Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Belok.


__ADS_3

"Semuanya sudah siap? Inget, ya. Jalannya harus santai, harus tenang, jangan lupa tersenyum." Seorang pengarah acara kembali briefing dengan para Bridesmaids pernikahan Amara dan Rangga, Rengganis salah satunya.


Rengganis berdiri tepat di belakang Amara, dia yang memegang ekor gaun Amara.


"Oke, dalam hitungan ke tiga, kalian siap melangkah."


Mereka semua mengangguk.


"1 ...2 ...3, go!!"


Pintu gedung terbuka lebar, alunan piano menggaung indah dalam ruangan yang bernuansa peach itu. Semua mata para tamu undangan yang datang tertuju pada iring-iringan pengantin wanita.


Mereka berjalan dengan sangat anggun. Seperti tuan putri dengan para dayangnya.


"Lo liat yang mana di antara mereka? Pasti bukan pengantinnya kan?" tanya Athala.


Singha tidak menjawab, matanya terus menatap Rengganis tanpa jeda. Dia begitu mengagumi kecantikan kekasihnya itu. Ada rasa bangga dan juga bahagia karena memiliki Rengganis sebagai kekasihnya.


"Salah nanya gue," gumam Athala. Pria itu menoleh ke arah sebelahnya, Kenan. Saat melihat mata Kenan yang sama tidak berkedipnya dengan Singha, Athala memilih diam. Dia duduk di antara lautan manusia yang sedang berdiri.


"Gue kapan punya pacar, ya. Sedih sekali kayak gini." Athala mengambil gelas wine, lalu menenggaknya sekali tandas. Kenan masih menatap Rebecca, adiknya. Dan Singha sedang mencoba tebar pesona pasa Rengganis. Dia bahkan melakukan flying kiss saat Rengganis tepat berdiri di hadapannya.


Athala bergidik sendiri.


Pernikahan pun berlangsung. Semua orang berbahagia setelah Rangga dan Amara resmi menjadi suami istri.


Begitu acara inti selesai, semua para tamu sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Ada yang makan, berbincang dengan teman, dansa, dan juga berfoto-foto bersama pengantin.


"Hai ...." Rebecca adiknya menyapa Rengganis yang sedang berdiri sendir, menunggu Singha tapi dia sama sekali tidak muncul. Akan sangat sulit mencari seseorang di antar ribuan tamu yang hadir.


"Nunggu Singha?"


Rengganis mengangguk.


"Aku temani, boleh?"


"Tentu saja. Dengan senang hati, biar kita semakin akrab. Kan sebentar lagi jadi sodara."


Rebecca tersenyum kaku.


"Emmm kamu sendiri kapan nikah?" tanya Rebecca.


"Gak lama, tapi kalau bisa sih kakak duluan baru aku. Gak enak kalau harus melangkahi."


Rebbeca manggut-manggut.


"Maaf, itu .... Ada noda di bibir kamu."


Rengganis baru saja akan menghapusnya, namun rebbeca mengusapnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Duuh, maaf ya. Tangan kamu jadi kotor."


Rebbeca mendadak kikuk. Dia mengepalkan tangannya berkali-kali seperti seseorang yang sedang grogi.


"Ayo pergi!" Singha yang memperhatikan mereka sejak tadi langsung menarik tangan Rengganis.


"Eh, Singha. Tunggu dulu. Sayang, kamu kenapa sih?"


Singha tidak peduli, dia terus berjalan sampai akhirnya dia benar-benar menjauh.


"Sayang, kamu kenapa sih? Aku cuma ngobrol sama calon kakak ipar, tapi kamu bersikap udah kayak aku ngobrol sama Anggara aja."


"Lebih baik dengan Anggara."


"Hah?" Rengganis terkejut dengan jawaban Singha. "Ih, kamu kenapa sih, Yank?"


"Dia calon kakak ipar kamu, bukan? Maka biarkan dia menjadi urusan Kenan, bukan kamu. Ngerti?"


Rengganis cemberut. Dia memajukan bibir bawahnya dengan alis mengerut.


Cup!


Plak!


Rengganis memukul tangan atas Singha saat pria itu menciumnya di depan halayak ramai.


"Orang lagi kesel juga."


"Kesel tuh marah aja, gak usah di imut-imutkan itu muka. Awas ya kalau kamu seperti tadi di depan pria lain. Aku habisi pria itu."


"Uluuuuh, seneng deh liat kamu cemburu." Rengganis menggoda Singha dengan mencubit-cubit pinggangnya. Singha mencoba stay cool, Namum lama-kelamaan dia pun akhirnya tertawa.


"Kamu nakal!" Ujar Singha seraya mendekap kekasihnya.


Hari semakin larut, para tamu undangan datang dan pergi silih berganti. Rengganis yang sejak pagi menemani Amara melangsungkan pernikahan, lalu resepsi, meminta pulang pada Singha. Kakinya sudah teras pegal karena terlalu lama berdiri dan berlalu lalang.


"Sekali lagi selamat, ya. Aku ikut bahagia atas pernikahan kalian," ucap Rengganis saat berpamitan pada Amara.


"Makasih ya udah datang, makasih juga hadiah honeymoon nya. Udah lama aku pengen banget ke Swiss."


Rengganis mengangguk. Mereka juga berani pada orang tua Rangga. Lalu pada Anggara dan Santika.


"Thanks ya." Santika masih seperti biasa, jutek pada Singha meski tau dia anak siapa. Singha yang sudah lama tidak menyukai wanita itu hampir memarahinya, akan tetap Rengganis segera memegang tangannya agar Singha tetap diam Bagaimanapun juga ini acara Amara, Rengganis tidak ingin membuat keributan dan merusak semuanya.


"Makasih ya udah datang," ucap Anggara sambil memeluk Rengganis seperti sahabat pada umumnya. Singha langsung menarik bahu Rengganis agar mereka tidak berlama-lama.


"Sorry," ucap Anggara.


"Katanya tadi lebih baik aku akrab sama mas Anggara ketimbang dengan calon kakak ipar aku sendiri,"

__ADS_1


Singha mengerutkan keningnya.


"Maksud Lo Becca?" tanya Santika sinis. Rengganis mengangguk.


"Gue aja takut, Lo malah deket-deket. Lagian kenapa sih Kenan keukeuh suka sama dia. Di dunia ini masih banyak perempuan normal yang lebih cantik dari dia. Sepertinya kakak Lo itu otaknya hari dicuci."


"Maksudnya?"


"Dia itu--"


Singha menutup mulut Santika dengan bunga hiasan yang ada di sekitarnya.


"Ayo kita pulang." Singha memegang kedua bahu Rengganis, mendorongnya pelan agar segera turun dan pulang.


Saat dalam perjalanan, Rengganis terus bertanya tapi dia tidak menjelaskan apa-apa pada Rengganis. Meski Rengganis mengancam dengan berbagai cara agar Singha mau memberitahunya, Singha tetap diam.


"Sayang, liat aku. Ayo, katakan kenapa?"


"Aku kalau liat kamu, takut nabrak. Bisa dibunuh aku sama Kenan kalau sampai bikin adiknya lecet."


"Sueeeer, aku gak akan bilang siapa-siapa. Tapi kamu katakan sama aku yang sebenarnya."


Singha tetap diam. Dia fokus pada jalan yang ada di depannya.


"Nyebelin!" Rengganis kesal. Dia melipat tangannya dengan wajah cemberut. Hingga mereka sampai halaman rumah, Rengganis buru-buru turun tanpa berpamitan pada kekasihnya tersebut. Dengan mesin mobil masih menyala, Singha mengejar kekasihnya ke dalam rumah.


"Sayang, tunggu."


Rengganis tetap tidak mau berhenti. Dia terus berjalan cepat hingga masuk ke dalam kamarnya. Pintu kamar itu terbuka meski tidak lebar, itu artinya Rengganis mengizinkan Singha masuk ke dalam.


Bruk!


Rengganis melempar tas nya ke atas kasur. Lalu dia membalikkan badannya ke arah Singha.


"Sudah aku katakan jangan memancingku dengan ekspresi seperti itu."


Singha seperti singa yang melihat seekor anak rusa.


Rengganis mendorong tubuh Singha saat dia merasa kehabisan nafas. Kening Singha dan Rengganis masih saling menempel satu sama lain.


"Rebecca tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan sekarang, Sayang." ujar Singha dengan nafas yang masih turun naik.


"Maksudnya?"


"Dia 'sakit'. Dia tidak bisa menjadi wanita normal seperti kamu."


"Aku gak ngerti, Singha."


"Menyebalkan," ujar Singha gemas. Lalu kembali menghabisi buruannya.

__ADS_1


__ADS_2