Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Tipu daya setan


__ADS_3

Persiapan pernikahan sudah rampung, baju pengantin, cincin dan semuanya sudah siap. Keluarga besar Bu Sari datang. Rumah besar itu kini terasa hangat dan ramai karena banyaknya orang.


Rengganis kini tinggal di kamar Anggara, karena kamarnya dipakai oleh sodara dari jauh. Tidak ada orang yang berani masuk ke kamar itu, dan itu merupakan satu keberuntungan untuk Rengganis yang malas bertemu dengan siapapun.


Rengganis hanya diam duduk di depan jendela. Menatap keluar yang penuh dengan rumah-rumah mewah lainnya. Saat itulah Rengganis merindukan suasana di belakang rumahnya. Dia akan merasa tenang hany dengan duduk di bawah pohon sambil membayangkan ibunya.


"Makan dulu. Dari kemarin sore kamu tidak makan."


"Ibu bilang pengantin perempuan harus puasa."


"Tapi tidak puasa sehari semalam juga. Kamu bisa sakit nantinya."


"Apa peduli Mas jika aku sakit?"


"Paling tidak saya akan kerepotan menjaga dan mengurus kamu nantinya."


Mendengar ucapan Anggara, Rengganis langsung mengambil piring yang berisi makanan dari tangan Anggara. Dia makan dengan lahap, dan mengunyah dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit, makanan itu sudah habis.


"Tugas saya selesai, ada tugas lain?" tanyanya dengan mulut penuh makanan.


"Jangan seperti ini, Nis? Kamu sebenarnya kenapa? Kamu yang pertama datang dan kamu yang sekarang benar-benar jauh berbeda. Kamu banyak berubah, Rengganis."


"Kalian yang ingin saya menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini bukan? Saya bahkan kehilangan jati diri saya yang sebenarnya karena tuntutan keadaan."


"Nis,"


"Jangan mendekat."


"Rengganis, kamu kenapa sih?" tanya Anggara yang frustasi. Semenjak kejadian malam itu, Rengganis berubah menjadi orang yang pendiam. Dia bahkan terkesan cuek pada semua orang yang ada di rumah ini.


"Semenjak malam itu, kamu ...."


"Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Saya bahkan ingin mengulang waktu jika bisa."


Anggara mengganggap jika Rengganis merasa malu karena dia yang meminta Anggara melakukan hal itu padanya.


"Apa kamu merasa malu?" tanya Anggara pelan-pelan, dia takut Rengganis tersinggung.


"Lebih tepatnya saya merasa jijik pada diri sendiri."


"Baiklah, saya akan melupakan malam itu. Tapi tolong, bersikaplah seperti biasanya. Kamu memberi jarak begitu jauh di antara kita."


"Jangan bersikap seolah mas merasa sedih dengan adanya jarak yang saya berikan. Jangan terlalu memberikan harapan pada saya, Mas."


Anggara terdiam.


"Lalu saya harus bagaimana memperlakukan kamu?"

__ADS_1


Rengganis berdiri dari kursinya. Dia mendekati Anggara dan menatapnya tajam.


"Kita menikah atas perintah ibu, entah kenapa mas tidak bisa menolak, saya juga tidak tahu. Jadi, apa yang kita lakukan, lakukan sebagai sandiwara. Itupun jika di hadapan ibu dan yang lainnya. Jika berdua seperti ini, mencobalah menjauh. Mas sendiri tau bagaimana perasaan saya bukan? Bantu saya melupakan perasaan itu. Anggap saya tidak ada di sini, jangan pedulikan saya apapun yang terjadi. Jangan pernah menyentuh saya."


Anggara menghela nafas.


"Jika itu yang kamu minta, akan saya lakukan."


Rengganis berjalan melewati Anggara. Dia naik ke atas tempat tidur, lalu berusaha memejamkan mata.


Anggara memijat kepalanya yang terasa berat. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada Rengganis.


Gadis yang selalu memberikan senyuman yang indah dan manis, kini bibir itu selalu mengeluarkannya kata-kata yang menyakitkan. Wajahnya yang selalu berseri saat menatapnya, kini menyiratkan kebencian dan kemarahan.


Mungkinkah Anggara merindukan Rengganis yang dulu?


Pilihan hanya ada dua. Aku tetap menikah meski tau hari suamiku untuk wanita lain? Ataukah aku harus menghentikan pernikahan ini dan kembali ke kampung. Tapi jika begitu, aku harus rela kehilangan mas Anggara dan melepaskan dia untuk wanita lain. Apa yang harus aku lakukan?


Rengganis menangis di balik selimut. Anggara yang melihat nya pun merasa bersalah. Rengganis yang tidak mengerti apa-apa, harus menjadi orang yang paling menderita.


Jika bisa, aku ingin membebaskan kamu dari lingkaran setan ini, Rengganis.


Malam semakin larut, mereka berdua pun terlelap di kamar yang sama di tempat yang berbeda.


Saat tengah malam, Rengganis terbangun karena merasa haus. Dia melihat Anggara tertidur di sofa. Sebelumnya mengambil minum, Rengganis menghampiri Anggara terlebih dahulu untuk memberikan selimut.


Saat kembali dari dapur, Rengganis membuka pintu sambil meneguk air. Dia merasa kaget saat melihat Anggara sedang berdiri di depan jendela. Rengganis tersedak hingga dia batuk.


"Kenapa bangun, Mas?"


"Saya tidak bisa tidur nyenyak."


"Jangan terlalu memikirkan banyak hal, hidup mas sudah enak sejak kecil. Coba bayangkan jika mas menjadi saya."


"Bukan karena itu."


"Lalu?"


"Saya tidak terbiasa tidur di sofa. Badan saya sakit semua."


"Oh." Rengganis merasa malu.


"Ya udah, Mas tidur di kasur dan saya di sofa."


Rengganis berjalan menuju sofa, namun Anggara menarik tangan Rengganis.


"Mas lupa perjanjian kita?" tanya Rengganis tegas. Meski sebenarnya hati dia tidak bisa dikendalikan.

__ADS_1


"Jangan begini, saya mohon."


"Apa yang sebenernya mas inginkan?"


"Saya ...."


"Lupakan! Lebih baik ...."


"Saya merindukan kamu yang dulu. Saya merindukan senyuman kamu yang penuh cinta. Saya merindukan wajah kamu yang selalu bersinar bahagia saat kita bertemu. Saya merindukan semua yang ada pada diri kamu yang dulu."


Hari Rengganis berbunga. Dia merasa bahagia mendengar penuturan Anggara.


Jangan lemah, Rengganis!


"Tapi saya bukan lagi Rengganis yang dulu. Inilah Rengganis yang selama ini kalian inginkan bukan?"


Rengganis menghempaskan tangan Anggara yang mencengkeramnya erat.


"Lebih baik mas tidur. Sudah malam," ucap Rengganis sambil membalikan badan membelakangi Anggara.


"Jangan begini."


"Mas, lepaskan!" Rengganis berusaha melepaskan tangan Anggara yang melingkar di perutnya. Dia memeluk Rengganis dari belakang begitu kuat.


"Tidak. Saya tidak akan melepaskan kamu, Nis."


"Mas."


"Tidak."


Anggara memeluk lebih erat. Dia menyimpan dagunya di atas bahu Rengganis.


"Sebentar saja, biarkan seperti ini."


Rengganis yang berusaha melepaskan tangan Anggara, tapi tidak pernah berhasil, akhirnya menyerah dan membiarkan calon suaminya memeluknya dari belakang.


Sadar Rengganis akhirnya membiarkan dirinya memeluk, Anggara melakukan hal lain. Perlahan dia membopong Rengganis. Gadis itu tidak melakukan perlawanan. Sinyal hijau yang diberikan Rengganis, membuat Anggara merasa bahwa Rengganis mengizinkannya.


Anggara membawa Rengganis ke tempat tidur, meletakkan tubuh wanita itu dengan perlahan.


"Jangan lakukan apapun!" Rengganis memberi peringatan.


"Tidak akan, tapi biarkan saya tidur seperti ini."


Anggara tidur di samping Rengganis sambil memeluk tubuh calon istrinya itu.


"Biarkan begini sampai esok," bisiknya di telinga Rengganis.

__ADS_1


Selalu ada celah bagi iblis untuk menggoda manusia apalagi saat mereka sedang berdua. Sekuat apapun prinsip Rengganis, belum bisa mengalahkan tipu daya setan.


Rengganis selalu lemah oleh sentuhan yang diberikan Anggara padanya.


__ADS_2