Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Sang Putra


__ADS_3

Sah!


Hari ini Rengganis resmi menjadi istri Anggara. Ada rasa bahagia yang begitu besar dalam hati Rengganis, namun dia sadar jika ini awal permulaan dari hidup dia yang berbeda. Dia yang tidak mengerti apa-apa harus bisa menghadapi apapun yang akan terjadi nantinya.


Tidak ada acara megah, hanya acara pernikahan sederhana yang dihadiri kerabat dan sejawat.


Sesuai dengan keinginan Rengganis.


"Ibu senang akhirnya kalian menikah. Mau bulan madu ke mana? Biar ibu beli tiket liburan untuk kalian."


"Tidak perlu, Bu. Kami sudah bulan madu sebelum menikah."


Perkataan Rengganis membuat semua orang yang mendengarnya terkejut. Terutama Bu Sari yang sangat syok mendengar itu dari mulut Rengganis. Gadis lugu yang berasal dari kampung.


"Nis, kamu tahu apa itu bulan madu, Nak?" tanya Bu Sari gugup dan malu.


"Tentu saja, ibu meminta saya belajar banyak hal bukan? Saya sudah pintar sekarang. Ibu tenang saja, saya pasti bisa menyesuaikan gaya hidup orang-orang kota."


"Heh, gak semua orang kota itu kayak gitu. Gue aja masih perawan sampe sekarang. Gila, emang. Lo yang keliatannya lugu, polos, ternyata beda banget sama asli Lo sebenarnya."


"Bukankah ada pepatah yang bilang 'jangan melihat buku dari sampulnya', apa kalian benar-benar tidak tahu arti kalimat itu?"


Semua orang terdiam. Bu Sari berusaha tetap tenang meski emosinya sudah ada di ubun-ubun.


"Acara sudah selesai bukan? Saya permisi ke kamar dulu. Mas mau ikut atau mau di sini? Etsss, tapi gak usah buru-buru juga sih. Mas temani saja tamu yang masih ada, lagian semalam mas sudah puas bukan?"


Anggara memejamkan mata menahan malu dan amarah. Sementara itu Rengganis melenggang tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Anggara?" Bu Sari berteriak. Melihat reaksi yang punya acara, beberapa tamu memilih untuk berpamitan.


"Jangan marahi anakmu, Sari. Bukankah wanita itu adalah pilihan kamu sendiri? Lihatlah, kalau memang dasarnya tidak punya etika, dididik sebaik apapun dia tetaplah seorang gembel."


"Stop!"


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Kenapa tetap bersikukuh membuat dia dia jadi keluarga kita? Bikin malu saja!" Kali ini kakak kedua Bu Sari memberi komentar.


"Aku pamit, tau akan begini lebih baik aku tak datang. Bikin harga diri turun saja."


Keluarga besar Bu Sari pun satu per satu berpamitan.


"Katakan, ada apa sebenarnya?"


"Aku tidak mengenal dia dengan baik, Bu. Aku hanya menuruti keinginan ibu untuk menikah dengannya, lalu apa?"

__ADS_1


"Apa kamu menyalahkan ibu?"


"Dari awal aku sudah tidak suka pada wanita satu ini, aneh dan menyebalkan. Heran saja ibu kenapa begitu baik sama dia. Ck!" Amara pun ikut pergi.


"Aku permisi, Bu. Akan aku tanyakan apa yang terjadi pada Rengganis."


Setelah Anggara pergi, Bu Sari terduduk lemas sendirian di di atas lantai. Dia merasa kesal dan tidak mengerti apa yang membuat Rengganis begitu berubah drastis.


"Bukan, dia bukan Rengganis yang aku kenal. Siapa wanita itu? Kenapa dia menjadi monster yang memalukan!"


Bu Sari menangis sejadinya. Belum pernah ada yang membuatnya begitu malu seumur hidup. Tidak ada yang berani mempermalukan dirinya seperti saat ini.


Di dalam kamar, Rengganis menangis di depan jendela.


"Nis!" Suara Anggara membuat Rengganis segera menyeka air matanya.


"Ada apa?"


"Saya yang harus bertanya sama kamu. Ada apa? Kamu tega membuat ibu malu di hadapan banyak orang seperti tadi?"


"Pernah gak ibu berpikir betapa menderitanya aku di sini gara-gara dia?"


"Kamu kenapa berubah begini, Rengganis? Kamu lupa kebaikan ibu sama kamu selama di kampung?"


"Kebaikan sesaat yang membuat saya menderita seumur hidup, begitu?"


"Menikah dengan kamu!" Rengganis berteriak. Dia mengacak-acak rambutnya yang masih mengenakan hiasan.


"Kamu pikir aku sebodoh itu? Berusaha? Berusaha apanya? Setelah kita melakukan hubungan badan pun kamu masih berkomunikasi dengan wanita itu bukan?"


"Saya minta maaf, tapi jujur itu karena ...."


"Karena kamu masih mencintai dia bukan?"


Anggara terdiam.


"Mas ... Saya sadar kita menikah karena paksaan orang tua. Saya juga tahu diri kalau saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Santika, tapi setidaknya tolong hargai saya sebagai manusia yang punya harga diri dan hati. Mas tau bagaimana perasaan saya bukan? Jika memang masih mencintai wanita itu, tolong lakukan secara diam-diam dan jangan sampai saya tau." Rengganis mulai melunak.


"Saya minta maaf."


"Satu lagi, jangan berpura-pura perhatian pada saya. Jangan bersikap seolah Mas mulai ada rasa sama Saya hanya untuk melampiaskan nafsu mas."


"Kamu salah, Rengganis."

__ADS_1


"Mulai sekarang, kita tidak akan tinggal satu kamar. Saya akan bilang pada ibu, ibu pasti mau dengar."


"Tunggu!" Anggara menghadang langkah Rengganis yang hendak pergi menemui Bu Sari.


"Minggir, Mas."


"Tidak akan."


"Minggir saya bilang!" Rengganis mendorong tubuh Anggara, namun Anggara menggunakan kesempatan itu untuk menarik tubuh Rengganis ke dalam pelukannya.


"Lepas!"


Anggara semakin kuat mendekap Rengganis agar dia tidak melepaskan pelukannya.


"Saya tidak pernah berbohong tentang kerinduan saya pada Rengganis yang dulu. Saya benar-benar menyukai Rengganis yang selalu effort saat akan bertemu dengan saya, saya tidak berbohong tentang betapa manisnya Rengganis saya saat tersenyum menyambut kedatangan saya. Saya tidak berbohong atas semua itu Rengganis."


"Penipu!"


"Tidak. Saya tidak menipu kamu apalagi hanya untuk tidur denganmu, Rengganis."


Rengganis mulai melemah.


"Saya benar-benar menyukai kamu, Rengganis."


Anggara melepaskan pelukannya. Menatap Rengganis penuh keyakinan.


Plakkk!


"Berhenti menganggap saya bodoh!"


Setelah menampar Anggara, Rengganis pergi meninggalkan kamar suaminya. Dia berlari ke bawah untuk menemui Bu Sari.


"Bu ...." panggil Rengganis pada Bu Sari yang sedang berdiri menatap foto keluarganya.


"Kamu tahu, Nis? Setiap melihat foto ini hari saya sangat sakit. Foto kebahagiaan yang penuh kepalsuan."


Rengganis mengerutkan kening. Dia tidak mengerti kenapa Bu Sari mengatakan hal demikian padahal itu adalah fotonya bersama suami, dan anak-anaknya.


"Dulu, awal kami menikah saya tidak juga dikaruniai seorang anak. Keluarga suami saya mendesak agar suami saya menikahi perempuan lain. Tapi dia menolak karena cintanya yang besar untuk saya. Saya merasa tersanjung dengan hal itu. Tidak di sangka, ternyata dia memang sudah menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuan saya."


Bu Sari menoleh. Matanya sudah tidak bisa lagi membendung air yang begitu banyak berlinang.


"Bu ...."

__ADS_1


"Wanita itu tengah mengandung. Awalnya saya sangat marah dan kesal, tapi kemudian saya punya rencana yang bisa menyelamatkan rumah tangga saya. Saya menyetujui hubungan mereka dengan syarat anak yang dia kandung harus menjadi anak saya. Saya pura-pura hamil, saya juga pura-pura melahirkan. Dan ya, anak itu kini menjadi anak saya. Putra saya."


Deg! Jantung Rengganis berhenti untuk sesaat.


__ADS_2