Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Permintaan maaf


__ADS_3


Rengganis dan Kenan duduk di tepi pantai sambil melihat senja. Tidak ada yang bisa menandingi keindahan alam saat matahari hendak pulang ke peraduannya. Keindahan itu singkat, tapi melekat dan selalu dinanti.


"Singha menelpon." Kenan memulai obrolan.


"Aku bahkan bingung harus menghubungi siapa saat dia tidak bisa dihubungi."


"Adik, Kartika itu sahabat Singha sejak mereka remaja dulu. Lagi pula dia ke sini bukan semata-mata ingin bertemu Singha. Kartika itu seorang designer. Singha ingin baju keluarganya dibuat oleh Kartika saat kalian menikah nanti."


"Meski begitu aku tahu satu hal."


"Apa?"


"Dari semua orang-orang yang ada di sekitar Singha, cuma aku yang tidak kompeten. Aku tidak memiliki kelebihan apapun. Seperti yang kakak selalu bilang, kalau aku itu pendek. Dan ya, baik fisik maupun otak, tidak ada yang patut dibanggakan."


"Aku tidak suka kamu bicara seperti itu."


Rengganis menyandarkan kepalanya pada Kenan.


"Aku tidak marah pada Singha, aku hanya mencoba untuk sadar diri. Ya, sadar diri kalau aku ini hanya remah-remah jika dibandingkan dengan wanita mana pun. Termasuk Becca sekalipun."


"Kita akan cari guru untuk kamu belajar, gimana?"


"Di usia segini? Kasian gurunya, Kak. Darah tinggi dia ngasah otak aku yang karatan ini."


"Enggak lah. Kamu itu cerdas dan baik hati. Jika aku bukan kakak kamu, mungkin aku akan jatuh hati sama kamu, Adik."


Rengganis mencubit Kenan.


Mereka saling diam, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, mendengar suara deburan ombak yang halus, juga dihiasi indahnya suara burung-burung yang beterbangan. Gesekan daun pohon kelapa membuat semuanya terasa sempurna.


Air mata Rengganis menetes saat bayangan Singha memegang pinggang Kartika. Saat mereka berjalan, semuanya terlihat serasi. Rasa ketidakpercayaan diri Rengganis semakin besar.


Setelah makanan malam dengan ikan bakar dan hewan laut lainnya, mereka kembali ke rumah.


"Adik, liat sini."


"Apa?"


"Kakak mau foto."


Cekrekkkk



"Coba liat."


Kenan memberikan ponselnya.


"Ih, kakak. Akunya jelek."


"Kamu cantik, Adik. Awas ya, berani kamu hapus kakak gak mau anterin kamu jajan seblak lagi."


"Seblak? Apa itu seblak?" tanya Nugraha.


Kenan dan Rengganis melipat bibirnya. Rahasia yang selama ini mereka simpan, terbongkar dengan sendirinya.


"Siapa yang makan seblak?" tanya mama dengan nada yang sudah mulai tidak enak didengar.


"Aku. Aku, Ma." Kenan mengangkat tangannya.


"Kamu itu, ya. Seblak itu gak sehat untuk lambung kamu. Biji cabainya bisa menimbulkan usu buntu, kita juga tidak tahu dia pakai cabai berkualitas atau cabai kering yang sudah dipakai tikus jalan-jalan."

__ADS_1


"Maaf, Ma. Ken gak akan lagi-lagi makan seblak. Ken janji."


"Awas ya! Kamu, shakeera. Awasi kakak kamu, bilang sama mama kalau Kenan makan seblak lagi."


"Hah? Oh, iya. Siap, Ma."


Rengganis melirik Kenan, lalu mereka tertawa bersama.


Dion yang melihat apa yang mereka lakukan, memberikan jempol pada Kenan.


Ponsel Kenan berbunyi.


//Kenapa matanya bengkak?// Singha.


//Lo gak usah pura-pura bego// Kenan.


Kenan memberikan foto Rengganis pada Singha agar pria itu tau jika adiknya menangis di setiap kesempatan.


//Gue hanya acting, Bro. Sorry//


//Kalau Shakeera cemburu, oke, fine. Gue gak masalah. Tapi saat ini dia merasa tidak percaya diri. Dia merendahkan dirinya dengan mengatakan jika dia buruk dalam segala hal//


// gue gak bermaksud ke sana, sumpah.//


//Terlanjur!//


Kesal, Kenan mematikan ponselnya. Dia berjalan mendekati Rebbeca yang sedang berbicara dengan Inne.


"Dingin, Nak?" tanya Nugraha. Dia duduk sambil merangkul putrinya.


"Papa ...."


"Kenapa?"


"Gak jadi."


Nugraha tau Rengganis sedang sedih, tapi dia tidak ingin bicara apa-apa selain memberikan support pada anaknya.


"Jika dengan menangis bisa membuat kamu lega, menangis saja. Papa akan menampung semua air mata dan rasa sedih kamu, Sayang. Kemarilah." Nugraha memutar tubuh Rengganis, didekapnya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.


Rengganis menangis sesenggukan dalam pelukannya sang ayah. Mendengar adiknya menangis, Kenan mengepalkan tangannya.


"Ada apa?" tanya Rebbeca. Kenan tidak bicara.


Dion mendekat, lalu duduk di samping Rengganis. Dia mengelus kepalanya dengan lembut. Mengusap-usap punggungnya berusaha memberikan ketenangan pada Rengganis.


"Sebenarnya apa yang dilakukan Singha pada shakeera, Ria? Sekarang dia sedang menangis. Kami liburan tapi dia selalu meneteskan air mata tiap ada kesempatan."


"Aku minta maaf, Bhi. Tapi Singha benar-benar tidak melakukan apa-apa. Dia hanya mengajak Kartika ke rumah karena ingin membuat shakeera cemburu. Singha kesal karena shakeera akrab dengan Dion."


"Ada-ada saja mereka. Aku sedih melihat putriku menderita. Aku sudah berjanji pada diriku akan membahagiakan dia. Kamu tahu sendiri bukan, aku kehilangan banyak waktu dengannya. Jadi, tolong katakan pada Singha agar dia menyelesaikan masalah ini secepatnya."


"Iya, iya. Aku akan memarahi Singha."


Nhabira mematikan ponselnya. Lalu dia menatap putri dan suaminya dari dalam kapal.


Mama harus bagaimana agar kamu tidak sedih lagi, Sayang. Susah payah mama merayu papa kamu agar dia setuju kamu bersama Singha, tapi apa yang sekarang Singha lakukan sampai kamu selalu menangis.


Rebbeca berpamitan saat mereka sampai di pelabuhan. Pun dengan Dion.


"Aku pamit, ya. Jangan nangis lagi, itu mata kamu bengkak." Dion mengusap pipi Rengganis. Wanita itu berusaha menghindar dengan berpura-pura menggaruk wajahnya.


Dion tersenyum.

__ADS_1


"Om, aku pamit. Hati-hati di jalan."


Nugraha mengangguk.


"Dion, hati-hati di jalan ya, Nak."


"Siap, Tante."


Setelah Rebbeca dan Dion pergi, mereka pun segera melakukan perjalanan menuju rumah. Rengganis yang menangis cukup lama, merasa lelah dan dia tertidur di pangkuan Kenan.


Semua merasa lelah, meski tidak memejamkan mata tapi semuanya tidak ada yang bicara. Selain lelah, mereka pun sibuk memikirkan Rengganis.


Mobil sampai di halaman. Kenan menggendong Rengganis masuk ke kamarnya.


Dia sedikit terkejut saat melihat Singha ada di sana. sedang berdiri menatap keluar jendela.


"Jangan sakiti dia lagi. Gue takut papa yang akan menyelesaikan urusan kalian." Kenan segera pergi, lalu menutup pintu kamar Rengganis.


Setelah yakin Kenan pergi, Singha mendekati Rengganis. Dia ikut membaringkan tubuhnya di samping Rengganis.


"Aku hanya ingin membuat kamu cemburu, kenapa kamu malah berpikiran lain, Sayang?" tanyanya seraya mengelus kepala Rengganis.


Air mata Rengganis menetes. Tangan Singha yang sedang mengelus kepala kekasihnya langsung berhenti. Dia tau Rengganis tidak tidur. Benar saja, dia langsung bangun.


"Keluar, Singha."


Singha ikut bangun dan kini mereka duduk saling berdampingan.


"Aku minta maaf. Aku hanya kesal karena kamu berbicara dengan pria itu dan mengabaikan ku selama kita makan."


"Memangnya harus ya, membalas rasa sakit dengan rasa sakit lagi? Aku bahkan memaafkan semua kesalahan orang-orang yang menyakitiku."


"Aku tahu. Itu karena kamu memiliki hati yang baik."


"Itu karena aku bodoh."


"Jangan bicara begitu, Sayang. Kalau memang aku mencari wanita yang pintar, aku tidak akan memilih kamu."


"Secara tidak langsung kamu membenarkan kalau aku ini bodoh, iya 'kan?"


"Ya?"


Singha mencoba mencerna ucapannya sendiri.


"Bu-buka. Bukan begitu maksudnya."


"Iya. Kan tadi kamu bilang kalau kamu tidak akan memilih aku jika kriteria yang kamu inginkan adalah wanita pintar. Itu artinya aku bodoh."


Singha menggaruk kepalanya kasar.


"Iya kan?"


Kalau aku jawab tidak, dia pasti akan tetap memaksa aku untuk mengatakan iya. Jika aku bilang iya, maka aku akan ada dalam masalah yang lebih besar.


"Kita bicara lagi lain waktu. Aku pamit."


Di dalam hati kecil Rengganis, dia ingin sekali menghentikan kepergian Singha. Tapi egonya mengatakan hal yang berlainan.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di kening Rengganis sebelum Singha keluar. Dia yang hendak membuka pintu, kembali melangkah mundur.


Rengganis terkejut, tapi tidak bisa dipungkiri jika dia pun merasa senang.

__ADS_1


"Selamat malam, Sayang."


Singha benar-benar pergi dan pulang ke rumahnya. Rasa kesal dan marah itu masih ada, hanya saja dia merasakan kelegaan dalam dadanya. entah karena apa.


__ADS_2