
"Bayi itu sangat mungil. Kebencian saya pada ibunya tidak bisa saya berikan pada bayi itu. Rasa sayang saya sebagai ibu tumbuh begitu saja. Saya bahkan melupakan bahwa dia lahir dari wanita yang paling saya benci di dunia ini."
Bu Sari menutup wajahnya.
"Tapi apa hubungannya dengan semua yang ibu lakukan sekarang pada kami?"
"Karena saya percaya sama kamu."
"Maksud ibu?"
"Rengganis, memang benar saya tidak ingin istri Anggara menguasai Anggara dan harta yang kami miliki. Saya takut dia akan menjauhkan saya dari putra saya. Perjuangan saya untuk menjadikan dia anak tidak mudah. Meski saya menyayangi dia sepenuh hati, tapi kadang kala saya juga tersiksa karena teringat dari mana asal usul anak itu. Sebagai perempuan kamu pasti mengerti bukan?"
Rengganis mengangguk. "Tapi, Bu. Bukan berarti ibu bisa mengatur hati mas Anggara. Dia punya hak untuk mencintai seseorang."
"Tapi buktinya dia sudah jatuh cinta sama kamu."
Rengganis tersenyum sinis.
"Rengganis, kamu tau kenapa ibu begitu peduli sama kamu? Itu karena kita sama. Kita berasal dari keluarga miskin yang menikah dengan pria kaya. Kamu bayangkan jika keluarga suami saya tahu siapa Anggara sebenarnya? Saya pasti akan diusir. Saya tidak ingin itu terjadi. Saya tidak ingin dihina oleh orang lagi, Nis."
"Ibu bisa mengatakan hal ini dan bicara baik-baik pada kekasih mas Anggara."
"Orang tua Santika adalah lawan bisnis ayah Anggara, Nis. Mereka ingin menjatuhkan kami. Tapi saya bukan orang yang mudah dikalahkan jika sudah menginginkan sesuatu. Saya hanya ingin keluarga saya utuh. Saya tidak ingin Anggara pergi dari saya."
"Tapi, Bu."
"Ibunya Anggara berpihak pada perempuan itu. Mereka berniat mengambil Anggara dari saya beserta aset yang kami miliki."
"Tapi mas Anggara buka anak kecil lagi, dia pasti punya pemikiran sendiri."
"Rengganis ...." Bu Sari menggenggam erat tangan Rengganis. "Laki-laki itu bisa berubah jika sudah istri yang berbicara. Apalagi Anggara, dia orangnya baik dan tidak tegaan. Itulah kenapa saya tidak ingin orang lain menjadi istrinya. Bukan karena kamu tidak pintar, saya sudah pernah bilang sama kamu kalau kamu itu tulus, itulah kenapa saya suka sama kamu."
Rengganis menggelengkan kepala karena tidak bisa mencerna apa yang dikatakan Bu Sari.
"Saya tau kamu butuh waktu untuk mencerna semuanya. Tak apa, tapi saya hanya pesan satu hal, kamu jangan pernah tinggalkan Anggara."
"Tapi mas Anggara mencintai wanita lain, Bu."
"Saya mengasuh Anggara dari dia masih terlilit tali pusar. Saya tau semua tentang dia tanpa dia mengatakan apapun sama saya. Dia sudah mulai mencintai kamu, Rengganis. Kamu hanya perlu memupuk agar cintanya semakin tumbuh dan berkembang."
Rengganis yang semula ingin meminta izin untuk tidak tinggal bersama Anggara, kini kembali bimbang.
__ADS_1
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dia akan hadir karena kalian terbiasa bersama."
"Iya, Bu. Saya akan mempercayai ibu sekarang. Jika ibu mengatakan hal sebenarnya, maka saya akan membela ibu jika nanti terjadi sesuatu."
"Terimakasih, Rengganis." Bu Sari memeluk Rengganis dengan erat dan perasaan lega.
Dengan langkah lemah karena merasa malu, Rengganis kembali ke kamar.
"Nis?" Anggara segera bangkit dari duduknya.
"Saya kembali, Mas."
"Ibu tidak mengizinkan kita pisah kamar bukan?"
Rengganis mengangguk.
Anggara menghampiri Rengganis. Dia menarik tubuh Rengganis dengan lembut, lalu mendekapnya.
"Saya memang belum bisa melepaskan Santika sepenuhnya. Maka dari itu, tolong kamu bantu saya meluapkan dia, ya."
"Iya, Mas."
"Ishhh, apaan sih Mas?" Rengganis mencubit perut suaminya.
"Kok kamu genit sih cubit-cubit, nakal yaaa kamu."
"Mas, ih. Apaan coba?"
"Udah sah, inget udah sah."
"Masssss."
Setitik kebahagiaan di kehidupan Rengganis sudah terlihat. Meski harus melalui jalan yang panjang dan berliku, pada akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Layaknya pasangan suami istri, Rengganis dengan sigap melayani suaminya. Menyiapkan baju saat pergi ke kantor, menyiapkan makan, mengantarkan sampai mobil.
Mereka bahkan saling berpelukan dan mencium kening istrinya saat hendak pergi.
"Ya ya ya, gue gak tau Lo punya mantra apa buat meluluhkan hati Kakak dan ibu. Bagus sih, sudah dipermalukan pun ibu masih mau memaafkan kamu."
Rengganis tersenyum sambil membelai tangan atas Amara.
__ADS_1
"Ish, tumben banget dia gak bales omongan gue. Merinding jadinya. Dia kerasukan setan apaan ya?"
Amara bergidik sendiri sambil berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
Sepanjang jalan menyetir mobil. Amara bersenandung riang. Hari ini dia akan pergi bersama teman-temannya ke sebuah pulau.
Mereka akan menginap dan bersenang-senang di sana. Pulau yang sangat indah, bersih dan memiliki pantai pasir putih yang indah.
Mereka akan bertemu di sebuah cafe untuk membicarakan rencana mereka besok pagi. Tibalah Amara di parkiran. Dia berjalan penuh semangat untuk menemui sahabatnya.
Amara pergi ke toilet terlebih dahulu untuk merapikan pakaian dan make up nya. Setelah itu dia masuk ke dalam toilet untuk buang air kecil.
Saat sedang di dalam, dia mendengar ada orang masuk. Mereka berbincang-bincang dan ternyata itu adalah Desy dan Hani. Sahabat Amara.
Amara hendak menyapa, namun saat mulutnya sdush terbuka, dia kembali terdiam mendengar apa yang mereka obrolkan.
"Gue juga gak ngerti, tapi mau gimana lagi? Udah terlanjur temenan juga ya udahlah."
"Kesel banget gak sih, dia itu sok bossy. Dikit-dikit bilang 'udah gue aja yang bayar', dikira kita gak mampu apa gimana sih?"
"Iya. Padahal dia itu gak asik sama sekali. Bicaranya sengak dan gak pernah disaring. Menurut dia biasa aja, tapi kan kita enggak."
"Hati dia mati kali."
"Pantes aja Reno selingkuh sama Aura. Ha ha ha. Kasian banget gak sih?"
"Reno kan deketin dia cuma karena dia royal aja."
"Lo pikir kita enggak?"
Mereka terbahak-bahak.
"Udah ah, ayo kita pergi keburu dia datang. Jangan lupa ambil menu yang paling mahal biar si BOSS kita yang bayar."
"Kita jahili dia aja sekalian."
"Gasekuuuun."
Kaki Amara bergetar hebat. Dia bahkan tidak bisa berdiri sama sekali. Amara ingin menangis tapi dia tahan karena tidak ingin didengar orang.
Amara mengambil ponsel tapi dia bingung hendak menghubungi siapa. Akhirnya dia menemukan satu nomor yang saat ini hanya dia yang bisa diandalkan.
__ADS_1