Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Tak selamanya pelangi itu indah


__ADS_3

Rengganis membuka laptopnya, dia mulai mencari apa yang dimaksud dengan 'kaum belok'. Setelah membacanya, Rengganis benar-benar terkejut. Tubuhnya gemetar saat mengingat apa yang dilakukan Rebbeca di pesta pernikahan Amara kemarin.


Rengganis muntah. Berkali-kali dia mencuci bibirnya dengan sabun. Rasa jijik itu tidak pernah bilang. Rengganis berlari menuju dapur, hingga pelayan pribadinya pun itu berlari mengejar majikannya.


Sesampainya di dapur Rengganis celingukan. Dia tidak menemukan apa yang dia cari.


"Nona, apa yang sedang non cari?" tanya Inne, pelayan pribadi Rengganis.


"sabun cuci piring, deterjen atau apapun yang bisa menghilangkan noda membandel."


"Ohh, sabun cuci piring." Inne pergi ke ruangan sebelah, lalu kembali sambil membawa sabun cuci piring.


Rengganis segera merebutnya, dia menumpahkan sabun itu cukup banyak lalu mengusapkannya pada bibir. Sontak kedua pelayan itu dan pelayan lainnya yang kebetulan ada di sana berteriak histeris.


Mereka segera memegangi tangan majikannya agar tidak menggosokkan sabun itu.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Kenan. Dia berjalan menghampiri Rengganis yang sedang dipegangi beberapa pelayan.


"Lepaskan! Jangan sampai tangan kalian melukai adikku!"


Mereka segera melepaskan tangannya dari tubuh Rengganis. Kesempatan, Rengganis kembali menggosok bibirnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kenan sambil memegangi tangan adiknya. "Ayo, cuci." Kenan memaksSza adiknya berjalan menuju wastafel.


"Inne, cuci mulut Shakeera. Bersihkan pelan-pelan."


"Ba-baik, tuan."


Rengganis tegak berdiri dengan memasang wajah kesal pada Kenan.


"Ada apa, adik? Apa yang kamu lakukan?" tanya Kenan yang juga kesal melihat sikap Rengganis.


"Ada apa ini?" tanya Nugraha. Dia menatap orang-orang yang langsung menundukkan kepala saat tuan besar rumah itu datang.


"Sha, kenapa wajah kamu merah-merah?" tanya Nugraha cemas. Kenan yang terlanjur kesal pada adiknya tidak menyadari hal tersebut.


"Bawa dia ke rumah sakit, Ken."


Kenan menarik tangan Rengganis tanpa basa-basi.


Sesampainya di rumah sakit, Rengganis langsung diperiksa oleh dokter kulit ternama.

__ADS_1


"Tidak berbahaya, dia hanya mengalami iritasi karena terlalu banyak deterjen dan gesekan yang terjadi antara kulit muka dan tangan. Tiga tau empat hari akan hilang. Asal cuci mukanya cukup sehari sekali aja dan harus dengan sangat hati-hati."


"Terimakasih, Dokter."


Brakk!


"Sayang." Singha datang setelah diberi kabar oleh Kenan.


"Maaf, dok." Singha meminta maaf saat dia sadar apa yang dia lakukan sangat tidak sopan.


"Apa kabar, Pak Singha?"


"Kabar baik, Dok. Lalu, bagaimana dengan calon istri saya. Apa dia baik-baik saja?"


Dokter itu tersenyum. "Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja."


"Syukurlah."


Rengganis yang duduk di kursi langsung berdiri, dia berbalik badan, lalu menatap Singha yang ada di belakangnya.


Sungguh di luar dugaan, apa yang dilakukan Rengganis membuat dokter dan Kenan langsung memalingkan wajah.


"Ada apa?" tanya Singha setelah Rengganis menjauhkan wajahnya dan mereka bisa saling menatap.


Dokter berdehem. Kenan tersenyum dan meminta maaf atas apa yang dilakukan adiknya di ruang kerja dokter.


"Aku jijik." Rengganis mulai merengek.


"Jijik?" tanya Singha. Kenan pun ikut merasa heran pada adiknya itu. Dia kemudian berdiri untuk mendapatkan kejelasan dari adiknya.


"Aku jijik karena kemarin Becca memberikan noda di bibirku. Awalnya aku merasa biasa saja seperti yang dilakukan seksama teman dekat, tapi ternyata ... Aku sadar tatapan dia tidak seperti tatapan wanita lainnya. Setiap dia menatapku, aku merasa tatapan itu sama seperti tatapan Singha padaku. Huwaaaa ...." Rengganis menangis. Dia duduk di lantai seperti anak kecil yang baru saja di jahili teman sepermainannya.


Singha jongkok.


"Lain kali, aku yang akan membersihkan bekas tangan Becca, tapi tidak di hadapan dokter dan Kenan. Ayo, kita cari tempat yang lebih nyaman."


Rengganis mulai menghentikan tangisannya. Dia meraih uluran tanga singha, dan pergi bersamanya juga Kenan.


"Kita harus bicara!" Rengganis menarik tangan Kenan setelah mereka ada di parkiran. Meninggalkan Singha begitu saja.


"Mau ke mana? Adik, kamu lupa ada Singha di sana? Kenapa pergi gitu aja?"

__ADS_1


"Dia udah gede, bisa pulang sendiri. Masuk!"


Rengganis mendorong kakaknya untuk masuk dan mengemudi mobil.


"Mau ke mana?"


"Ke tempat di mana aku bisa marah sama kakak sepuasnya."


Kenan menatap adiknya heran, lalu dia tertawa kecil.


Mobil mulai melaju perlahan, membelah kota yang penuh dengan hiruk-pikuk kegiatan manusia.


Semakin jauh, keramaian itu semakin berkurang . Kenan dan Rengganis pergi ke pinggiran kota yang tenang dan sejuk. Mereka berhenti dipinggir danau. Duduk di atas hamparan rumput, di bawa rindangnya pohon.


Kenan tidak bertanya apa yang ingin adiknya lakukan setelah lama mereka diam. Dia mengerti kenapa Rengganis semarah itu padanya.


"Dia normal." Kenan menilai membuka pembicaraan. Rengganis masih diam, matanya menatap lurus ke danau yang terlihat begitu tenang.


"Dia hanya pernah kecewa pada pria. Lukanya membuat dia tidak percaya pada laki-laki juga padaku."


"Aku sangat takut hingga rasanya sesak."


"Aku akan mengobati dia, Adik. Aku terlanjur mencintai dia bahkan sebelum dia bertemu dengan pria yang membuatnya seperti sekarang ini."


"Kakak ...."


"Seperti hal nya perasaan kamu pada Singha, kamu rela menerima apapun asal bersama Singha. Tidak peduli penghinaan yang diberikan Tante Maria, kamu masih tetap menerima Singha dan mencintai dia bukan?"


"Beda. Singha pria normal, sementara dia? Aku bahkan bingung mengatakan dia masuk pada jenis manusia yang mana."


"Becca dan Singha mungkin berbeda, tapi hati kamu dan aku sama. Kita mencintai seseorang dengan kadar yang sama, Adik."


"Kakak ...."


"Beri aku waktu, ya. Akan aku coba sekali lagi untuk membuat dia yakin dan percaya padaku. Beri aku satu kesempatan lagi, jika tidak bisa ... Jika tidak bisa maka aku tidak akan peduli lagi padanya."


Rengganis membuang nafasnya kesal. Amarah itu berubah menjadi sebuah tangisan. Dia merasa sedih pada perasaan yang dimiliki Kenan.


"Maaf karena membuat kamu sedih, sayang."


Kenan merangkul adiknya. Mereka berdua menangis tanpa suara disaksikan alam semesta yang juga nampak bersedih dengan tiba-tiba tidak adanya angin, dan matahari pun mulai meredup. Meski tidak mendung, namun sepertinya awan ingin menyembunyikan matahari sejenak

__ADS_1


__ADS_2