Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Fakta yang terbongkar


__ADS_3

"Ayo kita makan dulu, laper gak?" Amara mengajak Rengganis makan.


"Kalian mau makan juga gak?" tanya Amara pada para pria yang ada di sana. Reyhan, Rangga dan Anggara ikut makan, sementara yang lainnya memilih untuk duduk.


"Kamu mau ini?" tanya Singha pada Rengganis. Wanita itu mengangguk. Setelah mengambil makanan, mereka duduk di meja bundar.



"Kalian kapan menikah?" tanya Singha pada Rangga. Kedua sejoli itu saling bertatapan sambil tersenyum.


"Sebentar lagi. Kami sedang menyusun detailnya dulu agar nanti tidak ada yang terlupakan."


"Kenapa tidak pakai jasa WO?" tanya Singha lagi sambil mengunyah makanan.


"Mau, sih. Tapi kita tetep pengen semuanya sesuai rencana kita dulu, baru nanti konsultasi sama pihak WO."


Singha mengangguk-angguk.


"Kalau kalian?" tanya Amara.


"Secepatnya," jawab Singha. Rengganis langsung menoleh.


"Jaga dia ya, Kak Singha. Rengganis terlalu banyak terluka. Aku harap dia bisa bahagia."


"Luka yang ditimbulkan kakak kamu?"


"Broo, Amara gak ada hubungannya." Rangga tidak menyukai Singha yang seolah menyalahkan Amara juga atas apa yang diperbuat Anggara.


"Iya, maaf."


Rangga menaruh tangannya di atas paha Amara.


"Ada apa, Rengganis? Sepertinya kamu bersedih tadi?" ucap Maria yang tiba-tiba datang dan ikut makan bersama mereka.


"Apa kamu sedih karena mantan suami kamu berbahagia dengan wanita yang merebut Anggara darimu?"


"Mami ...."


"Ups, mami lupa. Yang merebut Anggara kan kamu dari Santika. Mereka hanya menyambungkan hubungan yang sempat terganggu oleh orang asing."


"Mami, stop!" Singha mulai meninggikan suaranya.


"Untuk apa menangisi orang yang membuat kita terluka, Tante? Bukankah hanya orang bodoh yang mau jatuh di lubang yang sama."


Maria tersenyum sinis.


"Kesedihan yang sesungguhnya di dunia ini adalah merindukan mereka yang sudah tidak lagi berada di atmosfer yang sama dengan kita." Wajah Rengganis murung.


Amara tau siapa yang sedang Rengganis bicarakan. Dia menggenggam tangan Rengganis meski hanya ujung jarinya saja karena jarak mereka cukup jauh.


Rengganis tersenyum.

__ADS_1


"Ada apa? Apa karena orang yang selama ini mengangkat kamu dari kampung ke kota telah pergi?"


"Karena dia seorang ibu yang bijaksana dan menyayangi anak-anaknya. Bahkan aku yang bukan siapa-siapa pun disayangi nya dengan tulus. Bukankah tidak semua bisa seperti beliau?"


Maria meletakkan sendoknya dengan kasar hingga menimbulkan suara yang gaduh.


"Benar, aku yakin ada alasan kenapa ibu tidak pernah menyetujui hubungan kakak dengan Santika. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti pasti akan terungkap alasannya. Insting seorang ibu itu kuat untuk anaknya."


"Tidak semua insting mereka kuat, Amara. Insting seorang ibu akan hilang oleh keegoisan."


"Kurang ajar!"


Maria menggebrak meja.


"Ya, aku memang tidak ingin memiliki menantu dari anak seorang narapidana. Apa itu salah? Itu juga bagian dari insting seorang ibu. Meski aku bukan ibu yang baik, tapi aku ingin anakku mendapatkan wanita dari keluarga baik-baik. Bukan keluarga penjahat seperti kamu!"


Kehebohan Maria mengundang perhatian banyak orang. Mereka menjadi pusat perhatian.


"Ini acara anak saya, Tante. Jangan membuat kegaduhan di sini." Anggara datang menghampiri.


"Oh, yaaa. Ini dia, si pahlawan kesiangan datang. Kenapa? Kamu kenapa belain dia? Kamu masih punya rasa sama dia?"


"Terlepas dari itu semua, Tante telah merusak acara saya."


"Bicara apa kamu?" Singha tidak terima ibunya disalahkan oleh Anggara.


"Bawa ibumu pergi dari sini. Biarkan acaraku berjalan dengan baik."


"Apa? kamu berani mengusir ibuku?" Singha semakin emosi.


"Awww!"


Perhatian mereka teralihkan saat Rengganis didorong keras oleh Santika hingga dia terjerembab.


"Rengganis!" Amara berteriak lalu menghampiri Rengganis yang sudah ada di rumput.


Rangga ikut membantu Amara untuk membangunkan Rengganis. Oma menghela nafas saat melihat kejadian itu.


"Bu, aku tidak yakin keinginan kita untuk menikahkan Singha dan anak itu adalah yang terbaik. Lihatlah, Santika dan dia tidak akur. Bagaimana hubungan keluarga kita jika setiap pertemuan akan terjadi hal seperti ini?" ungkap Yudistira.


Oma lagi-lagi menghela nafas berat.


"Keluar! Pergi kamu dari sini sekarang juga!" Santika berteriak histeris.


"Sayang, jangan marah-marah. Kasian bayi kamu." Orang tua Santika menghampiri putri mereka.


"Mau apa kamu?" Maria menghadang langkah Singha yang akan menghampiri Rengganis.


"Menyingkir dari jalanku, Mami."


Rengganis menggelengkan kepala saat Singha meliriknya.

__ADS_1


"Bro, gue bawa Rengganis pergi dulu. Nanti gue kabarin."


Singha hanya bisa diam menatap kepergian Rengganis.


Bunyi piring makanan pecah dan berjatuhan membuat beberapa perempuan histeris saat Singha membalikan meja tempat mereka makan tadi.


Aarrggghhh!


Dia berteriak histeris. Melihat sekeliling dengan mata merah penuh amarah. Melempar apa saja yang ada di dekatnya.


"Singha! Jangan rusak acara gue!" Santika memukul punggung Singha dengan vas bunga. Pria itu seketika membalikan badan.


Singha tertawa meski punggung nya terasa panas.


"Apa Lo bahagia? Apa Lo bahagia dengan penderitaan yang gue rasa saat ini? Hah! Lihat, acara ini hancur gara-gara Lo! Kenapa Lo mendorong Rengganis?" Singha berteriak hingga cipratan air liurnya ke mana-mana.


"Gue? Kenapa gue yang salah? Dia datang ngambil cowok gue, dan sekarang dia deketin Lo biar jadi keluarga kita. Lo sadar gak sih kalau dia cuma mau deketin Anggara lagi?"


"Hati Lo busuk! Kecantikan Lo gak guna sama sekali karena hati Lo gak sesuai, tau!"


"Singha!"


"Apa!"


Mereka saling meneriaki. Santika merengek mendekati Oma. Dia sengaja mencari perlindungan saat kalah oleh Singha. Dengan begitu Singha akan disalahkan oleh semua orang .


"Gak usah merengek pada orang yang sama sekali gak ada hubungan darah sama Lo, Santika!" teriakkan Singha menghentikan langkah Santika.


Dia segera berbalik, lalu menatap Singha.


Singha tertawa. "Jangan bergaya tuan putri di keluarga ini, Santika. Lo ... Bukan anggota keluarga gue!"


"Singha!" Budiono membentak Singha.


"Kenapa, Om? Sampai kapan Om mau menyembunyikan fakta jika dia bukan anak kandung om dan tante?"


"Cukup! Om mohon hentikan sekarang, Singha."


"Santika ... Lo tau kenapa anak gue dipanggil princess sementara Lo enggak? Itu karena Lo memang bukan keluarga gue! Jadi jangan pernah berlagak sok berkuasa di sini. Lo, bahkan kami tidak tahu seperti apa keluarga Lo sebenarnya. Ck ck ck. Apa bedanya Lo sama Rengganis?" tanya Singha mengejek sinis.


Plakkkk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Singha.


"Tampar, Tante. Aku gak akan marah. Ayo, tampar sekali lagi."


Ibu Santika mengangkat tangan dan bersiap untuk menampar Singha, tapi Maria mencegahnya.


"Berani kamu tampar anakku sekali lagi, akan aku pastikan Santika keluar dari daftar pewaris ibu." Maria mengangkat jari telunjuknya sebagai peringatan serius pada adik iparnya itu.


Santika masih terdiam mendengar apa yang baru saja Singha katakan. Tubuhnya bergetar hebat karena syok.

__ADS_1


Brukkk!


Tubuh wanita itu jatuh ke tanah dengan perut mendarat lebih dulu.


__ADS_2