
"Nenek, nenek mau ke mana apa dari mana?" tanya Rengganis lembut.
"Tadi saya diajak anak ke pasar, tapi ditinggal." Oma mulai berakting menangis.
"Nenek orang mana? Biar nanti saya antar."
"Gak tau. Nenek baru tinggal bersama anak yang di sini, nenek tadinya di kampung."
"Anak nenek siapa namanya?"
"Anak nenek yang mana?"
"Yang di sini."
"Nenek gak punya anak di sini."
"Loh, katanya tadi nenek ke pasar sama anak nenek, nama anak nenek siapa?"
"Nenek gak ke pasar. Nenek habis dari kebun."
Menyadari jawaban si nenek yang ngelantur, Rengganis tidak melanjutkan bertanya lebih jauh. Itu hanya akan membuat dia tambah pusing.
"Nenek tidur di sini aja ya, besok kita ke pasar siapa tau ada yang kenal sama nenek. Itu nenek bawa baju, ganti baju dulu ya yang ini basah."
Kamu tanya aja semua orang di pasar. Mana ada yang kenal sama saya. Hi Hi Hi.
"I-iya."
Rengganis memapah Oma ke kamar untuk berganti pakaian.
"Nenek mau saya bantu ganti baju?"
"Gak usah, Nak. Nenek bisa pake baju sendiri."
Rengganis tersenyum, lalu dia keluar. Setelah memastikan Rengganis pergi, Oma segera membuka tas perbekalannya.
"Ini di Sumiati beli baju di mana sih, kenapa jelek semua sih."
Oma mendumel saat melihat baju di dalam tas itu tidak ada yang pas sama sekali dengannya, alias murahan.
"Nek, udah?"
"Udah, sebentar lagi keluar."
"Ayo kita makan dulu. Aku udah masak ikan goreng sama tumis kangkung."
Makan apaan itu? Dia mau bikin saya asam urat apa gimana?
"Lain kali jangan masak ini, nanti nenek asam urat. Gak sehat buat tubuh."
Rengganis melongo mendengar ucapan Oma. Nenek yang seperti linglung itu tau jelas tentang kesehatan.
"Semua makanan itu sehat, asal jangan berlebih makannya. Secukupnya saja, Nek."
"Nenek gak mau makan pokoknya."
"Ya?"
__ADS_1
"Nenek gak akan makan ini. Nenek mau salad sama telor rebus saja."
"Salad? Gak ada bahannya, Nek."
"Tapi kayaknya di kebun kamu di sana banyak sayuran segar. Pake itu aja."
Rengganis melihat ke arah pintu, sudah malam dan di luar hujan. Rengganis kembali menatap si nenek berharap dia berubah pikiran. Namun si nenek malah memasang wajah kesal.
"Iya, Nek. Kita lihat di depan ada apa saja yang bisa dipakai buat bikin salad."
Rengganis menyimpan sendoknya, mengambil keranjang kecil dan payung. Lalu di pergi ke kebun.
Ada beberapa sayuran yang Rengganis pikir bisa dipakai untuk dijadikan salad. Hujan yang cukup besar mampu membuat dia basah meski memakai payung.
"Tunggu ya, Nek. Saya cuci dulu sayurannya. Sekalian menyalakan api untuk merebus telur. Kebetulan gas habis jadi saya harus pakai kayu bakar, agak lama gak apa-apa, Nek?"
Kayu bakar? astagaaa, tau begitu aku gak akan minta telur rebus.
"Gak apa-apa, Nak. Gak apa-apa."
Rengganis pergi ke dapur.
"Dia bahkan masih bisa tersenyum padaku meski aku merepotkan dan sama sekali tidak dia kenal." Oma bergumam. Karena penasaran, Oma pun pergi ke dapur. Dia melihat Rengganis sedang meniup api yang tidak kunjung menyala besar. Hanya ada bara kecil yang malah menyebabkan asap membumbung.
Rengganis masih terus berusaha hingga api benar-benar menyala. Perlahan asap mulai menghilang dan Oma pun menghampiri Rengganis.
"Nenek merepotkan ya, Nak?"
"Nek? Kenapa ke sini? Duduk aja di dalam."
"Tadi ada asap, dikira kebakaran. Makanya nenek ke sini."
Oma tersenyum.
Di depan tungku api yang menyala, Rengganis dan nenek duduk berdampingan. Cuaca di luar hujan deras sangat cocok menghangatkan diri di depan api. Gemericik hujan membuat suasana hati tentram, tapi ada kala rasa sedih tiba-tiba hinggap. Rasa rindu untuk orang-orang yang tak lagi bersama menyeruak di sanubari.
Rengganis menghela nafas.
"Kenapa nafasnya begitu?"
Rengganis tersenyum dengan tatapan mata lurus ke arah api.
"Rindu seseorang, Nek. Rindu pada mereka yang tidak bisa lagi digapai."
"Suami?"
Rengganis menggelengkan kepala. "Ibu."
Oma mengangguk pelan. "Ibumu ke mana?"
"Ibu kandung pergi entah ke mana. Ibu mertua pergi ke surga."
"Mertua?"
"Iya. Ibu mertua yang sudah seperti ibu sendiri. Ibu yang selalu melindungi dan mengerti diri saya, hati saya. Bahkan saya bisa bertahan sampai saat ini pun karena kebaikannya."
Maria, kamu harus jauh lebih baik dari ibu mertuanya yang sudah tiada. Awas saja.
"Suami kamu ke mana?"
__ADS_1
Rengganis menoleh. "Kami bercerai, Nek."
"Cerai kenapa, dia selingkuh?"
Rengganis menggelengkan kepala sambil memasukan kayu bakar ke dalam tungku.
"Saya yang selingkuh."
What? Jadi, wanita ini wanita gak bener? Wah ... Wah ... Untung aku menyelidiki nya dulu.
"Suami saya mengira saya selingkuh hanya karena kesalah fahaman. Ada laki-laki yang selalu mendekati saya. Dia baik, dia juga perhatian. Dia selalu ada setiap saya terluka. Akhirnya suami saya marah dan memutuskan untuk menceraikan saya, Nek."
Laki-laki baik? Apa jangan-jangan itu Singha? Bukankah Singha bilang dia mencintai wanita yang bersuami? Wah, benar-benar ya cucu aing!
"Kamu benci sama pria yang mendekati kamu itu?"
"Enggak, Nek. Dia baik kok. Dia tidak bermaksud membuat saya bercerai dengan suami saya, hanya saja dia memang tidak suka melihat saya selalu menderita karena sikap suami saya."
Uuuuh, pangeran berkuda memang the best. Dia gak suka melihat wanita tertindas. Good, Singha.
"Nenek, nenek kenapa tersenyum? Tadi terlihat marah, lalu sekarang malah tersenyum."
Oma merasa kikuk karena dia tidak bisa mengendalikan perasaannya tentang Singha.
"Nenek kebawa perasaan."
Rengganis tertawa.
"Kamu sekarang gimana? Bahagia?"
Rengganis mengangguk. "Saya bahagia, Nek. Hidup di sini sangat damai, tenang, dan yaaa, saya suka di sini."
"Emmm, kamu apa gak inget sama pria yang baik sama kamu itu? Siapa tau dia menunggu kamu, kan?"
"Sebenarnya saya ingat. Ada beberapa kesan yang tidak bisa lupakan begitu saja. Tapi rasanya mustahil, Nek. Dia terlalu baik buat saya, dia juga berasal dari keluarga konglomerat. Sementara saya? bapak saya bahkan seorang narapidana."
Narapidana? Apa lagi ini? Kenapa hidup dia penuh dengan kejutan?
"Bapak kamu pembunuh?"
"Bukan. Dulu dia menyiksa saya sampai saya dilarikan ke rumah sakit dan hampir meninggal."
"Astaga, kasian sekali kamu, Nak. Kamu hidup sengsara, dapat suami juga yang gak baik. Nenek janji, pokoknya kamu kalau...."
"Kalau apa, Nek?"
Ini mulut ya! Kenapa nyerocos Mulu sih!
"Kalau nenek sudah ketemu anak nenek, nenek akan membalas semua kebaikan kamu."
"Gak usah, Nek. Memangnya saya berbuat baik apa sama nenek?"
"Mau membuat salad dan merebuskan telur, yaaa walaupun telurnya gosong."
"Telur?"
Rengganis lupa dia sedang merebus telur. Asiknya mengobrol sampai lupa pada telur yang bahkan ada di depan mereka.
Oma hanya tertawa melihat kepanikan Rengganis saat melihat telur rebus yang kehabisan air.
__ADS_1