
"Semuanya menikah kecuali gue."
"Gue juga, Rey. Gue masih jomblo sampai detik ini."
"Benar, kita sama-sama menyedihkan Izz. Kenan menikah, Rangga juga. Athala pergi, dan Singha sebentar lagi sold out. Tidak terasa waktu sesingkat itu ternyata."
Rey kembali menyeruput kopi yang masih mengepulkan asapnya.
"Gue masih harus mengejar mimpi gue untuk menjadi dokter bedah otak. Entah kapan akan memikirkan perempuan."
"Tapi Lo masih normal kan?"
"Menurut Lo? Gila aja!"
Mereka berdua tertawa. Tidak lama kemudian, Rangga datang. Memasang wajah kusut nya seperti seharian berlari di padang pasir.
"Kenapa, Lo?" tanya Izza.
"Kalian lebih baik jangan menikah dulu. Udah paling bener menikmati masa muda lebih lama. Gue, gue merasa hidup dalam jurang derita setiap hari."
Izza dan Reyhan saling melirik.
"Rasanya setiap gue melangkah, selalu saja salah. Coba bayangkan, tiba-tiba dia bertanya 'Sayang, kalau semisal ada kesempatan untuk menikah lagi, kamu mau enggak?'. Nah, Lo tebak gue harus jawab apa?"
"Ya Tingg jawab enggak aja, apa susahnya?"
"Salah, Izz. Gue udah jawab begitu. Dia bilang apa? Dia bilang kalau gue bohong. 'kamu pasti bohong. Mana ada laki-laki yang melewatkan kesempatan emas seperti itu?'. Terus gue jawab lagi. 'Iya, gue mau'. Gue kena ceramah dengan kecepatan 350 km/jam."
"Sebentar, memangnya Lo habis ngapain sampe Amara nanya gitu?" tanya Reyhan penasaran.
"Gak ngapa-ngapain. Ini dia ngomong begitu dengan awalan 'Semisalnya'. Dia cuma berandai-andai. Sengaja emang nyari ribut. Bukan cuma itu doang. Masalah masakan aja jadi prahara."
"Apa lagi tuh?" kini Izza yang bertanya.
"Sayang, hari ini mau dimasakin apa? Ya gue jawab, apa aja. Nah, pas nyampe rumah dia masakin gue ramen. Ya gue gak mau dong secara gue gak suka yang berbau mie. Dia ngamuk. Salah gue apa? gue pikir dia nanya mau masak apa tuh ya masak layaknya masakan lain. Semisal tumis kangkung kek, tempe goreng atau apalah."
Reyhan dan Izza tertawa.
"Gue habis mandi, pake handuk keluar tapi air masih netes. Beuuuhhh, dahlah. Gue males ceritanya." Rangga mengambil es americano milik Izza.
"Semua memang butuh proses. Mungkin awal-awal pernikahan masih harus melalui proses pengenalan satu sama lain. Dari berbagai kejadian, harusnya Lo bisa belajar agar ke depannya tidak terulang lagi."
"Tapi kadang gue lupa, Rey. Gue kan sibuk di luar rumah, nyamper rumah dikasih ujian berupa pertanyaan-pertanyaan absurd nya."
Izza dan Reyhan cekikikan.
"Ngomong-ngomong, gimana persiapan pernikahan Singha dan shakeera?"
Izza mengangkat kedua bahunya. "Semua diatur oleh nyonya kedua keluarga. Kita tau beres aja."
Rangga mengangguk-angguk.
"Ternyata mereka sudah dijodohkan sejak belum jadi janin. ck ck ck. Dunia itu ternyata ya gitu-gitu aja. Berputar di tempat yang sama."
__ADS_1
"Iya, Rey. Kadang gue mikir, seperti ini ternyata akhir dari persahabatan kita. Masing-masing punya pasangan. Masing-masing punya kesibukan. Dulu, kita mana berpikir akan seperti ini. Yang kita tahu hanya berkelana menyusuri bukit-bukit. Sekarang ... Gue malah mau jadi bapak."
Izza dan Reyhan terkejut mendengar berita dari Rangga.
"Amara hamil?"
Rangga mengangguk. Izza dan Reyhan segera memeluk Rangga dengan bangga dan bahagia.
...***...
"Bhi, itu bunga untuk dekorasinya kamu sudah pilih kan?"
"Udah. Semuanya beres pokoknya."
"Emmm apa lagi ya? Undangan udah tersebar. Souvernir juga sudah, catering dan cookies juga udah."
"Itu, souvernir cokelatnya katanya harus ke sana lagi. Yang kemarin kita cobain itu, dia gak bisa buat karena Chef nya mengundurkan diri. Mau ganti gak?"
"Iya, deh. Nanti sore aku ke sana. Gimana kabar shakeera? Dia masih sabar kan untuk tidak bertemu dengan Singha selama beberapa hari?"
"Masih. Aku kurung dia di kamar."
"Sama. Oke, deh. Semoga acaranya lancar ya, Bhi. Akhirnya perjanjian kita lunas."
"Iya, sampai ketemu nanti ya, Ria."
Pembicaraan mereka pun terputus. Suasana rumah Maria maupun kediaman Nhabira, sama-sama sibuk mempersiapkan segalanya.
"Non, saya mau masuk."
"Saya mau nganter makan."
"Kata mama aku gak boleh keluar, nanti kalau laper aku keluar kok."
"Baik, Non." Inne kembali ke dapur membawa nampan makanan.
Singha tertawa. "Ternyata pintar berbohong juga ya, istriku ini."
"Calon istri."
"Dua hari lagi jadi istri, bedanya apa sama sekarang?"
"Ye beda lah. Lagian kamu ngapain ke sini? Kok bisa-bisanya datang padahal di luar banyak orang loh."
"Rindu lah, memang ada alasan apa lagi?" tanya Singha sambil memeluk Rengganis dari belakang. "Lagi pula apa yang tidak bisa aku lakukan untuk bertemu denganmu."
"Kan kita gak boleh ketemu dulu."
"Aku kangen berat. Gak bisa kalau gak ketemu meski cuma beberapa jam."
"Bohong." Rengganis mendorong tubuh Singha. Dia menyikut perut Singha sehingga pria itu merintih kesakitan, dan melepaskan pelukannya.
Rengganis duduk di sofa sambil menatap gaun pengantin yang akan dipakainya besok.
__ADS_1
"Ada apa? Apa gaun itu kurang cantik?"
Rengganis menggelengkan kepala.
"Aku tidak menyangka akan memakai gaun secantik ini di hari pernikahan. Rasanya masih seperti mimpi. Jika mengingat masa lalu, aku selalu berdoa jika ini adalah kenyataan. Aku takut aku sedang tidur dan bermimpi indah."
Cup!
Singha mencium Rengganis. "Apa kamu merasakannya?"
Rengganis terdiam sesaat karena dia terkejut dengan apa yang dilakukan Singha. Rengganis menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum. Singha kembali menciumnya, Rengganis masih menggelengkan kepala seraya tersenyum senang karena menjahili Singha.
"Mancing-mancing aja."
Singha berubah menjadi singa yang kelaparan. Memangsa buruannya dengan brutal dan ganas.
...***...
Penantian panjang dengan perjalanan yang berliku, sampai pada titik yang diinginkan. Kenyataan yang sesuai dengan harapan.
Tangisan menjadi tawa, derita menjadi bahagia. Gadis kampung yang selalu berjuang menahan luka-lukanya, kini menjelma bak putri dalam negeri dongeng. Memakai gaun pengantin mewah nan elegan.
Nhabira menghampiri putrinya. Dia begitu bahagia sampai air matanya menetes saat melihat Rengganis begitu cantik dengan gaun pengantinnya.
"Anak mama sangat cantik."
"Beneran, Ma? Aku cantik?"
Nhabira mengangguk.
"Kamu sangat cantik, sayang. Kamu seperti putri dalam dongeng."
Rengganis tersenyum sambil melihat wajah Nhabira di pantulan cermin.
"Akhirnya mama bisa mengurus pernikahan kamu, Nak. Banyak sekali waktu kita yang terlewatkan, kini kamu sudah mau menjadi istri orang."
Rengganis tersenyum ketir. Dia merasa sedih mendengar ucapan ibunya. Nhabira melihat bekas luka di punggung anaknya. Air matanya tidak bisa lagi dia bendung.
"Mama minta maaf, Nak. Gara-gara mama lalai, kamu hilang dari hidup mama dan harus menderita di tempat yang dingin dan kumuh."
"Mama ... Jangan nangis."
"Mama akan melakukan apapun untuk menebus semuanya, Sayang. Papa sudah mengalihkan semua asetnya atas nama kamu karena papa sangat menyesal tidak pernah berhasil menemukan kamu. Andai saja kami bisa menemukanmu lebih awal, mungkin penderitaan yang kamu rasakan akan sedikit berkurang."
"Mama, ada kakak. Dia juga berhak mendapatkan apa yang kalian miliki. Kenapa harus aku semua?"
"Ini juga atas permintaan dia, Sayang. Tentu saja kami tidak melupakan dia. Kami memberikan sebagian padanya. hanya saja dia meminta tidak terlalu banyak."
"Kakak datang kan, Ma?"
Nhabira mengangguk. "Mama minta maaf, tidak seharusnya mama menangis hari ini. Sudah, sudah, ayo kita bersiap menuju gedung pernikahan kalian."
__ADS_1
Nhabira memanggil beberapa pelayan untuk membantu putrinya berjalan dengan gaun yang super berat dan lebar itu.