Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Luka gores


__ADS_3

Seusai ekspektasi Amara, Rengganis membawanya ke tempat makan di sebuah kebun pinus. Karena sore hari, kabut pun mulai muncul.


"Uwaaaaah, Lo kok bisa tau tempat sebagus ini?"


"Nyari di hp lah."


"Emang Lo liatin apaan di hp? Gue sih dipake buat nyari desain."


"Hiburan, Drakor, tempat wisata yang hits, yaaa gitu lah."


"Ayo kita masuk, gak sabar gue."


Amara berlari kecil agar bisa segera masuk ke dalam sana. Dia tak hentinya berdecak kagum pada suasana tempat itu. Mereka berjalan di atas jembatan yang terbuat dari kayu. Jembatan itu terlihat sangat indah karena cahaya lampu yang ada di pinggir kanan dan kirinya.


"Fotoin pake hp Lo. Hp gue gak dibawa."


"Oke."


"Eh, ngomong-ngomong hp, gimana kabar temen gue ya?"


"Masih aja dipikirin. Udah sih kita enjoy aja."


Amara mengangguk. Dia kembali bergaya untuk mendapatkan hasil foto yang bagus.


"Maaf, itu yang belakang jangan pada liatin napa, grogi gue jadinya."


Rengganis menurunkan ponselnya, dia menatap Amara, lalu membalikkan tubuhnya untuk melihat ke belakang.


Orang yang berjalan dibelakang tidak ngeh jika langkah kaki Rengganis terhenti, alhasil mereka saling bertabrakan.


"Awwww."


Brukk


Ponsel Rengganis terjatuh ke bawa jembatan.


"Sorry." Pria itu membantu Rengganis kembali tegak setelah dia hampir terjungkal, beruntung tangan pria itu menahan Rengganis hingga dia tidak berkahir di atas jembatan.


"Loh?" Rengganis kini bisa melihat wajah pria itu.


"Kamu lagi." ucap orang yang mengobati Rengganis.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Rengganis.


"Kita mau berenang. Mau ikut? Yuk!"


"Ishhhh."


"Eh, reuniannya nanti lagi aja. Itu hp Lo jatuh, Mba-e."


"Yaaaaah, hp aku." Rengganis baru teringat pada ponselnya yang jatuh. Dia memegang kepalanya.


"Aku ambilkan." Singha pergi untuk mengambil ponsel Rengganis yang terjatuh.


"Kita duduk di sana yuk." Salah satu dari mereka menunjukkan sebuah kursi dengan jumlah yang cukup untuk mereka, berada di tengah-tengah pohon pinus, di kelilingi lampu dan kabut tipis-tipis.


"Mba, Lo kenal om-om ini di mana?"


"Gak sengaja, aku juga lupa."


"Eh?"


Singha datang, lalu dia memberikan ponsel milik Rengganis.


"Loh, kok mati?"


"Seriusan? Tar kakak sama ibu panik dong kita semua ponselnya mati."


"Kamu sih ponselnya gak dibawa."


"Kan mba yang nyuruh."


"Aku cuma bilang ponsel kamu matiin sampe sore ini, bukan ponselnya disimpen di rumah. Ah, gimana sih?"


"Ya maaf."


"Kalian adik kakak? Apa di rumah selalu seperti ini? berantem bagaikan Tom and Jerry."


"Kami ipar," jawab Amara.


"Ipar bisa akur gitu ya."

__ADS_1


"Baru juga tadi malem kita akurnya. Ini lagi perayaan hari pertama kita jadi temen."


"Ohhh, tapi tetep ya berantem meski dalam perayaan pertemanan."


Rengganis dan Amara tertawa.


"Mba, cowok yang di sana asli manusia? Kok ganteng banget."


Rengganis melihat ke arah mata Amara tertuju.



"Coba aku cek."


Rengganis menghampiri, dia menarik celana yang ada dibawah lutut Singha, Rengganis memperlihatkan pada Amara bahwa kaki Singha ada dan menapak pada tanah.


"Ih, Lo ngapain, Mba?"


Bukan hanya Amara, semua orang termasuk Singha merasa heran dengan apa yang dilakukan Rengganis.


"Kaki dia ada, juga masih menginjak tanah."


Semua orang bengong mendengar penjelasan Rengganis.


"Kamu pikir Singha itu kuntilanak?" tanya salah satu pria di sana.


"Maaf, Mas, tapi kuntilanak itu perempuan." Amara menimpali.


"Kalau cowok berarti apa dong?" tanya salah satunya lagi.


"Kunto." Rengganis menjawab singkat. Mereka tertawa.


"Mba, kalau Kunto lahiran di dalam kubur lewat mana? Kalau kunti 'kan dari punggung?" tanya Amara terpotong-potong karena masih tertawa.


"Lewat paru-paru."


"Virus TBC dong anaknya."


Mereka kembali tertawa. Sementara Singha hanya diam sambil menghabiskan rokoknya.


"Kalian habis dari mana? Kayaknya habis hiking ya?" tanya Amara.


"Aku Reyhan, panggil aja Rey."


"Aku Kenan," pria yang mengobati Rengganis waktu itu mengulurkan tangan.


"Aku Rangga, dan itu teman kami namanya Singha."


"Halo Rangga, aku cinta." Amara meledek.


"Hah, singa?"


Semua orang tertawa.


"Mba, bukan singa. Tapi SING-HA."


"Oh, Singha. Bagus ya namanya, unik. Pasti berkesan dan gak akan bisa dilupakan. Namanya gak pasaran," ujar Rengganis.


"Hati-hati, nanti beneran gak bisa lupa loh," ucap Athala.


"Kalian siapa?" tanya Rangga.


"Oh, iya. Aku Rengganis dan ini adik ipar aku namanya Amara."


"Panggil saja saya cinta, mas Rangga."


Rangga mengangguk heran melihat tingkah Amara.


"Maaf, Mba, Mas. Mau pesan apa?" tanya pelayan yang datang menghampiri mereka.


"Coba gue liat, ada apa aja di sini?"


"Aku gak ngerti lagi ini makanan model apaan?" ujar Rengganis.


"Lo samain aja kayak gue. Intinya yang cuma pake sendok dan garpu kan? Tenang, kita pesan yang pake tangan."


"Siiip!" Rengganis mengacungkan kedua jempol tangannya.


Sambil menunggu makanan datang, mereka berbincang-bincang banyak hal. Begitu makanan datang, Singha yang semula duduk menjauh, kini dia berada di samping Rengganis.


"Kok pesen ini sih? Mana kenyang," ucap Rengganis protes

__ADS_1



.


"Yang penting kan makan pake tangan."


"Ya tapi kan--"


Singha menukar piringnya tanpa berbicara dulu pada Rengganis. Semua orang menatap Singha.



Dia bahkan langsung memakan makanan yang ada di piring Rengganis.


"Makasih ya," ucap Rengganis terbata-bata. Suasana di sana tiba-tiba menjadi kaku.


"Eh, cinta. Salah, maksudnya Amara. Jadi dia itu--"


"Cuma Rangga yang boleh manggil aku cinta, yang lain jangan!"


"Iya, iya. Eh, Amara dia itu kakak ipar kamu? Kok bisa? kayaknya dia masih anak kecil deh," tanya Kenan.


"Tau deh, pedofil kali kalau gue. Makanya dia suka sama bocah kayak dia ini."


"Cuma mukanya doang kali yang kayak bocah?" Athala ikut nimbrung.


"Enggak, emang dia masih muda. Sama gue aja beda lima tahun."


"Kamu umur berapa?" tanya Athala.


"25."


"Itu artinya dia 20 dong. Udah nikah? Ck ck ck. Harusnya kamu itu masih kuliah, masih main, masih pergi sana sini."


"Aku tidak seberuntung kalian yang terlahir dari keluarga kaya. Jangankan kuliah, sekolah SMP aja aku enggak. Cukup sampai SD."


Athala yang kebanyakan nanya pun merasa tidak enak hati.


Singha melemparkannya dengan potongan stroberi.


"Sorry, gue kan gak tau."


"Gak apa-apa. Kenapa harus tidak enak hati, orang akunya biasa aja."


"Pergi ke suatu tempat itu harus menyesuaikan kostum," ujar Singha. Mereka yang sedang membahas kehidupan Rengganis dibuat bingung oleh topik Singha.


Dia mengeluarkan jaket dari ranselnya, lalu menutupi paha Rengganis.


Amara menaikkan alisnya melihat sikap Singha. Sementara mereka berlima hanya saling melempar pandangan. Suasana kembali menjadi kaku.


"Kalian pulanglah, sudah malam. Biar aku yang bayar."


Rengganis dan Amara saling menatap. Mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Namun, Amara kembali duduk saat Rangga meminta nomor ponselnya. Di saat yang bersamaan ponsel Singha berdering. Seseorang melakukan panggilan video.


"Ya."


"Singha, Lo di mana? Om nyariin Lo dari kemarin?"


"Gue lagi naik sama yang lain. Ada apa?"


Mendengar suara orang yang menelpon, Rengganis menelan ludah. Dia kenal siapa pemilik suara itu.


"Tau deh, udah lah Lo pulang aja."


Sayang, udah? Ayo pulang, ini sudah malam.


Amara yang sedang berbicara dengan Rangga dibuat terkejut mendengar suara pria disebrang sana. Rengganis memejamkan matanya dalam-dalam.


"Berisik tau!" Amara yang kesal, matikan ponsel milik Singha.


"Mba, buruan kita balik." Amara menarik tangan Rengganis. Gadis yang batinnya terluka itu tidak siap dengan langkah Rengganis, hingga dia terjatuh dan kakinya tergores bangku.


"Awww!"


Semua orang bangun, mereka menghampiri Rengganis untuk memastikan keadaan.


Tanpa banyak bicara, Singha mengambil air putih yang ada di botol kemasan. Dia mencuci luka Rengganis, lalu membalutnya dengan syal yang dia pakai.


"Lain kali pakai celana panjang jika pergi ke pegunungan. Sekalipun tempatnya caffe seperti ini."


Rengganis menangis sesenggukan. Semua buka karena luka gores itu, tapi luka yang ada di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2