Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Dia yang pergi


__ADS_3


"Kamu kurus banget, Mas. Amara bilang kamu gak mau makan sama sekali. Aku sudah pulang, kamu makan ya."


Anggara menggelengkan kepala.


"Aku suapin." Rengganis berdiri lalu mendekati Anggara. Dia menyuapi suaminya dengan penuh kelembutan. Meski Awalnya Anggara tidak mau, pada akhirnya dia membuka mulutnya.


Matta bengkak Anggara sudah cukup membuktikan bahwa dia sangat menderita.


"Tinggal sedikit lagi. Habiskan ya."


"Sudah cukup, aku kenyang. Nanti malah mual."


Rengganis menyimpan kembali nasi dan ayam yang ada ditangannya. Dia pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya.


"Kamu ke mana aja?" tanya Anggara saat. Rengganis kembali duduk di kursi kantin rumah sakit.


"Aku ingin menenangkan diri, Mas. Aku syok dan kehilangan akal."


"Entah kenapa aku bisa begini. Aku juga bingung. Aku harus bagaimana?" Anggara menggenggam tangan istrinya erat.


"Tidak mudah melupakan seseorang yang sudah sangat lama menemani kita, tapi aku sangat sulit jauh dari kamu. Semalam saja aku tidak melihat kamu, aku rasanya tidak bis bernafas."


"Mas, apa semudah itu membagi hati untuk dua wanita? Mas, kamu pertimbangkan kembali siapa yang paling tidak bisa kamu lepaskan. Baik aku ataupun wanita itu pasti tidak ingin diduakan."


"Saat bersamamu, hatiku, pikiranku dan hidupku serasa hanya ada kamu. Tapi saat bersama dia pun sama."


"Solusinya sudah jelas, Mas. Kamu hanya perlu meninggalkan salah satu di antara kamu. Jauhi dan jangan pernah temui lagi. Kamu fokus hanya dengan satu wanita, dan lupakan yang satunya."


Anggara menggelengkan kepala.


"Jika kamu tidak bisa melepaskan tanganku, maka aku yang akan melepaskannya, Mas."


"Jangan, aku mohon jangan pergi. Kedatangan wanita yang mengaku sebagai ibu kandungku saja sudah membuat aku gila. Jangan pergi saat aku dalam kondisi seperti ini."


"Kalau begitu ... bawa perempuan itu untuk hidup denganmu, Mas."


"Tidak akan mudah. Ibu tidak pernah setuju aku hidup dengannya."

__ADS_1


"Tapi akupun tidak bisa hidup denganmu jika terus begini, Mas. Hatiku sudah lama hancur, jiwaku sudah lama terluka, harga diriku bahkan sudah tidak kumiliki. Apa ini yang kamu namakan cinta? menyiksa orang yang kamu cintai."


"Akan aku pikirkan, akan aku pikirkan. Tapi untuk saat ini jangan pergi dulu. Temani aku melewati masa-masa ini. Aku mohon."


Mas, andai kamu tahu sebesar apa cinta aku sama kamu. Dalam keadaan apapun aku akan setia menemani kamu, Mas. Asalkan hatimu hanya untukku. Aku bahkan tidak peduli kamu anak siapa. Aku cinta sama kamu, Mas. Apa kamu bisa mendengarkan isi hatiku sekali saja.


Anggara menundukkan kepala karena menangis dengan genggaman tangan yang tidak pernah erat. Begitu juga dengan Rengganis.


"Mama harus bagaimana, Nak? Papa kamu pun mencintai istrinya begitu dalam. Apa yang harus kita lakukan?" gumam Santika yang melihat adegan antara Anggara dan Rengganis.


"Sedang apa kamu di sini?"


Santika terkejut saat tiba-tiba Singha ada di belakangnya.


"Kamu sendiri lagi apa? Ngintip istri orang?"


"Ikut aku."


Singha menyeret Santika ke samping gedung rumah sakit.


"Apaan sih! Sakit tau!"


"Aku sudah bilang sama kamu jangan pernah mendekati pria itu. Lihat apa yang kamu dapatkan sekarang? Apa? Hamil? menikah saja belum sudah punya anak?"


"Jika pria itu tidak mau melepas istrinya, apa yang akan terjadi? Keluarga kita akan dipermalukan oleh sikap kamu itu. Ngerti?"


Santika terdiam.


"Kamu itu cucu kesayangan keluarga. Tapi apa balasan kamu? Aib tau!"


Dada Santika turun naik seiring dengan emosinya yang bergejolak. Dia kesal karena merasa dipojokkan oleh kakak sepupu nya sendiri.


"Kenapa aku yang salah? Anggara itu pacar aku selama ini, dia yang merebutnya dariku tapi kenapa aku yang disalahkan?"


Air mata Santika premiere mulai luruh. Dia mengelus perutnya lalu duduk di atas tanah.


**


Suara ventilator berbunyi cepat, seluruh dokter yang ada dan petugas medis di sana segera berlari menghampiri pasien. Mereka terlihat begitu tegang dan sibuk.

__ADS_1


"Mba, Kak. Ibu ... Ibu ..." Rengganis dan Anggara langsung berlari menuju ruang ICU. Namun, petugas melarang mereka masuk karena sedang dilakukan penanganan.


Amara dan Anggara terlihat sangat panik. Mereka mondar mandir ke sana kemari berharap mendapatkan berita baik begitu dokter keluar ruangan.


Pintu terbuka. Tiga orang petugas kesehatan keluar dengan wajah yang sudah bisa ditebak apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa basa-basi Anggara dan Amara berlari ke dalam sambil menangis histeris.


"Dokter ...."


"Kami sudah melakukan yang terbaik. Kami mohon maaf."


Mendengar apa yang dokter katakan, Rengganis masuk ke dalam dengan langkah yang gontai.


Dilihatnya Bu Sari terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat. Wajahnya begitu tenang. Tidak ada lagi senyuman yang meneduhkan di wajahnya.


"Bu ... Ada apa? Kenapa ibu pergi begitu saja? Aku sama siapa jika ibu pergi? Bu, kita pulang kampung saja, ya. Hidup di kota sangat rumit. Kita buka toko lagi, ya. Bu, ibu ayo bangun. Ibu!" Rengganis akhirnya roboh dan duduk di atas lantai.


Kini, satu-satunya wanita yang menganggapnya sebagai anak sudah pergi. Wanita yang selalu ada untuknya di saat dia sudah dan menderita, sudah tidak ada.


Penyesalan karena tidak bisa mendampingi di saat dia masih hidup, merupakan sebuah hukuman untuk Rengganis. Dia yang merasa dirinya egois karena memilih pergi dan tidak mendampingi Bu Sari membuat hatinya begitu terluka dan nyeri.


Anggara merangkul istrinya agar dia berdiri. Mereka saling menguatkan satu sama lain.


"Amara." Rangga datang.


"Ibu aku ... Ibu ... Ibu pergi."


Rangga langsung memeluk Amara begitu erat. Dengan penuh kasih sayang Rangga berusaha menenangkan kekasihnya.


"Mas, kita harus mengurus jenazah Bu Sari. Bagaimanapun kasian beliau jika dibiarkan seperti ini. Ayo, Mas." Rangga mengajak Anggara.


Mereka berdua pergi meninggalkan Amara dan Rengganis yang masih mendampingi ibunya yang telah tiada.


Surat kematian sudah ada. Jenazah pun sudah dimandikan. Kini mereka membawanya ke rumah.


Banyak sodara, kerabat dan sahabat yang datang untuk mengucapkan salam perpisahan.


Begitu liang kubur udah siap, jenazah pun dibawa ke pemakaman.


Tangisan histeris Amara membuat hari siapa saja yang mendengarnya akan tersayat. Sementara Anggara berusaha tetap tegar untuk bisa menguburkan ibunya. Dia masuk ke liang lahat untuk menerima jenazah ibunya.

__ADS_1


Di atas gundukan tanah merah basah itu, mereka menaburkan bunga. Memberikan penghormatan terkahir untuk wanita hebat yang selama ini berjuang membesarkan anak-anak nya dalam himpitan luka yang begitu dalam.


Bu, jika ibu pergi. Lalu untuk apa aku bertahan di sini? Gumam Rengganis.


__ADS_2