Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Nenek


__ADS_3

"Papi lihat belakang ini kamu banyak di rumah. Sudah bosen berpetualang dengan motor-motor kamu itu?" tanya Yudistira saat makan malam.


Singha tidak memperdulikan pertanyaan Yudistira dan hanya berusaha fokus pada makanan yang ada di piringnya.


"Singha ... Papi kamu bertanya, jawab Nak."


"Omah ... Singha sedang tidak ingin membicarakan apapun. Tolong mengertilah."


"Kapan kami tidak mengerti pada semua keinginan mu, Singha? Kamu tidak ingin meneruskan perusahaan pun kami oke. Kamu tidak ingin menikah lagi pun kami oke. Bahkan kamu tidak seperti orang tua lainnya yang menjodohkan anaknya dengan anak teman mereka. Kurang apa lagi kami mengerti hidupmu?"


"Pih ... Please."


"Fine, i am sorry." Yudistira mengangkat kedua tangan sambil memegang alat makan.


Suasana makan kembali tenang. Hanya terdengar bunyi antara alat makan yang beradu oleh Marsha, karena dia belum bisa menguasai table manner dengan baik.


"Oma sudah selesai. Singha, temuin omah setelah makan ya. Omah tunggu di kamar."


"Baik, Omah."


"Sepertinya kamu akan disidang sama ibu," ledek Yudistira.


"Pih ...."


Yudistira terkekeh sambil meninggalkan meja makan. Hanya ada Singha dan Marsha di sana.


"Baby, udah selesai makannya?"


Marsha mengangguk.


"Pergi ke kamar, gosok gigi dan cuci tangan sama kaki ya."


"Iya, Dad."


Marsha pun ikut meninggalkan meja makan. Kini hanya ada Singha sendirian.


"Wah, sepi. Pada udahan ya makannya?" Izza datang.


"Kak, masih dipingit?" tanya Izza menggoda Singha. Singha menendang kaki kursi yang sedang diduduki adiknya. Izza tertawa.


"Jangan kayak anak gadis. Kakak itu duda, masa karena ditinggal Rengganis aja kakak seperti kehilangan dunia. Ditinggal mati Kak Veny aja B aja tuh dulu."


"KEEP SILENT!"


Izza kembali tertawa sambil mengunyah ayam panggang.


"Keselek baru tau rasa, Lo!" ujar Singha sambil menoyor adiknya sambil melintas. Dia pergi menuju kamar neneknya.


"Tukang ngambek. Baru juga mau ngasih tau sesuatu, malah pergi. Rugi Lo, Kak." Gumam Izza saat Singha sudah tidak lagi terlihat batang hidungnya.


"Omah ...."


"Hai, Singha. Duduk sini, Nak."


Singha duduk di kursi yang ada di sebelah omahnya.

__ADS_1


"Ada apa omah manggil Singha ke sini? Papi bilang Singha akan disidang."


Oma tertawa.


"Memang nya Omah hakim? Ha ha ha."


"Sebenarnya iya. Omah adalah hakim di rumah ini."


Omah melirik cucu kesayangannya sekilas, lalu senyuman itu memudar.


"Dalam rumah ini, Oma adalah manusia yang paling tua. Pengalaman hidup Oma sangat banyak. Oma sudah makan asam garam dunia. Jadi, saat kalian ada masalah, Oma sudah tau harus bagaimana. Termasuk saat ini."


"Saat ini?"


"Siapa wanita itu? Apa dia meninggalkan kamu karena pria lain? Kalau iya, betapa bodohnya dia karena menolak cucuk Oma yang tampan ini."


Singha tersenyum mendengar pujian neneknya.


"Singha jatuh cinta pada pandangan pertama. Jujur, saat itu Singha takut Oma. Setelah kehilangan Veny, untuk pertama kalinya jantung Singha berdebar kencang. Sayangnya dia istri seseorang."


Oma terbatuk-batuk.


"Ada apa, Oma? Minum dulu." Singha memberikan gelas berisi air putih pada omanya.


"Kamu mencintai istri orang, Singha? Apa yang terjadi pada akal kamu?"


"Dia istri dari kekasihnya Santika, Oma."


Orang tua itu semakin syok dibuatnya. Dia mengelus dadanya, sesekali memukul pelan seakan ada sesuatu yang ingin dia hancurkan karena membuat nafasnya tersendat.


"Ada apa dengan cucu-cucuku ya tuhan."


Oma memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Oma, Oma masih mau mendengar Singha cerita bukan?"


"Nanti saja ... nanti saja kita lanjutkan. Sekarang kamu keluar karena Oma ingin istirahat." Oma mengibas-ngibaskan jemari tangannya agar Singha keluar dari kamarnya.


Singha membuang nafas berat begitu berada di luar pintu kamar Oma.


"Ada apa, tegang banget."


"Lo periksa Oma gih. Sepertinya darah tinggi dia kambuh."


Izza mengerutkan keningnya. Lalu dia bergegas masuk ke kamar.


"Kakak kamu ... Kakak kamu sepertinya geger otak."


Izza tertawa. Dia mengerti jika Oma nya baik-baik saja. Dia hanya merasa kesal pada cucu kesayangannya.


"Kamu ceritakan seperti apa wanita yang membuat Singha seperti zombie."


Lagi-lagi Izza tertawa. "Oma cari tau saja sendiri."


"Anak kurang ajar."

__ADS_1


***


"Neng ... Neng ... Udah bangun belum? Ayo itu udah wayahnya ngambil ikan mujaer. Nanti pengepul di pasar nya udah pada pulang." Emi berteriak dari kejauhan.


"Apa, sih, Bu. Aku udah bangun dari tadi. Ini udah siap, kok. Tadi habis masak dulu, gas nya abis jadi pake kayu bakar."


"Owalah, saya lupa beli. Nanti deh ya setelah ngambil ikan, saya beliin gas nya."


"Iya, Bu."


Emi dan Rengganis dibantu kedua anak bujang Emi memanen ikan mujaer yang sudah besar-besar.


Tidak semua ikan diambil, mereka hanya memanen sesuai permintaan pengepul di pasar.


"Ada berapa Wan kiloannya?"


"Satu kwintal kurang dua kilo, Mak."


"Ujang, sok atuh kamu ngambil lagi biar jejeg."


"Iya, Mak."


Setelah ikan memenuhi kiloan, Rengganis dan Emi pergi ke pasar ditemani Wawan dan Ujang. Selesai transaksi, Emi dan Rengganis pergi berbelanja bumbu dan lauk seperti daging, tempe, tahu dan bahan makanan lainnya kecuali sayuran.


"Ujang gak sekolah, Bu?"


"Enggak, kelas tiga nya lagi ujian."


"Oh. Wawan gak kerja?"


"Nanti kebagian tugas malem. Berangkat jam 4 sore nanti."


"Ya udah, ayo kita jalannya cepet. Aku udah gatel pengen mandi."


"Lagian si neng, bantuin enggak tapi bajunya paling basah. Kayak anak kecil wae ngubek kolam."


Mereka tertawa.


Hanya pagi dan siang hari saja Emi menemani Rengganis di rumah. Melakukan aktifitas, mengerjakan pekerjaan rumah, dan mengurus kebun kecil mereka. Menjelang sore dia akan pulang karena harus mengurus suaminya.


Sore ini terasa dingin lebih dari hari biasanya. Kabut terlihat tebal dan awan pun mendung. Rengganis segera menutup jendela karena gerimis sudah mulai turun.


Saat dia hendak menutup pintu, Rengganis melihat seseorang sedang berjalan sambil celingukan seperti orang bingung.


"Nek, nenek." Rengganis memanggilnya beberapa kali. Nenek itu tidak merespon. Rengganis mengambil payung, lalu menghampiri wanita tua tersebut.


"Nenek, nenek sedang apa?"


Nenek itu tidak menjawab, wajahnya terlihat bingung dan sedih.


"Nenek mau ikut ke rumah saya gak? Soalnya ini gerimis, sebentar lagi hujan besar."


Wanita itu masih diam. Melihat cuaca yang mulai tidak bersahabat, Rengganis merangkul nenek itu dan membawanya ke rumah.


Dia mengajak si nenek duduk, lalu Rengganis pergi ke belakang mengambil handuk. Dengan lembut Rengganis mengelap wajah dan kepala si nenek.

__ADS_1


"Nenek aku ambil minum hangat dulu, ya. Takut nenek masuk angin nanti." Tanpa menunggu jawaban iya dari nenek itu, Rengganis pergi ke dapur untuk mengambil teh hangat.


Pantas saja Singha seperti orang gila kehilangan wanita ini. Dia cantik dan baik. Aku harus membawa wanita ini kembali. Harus!


__ADS_2