
"Kalian pergi lah memilih, saya tunggu di resto cempaka wangi, ya."
"Mas gak ikut?"
"Cowok tuh di mana-manna gak akan suka diajak shopping, udah kita aja berdua. Daripada nanti kakak ikut malah kita nya yang gak enjoy disuruh cepet-cepet."
"Oh, begitu."
"Gak apa-apa ya saya tinggal?"
"Iya, Mas. Mas duduk aja di sana sambil santai. Biar Amara yang menemani."
Anggara kembali mengelus kepala Rengganis. Seketika gadis itu mematung dengan wajahnya yang memerah.
"Cieeee, ada yang tersipu nih." Amara menggoda kakak iparnya sambil menyenggol lengan Rengganis.
"Dada saya deg-degan, Ra."
"Ha ha ha. Ayo ah! Jarang-jarang ini ibu ngasih kartu kreditnya. Kita belanja sepuasnya, let's go!" Amara menggandeng lengan Rengganis.
Mereka dihampir penjaga toko pakaian bermerk itu, dibantu memilih pakaian yang keluaran terbaru.
"Lo coba ini."
Rengganis kembali ke kamar pas untuk mencoba pakaian yang dipilihkan Amara.
"Bagus, kita beli yang itu. Nanti Lo coba ini juga ya."
"Ra, saya udah coba beberapa baju, emang belum selesai ya?"
"Belum. Menjadi anggota keluarga gue itu lo harus tampil modis meski ada di dalam rumah. Ah, iya. Lo pasti gak punya baju tidur dan underwear juga kan? Oke, kita beli aja semua yang udah kita ambil ini, lalu pergi nyari baju tidur dan underwear."
"Ini semua?"
"Iya. Mba, tolong bawa ini semua ya kami beli."
"Baik, Non."
Hampir dua jam berada di toko baju, mereka pergi untuk membeli baju tidur dan underwear untuk Rengganis.
"Looh, kok ini mahal banget, Ra?"
"Sssst, jangan teriak deh. Orang pada liatin tuh, malu tau dikira kita orang miskin nanti. Udah, ambil saja yang Lo suka. Jangan lupa sesuaikan sama ukuran punya Lo, jangan kegedean."
"Bingung, Ra. Saya gak ngerti yang gimana yang bagus."
"Ck! Gue lagi yang repot. Ya udah, gue bantu pilih juga. Berhubung punya Lo tepos, kita beli yang pakai busa agak tebelan."
Rengganis memeluk dadanya saat dibilang tepos oleh Amara. Amara tersenyum puas melihat Rengganis yang merasa malu.
"Gue rasa cukup lah ya, baju tidur Lo udah, underwear juga udah. Lo harus beli tas sama sendal sama sepatu."
"Ra, kita giman bawanya kalau harus belanja lagi?"
Amara baru sadar jika barang belanjaan mereka sudah sangat banyak. Rasanya tidak mungkin jika harus nambah barang karena akan sulit membawanya.
__ADS_1
"Harusnya kita bawa pelayan dua orang tadi, kenapa gue lupa ya! Dasar bego." Amara menepuk jidatnya.
"Lain kali aja deh belanja lagi. Saya cape, laper juga."
"Ya udah, iya. Kita sudahi saja shopping hari ini. Yuk, kita temui kakak."
Rengganis yang semula terlihat kelelahan, berubah menjadi penuh semangat.
"Ck ck ck." Amara menggelengkan kepala melihatnya.
Saat Amara dan Rengganis datang, Anggara membelalakkan mata melihat banyak sekali barang yang mereka bawa. Rengganis yang memiliki tubuh kecil hampir tertutup oleh paper bag.
"Sini saya bantu."
"Aku enggak?" tanya Amara.
"Ini semua pasti ulah kamu 'kan?"
Amara nyengir kuda.
"Mau pesan apa?" tanya Anggara pada Rengganis.
"Apa saja yang penting makannya cuma pake sendok."
"Biasain lah, sampai kapan Lo makan pake sendok terus? Kalau makan steak, gimana?"
"Stik? Apa itu?"
"Daging."
"Golok."
"Golok?"
"Sssst, udah. Saya pesankan mie saja ya, biar makannya pake garpu saja." Anggara melerai perdebatan antara calon istrinya dan adiknya.
"Gimana? Keperluan kamu sudah dapet semua?"
Rengganis mengangguk.
"Belum. Dia belum dapet sendal sama sepatu. Katanya mau beli ponsel juga, iya kan?"
"Setelah makan kita beli ponsel. Sepatu sama sendal cukup beli satu saja dulu buat nentuin ukurannya. Sisanya biar nanti saya yang beli. Kalau sudah tau ukuran kan gampang."
Amara menyimpan sendok dan garpunya. Dia menatap Anggara penuh selidik.
"Kak ..."
"Hmmm."
"Kakak sehat kan? Emmm maksud aku kakak baik-baik aja kan?"
Anggara mengerutkan kening.
"Kakak tuh beda banget tau. Aku nih, ya, adik kakak aja belum pernah diizinkan masuk kamar, lah dia malah diajak. Sekarang kakak mau beliin dia sepatu sama sendal, sejak kapan kakak mau beliin barang cewek?"
__ADS_1
"Belajar jadi suami yang baik," ucapnya datar.
Rengganis kembali tersipu.
"Nah, kita tuh muka calon istri kakak. Merah kayak udang rebus. Dia tuh pasti baper itu."
Anggara menoleh ke arah Rengganis, lalu tersenyum padanya.
"Laaah, makin disenyumin ya makin salting itu anak orang."
"Saya boleh minta sesuatu nggak ya?"
"Katakan, kamu mau apa?" tanya Anggara.
"Minyak wangi."
"Parfum dong bilangnya. Apaan itu minyak wangi, geli dengernya."
"Iya, itu. Pafrum." Rengganis dengan polos dan pede nya mengucapkan kata yang salah.
"Parfum!" Ucap Amara kesal.
"Pafrum." Rengganis tetap tidak bisa mengucapkannya dengan benar.
"Serah Lo deh!"
Anggara terkekeh mendengar Rengganis mengucapkan kata parfum.
"Emang lucu ya?" tanya Amara pada Rengganis.
Anggara tetap tertawa tanpa mempedulikan pertanyaan adiknya.
Selesai makan, mereka pergi membeli sandal dan sepatu untuk Rengganis. Lalu pergi membeli ponsel.
"Menurut aku sih, ya, dia jangan dikasih i-phone. Kasih aja dulu ponsel biasa yang gampang dipakai. Setelah dia ngerti baru kasih i-phone. Melihat bagaimana Rengganis, aku sih yakin dia akan kesulitan menggunakan i-phone."
Anggara mengangguk-angguk.
"Oke, kita beli ponsel biasa saja dulu buat kamu belajar. Setelah bisa, nanti saya belikan ponsel keluaran terbaru. Katanya i-phone mau mengeluarkan produk terbarunya beberapa bulan lagi. Pas lah ya sampai menunggu kamu bisa."
"Kamu juga satu ya, Kak."
"Oke."
Amara bersorak gembira. Sementara Rengganis cuma senyum karena dia tidak mengerti apa yang Anggara dan Amara bahas.
Bagi Rengganis, dibelikan ponsel saja sudah sangat membahagiakan. Apa yang selama ini dia tidak pernah dapatkan, satu per satu dikabulkan.
Terlebih lagi karena dia diberikan pria baik seperti Anggara. Itu sudah jauh dari kata cukup.
Saat dalam perjalanan pulang, sesekali Rengganis mencuri pandang padaa Anggara yang sedang menyetir. Perasaannya semakin hari semakin tumbuh berseri.
Rasa syukur tak hentinya dia panjatkan dalam hati karena sudah berada di posisi seperti saat ini. Duduk di dalam mobil bagus, memiliki calon suami yang tampan dan mapan, belanja barang-barang mewah, dan ada adik ipar yang baik meski cerewet.
Apa seperti ini menjadi orang kaya? Benar-benar menyenangkan. Tapi bagaimana kalau mas Anggara benar-benar punya pacar? Jangan, aku tidak boleh membiarkan pacarnya mengambil mas Anggara dariku. Aku sudah punya ibu yang pasti mendukung. Lihat saja, aku pasti bisa menjadikan mas Anggara menjadi milikku seutuhnya.
__ADS_1