Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Perpisahan


__ADS_3

Meski menyebalkan, tapi keberadaan Oma di rumah itu membuat Rengganis tidak kesepian lagi. Setiap hari selalu ada saja hal yang membuatnya tertawa. Saat malam hari mereka akan sengaja menyalakan api hanya untuk sekedar menghangatkan diri.


"Hangat, ya, meski baju kita jadi bau asap."


"Iya, Nek. Oh, iya. Ini ada kerupuk dari Bu emi, katanya sih di sini namanya opak. Nah, kita pake alat ini terus kita panggang di atas api, Mateng deh."


"Itu alatnya apa?"


"Kata Bu Emi namanya cacapit. Dibuat dari bambu. Fungsinya buat menjepit bara api yang keluar kayak gini, Nek."


Om mengangguk-angguk.


"Neng, neng. Udah tidur belum?"


"Nah, itu Bu Emi. Tumben ke sini malem-malem." Rengganis bangun untuk menemui Bu Emi di luar.


"Bu, ada apa? Tumben malem ke sini."


Dengan wajahnya yang selalu sumringah, Bu Emi menghampiri Rengganis yang di susul oleh Oma.


"Ini ada ubi rebus sama pisang goreng. Tadi bapak habis dari kebun ngambil ini. Manis, Neng. Coba ya."


"Iya, Bu. Makasih ya. Padahal gak usah repot-repot bawain. Mana hujan, mana malem."


"Ini empuk, Neng. Bisa dipake buat ngemil nenek."


Maksud si Emi apa coba? Dia pikir gigi aku ompong, apaa gimana?


"Ya udah, saya pulang dulu, Neng, Nek. Mari."


"Hati-hati, Bu."


Emi pergi.


"Ayo, Nek. Kita masuk. Nanti Rengganis buatin teh hangat pahit buat nemenin makan ubi sama opak."


Di teras rumah yang teduh, ditemani hujan dan dinginnya angin malam, minum teh dan ubi kukus adalah hal yang paling pas.


Nenek menghirup udara dalam-dalam. Dia berdiri sambil berpose seperti rose dan Jack di ujung kapal Titanic.


Tenang dan sejuk. Damai sekali rasanya setelah lama tinggal di kota dengan berbagai pekerjaan.


"Seger ya, Nek."


"Iya. Nenek jadi betah di sini. Apa nenek boleh tinggal di sini lebih lama?"


"Boleh, Nek. Nanti kita tunggu kabar dari pak Kuwu, kalau ada kabar baik kita bisa bertemu dengan keluarga nenek. Kalau nenek masih betah sih gak apa-apa, boleh tinggal di sini. Yang penting keluarga nenek tau keberadaan nenek."


Oma duduk kembali.


"Itu Emi, suaminya kecelakaan apa gimana?"


"Bukan. Emang dari lahir udah cacat kakinya. Makanya Bu Emi yang harus kerja keras mencari nafkah."


"Kasian ya, dia. Mana anak-anak nya udah gede."

__ADS_1


"Itu bukan anaknya, Nek. Itu anak dari suami pertamanya."


"Oh, jadi emi udah nikah dua kali."


"Iya, tapi dia istri kedua. Bu Emi lelah katanya makanya cerai dan nikah sama suami yang sekarang."


"Laah, jadinya malah dapet yang cacat."


"Tapi dia tanggung jawab, Nek. Yang pasti suaminya sangat mencintai Bu Emi dengan tulus."


"Ada kalanya uang memang tidak bisa menjamin segalanya. Urusan hati memang sangat sulit. Tapi memang kita lebih baik menerima mereka yang mencintai kita, bukan kita yang harus berkorban banyak untuk yang kita cintai tapi tidak mencintai kita."


"Benar, Nek. Dan itu membuat saya mengingat seseorang."


Rengganis menyeruput teh nya yang sudah mulai dingin.


Ingat siapa? Singha? Ha ha ha. Pastilah, dia mencintai kamu sangat tulus.


...***...


"Permisi."


"Ya."



"Kamu? ngapain kamu di sini? Hussss, pulang sana."


"Gak mau. Iz ke sini mau jemput Oma. Katanya Oma cuma mau mengetahui yang mana namanya Rengganis, kenapa malah berbulan-bulan coba?"


"Tapi nggak sekarang juga dong. Kamu pergi sana, nanti Rengganis curiga."


"Nek ... Nenek. Nyiram bunganya udah? Gak usah disiram kan malem habis hujan." Rengganis berteriak dari dalam.


"Ayooo, kamu pergi sana."


"Iz tunggu di depan pasar. Pokoknya oma harus pulang hari ini, Iz nyuruh orang buat jemput Oma nanti ke sini, oke."


"Iya, bawel!"


Izza langsung pergi berlari sebelum Rengganis memergokinya.


"Nek ...."


"Ya, ada apa?" Oma menjawab gugup.


"Saya mau ke warung dulu. Minyak goreng habis. Nenek mau ikut?"


"Enggak. Nenek di sini saja. Nenek masih seneng nyiram bunga. Cantik-cantik."


"Nek, nenek. Malem kan hujan, buat apa disiram lagi? Hehe. Ada-ada aja. Kalau gitu aku pergi ya, Nek."


"Rengganis, tunggu sebentar."


"Iya, Nek. Ada apa? Nenek mau nitip sesuatu?" tanya Rengganis. Langkah dia terhenti saat Oma memanggil.

__ADS_1


Oma mengusap wajah Rengganis. Dia menatap nya penuh kasih.


"Iiiih, nenek kenapa? saya takut jadinya."


"Terimakasih sudah menerima nenek di sini. Melayani nenek dengan baik. Kita baru kenal tapi kamu memperlakukan nenek seperti ibu sendiri." Oma mulai menitikkan air mata


"Nek, ada apa? Jangan bikin saya takut, Nek."


Oma memeluk Rengganis dengan erat. "Kamu pasti akan bahagia setelah ini, Nenek janji."


Rengganis kembali memeluk Oma dengan erat.


"Saya bahagia apalagi ada nenek di sini. Jadi, nenek jangan pergi ya. Nenek minta izin sama keluarga nenek buat terus tinggal di sini, ya, kalau nanti sudah bertemu mereka."


"Iya, nenek janji."


Nenek janji kita akan tinggal bersama dalam satu rumah. Tapi bukan di rumah ini.


"Ya udah, aku pergi dulu, Nek."


Rengganis pergi.


Oma merapikan pakaiannya yang tak seberapa. Dia segera pergi sebelum Rengganis datang.


"Nek, nenek. Ini ada kacang kedelai baru direbus . Saya tadi beli di jalan. Ayo keluar, Nek. Kita makan di teras."


Rengganis pergi ke dapur menyimpan minyak dan belanjaan lainnya. Lalu kembali ke teras.


"Nek, nenek."


Tidak ada sahutan. Rengganis kembali memanggil tapi tetap tidak ada jawaban.


"Nek ...." Rengganis masuk ke rumah, dia mencari ke kamar dan melihat pakaian serta tas Oma sudah tidak ada.


"Nenek pergi? Enggak, maksudnya dia pulang apa dia nyasar lagi?"


Rengganis mencari kesana kemari, bertanya pada orang-orang yang dia temui tapi tidak ada yang melihat ke mana Oma pergi.


Putus asa. Rengganis kembayke rumah sendirian. Dia duduk di pintu sambil menyeka air mata.


"Nek, nenek ke mana? Kalau nenek pulang ke rumah gak apa-apa. Tapi kalau tersesat lagi, gimana?" Rengganis sesenggukan.


...***...


"Tolonglah, Oma. Oma jangan nangis terus. Izz pusing dengernya. Mana nangisnya ngalahin incess."


"Ini semua gara-gara kamu. Kamu tiba-tiba datang nyuruh Oma pulang. Oma gak sempet pamitan. Oma gak sempet bilang mau pulang sama Rengganis. Dia pasti bingung mencari sekarang. Huwaaaa ...."


Izza menggelengkan kepala.


"Oma, kalau Oma tidak pulang, maka rencana kita akan gagal."


"Maksudnya?"


"Mami memaksa Singha untuk menikah dengan anak sahabatnya, Oma mau?"

__ADS_1


Oma langsung menghapus air matanya.


"Izz, ngebut! Ayo kita cepat pulang."


__ADS_2