Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Syal merah


__ADS_3

"Kalian di depan, biar kami mengikuti dari belakang."


Amara mengangguk sambil memapah Rengganis ke dalam mobil.


Mobil mereka terlebih dahulu pergi. Sementara Singha dan yang lainnya pergi mengambil motor.


"Bro, tunggu sebentar." Athala menghentikan langkah Singha.


"Gue cuma mau mengingatkan bahwa wanita itu sudah bersuami."


"I know."


Athala hanya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Mereka kembali melanjutkan langkahnya.


Rombongan motor itu meluncur dengan cepat guna mengejar mobil Rengganis yang sudah terlebih dahulu pergi.


"Kamu ngapain ngeliatin aja ke belakang?"


"Gue nyari mereka. Katanya mau ngikutin, kok gak muncul-muncul."


"Biarin aja sih, mereka muncul atau enggak juga apa bedanya?"


"Gue ngerasa tenang aja kalau ada mereka." Amara masih saja menoleh ke belakang mencari Singha dan kawan-kawannya.


"Nah, nah, itu mereka." Amara kegirangan.. Dia merasa sangat senang karena Singha Adan yang lainnya ada di belakang mengikuti.


Berbeda dengan Rengganis yang bersedih karena mendengar suara suaminya di telpon tadi.


Pantas saja dia mengizinkan aku dan Amara pergi, ternyata dia sudah punya janji lain.


"Lo jangan sedih terus dong. Biarin aja kakak dengan wanita itu, kita juga di sini dengan mereka."


"Kita dan Anggara berbeda."


"Iya, aku tahu. Jelas dia sedang selingkuh dengan pacarnya, sementara kita hanya bersenang-senang dengan teman baru kita. Tapi, Lo ngerasain sesuatu gak sih?"


"Ngerasain apa?" tanya Rengganis sambil menoleh pada Amara.


"Si Kunto itu, eh Singha. Iya, Singha itu gercep banget ya? Dia tanggap gitu."


"Mungkin dia memang seperti itu."


"Menurut gue sih enggak, ya. Tadi yang kedinginan di sana bukan cuma Lo,, gue juga."


"Celana aku pendek, Ra. Sementara kamu panjang. Aku juga kebetulan duduk dekat sama dia. Sampingan kita."


"Gue sih berkesan banget sama sikap dia, apalagi saat dia menukar piring makanan kalian. Keren tau."


"Ra, aku ini istri kakak kamu, Mas Anggara. Kamu lupa?"


"Ya habisnya, dia sendiri aja belum tentu inget kita, inget sama Lo."


"Terus kamu mau disamain sama dia? Suka selingkuh."


"Enggak lah, gila aja. Tapi lucu ya, kakak sama perempuan itu dibilang selingkuh, padahal mereka memang pacaran sebelum kalian menikah. Ha ha ha."


Candaan Amara membuat Rengganis menyadari satu hal yang sebelumnya tidak pernah dia sadari.


Benar, di sini bukan aku yang tersakiti tapi Santika. Bagaimana pun juga aku adalah orang ketiga yang ada di antara mereka. Apapun alasannya, nyatanya akulah yang mengambil Mas Anggara dari Santika.


"Non, ponsel saya berbunyi."

__ADS_1


"Terus kenapa, Pak?" tanya Amara padaa supir mereka.


"Ponsel itu khusus menerima panggilan dari rumah."


"Oh, iya. Pasti ibu atau kakak yang nelpon, ponsel saya dan Mba Rengganis mati. Mana pak ponselnya?"


"Ini, Non."


Rengganis melihat layar ponsel itu, di sana tertulis 'Rumah besar'


"Halo."


"Ra, kalian di mana? Ini udah jam berapa? Kenapa kamu bawa istri kakak sampai selarut ini?"


"Kita otw pulang kok. Bentar lagi nyampe. Aku dan Mba Rengganis habis keluar kota, gak jauh sih."


"Mana mba kamu?"


"Tidur. Dia kecapean habis nangis."


Rengganis berusaha mengambil ponselnya namun selalu dihalangi oleh Amara.


"Nangis kenapa? Apa dia sakit?"


"Sakit banget."


"Ra, kamu yang serius ah! Sakit apa Rengganis? Kalian di mana sebenarnya?"


"Lukanya dalam, tapi tidak berdarah dan tidak terlihat."


"Sumpah ya, Ra, demi apa Rengganis sakit? Kalian kecelakaan apa gimana? Kenapa istriku sampai luka dalam?"


"Maksudnya?"


"Pikir aja sendiri. Udah ah, kita berdua lelah mau tidur. jangan telpon lagi, biarin aja Pak Atmo menyetir dengan tenang."


Amara mematikan ponselnya.


"Kamu kenapa sih, Ra? Aku pengen ngomong sama mas Anggara."


"Ngomong apaan?"


"Yaaaa pokoknya mau ngomong."


"Mau nanya ... Mas gimana kencannya? Kalian ngomongin apa tadi?" Amara meledek Rengganis dengan nada suara yang dijelekkan.


"Ra ..."


"Jadi perempuan jangan bodoh-bodoh banget, Mba."


"Aku cinta sama kakak kamu, Amara."


Rengganis membelakangi Amara, dia merebahkan kursinya agar bisa sedikit merebahkan badan.


Andai saja Lo bertemu dengan Singha duluan, Mba.


Amara kembali menoleh ke belakang mobil. Dia melihat motor Singha ada di barisan paling depan.


Mobil sengaja diberhentikan jauh sebelum sampai ke halaman rumah. Singha dan yang lainnya ikut berhenti.


"Kenapa berhenti di sini? Mana Rengganis?" tanya Singha.

__ADS_1


"Kalian jangan ikut masuk sampai halaman rumah, suami Rengganis sedang menunggu di sana. Apa yang akan terjadi jika suaminya tau Rengganis bersama kalian."


"Rengganisnya mana, Ra?" tanya Kenan.


"Dia tidur, mungkin lelah."


Namun, mata Singha tidak bisa dibohongi. Dia bisa melihat meski samar jika saat ini Rengganis sedang menatapnya.


Dia menghembuskan nafas berat. Lalu menyalakan motornya dan pergi meninggalkan mobil Amara.


"Nanti aku hubungi,". Ucap Rangga pada Amara. Amara mengangguk sembari tersenyum manis.


"Kenapa gak pamit dulu, Mba? Setidaknya bilang makasih kek."


"Untuk apa? Kita tidak meminta mereka mengawal sampai sini bukan?"


"Mata dan hati mba benar-benar udah ditutupi kak Anggara semua."


"Dia suami aku, Ra."


"Ya, ya, SUAMI."


Rengganis menatap jauh ke luar kaca mobil. Entah apa yang sedang dia pandangi di kegelapan malam seperti ini.


Saat gerbang terbuka, Anggara sudah berdiri di dalam masih lengkap menggunakan jas yang dipilihkan Rengganis pagi tadi. Memasukan tangannya pada celana.


"Hai, Kak."


"Masuk!"


Amara langsung terdiam tanpa kutik. Dia menoleh pada Rengganis, lalu pergi setelah Rengganis memberi isyarat agar dia menuruti perintah Anggara.


"Dari mana saja kamu? Kenapa pergi selarut ini?"


"Tadi aku dan Amara pergi keluar kota. Kita cuma jalan-jalan aja, kok. Cuma yaaa karena terlalu asik jadinya lupa waktu."


Mata Anggara tertuju pada kaki Rengganis yang dibalut syal berwarna merah.


"Oh, ini. Tadi aku kepeleset, terus seseorang membantuku dan membalutnya pakai ini."


Anggara menghampiri Rengganis, dia berlutut, lalu melepaskan syal itu. Anggara kembali membalut kaki istrinya memakai sapu tangan yang ada di saku celana.


"Ayo kita masuk, kamu harus istirahat." Anggara membungkuk, mengarahkan punggungnya agar Rengganis naik.


Meski ragu-ragu, Rengganis tetap naik di atas punggung suaminya. Mereka pun masuk.


"Mandilah duluan."


"Iya, Mas."


Rengganis merasa takut dan juga heran pada Anggara. Dia merasa janggal pada sikapnya. Anggara bersikap baik, tapi dia pun terlihat begitu marah. Terlebih dia langsung membuang syal merah itu ke dalam tong sampah.


Setelah keduanya mandi dan berganti pakaian, mereka tidur. Lagi-lagi Rengganis dibuat heran oleh sikap suaminya. Tidak biasanya Anggara membelakangi dirinya dan langsung tidur begitu saja. Sementara malam sebelumnya, meski lelah atau apapun itu, Anggara selalu minta bercerita tentang hal apapun.


Kamu kenapa sih, Mas?


Rengganis berusaha memejamkan mata, hingga dia teringat sesuatu. Di kebun pinus itu Anggara bersama Santika yang sedang video call dengan Singha. Mungkin saat itu Anggara melihat syal yang sedang dipakai Singha. Saat itu juga Amara sedang berbicara dengan Rangga.


Rengganis terhenyak.


Apa mas Anggara marah karena aku dan Amara pergi dan bertemu mereka? Apa jangan-jangan Mas Anggara mengira kami sengaja pergi dengan mereka?

__ADS_1


__ADS_2