
Semua orang berkumpul di ruang keluarga. Mereka terdiam berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
"Jadi ... Apa ini perempuan yang membuat anak kita seperti zombie, Pih?" tanya Maria membuka obrolan.
"Entahlah, papi pun tidak mengerti."
"Iya, dia orangnya." Izza menimpali. Rengganis menundukkan kepala karena merasa sangat tegang berada di tengah-tengah keluarga Singha.
"Bu, apa ibu ingin jadi aktor?" tanya Yudistira.
Oma mendelik sinis. Yudistira tertawa.
"Sungguh tidak lucu." Singha kesal pada apa yang sebenarnya terjadi. Dia bangun lalu pergi meninggalkan mereka semua menuju kamarnya. Singha menggelengkan kepala kesal saat melihat para pelayan sibuk kembali memasang foto dirinya.
"Rengganis, susul dia. Nanti pelayan yang akan mengantarkan kamu ke sana.
"Iya, Nek."
Rengganis pergi diantar pelayan sebagai penunjuk arah.
"Ini kamarnya, Nona. Ketuk saja dulu."
"Hmmm."
"Saya permisi."
Pelayan itu pergi.
Tok tok tok
"Singha, boleh aku masuk?"
Tidak ada jawaban, tapi Rengganis memberanikan diri masuk meski tanpa dipersilakan.
Saat masuk, Rengganis melihat Singha sedang berdiri menghadap jendela kamarnya.
Mereka saling diam. Sama-sama menatap keluar.
"Apa bagi mereka perasaanku ini sebuah permainan?" tanya Singha kesal.
"Seharusnya kamu menerima perjodohan nenek. Sudah aku bilang sebelumnya jika orang tua akan selalu memberikan yang terbaik untuk anak mereka," ucap Rengganis sambil tersenyum.
Singha menoleh. Menatap Rengganis kesal.
"Apa kamu juga tahu rencana mereka?"
Rengganis menggelengkan kepala cepat, agar Singha tidak salah faham. Mereka kembali menatap keluar. Tanpa berkata sepatah katapun.
Perlahan, Rengganis menyandarkan kepalanya pada tangan Singha. Pria itu menoleh. Dia merasa senang dan berharap ini bukanlah sebuah mimpi.
"Jika aku menerima perjodohan Oma, belum tentu perempuan itu akan menerima."
Rengganis mengangkat kepalanya, dia menatap Singha dengan wajah cemberut. Singha tertawa.
"Apa menurutmu wanita itu akan menerimaku?" tanyanya sambil mendekatkan wajah pada wajah Rengganis.
Karena kesal, Rengganis pergi. Namun dengan sangat cepat Singha menarik tangannya lalu mendekap Rengganis dengan sangat erat.
"Jangan pernah pergi lagi, kamu mengerti?"
Rengganis mengangguk dala dekapan Singha. Pelukan pun terlepas, mereka saling menatap penuh kebahagiaan.
Tangan Rengganis melingkar di leher Singha, sementara tangan Singha mencengkram tengkuk Rengganis agar wanita itu tidak melepaskan diri saat melakukan berciuman.
"Cukup," ujar Rengganis saat dia hampir kehabisan nafas.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu tidak ingin melakukannya?"
"Beri jeda, aku sesak."
Singha mencium kening Rengganis, lalu memeluknya erat. "Maafkan aku."
"Tidak apa-apa."
"Again?" tanya Singha. Wanita itu tersenyum malu-malu. Baru saja Singha akan mencium Rengganis, pintu kamarnya diketuk.
"Shitt! Siapa yang menganggu di saat yang tidak tepat!"
"Siapa?" Singha berteriak kesal. Rengganis menepuk dadanya sambil tersenyum.
"Dad ...."
"Itu Marsha," ujarnya kaget. Singha langsung menghampiri pintu.
"Hai, Baby. What are you doing here?"
"Daddy ayo kita keluar, Oma nyuruh Daddy ke sana."
"Ini siapa?" tanya Rengganis. Marsha menatap Rengganis, pun sebaliknya.
"Ini ... Marsha. Dia yang waktu itu ingin aku kenalkan sama kamu. Dan ... Baby, ini Mommy Rengganis. Orang yang akan kita temui waktu itu."
Apa ini anak Singha? Ya, benar. Ada foto pernikahan Singha di apartemen, mungkin ini anak mereka. Lalu mana ibunya?
Rengganis berlutut agar tinggi mereka setara.
"Halo, Marsha. Kenalkan, Tante Rengganis."
"Hai ...." Marsha melambaikan tangan malu-malu.
"Kamu cantik banget ya, gemes." Rengganis mencubit lembut pipi Marsha. Gadis kecil itu menggoyang-goyangkan badannya tanda merasa senang dengan pujian dari Rengganis.
Marsha mengangguk sambil mengigit-gigit bibirnya.
"Ayo kita samperin Oma." Rengganis mengulurkan tangan pada Marsha. Dengan ragu-ragu anak itu menerima tangan Rengganis. Mereka bertiga berjalan dengan posisi Marsha ditengah.
"Cocok lah, keluarga Cemara," ujar Izza.
Oma dan Yudistira tersenyum melihat rona kebahagiaan yang terpancar dari wajah Singha dan juga Marsha.
"Ayo, kalian duduk lah," pinta Oma.
Rengganis dan Singha duduk berdampingan. Sementara Marsha dengan tanpa canggung duduk di pangkuan Rengganis. Wanita itu memeluk Marsha dengan penuh kasih sayang.
"Sebelumnya Oma mau minta maaf karena apa yang Oma lakukan memang terlihat seperti kekanak-kanakan. Tapi itu semua Oma lakukan demi kebaikan kamu, Singha."
Singha mengangguk.
"Cukup lama Oma tinggal bersama Rengganis. Oma banyak tau tentang kehidupan dia, dan Oma sangat kagum pada sikap yang dimilikinya. Baik, tulus dan sangat ramah. Oma senang karena kamu memilih wanita yang tepat."
Hening.
"Ada hal yang harus kamu tahu, Maria, Yudistira. Agar jika ada masalah ke depannya, kalian tidak terkejut."
"Hal apa, Bu?" tanya Maria.
"Rengganis ini tidak memiliki ibu. Sejak kecil dia hidup dengan ayahnya dan saat ini ... Ayah Rengganis ada di dalam penjara."
"Apa?"
Mereka terkejut.
__ADS_1
"Rengganis korban kekerasan yang dilakukan ayahnya, dan mertua Rengganis lah yang memasukkannya ke dalam penjara."
"Mertua?" Maria lagi-lagi dibuat terkejut.
"Ya. Status Rengganis sama dengan Singha."
Mari mencoba mengatur nafasnya.
"Maria, persiapkan diri kamu untuk mendengarkan hal selanjutnya."
"Apa ada kejutan lain ... ibu?" tanyanya menahan perasaan yang semua bercampur jadi satu.
"Rengganis pernah menikah karena dia dijodohkan. Mantan suami Rengganis adalah suami Santika."
Mata Maria membelalak hampir melompat dari tempatnya. Dia memukul dadanya berharap rasa sesak itu berkurang.
"Air ... Aku butuh air."
Yudistira segera memberikannya segelas air yang langsung tandas seketika.
"Singha ... Apa harus dia?" tanya Maria.
"Jika bukan dia, maka tidak akan ada yang lain, Mami."
"Maria!" Oma membentak menantunya.
"Bu, aku memang tidak masalah dengan aturan rumah ini yang tidak menganut perjodohan anak-anak, tapi kenapa harus wanita ini? Yang benar saja ... Mantan suami wanita ini adalah suami Santika, dan mantan istri dari suami Santika menjadi istri Singha. Luar biasa ... Jantungku hampir terlepas dari tempatnya."
"Lalu apa yang salah? Tidak ada bukan?" tanya Oma pada Maria.
"Ya memang tidak ... Hanya saja--"
"Jika mami menolak pernikahan aku, maka aku dengan suka rela melepaskan diri dari keluarga ini. Mami masih punya Izza bukan?"
"Kak ...."
"Singha, bukan seperti itu maksud Mami, Nak."
"Aku adalah hakim di rumah ini, semua keputusan aku yang ambil!" Oma meninggikan suaranya. "Pernikahan mereka akan dilangsungkan dengan sangat mewah dan meriah."
"Ibu ...."
"Tunggu sebentar." Rengganis memberanikan diri untuk berbicara. Semua orang terdiam.
"Nenek ... Mungkin di rumah ini nenek yang mengatur semuanya. Tapi ... ridho orang tua tetaplah yang utama. Aku ... Tidak akan menerima pernikahan ini jika tanpa restu kedua orang tua Singha."
"Sayang ...."
Rengganis menatap lembut kekasihnya.
"Dia adalah ibu yang mengandung dan melahirkan kamu, Singha. Dia bertaruh nyawa demi agar kamu lahir ke dunia ini. Jangan sampai melupakan jasa ibumu hanya karena wanita lain di dunia ini, termasuk aku."
"Jangan begini, Rengganis. Aku hampir gila kehilangan kamu. Jika sampai aku kehilangan kamu lagi, maka aku bisa kehilangan nyawa."
"Singha ... Menikah bukan sekedar hubungan antar aku dan kamu. Tapi ada kita semua."
Singha mulai kesal dengan apa yang terjadi saat ini.
"Mami lihat? Dia akan meninggalkan aku untuk kedua kalinya. Terimakasih telah melahirkan aku ke dunia ini, tapi bukan berarti mami bisa mengatur hidupku harus seperti apa."
"Singha, bukan begitu maksud Mami. Mami hanya tidak ingin orang membicarakan hal buruk tentang kamu dan Santika."
"Jadi mami lebih memikirkan apa yang orang katakan dibandingkan dengan kebahagiaan anak mami sendiri?" Singha berteriak.
"Kak, udah. Tahan dulu emosi Lo." Izza merangkul kakaknya.
__ADS_1
"Lepas!" Singha mendorong tubuh Izza hingga dia jatuh ke sofa.
Singha pergi meninggalkan rumah, bahkan dia tidak perduli pada keberadaan Rengganis.