Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Tempat berlindung


__ADS_3

"Aku pergi dulu, ya."


"Iya, Mas."


Dengan berat hati Rengganis melepaskan tangan suaminya yang akan pergi menemui wanita lain. Hatinya perih.


Air matanya sudah tidak bisa dia bendung lagi, dan akhirnya luruh membasahi pipi. Bibirnya gemetar begitu mobil Anggara mulai berjalan menjauh dan hilang begitu gerbang tertutup.


Rengganis ambruk. Dia menangis sejadinya. Amara yang melihat semuanya langsung menghampiri Rengganis, lalu memeluknya erat. Mereka berdua menangis.


"Mba, Lo lepasin aja dia. Semakin Lo bertahan, Lo akan semakin tersakiti. Ikhlasin aja dia, Mba. Gue gak tahan liat Lo tiap hari nangis."


"Gak bisa, Ra ... Aku terlalu cinta sama Anggara. Aku gak mau dia pergi. Amara, panggil dia kembali. Mas ...."


Rengganis berdiri. Dia mulai berlari tanpa alas kaki.


Melihat majikan mereka berlari ke arah gerbang, satpam dan petugas yang ada di depan langsung membuka gerbang tinggi itu.


Rengganis berlari sekuat tenaga sambil memanggil nama suaminya. Dia tetap berlari meski mobil Anggara sudah tidak terlihat.


"Mas ... jangan pergi! Kembali, Mas!" Rengganis terus berlari tidak karuan. Amara dan dua satpam pun ikut berlari mengejar Rengganis.


"Mba, cukup. Berhenti, mobil kakak udah gak ada. Mba, berhenti!"


Rengganis tidak mempedulikan panggilan adiknya. Dia terus berlari sambil menangis memanggil nama suaminya.


Langkah Rengganis terhenti saat dia jatuh terjerembab. Wajah mencium jalan aspal hingga hidungnya berdarah dan dagunya terluka.


"Mbaaaa ...." Amara histeris melihat Rengganis terjatuh. Dia dan satpam mempercepat larinya untuk membantu Rengganis.


"Kakak kamu, Ra. Suruh dia kembali ke sini."


"Mba, cukup." Amara memeluk kakak iparnya dengan erat.


Tididdddd.


Sebuah mobil berhenti di belakang mereka.


"Sayang, kenapa?"


"Rangga ... Kenapa keluargaku seperti ini? Kenapa kami tidak bahagia satupun. Apa salah kami?" Amara masih mendekap Rengganis, sementara satpam sibuk mengelap hidung majikannya.


"Ayo, bawa dia ke rumah sakit dulu. Sini aku bantu."


Rangga menggendong Rengganis yang mulai melemah karena kelelahan. Mereka membawa nya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Rengganis tidak sadarkan diri.


Dokter memberikan penanganan pertama pada Rengganis. Lalu dia dibawa ke ruang perawatan setelah mendapat penanganan pertama di UGD.


"Sayang, aku keluar sebentar ya."


Amara mengangguk.


"Singha, Lo di mana? Lo jadi mau bawa Marsha bertemu Rengganis?"


"Iya, gue lagi siap-siap."


"Rengganis masuk rumah sakit. Lebih baik Lo batalin dulu deh. Ganti hari aja."


"Rumah sakit mana?"

__ADS_1


"Lo jangan ke sini dulu mendingan. Ini masalah keluarga mereka. Dia ada masalah sama suaminya. lebih baik Lo ajak Marsha main aja dulu, udah terlanjur janji mau keluar juga kan?"


"Lo bener."


"Rengganis gak apa-apa, dia cuma pingsan karena kelelahan."


"Kasih kabar gue secara berkala, Bro."


"Lo tenang aja. Gue di sini sama Amara kok."


"Thanks, Bro."


Rangga kembali masuk ke dalam kamar perawatan. Rupanya Rengganis sudah sadar. Dia hanya terdiam dengan tatapan kosong dengan air mata yang terus mengalir.


"Mba ..."


Rengganis tetap diam.


"Mba, aku panggil kakak ke sini ya? gimana? Mba, ayo kita aku sini. Mba jangan diem aja, aku bingung harus gimana? Mba, plisss jangan nangis terus."


"Sayang ...." Rangga merangkul pundak Amara. "Biarkan saja dulu Rengganis tenang. Dia butuh waktu untuk sendiri, kamu jangan ganggu. Kita di sini saja menemani dia. Jangan ngapa-ngapain."


"Tapi ...."


Rangga menggelengkan kepala agar Amara diam.


Amara dan Rangga memutuskan untuk duduk di sofa sambil memperhatikan Rengganis dari sana.


"Aku mau coba menghubungi kakak dulu."


Dia mengambil ponsel lalu mencoba untuk menelepon Anggara namun tidak juga mendapatkan jawaban.


"Lagi apaa sih tuh orang! Punya ponsel tapi susah banget dihubungi."


Suara pintu diketuk. Amara dan Rangga kompak menoleh, tidak lama kemudian pintu terbuka dan ....


"Singha?"


Singha datang bersama Marsha.


"Lo ngapain ke sini? Terus, Lo tau darimana Rengganis di ruangan ini?"


"Lo lupa pemilik rumah sakit ini siapa?"


Rangga sepertinya loading. Lalu dia menepuk jidatnya seperti mengingat sesuatu.


"Lupa gue kalau rumah sakit ini milik bokap Lo. Hey, kamu ikut princess?"


"Halo, Om."


"Itu siapa, kok lucu banget." tanya Amara.


"Sapa saja, dia ramah kok anaknya."


Amara menghampiri gadis kecil yang datang bersama Singha. Dia berlutut sambil mengulurkan tangan.


"Hai, aku Amara. Kamu siapa?"


"Aku Marsha, Tante."

__ADS_1


"Cantik banget, sih." Amara mencubit gemas pipi Marsha.


"Kalian bisa titip dia sebentar?"


Amara langsung mengangguk. Rangga dan kekasihnya itu segera membawa Marsha keluar.


Singha menghirup nafas dalam-dalam saat melihat kondisi Rengganis yang terbaring sambil menangis.


"Rengganis...." Singha duduk di ranjang, di samping Rengganis terbaring. Wanita itu menoleh, lalu dia pun duduk dibantu oleh Singha.


"Ada apa? Kenapa wajah kamu lecet?"


Rengganis menundukkan kepalanya. Tangisannya pecah. Lama dia menangis hingga emosinya sedikit mereda.


"Aku berusaha melepaskan payung itu, tapi ternyata hujannya terlalu besar dan saku sakit ."


Rangga terdiam sejenak lalu dia mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Rengganis.


"Bukan hanya payung yang bisa melindungi kita dari hujan. Kamu hanya harus mencoba mencari tempat berlindung."


"Ke mana aku harus berlindung? Satu-satunya orang yang peduli padaku selama ini sudah pergi. Aku sendirian."


Rengganis kembali menundukkan kepala lalu sesenggukan.


Dengan perlahan Singha memegang kedua pipi Rengganis, wajah mereka kini saling berhadapan.


"Berlindung lah padaku ... Rengganis."


Mata Rengganis yang basah, menatap Singha.


"Lepaskan genggaman tangannya dan raihlah tanganku." Singha mengulurkan tangannya pada Rengganis. Wanita itu menatap tangan Singha ragu.


Rengganis menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Singha. Tidak semudah itu melupakan seseorang dari hari kita. Aku tidak bisa."


Tangan Singha perlahan tertutup.


"Kamu tidak perlu melupakan dia. Cukup pergi dan belajar lah untuk melepaskannya. Jika kamu yang baru saja bertemu dengannya begitu sulit melupakan dia, lalu bagaimana dengan Santika?"


Rengganis kembali menatap Singha, kali ini tatapannya sedikit memancarkan amarah.


"Apa kamu senagaja Karana Santika itu sodara kamu? Kamu sengaja merayuku untuk berpaling dari Anggara agar dia bisa bersama Santika? Jahat kamu!"


Singha hanya diam.


"Kenapa semua orang menganggap aku bodoh dan selalu saja mempermainkan aku. Kalian lupa aku juga manusia. Aku bukan hewan yang bisa kalian kendalikan semaunya. Hanya karena aku orang miskin? Jadi--"


Singha menarik tengkuk Rengganis, lalu menutup mulutnya yang sedang panjang lebar berbicara oleh bibirnya.


Rengganis berusaha melepaskan diri, tapi Singha dengan kuat menahannya. Perlahan Rengganis memejamkan mata dan mengikuti permainan Singha.


Mereka tidak menyadari ada seseorang yang baru saja datang dan memergoki apa yang sedang dilakukannya.


Perlahan Anggara melangkahkan kakinya mundur, dan kembali ke luar. Dia merasa syok dengan apa yang sedang terjadi di dalam.


Kakinya terasa lemas hingga berjalan pun terlihat sempoyongan. Anggara duduk di kursi yang ada di luar ruangan.


Dia menutup wajahnya dan mengusap nya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, ada sesi yang ingin keluar dan siap meledak.


Dia mengepalkan tangan, berdiri hendak menghampiri pria yang ada di dalam sedang kissing dengan istrinya. Namun, langkahnya terhenti. Dia sadar jika dia tidak pantas marah atas apa yang terjadi. Bukankah yang dia lakukan pada Rengganis lebih kejam?

__ADS_1


Anggara kembali duduk. Matanya perlahan basah. Dia merasa ada sesuatu yang perih dan hatinya.


Anggara sadar jika dia memang mencintai istrinya.


__ADS_2