
"Kurang ajar! Berani dia menyakiti anakku. Aku saja tidak pernah menyakiti anaknya meski dia bukan darah daging keluarga ini," Mari sangat kesal. Dia marah sesampainya di rumah.
"Sakit, Nak?" tanya Amara sambil mengompres wajah Singha yang memiliki cap lima jari.
Meski Maria membelanya, bukan berarti dia memaafkan Maria atas apa yang dilakukannya pada Rengganis.
"Aku heran, kenapa kalian lebih membela hubungan Santika dengan suaminya dibandingkan dengan hubunganku dan Rengganis. Aku kadang merasa muak atas sikap Santika yang semena-mena."
"Kami melakukan itu bukan karena Santika, tapi demi Tante kamu. Kamu tahu sendiri bukan, jika bukan karena Santika ... Tante kamu mungkin sudah bersama ibunya Anggara."
"Tapi haruskah Singha dikorbankan demi kebahagiaan mereka?"
"Papi minta maaf, Singha. Sebagai ayah Papi mungkin telah berlaku tidak adil sama kamu. Tapi sebagai kakak, papi juga harus melindungi adik papi."
Maaf, Singha. Tapi mami hanya ingin kamu menikah dengan anak sahabat mami. Apapun yang terjadi, mami tidak akan membiarkan kamu menikah dengan wanita lain, jikapun itu bukan Rengganis.
"Masih sakit?"
Singha melemparkan handuk yang hendak mengompres pipinya.
"Kak ...."
"Lo aja yang dikompres sana."
"Loh, gue kan gak memar."
"Sini gue hajar dulu, mau?"
Izza menutup wajahnya dengan bantal sofa.
"Apa yang terjadi pada Santika sekarang?" gumam Yudistira.
"Telpon saja Oma, pih." Izza memberikan saran. "Mami, sih, kenapa juga kita dilarang ikut ke rumah sakit coba."
"Salah sendiri dia memukul anak mami pake vas bunga, eh itu pipinya ditampar juga. Bodo amat sama Santika. Mau bayinya selamat atau enggak, bukan urusan mami."
"Kejamnye, Mami." Izza menirukan gaya bicara Upin Ipin.
Maria memalingkan wajah.
"Sebaiknya aku ke rumah sakit sekarang. Bagaimanapun juga Santika keluarga kita sejak dia lahir. Gak apa-apa 'kan, Mih?"
Maria tidak menjawab. Dia masih sangat kesal karena putra kesayangannya ditampar dan dipukul begitu saja.
"Diam berarti, iya." Yudistira bangun, lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Aku ke kamar." Singha pun ikut pergi. Tidak lupa dia menakuti adiknya dengan memberikan kepalan tangan yang siap menghantam. Izza kembali melindungi wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
Kini hanya tinggal berdua, Izza dan Maria. Izza berpindah tempat, dia duduk persis di samping Maria. Lalu dengan manja tidur di pangkuan ibunya.
"Mi, Izza syok saat mendengar kalau Santika bukan anak Om Budi."
"Mami juga tidak menyangka fakta ini akan terungkap dengan cara seperti ini. Mana di depan banyak orang."
"Pasti yang tidak suka pada Santika merasa sangat puas. Secara dia memang menyebalkan."
"Sssst, jangan begitu."
"Izza juga kurang suka dengan sikapnya. Dia seperti diktator jahat yang selalu memudahkan banyak orang. Memerintah tanpa basa-basi. Izza memaklumi karena dia masih sodara, tapi sekarang? Beuhhhh, kalau saja Izza tau dia bukan sodara Iz, gak bakalan deh mau disuruh ini itu."
Maria menghela nafas dalam. Dia tau bagaimana perlakuan Santika pada anaknya dan pada kerabat yang lain.
"Gimana ceritanya dia bisa diadopsi oleh om dan tante."
"Bukan diadopsi, melainkan dibeli."
"Waduuuh, dibeli? Kalau mau beli harusnya pilih-pilih, Mih. Rugi tau."
Pukkkk!
Maria memukul manja kening anaknya. Izza tertawa.
"Yaa habisnya, masa manusia dibeli."
"Dulu, om dan tante tidak juga memiliki anak. Usia pernikahan 11 tahun, barulah Tante kamu hamil. Kamu bisa bayangkan bukan betapa bahagianya mereka juga kami?"
"Namun, saat melahirkan ... Ternyata bayinya meninggal dunia. Dokter bilang bayi itu meninggal sepekan sebelum melahirkan."
"Kok bisa sih meninggal gak ketahuan?"
"Mami gak tau. Tante kamu dioperasi itupun karena kehamilannya sudah melewati batas usia kandungan. Saat diperiksa, detak jantung bayinya sudah tidak ada. kami sekeluarga meminta dokter agar merahasiakan hal ini dari Tante kamu."
"Terus, kalian menemukan Santika dari mana?"
"Seorang suster memberi kami saran agar kami tetap melahirkan bayi Tante kamu, dan sebagai anaknya kami mengambil bayi orang lain."
Izza bangun. Dia merasa tidak mengerti dengan apa yang sedang diceritakan ibunya.
"Dikasih sama itu ibu? Dia ngasih anaknya yang baru lahir begitu saja?" tanya Izza penasaran.
"Santika lahir dari keluarga yang sangat miskin. Ibu itu rela menukar anaknya dengan uang yang sangat banyak. Kami menyanggupi berapapun jumlah yang dia minta."
"Berapa?"
"Seratus juta."
__ADS_1
"Haaah? Segitu doang?" Izza semakin terkejut. Maria tersenyum, lalu mengusap wajah anaknya.
"Sayang ... Mungkin bagi kamu itu adalah jumlah yang sangat sedikit, tapi tidak untuk mereka yang jauh dibawa kita. Bagi mereka seratus juta itu seperti satu milyar di mata kita. Kamu jangan pernah menyepelekan hal yang bagi mereka luar biasa, ya." ucap Maria bijak.
"Bukan itu, Mami. Izza hanya berpikir ternyata Santika itu murah."
"Izzaaaa."
Izza terkekeh sambil berusaha menghindari cubitan dari ibunya.
"Mami tau keluarga Santika di mana?"
Maria mengangguk. "Kami masih saling berhubungan."
"Hah?"
"Akhirnya mereka menyadari bahwa harga Santika terlalu murah. Kami diperas."
"Laporin aja ke polisi."
"Lalu bagaimana dengan Tante kamu? Dia pasti akan depresi berat."
"Kan memang udah."
"Tante kamu depresi?"
"Bukan. Maksudnya Tante udah tau kalau Santika bukan anaknya."
"Oh, kirain."
"Kita laporkan saja orang tuanya ke polisi sebagai kasus pemerasan."
"Kalau kita ikut diseret karena kasus jual beli manusia, gimana? Tidak ada hitam diatas putih, Izza. Adopsi Santika tidak melalui jalur yang resmi."
Izza menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil menghela nafas.
"Makanya sekarang urusannya jadi ribet. Semua gara-gara perempuan itu."
"Santika?"
"Bukan, tapi Rengganis."
"Iih, apa hubungannya coba?"
"Ya kan gara-gara dia rahasia keluarga kita terbongkar. Coba saja Rengganis tidak pernah masuk ke keluarga kita."
"Mami ... Yang ngebongkar rahasia ini kan Singha. Itu semua juga karena dia marah sama Santika yang mendorong tubuh Rengganis sampai jatuh. Santika mendorong Rengganis karena dia kesal acaranya dirusak oleh pertengkaran mami sama Rengganis. Coba mami tadi tidak memancing emosi Rengganis, mungkin semua ini tidak akan terjadi."
__ADS_1
"Kamu menyalahkan mami, Izza?"
"Upsss!" Izza segera berlari sebelum tangan Maria berhasil menariknya. Izza tidak perduli pada Maria yang berteriak mengomeli dirinya.