Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Healing


__ADS_3

"Mas, besok aku mau pergi sama Amara."


"Besok? Kamu lupa kita akan pergi juga?"


"Oh, iya. Tapi aku mau nemenin Amara, Mas. Dia baru saja dikhianati temennya."


"Temen? Temen yang mana? Siapa yang berani menyakiti adikku?"


"Ihhhh, mau ke mana?" Rengganis menarik tangan Anggara hingga pria itu kembali tidur di samping Rengganis.


"Besok harusnya dia pergi sama temennya, tapi karena ada masalah jadinya dia gak ikut. Rencananya aku akan nemenin dia pergi biar dia gak terlalu sedih."


"Ya sudah. Kamu pergi tapi jangan jauh-jauh."


"Enggak, kita paling nonton doang."


"Tapi aku yang akan menjemput kalian pulang, oke?"


"Siap, komandan."


Anggara tertawa melihat istrinya memberikan hormat.


"Gemes banget sih kamu," ujar Anggara geregetan sambil memeluk Rengganis.


"Kita tidur, yuk. Udah malem."


Rengganis mengangguk dalam pelukan suaminya. Beberapa menit kemudian mereka sudah tidak bersuara.


Meski begitu, bukan berarti Rengganis tertidur. Dia masih mengingat tulisan di chat atas nama lovely. Jangan lupa besok kita ketemu, aku rindu.


Air mata Rengganis kembali menetes. Sekuat tenaga dia berusaha tenang tidak mengeluarkan suara ataupun gerakan. Namun dia tidak sadar air matanya membasahi baju Anggara.


Maafkan aku, Rengganis. Sekuat tenaga aku berusaha melupakan Santika, tapi ternyata sangat sulit. Aku minta maaf, istriku.


Anggara mengeratkan pelukannya. Air mata Rengganis langsung berhenti menetes. Dia takut Anggara tau jika dirinya tengah menangis.


Pagi hari seperti biasanya. Rengganis mandi lalu berpakaian rapi dan wangi.


"Jika suami masih tidur, kita harus segera bangun. Dandan yang rapi dan wangi sebelum mereka membuka mata. Jadi, saat mereka bangun kita sudah cantik." Itulah nasehat Bu Sari untuk Rengganis.


"Pagi, Mas. Udah bangun?" tanya Rengganis saat melihat suaminya dari pantulan cermin. Rengganis sedang merapikan rambutnya.


"Pagi, istriku." Anggara menghampiri Rengganis untuk mencium kepalanya, sebelum dia ke kamar mandi.


"Pakai baju warna apa hari ini?" Rengganis sedikit berteriak karena Anggara sudah di dalam kamar mandi.


"Kemeja biru langit sama setelan jas putih."


"Okeee," Rengganis tersenyum meski air matanya berlinang.


"Bahkan kamu memakai baju sesuai permintaan wanita itu, Mas." Rengganis bergumam. Tengah malam saat Rengganis dan Anggara sudah tertidur, dengan sengaja Rengganis membuka ponsel suaminya. Dia membaca chat antara Anggara dan Santika.


"Bajunya sudah aku siapkan, aku ke bawah dulu ya buat nyiapin sarapan kamu, Mas."


"Tunggu dulu, menurut kamu ini gak kayak pegawai pabrik apa gitu?" tanya Anggara sambil memandangi baju yang ada di atas kasur.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Aku seperti tidak asing dengan perpaduan warna ini. Ganti aja. Menurut kamu aku cocok pakai baju warna apa hari ini?"


"Emmmm, apa ya? Coba aku pilih dulu." Rengganis membuka pintu lemari baju Anggara. Dia mencoba memilih satu per satu, mencocokkan dengan stelan jas dan celananya.


"Ini bagus, sih. Gimana?"


"Oke, itu kayaknya keren kalau aku pakai. Tolong sesuaikan sama jam tangan juga, ya."


"Baiklah, aku akan mencarinya."


Anggara tersenyum melihat binar yang dulu pernah ada di wajah Rengganis. Dia terlihat bahagia.


"Ini aja."


"Bagus, aku suka. Mulai besok kamu gak perlu tanya aku mau pakai baju apa, kamu pilih dan aku akan memakainya. Oke?"


Rengganis mengangguk penuh semangat.


"Aku ke bawah dulu ya."


"Hmmm, aku akan menyusul."


Rengganis pergi menuju ruang makan setelah mendapatkan kecupan hangat di keningnya.


"Perasaan pagi ini ada yang beda sama wajah Lo?"


"Masa?" Rengganis memegang wajahnya di sela-sela menyiapkan makanan untuk Anggara.


"Bukan bentuk wajah Lo, gak usah pegang-pegang juga. Itu Lo lagi pegang makanan, tar kena kuman tuh muka, radang nanti."


"Namanya juga pengantin baru," celoteh Bu Sari.


"Baru semalam Lo mewek, paginya udah senyum-senyum sendiri. Dasar moodyan, Lo."


Rengganis masih senyum-senyum gak karuan.


"Emmmm, seperti enak nih."


"Kakak juga kenapa? Kan makanan ini sering banget disajikan, lebay banget liatnya kek orang belum pernah icip aja."


"Mau makan sama apa, Mas?"


"Apa aja, asal kamu yang nyiapin, pasti enak."


"Emang ngaruh ya? Yang masak kan bukan Mba Rengganis, tapi chef Rana."


Rengganis dan Anggara asik dengan dunianya berdua. Amara pun diabaikannya.


"Iya, iya, gue cuma ngontrak di bumi ini. Gue pindah lah ke Pluto." Rengganis pun pergi.


Setelah mengantar suaminya hingga di ke mobil, Rengganis kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah siap dia pergi ke kamar Amara. Mereka sudah sama-sama siap untuk pergi.


"Ke mana kita? Nonton? Gue gak suka, bosen banget."

__ADS_1


"Sama."


"Terus kita ke mana?"


"Nyari suasana alam aja yuk."


"Gimana kalau kita ke kampung Lo aja, Mba."


"Kejauhan. Yang deket-deket aja."


"Ya udah, ayo. Eh, kalau mau ke alam masa kita pakai rok mini gini sih? Hahaha."


Mereka pun kembali ke kamar untuk berganti pakaian.




"Agak aneh gak sih kita pake ini ke alam?"


"Lo pikir kita mau naik gunung? Kita cuma mau nyari tempat sejuk doang kan? Udahlah, nanti keburu siang."


"Eh, aku liat di tiktok, ada tempat wisata alam yang asik. Kita bisa maein Go-kart, terus ATV, sama apalagi ya yang berseluncur itu, lupa."


"Udah gak usah bahas itu. Sekarang kita pergi aja dulu ke tempatnya. Urusan nama kita cari tau di sana aja."


"Gassss lah!"


Mereka membeli cemilan terlebih dahulu di mini market. Setelah itu perjalanan dilanjut. Butuh waktu sekitar tiga jam lebih untuk sampai ke tempat tujuan.


Mereka antri di depan loket untuk membeli tiket.


"Mas ini kok murah banget?" tanya Amara.


"ishhh." Rengganis menyenggol pinggang adiknya.


"Berarti setiap wahana di dalam harus bayar lagi ya, Mas?" tanya Rengganis.


"Iya, Kak. Ada loketnya di setiap wahana."


"Oke, makasih ya."


"Buruan ah, gak usah nanya harga. Kakak ngasih ke gue duit lebih tadi, mana kartunya juga dikasih. Katanya takut istrinya kekurangan."


Rengganis menyusupkan wajahnya ke lengan Amara.


"Ngapain Lo? Salting lagi?"


Rengganis tertawa bahagia.


Beberapa permainan sudah mereka coba, kini giliran permainan terkahir. Mereka begitu antusias menaiki wahana terkahir. Menantang tapi santai. Tidak hentinya mereka berteriak sambil sesekali tertawa.


"Hadeuuuh, puas banget gue hari ini. Tapi perut gue laper."


"Iyalah, secara ini udah sore. Makan yuk."

__ADS_1


"Kita nyari tempat yang enak lah, yang kira-kira adem, banyak pohonnya gitu."


"Gue tau kita harus ke mana. Ayo!"


__ADS_2