
Setelah memilih dan ternyata tidak ada yang layak untuk dia pakai, Rengganis pasrah dan memakai baju seadanya. Dia kini sadar, hidungnya selama ini didedikasikan untuk bapak yang sama sekali tidak menganggapnya manusia.
Bekerja tanpa lelah hanya untuk memenuhi hasrat bejad bapak untuk berjudi dan mabuk. Melihatnya diri sendiri di cermin membuatnya merasa sedih. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak ada yang bagus dipandang. Sangat berbeda dengan Amara yang ujung kukunya pun sangat cantik dan bersih.
"Pantas saja Amara terlihat tidak senang kakaknya akan menikah denganku. Aku pun merasa jika aku memang tidak layak untuk mas Anggara. Kamu bagaikan langit dan bumi."
Penyesalan mulai menyelinap di hati Rengganis tentang betapa bodohnya dia karena berbakti pada orang tua yang salah.
"Aku harus apa sekarang? Mas Anggara pasti tidak akan mau melihatku yang bahkan pelayan rumah ini saja lebih bersih dan rapi. Istri? Yang benar saja."
Rengganis kembali membaringkan badannya di atas kasur. Dia yang semula antusias akan bertemu dengan Anggara, kini merasa minder.
"Non, sudah ditunggu ibu di ruang makan." Seorang pelayan masuk setelah mengetuk pintu kamar Rengganis. Dia menghampiri Rengganis lalu meminta dia segera ke ruang makan.
"Jangan panggil saya non. Lihatlah, kamu dan saya lebih rapi dan wangi kamu."
"Jangan begitu, Non. Nona hanya belum dipoles saja."
"Memangnya saya tembok harus dipoles cat ulang biar bagus."
Pelayan itu tersenyum.
"Setelah menjadi istri tuan Anggara, Non bisa melakukan perawatan seperti Non Amara. Bisa membeli pakaian bagus juga."
Rengganis seperti mendapatkan pencerahan. Wajahnya mulai berbinar.
"Tapi ...."
"Ada apa lagi, Non?"
"Anggara akan datang untuk makan bersama, sementara aku tidak memiliki pakaian yang bagus. Kamu lihat saja sendiri, apa ini pantas?"
Pelayan itu memindai tubuh Rengganis dari atas sampai bawah. Baju kaos putih yang sudah berubah warna, kebesaran dan kusut. Ditambah rok bunga-bunga besar dengan warna yang sudah sama-sama memudar.
"Jika tidak keberatan, saya punya gaun yang layak untuk dipakai. Masih baru, kok. Mungkin baru saya pakai dua kali. Non tidak keberatan memakai baju saya? Biar saya pinjamkan."
"Benarkah? Saya mau. Ayo kamu segera ambil biar saya pakai."
"Baiklah, saya permisi."
Tidak butuh waktu lama untuk pelayan itu kembali ke kamar Rengganis dan membawa sebuah gaun berwarna biru langit. Simpel dan cantik hanya saja ....
Karena urusan pakaian itu, Rengganis terlambat datang untuk makan. Sementara semua orang sudah berkumpul.
__ADS_1
"Nyonya baru rumah kita terlambat!"
"Sssst."
"Ibu lihat sendiri, kita dibiarkan menunggu kedatangannya. Kan gak etis banget. Heh, kamu ngapain sih di kamar? Tidur?"
"Bukan, Mba. Tadi saya hanya kebingungan memilih baju."
"Baju?" tanya Bu Sari.
"Itu baju siapa yang Lo pake? Gede banget astagaaa. Itu bagian bahunya sampe mau melorot gitu. Lo kenapa sih?"
"Ini baju mba Bela."
"Bela? Bela pelayan kita?" tanya Bu Sari.
Rengganis mengangguk.
"Lepas. Kamu ganti pake baju milik kamu sendiri." Bu Sari terlihat kesal.
"Tapi baju saya ...."
"Ganti!" Bu Sari membentak.
"Tidak perlu. Kamu duduk saja, ayo kita makan." Anggara menghentikan langkah kaki Rengganis yang hendak kembali ke kamar.
"Duduk saja. Saya tau kamu begini karena ingin tampil baik di depan saya bukan? Saya hargai itu. Meski hasilnya membuat ibu marah, tapi saya hargai usaha kamu. Jangan diambil hati bentakan ibu tadi, dia hanya ingin kamu menjaga harga diri kamu di depan pelayan. Besok saya antar kamu beli pakaian dan juga ponsel."
Bagi Rengganis, selain tampan dan wangi, Anggara adalah orang yang selalu baik dan pengertian. Dia bahkan mengerti semua tanpa repot-repot Rengganis menjelaskan.
"Gimana kerjaan kamu di kantor?" tanya Bu Sari setelah emosinya mereda.
"Berjalan lancar. Semua proyek sukses tanpa ada hambatan."
"Ibu berharap pernikahan kalian pun sukses tanpa ada penghambat. Bagaimana pun juga tujuan orang tua tetap sama, ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka. Meski memang terkadang anak selalu salah faham pada orang tua mereka."
"Iya, Bu."
"Ra, pekan depan keluarga Pak Kim akan datang ke sini. Mereka berencana mempertemukan kamu dengan anaknya."
Amara tidak menjawab, dia hanya fokus menghabiskan makanannya meski raut wajahnya tidak bisa berbohong. Amara tidak suka pada topik pembicaraan ibunya.
"Maaf, tapi saya bingung bagaimana cara memakai alat makan ini. Sendok ada dua, ada sendok garpu dan juga pisau. Mana yang harus saya pakai?"
__ADS_1
Mereka semua terdiam dan menatap Rengganis dengan makanannya yang masih utuh.
"Sini saya bantu."
Dengan telaten dan sabar, Anggara mengajarkan Rengganis tata cara makan.
"Pelan-pelan saja. Nanti kamu akan terbiasa,, tapi harus dibiasakan ya. Mulai sekarang kamu harus sering belajar makan dengan alat makan, bukan dengan tangan kosong."
"He he he. Saya taunya sendok buat makan kalau ada airnya, garpu buat bakso."
Anggara tertawa kecil.
Melihat kakaknya yang jarang sekali tertawa, Amara terlihat heran. Dia mengerutkan kening dengan bibir kanan naik sedikit.
"Kamu suka bakso ternyata."
"Enggak."
"Hmmm? Gak suka?"
"Saya belum tau saya suka atau tidak karena belum pernah makan."
"Ngaco aja. Terus Lo tau garpu buat nusuk bakso dari mana?"
"Lihat orang lagi makan."
"Lo sama sekali belum pernah makan? Umur Lo berapa?"
"20 tahun."
"Hah? Lo masih kecil dong. Laaah, pedofil dong kalau kakak sampai nikah sama Rengganis."
"Amaraaaa."
"Canda doang, Bu."
"Kamu tulis apa saja yang belum pernah kamu makan, nanti kita makan satu per satu."
"Iya?" tanya Rengganis tidak percaya.
Anggara mengangguk sambil mengunyah makanannya.
Rengganis terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Kenapa Anggara begitu baik pada Rengganis? Apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya.
Bu Sari memperhatikan Rengganis dan Anggara yang terlihat mulai akrab.