Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Menyerah


__ADS_3

p"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku baru saja masuk ke rumah, lalu mendengar mereka sedang bertengkar. Aku pikir pertengkaran biasa, tapi ternyata ...."


"Kami hanya melakukan kesalahan kecil, kenapa pria itu tidak memberi maaf sama sekali?"


"Emmm, memangnya apa yang kalian lakukan?" tanya Rangga.


Pertanyaan Rangga membuat Singha berdecih.


Lampu kamar operasi berubah hijau. Itu tandanya operasi selesai dilaksanakan. Beberapa orang dari dalam keluar menghampiri Singha dengan penuh rasa hormat.


"Pasien sudah selesai dioperasi, dan dia akan segera pulih. Lukanya memang cukup dalam, sepertinya kakinya pun terluka."


"Mungkin dia mengiris nadinya dengan pecahan kaca yang dia injak," ujar Amara.


"Bisa mungkin begitu. Tapi sukurlah pasien tidak mengalami masa kritis, beruntung dia segera dibawa ke rumah sakit karena jika tidak ... Nyawanya dalam bahaya karena kehabisan darah."


"Terimakasih, Dok." Singha mengulurkan tangan.


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu."


Para petugas itupun pergi, sementara Singha dan yang lainnya masuk ke ruang observasi, menunggu Rengganis.


"Pasien sudah bisa dibawa ke ruang perawatan, ini di kelas berapa ya?" tanya petugas tersebut.


"Kelas?" tanya Singha sambil tertawa kesal.


"Kamu tidak tahu saya siapa?" bentaknya.


"Ssshhh, tenang, Bro." Rangga mencoba menenangkan Singha yang entah kenapa . mudah sekali marah.


"Maaf, Mas. Pasien ini bawa ke ruangan paling bagus di rumah sakit ini karena pria ini adalah pemilik tempat di mana kamu mencari nafkah. Mengerti?"


"Oh, maaf pak. Baik, baik, saya akan membawa pasien ke sana." Petugas itu terlihat sangat ketakutan.



Singha duduk di sofa yang ada di sebrang tempat tidur. Dengan kaki yang disilang, dia duduk sambil mengigit ujung ibu jari.


Aapa sebesar itu perasaanmu untuk dia, Rengganis? Kamu bahkan memilih kematian daripada harus kehilangan dia.


"Bro, gue pamit sama Amara. Lo gak apa-apa kan ditinggal?" Rangga datang bersama Amara untuk berpamitan.


"Jangan beritahu suaminya kalau Rengganis ada di sini."


"Itu ... Aku udah ngasih tau kakak kalau--"

__ADS_1


"Kenapa?" tiba-tiba Anggara muncul. "Kamu takut aku akan mengambilnya darimu? Tenang saja, itu tidak akan terjadi. Aku ke sini hanya untuk berpamitan padanya, dan ya, aku akan segera mengurus surat perceraian kami."


Singha tersenyum sinis. Dia berdiri sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana.


"Kau membuang istrimu?"


"Bukan aku yang membuang dia, tapi kamu yang mengotori apa yang menjadi milikku."


"Kotor?" Singha mengangguk-angguk. "Lalu sebersih apa dirimu sampai bisa mengatakan jika dia kotor hanya karena kami pernah berciuman sekali."


"Setidaknya aku tidak melakukannya di depan istriku sendiri."


"Hanya karena melakukan di tempat yang tersembunyi, lantas kamu merasa dirimu paling bersih? Cih! Dengar, Bung. Kita sama-sama melakukan dosa, hanya tempatnya saja yang berbeda," ujar Singha dengan tenang.


"Pergilah, Mas. Aku akan melepaskan genggaman tanganku," lirih Rengganis yang ternyata sudah sadar. Susah payah dia berbicara di tengah rasa pusingnya akibat obat bius.


"Kamu dengar? Silakan pergi. Kami tunggu berkas perceraiannya." Singha mempersilakan Anggara pergi.


"Apa kalian benar-benar akan berpisah? Itu artinya aku hanya berdua dengan kakak." Amara bersedih.


"Jika saja kakak kamu itu tegas, ini semua tidak akan terjadi. Hati manusia tidak bisa ditempati oleh dua hati lainnya." Singha mendekat ke ranjang Rengganis.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?"


"Aku ingin sendiri."


"Aku mohon."


"Setelah apa yang terjadi, kamu pikir aku akan membiarkan kamu sendirian? Tidak akan pernah."


"Aku tidak akan bunuh diri lagi."


"Aku tetap akan di sini. Suka atau tidak."


Singha kembali duduk di sofa. Memperhatikan Rengganis dari jauh.


Dia kenapa begitu kerasa kepala? gumam Rengganis.


Jika memang Anggara begitu mencintai dirinya, kesalahan sekecil yang dia lakukan pasti akan dimaafkan. Tidak mungkin dia melepaskan orang yang dia cintai dengan mudahnya jika bukan karena ...


Karena Anggara lebih mencintai Santika, tidak apa. Toh Santika sudah lebih dahulu bersama Anggara. Benar, Anggara hanya mencintai ku sesaat, dia hanya terkecoh kebersamaan kami. Lupakan, lupakan dia Rengganis.


Mulut terdiam, tapi hati dan pikiran begitu ramai berdiskusi.


Rengganis berdehem.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Singha yang langsung mendekat.


"Tenggorokanku kering."


Singha membantu Rengganis agar ranjangnya bisa diangkat di bagian kepala.


"Pelan-pelan saja," ucap Singha sambil membantu Rengganis minum.


"Terimakasih."


Singha duduk di samping Rengganis. Dia mengambil lengan Rengganis yang terluka, lalu tersenyum sedih.


"Apa ini sebuah tanda seberapa besar kamu mencintainya?"


Rengganis tau bagaimana perasaan Singha padanya. Mengingat betapa baiknya pria itu yang selalu ada di setia saat terburuk di hidupnya, Rengganis tidak ingin dia terluka dengan apa yang akan dia ucapkan jika harus berkata jujur.


"Jika bisa diulang kembali, aku tidak akan melakukan hal bodoh ini. Jika orang berpikir ini adalah bukti cinta, maka aku akan mengingat ini sebagai kebodohan."


Singha mendongakkan kepala, lalu menatap Rengganis lekat.


"Singha, terimakasih karena kamu selalu ada untukku. Kamu yang selalu menjadi penyelamat di setiap aku terluka. Aku bersyukur karena pernah mengenalmu."


Singha mengerutkan kening tipis. Dia merasa senang dengan apa yang barusan dia dengar. Hanya saja dia pun merasa jika apa yang diucapkan Rengganis adalah sebuah kata perpisahan.


Rengganis memegang pipi Singha dengan satu tangannya karena tangan satunya berada di tangan Singha.


"Aku tidak bisa membalas semua kebaikan kamu. Aku tidak bisa memberikan apa yang kamu mau, Singha. Andai kita bertemu lebih awal, aku rasa hidupku adalah anugerah."


"Jangan mengatakan apa-apa lagi."


"Hiduplah bahagia, Singha."


"Aku tidak meminta apapun darimu. Kenapa kamu harus terbebani dengan memikirkan hal itu?"


"Aku bisa merasakan hatimu, Singha. Jika hati yang bicara, maka hari pula lah yang akan membalasnya dan aku tidak bisa."


"Perlahan saja. Ayo kita berjalan perlahan."


"Aku sudah pernah mencoba, mencoba mengambil hati yang sudah menjadi milik orang lain, lalu apa hasilnya? Aku tetap kalah, rasanya sakit dan aku menderita. Aku tidak ingin kamu mengalami hal yang sama denganku."


"Aku percaya, aku tidak akan sepertimu. Tapi tolong cobalah sekali saja bersamaku. Kita tidak akan tahu kamu luluh atau tidak jika kita tidak mencoba."


"Aku minta maaf." Rengganis menggelengkan kepala.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, aku akan selalu menunggumu. Saat kamu menyerah, aku siap menjadi tempat pelarianmu."

__ADS_1


Melihat ketulusan yang ditunjukkan Singha, Rengganis begitu tersentuh. Dia memeluk Singha sambil menangis.


Andai saja kamu adalah pria pertama yang aku kenal, aku akan sangat bahagia. Tapi maaf, Singha. Aku tidak bisa berbohong pada hatiku juga pada dirimu. Aku sangat mencintai suamiku. Maaf ....


__ADS_2