
Saat pagi tiba, Rengganis kembali menyalakan ponselnya. Berharap Singha menghubungi. Namun, ponsel Rengganis sepi.
"Baiklah, kalau mau marah ya marah aja sana. Gak jelas!"
Rengganis kesal. Dia bahkan menggerutu saat sedang mandi bahkan saat dia menggosok gigi.
Selesai mandi dan berpakaian, Rengganis segera bergegas menuju ruang makan. Orang tua dan kakaknya sudah menunggu, pun dengan ....
"Dion?"
"Hai."
Rengganis duduk di samping Dion.
"Pagi banget ke rumah orang? Nebeng sarapan?"
"Sssst, Sayang. Gak baik ah ngomong gitu sama tamu."
"Iya, tapi kan gak sopan juga bertamu pagi sekali, Ma."
"Gak apa-apa Tante. Saya memang salah karena terlalu buru-buru ingin bertemu dengan Tante."
"Tante malah senang kamu ke sini. Tante juga kangen sama kamu. Dulu kamu masih kecil, sekarang sudah jadi pemuda yang tampan dan sukses."
Dion tersenyum.
"Kamu ada acara hari ini?" tanya Dion pada Rengganis yang tidak sadar jika Dion bertanya padanya.
"Sayang, Dion nanya." Nhabira mengingatkan.
"Oh, kamu nanya aku? Ada. Hari ini aku banyak banget acara."
"Sayang sekali, tadinya aku ingin ngajak kamu jalan-jalan."
"Kebetulan aku juga mau jalan, tapi sama CALON SUAMIKU."
Nhabira dan Nugraha saling melirik melihat sikap Rengganis yang dinilai tidak sopan pada Dion.
Sarapan berjalan dengan damai. Baik Dion maupun Rengganis tidak ada yang bicara. Dion sadar sepertinya Rengganis tidak suka pada keberadaan dirinya di sana.
"Mama, Pa. Aku hari ini mau pergi. Mungkin sampai malam."
"Pergi sama Singha?" tanya Nugraha.
"Iya, sama siapa lagi? Ya udah, ya. Aku pergi."
"Dia gak jemput?"
"Aku yang ke rumah dia, sekalian mau ketemu Oma. Sudah lama gak ketemu. Oh, iya, Pa. Pinjem pak Sentot ya, papa sama supir lain aja."
"Oke, hati-hati ya, Nak."
"Iya, Pah."
Cup!
Rengganis mencium pipi Nugraha, Nhabira dan juga Kenan. Tidak lama setelah Rengganis pergi, Kenan pun menyusul. Dia harus ke studio karena sebentar lagi akan ada konser untuk artis yang dia tangani.
Sesampainya di rumah Singha, Rengganis disambut oleh Maria dengan sangat hangat dan hormat.
"Mih, Singha mana?"
"Loh, dia gak ngasih tau kamu kalau dia pergi ke luar kota?"
"Luar kota?"
"Tunggu, dari ekspresi kamu mami bisa menyimpulkan kalau kalian sedang bertengkar. Benar tidak?"
__ADS_1
"Enggak, dia nya aja yang cemburuan. Orang aku cuma ngobrol bisa sama temen, dia nya marah. Aku telpon gak diangkat, ngirim pesan jiga jangankan di bales, di baca aja enggak."
"Ha ha ha. Singha emang cemburuan banget. Pokoknya gak akan bisa melihat kamu dekat dengan pria lain selain dirinya. Ya kecuali papa dan kakak kamu mungkin."
"Padahal aku ke sini mau minta maaf kalau memang aku salah. Dianya malah gak ada."
"Aduuuh, cucuku ternyata ada di sini." Oma datang.
"Oma ...." Rengganis memeluk manja pada Oma karena dia ingin mengadukan Singha.
"Kenapa? Ada apa wajah cantik ini kusut sekali."
"Singha tuh, Oma. Dia marah gak jelas, aku telpon gak diangkat. Aku kirim pesan gak dibales. Sekarang dia malah pergi ke luar kota, mana gak bilang dulu sama aku. Ngeselin kan?"
"Uluh, uluh, berani dia bikin kamu kesal. Awas aja, nanti Oma yang marahin dia kalau datang. Sebentar lagi dia sampai, katanya dia gak jadi keluar kota nya karena orang yang dia akan temui, datang ke sini."
Rengganis berbinar, namun dia ingat jika dirinya sedang kesal. Rengganis kembali memasang wajah muramnya meski hatinya senang bukan kepalang.
Sambil menunggu Singha datang, Oma mengajak Rengganis dan Maria merangkai bunga di taman. Mereka berbincang-bincang banyak hal, termasuk kenangan Oma dan Rengganis saat pertama mereka bertemu.
"Oma ingin sesekali kita pergi ke sana. Tapi harus saat musim hujan, biar hangatnya berasa saat menyalakan api di tungku."
"Benar, Oma."
"Bagaimana kabar Emi dan keluarganya?"
"Baik, Oma. Kami masih sering komunikasi."
"Syukurlah. Oma berharap meski kamu kini menjadi putri Nugraha pengusaha sukses, Oma lebih suka pada Rengganis yang dulu. Tetaplah menjadi Rengganis yang lugu dan baik hati, ya."
"Iya, Oma. Aku tidak akan berubah, kok."
"Ternyata kalian di sini?"
Begitu mendengar suara orang yang datang, Rengganis menjadi gugup. Dia tidak tahu harus bagaimana. Haruskah dia marah, ataukah ....
Senyum Rengganis hilang saat melihat Singha datang bersama seseorang.
Halo, Tante. Lama tidak bertemu ya."
"Kartika?"
"Iya, Tante."
"Ya ampun, makin cantik aja. Jadi kamu yang hendak ditemui Singha ke luar kota?"
Kartika mengangguk. "Singha menghubungi, katanya dia ingin bertemu. Kebetulan aku sedang ada di kota ini, jadi yaaa mampir ke sini deh."
Oma pun menyambut kedatangan Singha dan perempuan itu. Rupanya keluarga Singha sudah mengenal siapa itu Kartika dan sepertinya mereka begitu akrab.
Rengganis merasa diabaikan. Apalagi tidak ada yang memperkenalkan dirinya pada Kartika. Tidak ada yang memberitahu Kartika posisi Rengganis di rumah itu.
"Kamu pasti lelah, ayo kita istirahat di dalam."
Singha memegang pinggang Kartika, lalu mereka pergi begitu saja. Bahkan Singha tidak menyapanya sama sekali.
"Dia itu teman Singha sejak mereka masih SMP dulu. Singha cuma punya satu teman perempuan yaitu Kartika. Duh, lama gak ketemu dia makin cantik aja, ya, Bu."
"Iya. Ibu juga hampir tidak mengenalinya. Ibu dengar dia sudah sukses sekarang. Dia memang anak yang pintar dan hebat, mandiri juga."
Maria dan Oma berbicara tanpa melihat ada Rengganis di sana. Pujian mereka pada Kartika mampu membuat Rengganis merasa terluka. Jika dilihat antara dirinya dan Kartika, fisik mereka memang sangat jauh bandingannya.
Rengganis merasa insecure.
Ponsel Rengganis berdering.
"Halo, Ma. Ada apa?"
__ADS_1
"Mama? Woiii, ini gue, Amara."
"Oh, begitu. Oke, shakeera pulang sekarang ya. Mama tunggu sebentar, aku cepat sampe kok."
"Lo kenapa, sih?"
"Tunggu ya, Ma. Bye."
Rengganis segera menutup telponnya.
"Ada apa?" tanya Oma.
"Mama minta aku pulang, Oma. Katanya dia minta aku buat nganterin ke tempat tidur terapi."
"Oh, oke. Salam buat mama kamu ya, Sayang." Maria memeluk Rengganis.
"Iya, Mih."
Rengganis berusaha tegar dan kuat. Berjalan dengan sisa tenaga yang ada karena dia tidak ingin menangis di sana.
Sadar langkahnya sudah jauh dari Maria dan Oma. Rengganis pun menangis. Sesak yang sudah lama dia pendam, akhirnya bisa keluar.
Puas mengeluarkan kegundahan dalam hati, Rengganis kembali melanjutkan langkahnya.
"Ada apa?" tiba-tiba Singha muncul dan menghalangi dirinya. Buru-buru Rengganis mengusap air matanya.
"Tidak perlu dihapus, aku sudah melihatnya."
Rengganis masih berusaha tegar.
"Katakan ada apa?" tanya Singha sambil menatap intens Rengganis. Gadis itu hanya diam, air matanya mulai menetes demi tetes hingga menjadi sebuah aliran yang cukup deras.
Rengganis menundukkan kepala, lalu berusaha mengusap air matanya yang sudah membasahi wajahnya.
Singha meraih tubuh Rengganis, lalu mendekapnya erat.
"Aku pergi dulu, mama menunggu di rumah."
Rengganis mendorong tubuh Singha.
"Aku antar."
"Tidak perlu."
Rengganis kembali menepis tangan Singha yang meraih tangannya.
"Jangan pergi jika sendiri."
Rengganis menarik tangannya yang kembali digenggam oleh Singha.
"Sayang."
"Lepas!" Rengganis membentak. "Jangan sentuh aku dengan tangan itu."
Singha terkejut melihat Rengganis begitu marah.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang merasa bahwa aku ini sangat menyedihkan. Kenapa?"
"Menyedihkan bagaimana maksud kamu?"
Rengganis memalingkan wajahnya, lalu dia melihat Kartika sedang berdiri menonton dirinya dan Singha yang sedang bertengkar.
Rengganis tertawa.
"Sayang, oke kalau mau pulang ayo aku antar."
__ADS_1
"Tidak perlu, kamu sedang ada tamu bukan?" tanyanya sinis. Lalu Rengganis pergi berlari secepat yang dia bisa.
Singha mengejarnya.