Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Prik


__ADS_3

"Ra, Amara." Tanpa mempedulikan orang yang ada di toilet, Rengganis berteriak memanggil adik iparnya.


"Amara, kamu di man--" teriakan Rengganis terhenti saat salah satu pintu terbuka. Rengganis mengangguk berlari kecil menghampiri pintu itu. Dia terkejut melihat Amara sedang menangis dengan posisi celana masih di bawah.


"Ishhh, kamu kenapa sih?" Rengganis segera menutup pintu itu.


"Kamu kenapa? Ayoo buruan pake dulu celananya." Amara masih menangis, tangisannya bertambah kencang saat Rengganis membantu dia memakaikan celana.


"Kamu itu udah gede, bukan bayi lagi. Itu rumput udah lebat pun masih aja gak tau malu. Minta aku buat pakein celana."


Amara semakin keras menangis. Orang-orang di luar tertawa mendengar percakapan Rengganis.


"Jangan nangis di toilet, nanti ada yang ngikutin. Ayo pulang dulu, nanti kita nangis bareng aja di rumah."


Orang-orang semakin tidak kuat menahan tawanya. Tidak ingin ketahuan, mereka segera pergi sebelum Amara dan Rengganis keluar.


Amara masih sesenggukan saat mereka keluar.


"Nah, buruan kalau mau nangis di sini aja," ucap Rengganis saat mereka berada di dalam mobil.


"Kami itu kenapa sih? nangis sampe lupa pake celana."


Amara melotot pada Rengganis. Dia lupa jika ada sopir di depan.


Rengganis tertawa cekikikan. Semakin lama semakin kencang.


"Lo kenapa sih? Takut tau. Lo kesambet ya?"


"Hi hi hi." Rengganis tertawa menyerupai kuntilanak.


"Iiiih, Lo kenapa sih, Mba?" Amara menjauh dari Rengganis. "Pak, dia kenapa sih?"


Pak sopir menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Saya mengikuti nona yang menangis tadi. Hi hi hi."


"Mbaaaa ... Gak seru ah!"


Rengganis mulai mengendalikan dirinya.


"Hadeuuuh, sakit perut aku ya tuhan."


"Mba kenapa ih?"


"Dipikir -pikir ya, aku geli banget kalau inget kejadian tadi di toilet. Astagaaaaa ... Wk wk wk."


Amara mencucu. Namun, lama kelamaan dia pun ikut tertawa. Akhirnya mereka berdua tertawa.


"Kenapa mereka berdua jadi kesurupan semua?" gumam supir. Mendengar hal itu, Amara dan Rengganis kembali tertawa semakin menjadi.


Merasa lelah, mereka pun berhenti. Namun, tidak lama kemudian mereka saling bertemu pandang, dan kembali tertawa.


"Berhenti, gue pengen pipis," ucap Amara samar karena terhalang tawanya. Mereka kembali tertawa.


Sampainya di rumah, mereka segera berlari. Bahkan berebut untuk masuk ke dalam.


"Eh, eh, ini kenapa? Ada apa?" tanya Bu Sari.


"Ngapain Lo ikut gue? Kamar Lo di sana." Amara mendorong Rengganis.


"lupa."

__ADS_1


Rengganis dan Amara segera masuk ke kamar masing-masing.


"Kamu kenapa sih?" tanya Anggara yang terkejut dengan kedatangan Rengganis yang tiba-tiba.


"Mau pipis, gak kuat." Rengganis berteriak dari dalam kamar mandi.


Anggara mengerutkan keningnya. Dia bangun dari tempat tidur, dan berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Eeeitttt, mau ke mana lagi?" Anggara menarik pinggang istrinya saat Rengganis hendak pergi.


"Mau ke kamar Amara. Tadi dia nangis, jadi aku mau nanya kenapa dia nangis."


"Kalau kamu pergi, aku yang bakalan nangis."


"Ngadi-ngadi." Rengganis memukul dada suaminya.


"Awwww."


"Aku pergi bentar ya, Mas."


"Ikuuut."


"Jangan, kamu pasti takut kalau denger cerita kita nanti." Rengganis kembali berteriak sambil berlari menuju kamar adik iparnya.


"Ra, aku masuk."


"Ya, masuk aja gak dikunci."


Pintu terbuka.


"Mba, kita jangan bahas kenapa aku nangis sekarang ya. Besok aja. Aku ingin sendirian dulu."


Amara mengangguk.


"Kenapa? ditolak yaaaa?" tanya Anggara.


"Oh kok tau?" tanya Rengganis. Matanya melihat ponsel yang sedan dipegang Anggara.


"Iiih, Mas. Sini nggak!" Rengganis mengambil ponsel Anggara dari tangannya. Tanpa melakukan perlawanan, Anggara membiarkan istrinya mengambil ponsel itu.


Dengan mesra, Anggara memeluk Rengganis dari belakang. Sesekali dia mencium mesra pipi istrinya yang sedang membaca chat di ponselnya.


"Tuh kan. Mas kenapa ih? Masa Amara diancam biar gak mau aku temenenin. Kan kasian dia."


Anggara tertawa.


Secara tidak sengaja, Rengganis scroll chat-an yang lain, dan dia melihat nama seseorang dengan kata Lovely. Jelas di sana terpampang wajah Santika.


Anggara melepaskan pelukannya perlahan.


"Maaf, Nis."


"Ini ponselnya. Aku ke kamar Amara sebentar."


"Nis ...." Anggara berusaha meraih tangan istrinya, tapi gagal.


Benar saja, Amara sedang menangis sambil memeluk bantal guling. Rengganis duduk di sampingnya.


"Ucapan aku benar, kita sepertinya akan nangis bareng di rumah." Air mata rengganis mulai menetes.


"Ada apa? Katakan saja jika ingin berbagi."

__ADS_1


Amara menghapus air matanya, lalu dia mulai bercerita tentang apa yang terjadi hari ini hingga dia menangis cukup lama di toilet caffe.


"Kamu jangan nangis, ngapain teman kayak gitu ditangisi. Mending kita kerjain aja sekalian."


"Kerjain?"


"Mereka bilang kamu itu bossy kan? Mereka gak suka? Oke, kalau memang dia gak suka kamu jadi bos, kali ini kamu jadikan mereka bos nya."


"Gimana sih, gak ngerti gue."


"Udah, pokoknya kamu ikutin aja apa yang aku katakan. Sekarang kamu wa temen-temen laknat kamu. Kamu bilang maaf tadi gak bisa datang karena ada halangan."


"Serius aku minta maaf?"


"Iya, udah sih nurut aja."


Amara mengambil ponselnya, dia mengetik pesan seusai yang dikatakan Rengganis.


"Kamu bicarakan saja rencana buat besok, ya kayak gak ada hal apapun yang terjadi. Udah, ayo."


"Iya, iya." Amara berusaha mengetik dan berbincang seperti biasanya padahal hatinya masih sangat sakit dan kesal.


"Nah, kamu bilang kalau tiket dan semuanya sudah kamu bayar. Mereka tinggal berangkat aja."


"Ogah banget kalau gue harus bayarin juga."


"Cuma ngomong doang dodol!"


"Oh." Amara tertawa. Lalu dia kembali mengetik sesuai arahan Rengganis.


"Nah, sekarang matiin ponsel kamu. Jangan diaktifkan sampai besok sore."


"Kenapa? Bete banget kali gue hidup tanpa ponsel."


"Besok kita pergi. Kita nonton, kita makan, atau kita pergi ke mana gitu."


"Gue sama Lo? Emang kita akrab ya?" tanyanya meledek.


"Kita gak akrab, tapi gimanapun juga kita adalah keluarga. Itu lebih berharga dari hubungan apapun."


Untuk sesaat Amara merasa tersentuh.


"Aku ke kamar ya."


"Tunggu, Lo tadi nangis kenapa? Gak mungkin sedih karena gue kan?"


Rengganis menggelengkan kepala. "Masalahku lebih rumit, Ra. Yaaaa, resiko punya suami yang hatinya untuk wanita lain."


"Maafin kakak gue ya."


"Kamu jangan khawatir. Aku baik-baik aja kok. Lagian ini resiko karena sudah mau menjadi istrinya."


Gue doain semoga suatu saat Lo bahagia. Yaa entah itu dengan kakak gue ataupun dengan orang lain. Kita gak akan tau, kan?"


"Aku juga berdoa semoga kamu mendapatkan teman yang tulus, ya."


Mereka saling melempar senyum sebelum Rengganis keluar dari kamarnya.


"Gue juga ngerasain sakitnya Lo, Mba. Terlebih karena pacar gue selingkuh sama sahabat gue sendiri."


Amara kembali menangis.

__ADS_1


__ADS_2