
Rasa dingin yang menyergap ujung jari kaki, membuat Rengganis terbangun dari tidurnya yang lelap. Tangannya meraba-raba untuk mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya.
Dapat.
Selimut itu dia tarik sekuat tenaga, lalu dia tutupi tubuhnya dari atas hingga bawah.
Hangatnya.
Antara sadar dan tidak, dia mencium aroma yang asing bagi hidungnya. Semakin lama kesadarannya meningkat. Hingga Rengganis terbangun seketika.
"Astaga, Kenan. Dia minta aku menemani dia makan. Jam berapa ini?" Rengganis merangkak di atas kasur mencari ponselnya. Tidak ada.
Dia ingat, ponselnya masih ada di dalam tas. Dia segera berlari untuk mengambil ponsel itu.
"Ish, ngapain coba nyari ponsel cuma buat liat jam doang. Itu apaan dah?" Dia menggerutu sendiri atas tingkahnya yang konyol.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.30
"Hah? Udah malem. Aku harus gimana? Gimana ini?" Rengganis sibuk sendiri. Dia mengobrak-abrik kopernya untuk mencari handuk. Koper satu, tidak ada. Koper ke dua pun tidak ada.
"Bodohnya aku. Handuk kan ada di kamar mandi." Rengganis segera berlari ke kamar mandi. Dengan terburu-buru dia membersihkan tubuhnya.
Saat mengambil pakaian pun Rengganis kembali berlari. Secepat yang dia bisa, Rengganis segera berpakaian, lalu sedikit merias wajah.
Dia membuka pintu.
"Kalian masih di sini?" tanya Rengganis pada pelayan yang tadi siang ada bersamanya. Mereka mengangguk.
Rengganis menoleh ke Kana dan kiri, mencari ke sekeliling.
"Nona mencari apa? Kalau butuh sesuatu, katakan pada kami."
"Tunggu, apa sejak tadi kalian berdiri di sini?"
Pelayan itu saling melempar pandang.
"Dengan sepatu ber-hak itu?"
Pelayan itu mengangguk ragu. Mereka takut jawaban mereka salah.
"Yang benar saja."
"Nona, nona sudah ditunggu tuan Kenan untuk makan."
"Kenan? sejak kapan dia menungguku?"
"Sejak pukul 18.30, Nona."
"ya ampun." Rengganis segera berlari begitu mengetahui Kenan menunggu nya begitu lama.
"Nona, tunggu. Nona."
"Ayo, kita sudah terlalu lama membiarkan Kenan menunggu. Jangan buang waktu lagi."
"Nona, tunggu sebentar."
"Nona, jangan lari. Nona salah arah."
Rengganis menghentikan pergerakan kakinya dengan spontan, hingga dia hampir terpeleset. Rengganis memutar arah, lalu dia kembali berlari.
__ADS_1
"Nona, jangan lari."
"Ada apa? Apa aku salah arah lagi?"
Mereka berbicara dengan sedikit berteriak karena Rengganis terus saja berlari.
"Iya, harusnya nona tadi belok kanan."
"Baiklaaah." Rengganis seperti mobil yang sedang nge-drift. Berjalan cepat lalu tiba-tiba mengubah arah.
"Tunggu sebentar." Rengganis berhenti, nafasnya tersengal-sengal.
"Kalian jalan saja terlebih dahulu, saya mengikuti."
"Iya, Nona." Para pelayan itupun sama-sama ngos-ngosan.
"Sepertinya ini sudah dingin, tolong ganti kembali makanannya. Aku tidak ingin Laura makan makanan dingin."
"Baik, Tuan."
"Tidak perlu." Rengganis datang. Dengan wajah sumringah, Kenan menghampiri. Dia mempersilakan Rengganis duduk sambil membantu Rengganis menarik kursinya.
"Apa tidak ada orang lain di rumah ini? Kenapa sangat sepi? Oh, iya. Kan aku ya yang kemalaman. Maaf, ya, Kenan."
"Memang hanya ada kita berdua saja."
Kening Rengganis mengkerut.
"Papa jarang makan di sini. Dia selalu menemani mama untuk makan bersama."
"Memangnya mama kamu gak makan aja di sini barengan. Kursinya masih pada kosong."
"Kenan, apa kamu selalu makan sendiri setiap malam?"
"Hmmm? Oh, ya. Tentu saja tidak, aku kan makan bersama Rey, Rangga, Izz dan yang lainnya."
Pantas saja Singha pernah bilang jika Kenan lebih sering menginap di studio ketimbang di rumahnya. Rupanya dia kesepian.
"Lama kamu nungguin aku ya? Sudah berapa kali ganti makanan tadi?"
"Mmmm, lima kali. Aku tidak suka makanan dingin. Rasanya hambar."
Bukan hambar makanannya, Kenan. Tapi hati kamu.
"Baiklah, ayo kita makan. Sepertinya makanan ini sangat lezat. Tapi Kenan, bagaimana caranya aku memakan udang besar ini? Bolehkah aku makan tanpa alat makan?"
"Tentu saja. Kamu bebas melakukan hal apapun di sini. Tidak akan ada yang melarang."
Rengganis tersenyum sumringah. Dia segera mengambil lobster besar yang ada di piring, lalu mematahkannya dengan tangan kosong.
Untuk pertama kalinya di rumah besar dan mewah, Rengganis diperbolehkan makan hanya dengan tangan kosong. Dia sangat senang dan bergembira.
Suasana hati yang baik, membuat mood makan menjadi lebih tinggi. Kenan yang melihat bagaimana lahapnya Rengganis makan, menjadi ikut bersemangat.
Mereka makan dengan lahap.
"Aku tidur cukup lelap dan lama tadi. Jadi, sekarang aku tidak mengantuk," ucap Rengganis saat mereka selesai makan.
__ADS_1
"Kita jalan-jalan saja di halaman belakang, gimana?"
"Boleh."
Kenan meminta para pelayan agar tidak mengikuti mereka pergi. Kenan dan Rengganis hanya berdua saja menyusuri halaman belakang dengan hamparan rumput hijau yang segar dipandang meski malam hari.
Lampu warna-warni membuat pohon-pohon palm yang berjejer seperti pagar itu terlihat sangat indah.
Ada yang berwarna hijau, ungu, kuning dan biru.
"Entah kenapa ... Tapi aku merasa nyaman di sini," ungkap Rengganis.
"Aku senang mendengarnya."
"Di sini sangat damai. Bukan karena sepi tidak ada penghuninya, hanya saja aku merasa nyaman dan hangat."
Kenan tersenyum senang.
"Kamu sudah menghubungi Singha?"
Rengganis menggelengkan kepala.
"Aku ingin sedikit menjaga jarak dengannya. Jangan hanya karena aku, dia menjadi durhaka pada orang tuanya."
"Kamu sangat bijaksana, Rengganis. Padahal umur kita jauh berbeda. Tinggi kita pun jauh berbeda, lihatlah." Kenan memegang kepala Rengganis, lalu sedikit menengadahkan wajahnya.
"Lihat lah, betapa kecilnya dirimu ini."
"Kenan!" Rengganis berusaha memukul Kenan, tapi tangan pria itu panjang dan besar, hingga bisa dengan mudahnya menjauhkan tubuh Rengganis darinya.
Kenan tertawa puas.
"Awwww." tawa itu berubah menjadi ringisan saat Rengganis mencakar punggung tangan yang ada di kepalanya.
"Itu namanya bully, tauuuu."
"Emang pendek, kan? Nih!" Kenan menabrakkan dirinya pada Rengganis. Gadis itu kembali meringis saat merasakan sakit di jidatnya. "Kepala kamu dibawah dada aku, tau."
"Kenaaaan ....."
Takut Rengganis mulai mengamuk, Kenan berlari sekuat tenaga untuk menghindari Rengganis.
Langkah Kenan begitu lebar, sesuai dengan kakinya yang juga panjang. Rengganis berlari tanpa arah. Dia hanya tau harus berlari lurus ke depan. Hingga akhirnya dia sadar jika dia berada di tempat yang tidak dia ketahui ada di mana. Rengganis hanya berlari masuk ke dalam rumah sesuai arah Kenan berlari.
"Nah, kan. Ini di mana coba? Mana di sini sepi gak ada pelayan. Apa Karen ini sudah malam, makanya pelayan pun tidur."
Rengganis celingukan mencari jalan keluar. Hingga dia mendengar seseorang sedang bicara. Seperti suara laki-laki.
Rengganis mencondongkan kepalanya, lebih tepatnya dia mengintip orang yang sedang berbicara itu.
Nampak ada seseorang sedang duduk di kursi roda. Dia seorang perempuan karena bisa dilihat dari rambut dan pakaian yang dia kenakan.
Orang yang sedang berbicara itu adalah ayahnya Kenan. Dia sedang makan sambil bercerita entah tentang apa. Sepertinya dia bercerita sangat asik, namun ada yang aneh.
Ayah kenan berbicara sendiri tanpa adanya feedback dari lawan bicaranya.
Kenapa dia hanya asik sendiri? Apa perempuan itu tidak bisa bicara?
Manusia normal, wajar jika mereka punya insting sedang diperhatikan. Pun dengan ayahnya Kenan. Diam-diam dia mencari sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman seperti ada yang sedang mengawasi.
__ADS_1
Dapat.
Ayahnya Kenan dan Rengganis saling menatap.