
Sudah dua pekan sejak kematian Bu Sari, rasa sedih dan duka itu masih sangat kental terasa di rumah. Amara yang mulai sering berada di dalam kamar pun menambah rasa sepi yang dirasakan Rengganis.
Anggara pun semakin sibuk mengurus perusahaan karena Bu Sari sudah tidak ada. Untuk menghilangkan rasa suntik, Rengganis pergi mengendarai mobilnya sendiri. Dia pergi menuju toko buku di sebuah swalayan terbesar di kota.
Rengganis suka membaca komik. Karena baginya tulisan dal buku komik tidak terlalu banyak. Itu sangat menguntungkan bagi dia yang lancar membaca setelah berada di kota.
Dia masih terus berjalan meski sudah ada beberapa buku di keranjangnya.
"Rengganis."
Tangan Rengganis yang sedang memilih buku, terdiam. Dia menoleh perlahan ke belakang.
Kedua wanita itu hanya saling diam sesampainya di sebuah cafe.
"Aku mau minta maaf sebelumnya sama kamu."
"Tentang?"
"Tentang pertemuan pertama kita waktu itu. Aku benar-benar diluar kendali dan ...."
"Aku bisa maklum. Akupun kalau berada di posisi kamu akan melakukan hal yang sama, mungkin juga lebih."
Santika menghela nafas panjang.
"Aku ingin meminta satu hal sama kamu. Mungkin ini terdengar aneh, mustahil dan ... Ya, aku memang sudah gila sepertinya."
Rengganis sudah menyiapkan hatinya untuk apa yang akan dikatakan Santika.
"Aku hamil."
"Aku tahu."
Santika membelalak.
"Aku membaca chat kamu malam saat kamu minta suamiku untuk menemani kamu periksa kandungan."
Santika tersenyum sinis. "Suamiku. Lucu sekali dan terdengar sangat miris. Aku yang selama ini menemani dia, tapi aku seakan orang yang paling jahat di dunia."
"Kamu ingin aku meninggalkan mas Anggara? Apa itu akan membuat kamu bahagia? apa itu juga yang akan membuat mas Anggara bahagia? Lalu bagaimana denganku?"
"Tapi kamu yang merebut dia dariku."
"Tidak. Aku hanya menjalani apa yang diminta ibu untuk menikah dengan anaknya. Lagi pula aku tidak tahu jika dia sudah memiliki kekasih. Kamu tau? Mas Anggara bilang dia tidak punya pacar padaku."
Santika tertawa miris.
"Harusnya kamu tau, dia sudah menjadi suami orang lain. Kenapa malah memilih mengandung anaknya? Kamu bayangkan saja jika dia tidak mau tanggung jawab, bagaimana nasib anak kamu nanti? Dia akan menanggung beban atas sikap bodoh kalian."
Brakkkk! Santika mulai hilang kendali.
"Kenapa kamu selalu memprovokasi ku? Aku datang untuk bicara baik-baik sama kamu."
Rengganis menatap wanita itu dengan tatapan datar. Hingga Santika malu sendiri.
"Aku pergi."
Langkah Rengganis terhenti saat Santika memeluk kaki Rengganis. Dia menangis sambil memohon agar Rengganis mau meninggalkan Anggara.
"Aku mohon, setidaknya demi bayi yang aku kandung. Biarkan Anggara bersamaku. Lepaskan genggaman tangannya. Aku mohon."
Semua mata tertuju pada mereka. Tidak ingin merasa malu terlalu lama, Rengganis menarik kakinya dan pergi begitu saja.
Malam harinya, Rengganis pergi ke halaman rumah Dia duduk ditepi kolam sambil memainkan air dengan kakinya.
__ADS_1
Dia memikirkan ucapan Santika, memikirkan bagaimana dia dulu dan sekarang. Memikirkan kampung halaman dan ibunya. Dan masih banyak hal lainnya.
Di saat yang bersamaan Singha menelpon. Sebuah panggilan video.
"Waaaah, siapa itu?" tanya Rengganis saat melihat anak kecil yang ada di samping Singha.
"Haaiii." Anak kecil itu melambaikan tangan. Rengganis membalasnya.
"Tante Rengganis kan?" tanyanya dengan nada yang lucu. Rengganis mengangguk sambil tersenyum manis.
"Kamu siapa, Nak?"
"Aku Akhtar."
"Halo, Akhtar. Kamu lagi masak apa? Keliatannya enak ya, kecium loh sampe sini baunya. Jadi laper deh."
"Mustahil. Bagaimana bau masakan ini bisa tercium sampai sana, ke kamarku saja tidak tembus."
Rengganis tidak berkutik mendengar perkataan Akhtar. Singha tertawa. Baru kali ini Rengganis melihat pria kaku itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Maaf, maaf. Dia memang suka gitu kalau ngomong. Jangan dimasukan hati."
"Sama kayak kamu. Kalau ngomong suka nyelekit."
"Masa?"
"Ya gak akan sadar lah. Yang bisa menilai diri kita kan orang lain, bukan kita sendiri."
"Ya, ya, ya. Besok ada acara?"
"Kenapa memangnya?"
"Siapa?"
"Kalau mau tau, besok kita ketemu di cafe Ambarawa. Pukul 13."
"Tapi ...."
Panggilan terputus.
"Ishhhh, pria menjengkelkan dasar!"
Namun setelah menerima panggilan itu, Rengganis tersenyum sendiri. Masalah yang begitu rumit dalam kepalanya terlupakan untuk sesaat.
"Nanti jam sepuluh pengacara dan keluarga besar akan datang ke sini. Kita semua akan mendengar surat wasiat dari ibu."
"Aku pasrah lah. Biarin aja mau kayak gimana pun juga."
Rengganis tidak ikut menanggapi. Dia hanya fokus melayani suaminya.
"Mas gak kerja dong hari ini?"
"Kenapa? Apa kamu mau pergi?"
"Bukan, tapi ...."
"Aku akan mengantar Santika periksa kandungan. Dia bilang perutnya sering sakit."
"Kak!"
Rengganis menggelengkan kepalanya agar Amara tetap diam.
__ADS_1
"Iya, Mas. Gak apa-apa."
Sarapan pun selesai. Mereka kembali ke kamar masing-masing, sementara Anggara membaca koran di halam depan.
Rengganis kembali ke kamar. Dia mengirimkan chat pada Singha, memberitahu jika dia tidak bisa datang siang nanti.
Read.
Rengganis menunggu balasan, namun tidak kunjung datang.
Anggara dan Rengganis sudah bersiap turun ke bawah. Sebentar lagi mereka akan datang. Pun dengan Amara yang sudah duduk menunggu.
Baru beberapa saat Rengganis dan Anggara duduk, pintu gerbang terbuka. Ada lima mobil masuk ke dalam halaman.
Mereka berjalan menuju depan untuk menyambut para sesepuh keluarga.
Termasuk ibu kandung Anggara.
Rengganis dengan sopan mempersilakan mereka masuk dan duduk. Beberapa di antara mereka menatap sinis karena masih tidak bisa melupakan kejadian di acara pernikahan.
"Ada pendingin tapi tetep saja panas. Rumah ini memang memiliki aura yang tidak baik. Emosi aja bawaannya," ujar Kakak pertama ayah Anggara.
"Syukurlah kalau Tante merasa begitu. Jadi, rumah ini akan tetap jadi milik kami. Toh Tante tidak nyaman bukan?"
"Amara ...." Anggara meminta adiknya agar bisa tenang.
"sebelumnya saya mengucapkan bela sungkawa lagi, karena ini masih terlalu dini untuk membaca surat wasiat. Juga masih dalam masa berkabung."
Amara sudah siap menimpali, hanya saja dihentikan oleh Rengganis.
"Baiklah saya akan bacakan wasiat Bu Sari. Kita mulai saja."
Saya Sari. Dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun akan menuliskan wasiat untuk keluarga yang ditinggalkan bila mana saya mati nanti.
Tidak banyak harta yang saya miliki atau yang suami saya tinggalkan karena memang sebagai sudah diambil oleh beberapa orang yang serakah.
Aset yang akan saya berikan adalah sebagai berikut.
Perusahaan properti jelas akan saya berikan pada putra sulung saya, yaitu Anggara. Bila dan garmen akan saya berikan pada anak gadis saya yaitu Amara.
Ada beberapa tabungan yang sudah saya sumbangkan pada yayasan yang dikelola kakak ipar saya, Riana.
Saya memiliki rumah di pinggiran kota yang akan saya berikan pada kakak ipar saya nomor dua, Rahita.
Sementara aset yang tersisa seperti rumah, mobil, emas batangan dan perusahaan utama sudah saya hibahkan kepada menantu saya, Rengganis.
Demikian surat wasiat yang saya tulis. Jika ada yang berani menggugat satu sama lain, maka akan berurusan dengan hukum.
"Itulah surat wasiat yang Bu Sari tinggalkan."
"Tunggu! Saya adik laki-laki ayah mereka, kenapa tidak sedikitpun harta yang mereka berikan pada saya?"
"Karena paman sudah mengambil kebun teh bukan? Apalagi yang paman mau?" tanya Anggara. Pria gendut dengan kepala botak itu terdiam.
"Pengacara, jika memang perusahaan dan rumah dihibahkan pada wanita itu, mana suratnya?"
"Ada. Mau saya perlihatkan?" Pengacara itu mengambil map berisi surat-surat kuasa.
Mereka syok setelah membaca semua surat itu. Mereka murka tidak terima dengan apa yang menjadi wasiat Bu Sari.
"Jika tidak terima, mari kita tempuh jalur hukum." Rengganis menantang.
"Saya sarankan lebih baik jangan. Tidak akan membuahkan hasil, hanya akan menghabisi biaya dan tenaga," ucap pengacara yang didampingi tiga notaris lainnya.
__ADS_1
Mereka segera pergi sambi berkomat-kamit karena kesal.