
"Maaf, tapi kamu harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan Pak Nugraha. Beliau itu orang sibuk." Akhirnya keamanan kantor Nugraha kehabisan kesabaran akibat Rengganis yang terus saja ngeyel ingin bertemu dengan Nugraha.
"Saya itu putrinya, loh. Kamu gak tau?"
"Pak Nugraha itu cuma punya satu orang putra."
Rengganis frustasi mengatasi keamanan yang tak kunjung percaya jika dia adalah putri pemilihan perusahaan itu. Berkali-kali Rengganis menelpon, tapi tak kunjung diangkat. Seperti yang dikatakan tim keamanan, jika Nugraha memang sangat sibuk.
"Coba dulu, Pak. Katakan pada papa kalau aku mau bertemu."
Bapak dengan perawakan yang tinggi tegap itu hanya membuang nafas kesal.
"Iiiiih, kenapa gak ada yang percaya sih?" Rengganis kesal.
"Ah, iya. Kakak, sepertinya mereka kenal kak Kenan, aku minta dia suruh ke sini aja. Eh, tapi kan dia mau keluar kota. Adduuuh, gimana dong?"
Rengganis kehilangan ide untuk menemukan cara agar dia bisa bertemu dengan Nugraha.
//papa, aku ada di bawah. Mau ketemu papa tadi harus bikin janji dulu katanya. Janjian yuk hari ini bisa?//
Akhirnya Rengganis mengirim pesan, siapa tau Nugraha nanti akan membacanya.
"Kalau saya nunggu di sini, gak apa-apa kan, Pak?"
"Silakan."
Rengganis duduk di sofa. Di depan resepsionis demi bertemu dengan Nugraha. Satu jam, dua jam, Nugraha tidak kunjung turun. Hingga Rengganis pun tertidur.
"Semoga kerjasama kita lancar, Pak."
"Moho bantuannya, karena ini bisnis pertama saya di bidang properti."
"Siap, Pak. Siap."
Meeting yang begitu lama hingga membuat putri kesayangannya tertidur di loby, akhirnya selesai. Nugraha kembali ke ruangannya, lalu meraih ponsel yang sengaja dia tinggalkan di meja kerja.
"Ada apa putriku memanggil beberapa kali?"
Lalu dia membuka pesan. Nugraha terkejut membaca isi pesan tersebut. Dia segera berlari untuk turun ke bawah.
Dengan nafas tersengal-sengal, Nugraha merasa sedih melihat anaknya tertidur di sofa demi ingin bertemu dengannya. Dengan langkah gontai dia mendekati putrinya.
"Pak--" Keamanan mendekati Nugraha untuk memberitahu perihal Rengganis, namun Nugraha memberi isyarat dengan tangan agar orang itu tidak mendekat.
Nugraha berlutut. Dia menatap putrinya dengan penuh rasa bersalah. Dia membelai kepala Rengganis dengan lembut.
"Sayang, putri papa. Bangun, Nak." Rengganis tak bergeming. Melihat betapa lelapnya dia, Nugraha memutuskan untuk menggendongnya dan membawanya ke atas.
"Ini jas siapa?" tanya Nugraha. Rengganis yang memakai rok pendek saat tidur seseorang menutupinya dengan jas.
__ADS_1
"Saya, Om."
"Dion?"
Laki-laki yang bernama Dion itu tersenyum ramah.
"Kapan kamu datang dari Sidney?"
"Baru 2 hari ini aku di Indonesia, Om."
"Oh, begitu. Ini, tolong ambil jas nya. Om agak susah."
"Gak apa-apa, Om. Pakai saja. Nanti itu --" Dion menunjukkan paha Rengganis yang akan kembali terlihat jika jas itu dilepas.
"Kamu benar. Ayo, ikut Om saja ke atas."
Dion mengangguk. Pria itu membantu Nugraha membuka lift dan pintu kantornya.
Dengan hati-hati, Nugraha menidurkan putrinya di atas sofa. Setidaknya sofa ini jauh lebih nyaman dan empuk.
"Jadi ... Ini adalah?"
"Dia putri Om yang hilang, Dion. Dia sudah kembali."
"Selamat ya, Om. Akhirnya Om dan Tante bisa bertemu dengan putri Om. Bagaimana kabar Tante sekarang?"
"Ayo, silakan duduk dulu. Biar kita santai ngobrolnya."
Mereka pun duduk. Nugraha duduk di samping Rengganis, sementara Dion duduk di seberang nya.
"Yah, kamu pasti bisa tau kabar Tante bagaimana setelah kami menemukan putri kami. Kini, dia bisa kembali bicara, berjalan dan beraktivitas seperti biasanya. Meski masih melakukan terapi."
"Syukurlah om."
"Gimana kabar ayah kamu? Apa dia tidak punya keinginan untuk kembali ke sini?"
"Ayah masih suka tinggal di sana, Om. Entah kapan dia akan kembali."
"Dasar pria itu. Apa dia takut kalau bersaing denganku?"
Nugraha dan Dion tertawa, hingga membuat Rengganis terbangun.
"Papa ...."
"Ups!" Dion menutup mulutnya.
"Sayang, papa bangunin kamu ya?"
Rengganis bangun, dia menyandarkan keningnya di tangan Nugraha.
__ADS_1
"Mereka tidak tahu aku anak papa. Hisk."
"Papa minta maaf. Tapi papa sudah meminta sekertaris papa supaya dia membuat banner dengan wajah kamu, agar seluruh pegawai papa di kantor ini tau, bahwa ... gadis cantik ini putri kesayangannya papa." Nugraha mencubit pipi anaknya.
"Sayang, kenalin. Itu anak sahabat papa namanya Dion."
"Hai ...."
Rengganis menganggukkan kepala pada Dion.
"Papa, ayo kita bicara." Tiba-tiba suara Rengganis yang serak karena bangun tidur, menjadi lantang saat teringat tujuan dia ke kantor ini.
"Apa?"
"Papa, papa kenapa mengambil proyek Anggara? Papa tau dia sudah banyak mengeluarkan modal untuk proyek itu. Papa jahat!" Rengganis ngambek.
Nugraha melirik Dion.
"Bukan begitu, Nak. Papa cuma ingin merambah bisnis papa. Siapa sangka tender yang papa menangkan adalah proyek Anggara."
"Pokoknya aku mau papa lepas tender itu. Berikan kembali proyek milik Anggara. Setidaknya lakukan itu demi aku, Papa." Rengganis merengek.
"Sayang, kamu ini kenapa? Kamu disakiti begitu dalam oleh mereka, kenapa kamu malah membelanya?"
"Pah, aku sudah meluapkan semua yang ada di masa lalu. Aku sekarang hanya ingin hidup bahagia dengan mama, papa, dan juga kakak. Aku tidak peduli pada hal lainnya. Ayo, kita hidup bahagia tanpa menyakiti orang lain. Apa papa tida merasa puas dengan bisnis papa saat ini? Uang kita sudah cukup banyak sampai aku saja bingung ada berapa, aku juga kadang tidak tahu harus menghabiskannya untuk apa. Ayo, Pah. Balikin proyeknya, ya." Rengganis memohon.
Nugraha terdiam lalu tertawa terbahak-bahak.
"Iiiih, kenapa malah tertawa sih!"
Nugraha tertawa akan ucapan Rengganis tentang harta kekayaan yang mereka miliki. Wajah polosnya membuat Nugraha tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Papa. Pokoknya aku marah kalau papa --"
"Iya, iya."
Nugraha menarik wajah anaknya, lalu ndusel-dusel pipi bulat putrinya.
"Ihhhh, papa."
Nugraha melepaskan putrinya. "Baik, papa akan melepaskan proyek itu demi kamu. Papa melakukan ini sebagai efek jera untuk semua orang. Mereka harus tau dengan siapa mereka akan berhadapan jika berani menyakiti kamu."
"Papa serem, tau!"
"Sayang ... Waktu kita terbuang banyak. Papa bahkan tidak bisa menemani pertumbuhan kamu. Bukan papa yang mengajarkan kamu berjalan. Jadi, demi menembus semua itu, papa akan melakukan apapun demi melindungi kamu. Apapun."
"Mmmm, papa. Kan aku jadi sedih."
__ADS_1
Nugraha memeluk anaknya. "Jika seisi dunia bisa papa berikan buat kamu, maka akan papa lakukan."
Rengganis meneteskan air mata karena bahagia.