rupanya pria itu sudah bangun. Dia sedang duduk di sisi ranjang sambil bermain ponsel, ponsel milik Rengganis.
"Loh, itu kan hp aku. Kok kamu bisa buka kodenya?"
"Bisa ditebak dengan mudah. Bahkan orang pun bisa membukanya."
"Makan yuk, kamu laper nggak?"
"Lumayan."
"Haruskah aku meminta orang membawakan makanan ke kamar?"
"Tidak perlu, kita saja yang keluar. Gak enak, masa baru juga ke sini sudah merasa jadi tuan rumah. Lagian kita belum menikah, tunangan saja belum."
"Ya udah, buruan lamar aku sebelum dilamar orang lain."
Singha menjitak kepala Rengganis.
"Awww, sakit tauuuu."
Singha tertawa.
"Aku pasti segera melamar kamu. Kamu sendiri keberatan tidak kalau kita langsung menikah saja, maksudku tanpa proses pertunangan."
"Aku sih mau. Justru itu akan jauh lebih baik. Biar kita gak perlu berjauhan lagi, dan bisa seperti saat ini setiap hari."
"Seperti ini?"
Rengganis mengangguk.
"Iya, selalu bersama."
"Kamu reuniannya sudah tidak sabar kita setiap hari selalu 'seperti ini'."
__ADS_1
"Ih, apa maksud? Aku kan cuma ingin kita selalu bersama. Gak ada maksud apa-apa."
"Yakin?" Singha mendekatkan wajahnya pada wajah Rengganis. Sontak Rengganis menjauhkan kepalanya dengan wajah yang memerah, malu.
Melihat reaksi kekasihnya, Singha sengaja menggoda dia seolah Singha akan melakukan sesuatu.
Tanpa diduga, Rengganis yang terus digoda memberikan perlawanan yang mengejutkan. Dia menarik tengkuk Singha, lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
"Iya, seperti ini." Dia berbisik saat wajah mereka hany berjarak satu ruas jari tangan. Merasa ditantang, Singha pun memberi perlawanan. Sayangnya, sebelum dia mendaratkan bibirnya, pelayan mengetuk pintu.
Dengan sangat kesal, Singha menarik kembali tubuhnya, lalu membiarkan Rengganis pergi ke depan pintu.
"Ada apa?" tanya Rengganis ketus. Wajahnya ditekuk karena kesal.
"Ma-maaf, Nona. Tamu dari pihak pria sudah ingin berpamitan. Nona dan tuan diminta Nyonya segera menemui mereka."
"Iya!"
Brakkkk!
Rengganis menutup kembali pintu dengan kasar. Singha yang melihat Rengganis kesal seperti itu merasa geli dan gemas. Dia tertawa sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Jangan tertawa!"
Rengganis berjalan menuju meja rias. Dia merapikan rambut dan juga make up nya yang sudah luntur.
Singha berdiri di belakang. Dia masih tertawa sambil melihat Rengganis berdandan.
"Ayo, nanti orang nyangka kita melakukan sesuatu yang tidak-tidak," ujar Rengganis.
"Dari pada difitnah, kenapa kita tidak melakukannya saja sekalian. Tanggung terlanjur difitnah."
"Ishhhh! Makanya buruan nikahin aku. Udahlah, ayo."
Rengganis berjalan mendahului Singha.
"Tunggu sebentar." Singha dengan sigap memeluk tubuh mungil Rengganis.
"Aku akan datang lagi untuk menikahi kamu, oke. Jangan marah dan tersenyum lah, Sayang." Singha berbisik di telinga Rengganis.
"Janji?"
"Aku janji," ucapnya seraya mencium pipi Rengganis. Seketika senyum Rengganis merekah. Sepanjang mereka melangkah, Rengganis berpegang tangan pada Singha dengan manjanya. Hingga mereka sampai di aula tempat keluarganya berkumpul tadi.
Semua mata memandangi mereka dengan tatapan yang berbeda. Mereka saling berbisik sambil sesekali cengengesan.
"Aku bilang juga apa, daripada difitnah lebih baik kita lakukan saja sekalian," Bisik Singha.
Bagaimana mereka tidak curiga, Rengganis yang semula memakai gaun, kini berpakaian santai. Juga Singha tidak memakai lagi setelan jas nya. Tidak hanya itu, karena tertidur kemeja Singha menjadi kusut.
Pantas saja mereka berpikir jika kedua sejoli itu sudah melakukan hal-hal yang ... Sudahlah. Kalian juga pasti mengerti bukan, Reader?
...***...
Haloooo, wah gak nyangka ya udah episode 53 aja. Sebenarnya aku ini bukan tipe penulis yang bisa sampai ratusan part, kadang bingung membuat konfliknya harus bagaimana lagi agar menarik dan tidak membuat pembaca bosan.
Jadi, cerita ini pun sepertinya tidak akan memiliki bab yang panjang. Entahlah, akan seperti apa endingnya nanti. Semoga kalian tidak bosan ya, Reader.
Aku juga mau ngucapin terimakasih atas like, komen, dan dukungan yang telah diberikan. Jujur, ya, like dan dukungan kalian itu mood booster untukku dan mungkin juga untuk semua penulis yang ada. Jadi, aku ucapkan terimakasih banyak untuk kalian yang menyediakan waktu untuk memberikan like nya pada setiap cerita yang aku buat.
__ADS_1
Sehat dan berkah selalu ya untuk kalian semua pembaca "Hasrat Sesaat". Lopein sekebon pokonya.