
Begitu membuka mata, mendapati diri berada di tempat yang asing. Terkejut sudah pasti karena kesadaran belum sepenuhnya pulih.
Rengganis melihat sekeliling, lalu dia akhirnya sadar.
"Iya, aku lupa kalau tadi malam nginep di apartemen Singha."
Rengganis turun, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Loh, terus aku ganti bajunya gimana?" tanya Rengganis saat dia sedang mengeringkan tubuhnya usai mandi.
"Haaa, gimana dong? Mana ini baju udah kena basah. Ck, bodoh banget sih pake acara lempar sembarang." Rengganis mengangkat bajunya ke atas.
"Minta tolong siapa dong? Amara? Apa dia mau? Nanti dia tahu dong aku tinggal di mana. Astagaaa!"
Rengganis panik. Tidak ada yang bisa dipakai selain selembar handuk itu.
"Masa iya minta bantuan Singha? Tapi kalau bukan ke dia, ke siapa lagi coba?"
Rengganis mengambil ponselnya.
"Aku kan gak punya nomor hp dia. Huwaaaa" Rengganis merasa frustasi. Akhirnya dia melakukan aktifitas dari pagi hingga sore hanya dengan menggunakan selembar handuk sambil menunggu pakaiannya kering.
Bel berbunyi. Rengganis yang sedang memakai baju, mempercepat kegiatannya.
"Kamu gak mandi?" tanya Singha saat melihat Rengganis masih memakai baju yang sama.
"Mandi, tapi kan gak bawa baju ganti. Ya udah, aku cuci terus aku pake lagi."
"Kenapa gak bilang?"
"Aku kan gak punya nomor kamu."
Singha menyimpan dua kantong besar makanan di atas meja, lalu mengambil ponsel Rengganis yang ada di atas mini bar.
"Udah aku save."
"Bawa apa itu banyak banget."
"Stok makanan."
"Bener, bener. Di apartemen kamu ini pailit. Gak ada makanan sama sekali. Eh, ada sih tapi cuma biskuit dan sereal. Mana kenyang."
"Terus kamu belum makan apa-apa?"
Rengganis menggelengkan kepala.
Singha merapikan bahan makanan yang dia bawa, lalu mengambil beberapa untuk dia masak. Laras hanya diam menonton karena dia bingung harus bantuin apa.
"Setelah masak aku harus segera pergi."
"Gak makan dulu? Memangnya mau ke mana?"
"Ada kerjaan."
"Kenapa masak dulu kalau mau kerja, padahal gak apa-apa biarin aja. Nanti aku masak sendiri aja."
__ADS_1
"Masih ada sedikit waktu."
"Makasih ya."
Setelah makanan siap, Singha segera membersihkan dirinya. Lalu bersiap-siap untuk pergi.
"Jangan buka pintu sembarangan."
"Oke."
"Nanti pulang kerja aku bawakan beberapa baju."
"Oke."
Singha langsung pergi sambil mengangkat telpon karena sejak tadi ponselnya berdering.,
"Baik banget sih itu orang. Ngomong nya suka nyakitin tapi dia care. Semoga nanti dia dapet pasangan yang baik," ucap Rengganis sambil memandangi punggung Singha.
Singha membuat steak. Namun, yang membuat Rengganis sedikit tersentuh adalah dagingnya yang sudah diiris-iris.
"Apa dia tahu aku gak bisa pakai pisau makan?"
Rengganis duduk, lalu mulai makan. "Enak ternyata."
Selesai makan, Rengganis membersihkan semuanya, mencuci piring dan juga gelas. Setelah selesai dia berkeliling melihat-lihat apartemen itu lebih detail. Rengganis juga berani membuka lemari pakaian yang ada di kamar.
"Rapi banget lemarinya. Tapi udah jelas sih, keliatan dari orangnya juga."
Beberapa sepatu, jam, dan barang-barang lainnya tertata dengan sangat rapi.
Ada sebuah meja kecil yang memiliki laci di sana. Karena penasaran, Rengganis membuka laci tersebut.
Ada mempelai wanita dan juga pria yang ternyata adalah Singha.
"Oooh, jadi dia udah nikah?"
Rengganis tersenyum tipis. Ada sedikit rasa tidak suka saat melihat foto-foto tersebut. Dia segera memasukkannya kembali. Lalu keluar dari kamar itu.
Saat Rengganis baru saja duduk, ponselnya berdering.
/Amara cute/
"Ya."
"Mba, Lo di mana sih?" tanya Amara dengan suara bergetar. Seperti menahan tangis.
"Ada apa, Ra?" Rengganis masih berusaha tenang.
"Ibu masuk rumah sakit dan sekarang gk sadarkan diri. Ibu masuk ICU."
"Rumah sakit mana?" Rengganis mulai cemas.
"Nanti aku kasih alamatnya. Kakak juga stress. Dia nunggu ibu tapi gak mikirin keadaannya sendiri. Dia gak mau makan, gak mau minum. Gak mau tidur."
"Maksudnya?"
"Dia mikirin Lo. Dia kemarin ke kampung dikiranya Lo ke sana, tapi ternyata gak ada. Kakak bilang Lo salah faham."
__ADS_1
"Udah, kamu kirim alamat rumah sakit nya nanti aku ke sana."
Rengganis segera keluar dari apartemen, tidak lupa dia mengunci pintu terlebih dahulu. Rengganis berlari kecil sambil berusaha mencoba menghubungi Singha. Tapi tidak ada jawaban.
Rengganis pergi naik taksi menuju rumah sakit tempat di mana Bu Sari dirawat. Dengan berjalan cepat, dia pergi menuju ruang ICU.
"Mbaaaa!" Amara berlari menghampiri Rengganis. Dia berhambur ke dalam pelukannya. Amara menangis sesenggukan.
"Mba, ibu gak sadar diri, kakak juga diem aja. Ada apa sih, Mba?"
"Sssst, kamu tenang dulu ya. Ayo, kita duduk. Kamu tenang dulu, Ra."
Rengganis mengajak Amara duduk di bangku yang ada di depan ICU. Setelah tenang, Amara mulai menceritakan apa yang terjadi.
Keluarga besar Amara datang bersama ibu kandung Anggara. Mereka yang tersinggung oleh sikap Rengganis saat di pernikahan, marah.
Mereka menggugat Bu Sari atas diri Anggara dan aset yang mereka punya.
"Ibu menyerahkan aset, tapi ibu minta jangan kakak yang dibawa pergi."
Rengganis merangkul Amara. "Maaf ya, ini semua gara-gara aku."
Amara menggelengkan kepala. "Ibu bilang jangan ada yang menyalahkan Mba. Ibu masih peduli sama mba di saat terkahir dia masih sadar."
Hari Rengganis remuk redam. Dia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Bu Sari.
"Mas Anggara mana sekarang?"
"Dia bilang mau nyari mba. Di telpon gak diangkat-angkat." Amara kembali menangis.
"Amara ...."
Rengganis dan Amara langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Rangga." Rengganis langsung berdiri dan pergi ke pelukan Rangga.
"Ga, bisa tolong hubungi Singha. Katakan aku ada di rumah sakit. Tadi belum sempat pamit, takut dia nyariin."
"Jadi mba tinggal di rumah Singha?"
"Enggak. Aku sewa apartemen dia."
"Aku sudah kirim pesan. Dia sedang meeting jadi gak bisa Nerima telpon."
Mereka kembali duduk. Diam dalam pemikiran masing-masing. Sementara Amara masih menangis dirangkul oleh Rangga.
"Kalian jadian ya?" tanya Rengganis. Amara dan Rangga saling menatap.
"Rengganis." Singha datang.
Rengganis berdiri menyambut kedatangan Singha. "Maaf ya, tadi aku berusaha ngasih tau tapi ...."
"Gak apa-apa."
Tidak lama kemudian Anggara datang, dia muncul dari arah belakang Singha. Melihat Rengganis ada di hadapannya, Anggara langsung berlari. Dia bahkan menabrak bahu Singha hingga pria itu tersingkir ke pinggir.
Anggara memeluk istrinya dengan erat. Berkali-kali Anggara mengucapkan ras syukur Karana istrinya kembali.
__ADS_1
"Kamu akhirnya pulang, Sayang." Anggara memeluk sambil sesekali mencium kepala Rengganis.
"Iya, Mas ... Aku pulang," ucapnya sambil menatap Singha. Mata mereka saling menatap lekat.