Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Terbongkar


__ADS_3

"Neng, ikannya mau berapa ekor?"


"Saya butuh tiga, ibu ngambil aja kalau mau."


"Iya." Emih kembali melanjutkan pekerjaannya mengambil ikan di kolam


Sementara Rengganis memilih sayuran yang sudah siap dipanen.


"Rengganis." Seseorang menyapa. Wanita itu tersenyum lalu membalikkan badan.


"Sedang apa?"


Rengganis memperlihatkan keranjang yang dia bawa.



"Dia hari tanpa kabar, tiba-tiba datang tanpa kabar juga. Apa ini kejutan? Kalau iya, kamu berhasil. Emmm, kebetulan aku lagi ngambil ikan, metik sayur juga. Kita makan siang bareng ya. Mau ikan bakar?" tanya Rengganis panjang lebar.


Singha mengangguk.


Dengan wajah sumringah, Rengganis berjalan menuju dapur untuk bersiap memasak. Sementara Emi membersihkan ikan yang baru dia tangkap.


Singha tidak banyak bicara. Dia hanya duduk sambil melihat Rengganis sibuk dengan bahan-bahan yang akan dia olah.


"Ada apa? Kenapa diam saja, tidak seperti biasanya. Kamu ada masalah?" tanya Rengganis sambil mengiris terong yang akan dia bakar.


"Aku akan menikah."


"Awwww!" Rengganis menjerit pelan saat dia teriris karena terkejut mendengar ucapan Singha. Pria itu ingin membantu, tapi entah kenapa tubuhnya seperti terpaku dan hanya diam duduk.


Rengganis mencuci jarinya yang terkena pisau.


"Selamat, ya. Akhirnya kamu menemukan wanita yang akan menjadi pendamping kamu, Singha. Aku senang mendengarnya.


"Aku dijodohkan. Nenek memaksa aku menikah."


Rengganis duduk di samping Singha. Dia berusaha tetap tenang dan kuat meski sebenarnya dia sudah tidak punya tenaga untuk bergerak.


"Orang tua tidak pernah salah, Singha. Apapun yang mereka lakukan semua demi kebaikan anaknya. Jadi, kamu jangan bersedih. Mereka pasti sudah memilih perempuan yang paling baik untuk kamu."


"Baik saja tidak cukup, Rengganis. Kamu tahu sendiri bagaimana perasaanku bukan? Masih sama dan tidak pernah luntur sedikitpun."


"Aku tahu." Rengganis tersenyum.


Singha menggaruk jidatnya yang tidak gatal. Dia ingin menangis tapi tidak ingin terlihat lemah dihadapan Rengganis.


"Aku pamit." Singha pergi begitu saja.


Rengganis duduk termenung. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia masih merasa itu hanyalah sebuah mimpi. Rengganis hampir menangis, lalu dia tersenyum.


"Dia layak mendapatkan yang terbaik, Rengganis. Sadarlah. Jangan egois! Dulu aku meninggalkan dia bahkan tanpa mengatakan apa-apa. Apa yang sekarang aku harapkan?"

__ADS_1


Rengganis menundukkan kepalanya di atas meja. Bahunya mulai terguncang.


Rasa sepi itu kembali mendera. Setiap malam hanya suara hewan malam yang dia dengar. Kehilangan nenek, lalu kini dia kembali kehilangan Singha yang untuk beberapa waktu terkahir selalu mengisi malamnya meski hanya sekedar chat ataupun video call.


Ponsel itu kini hening. Tak ada lagi orang yang mengirim chat dengan jeda hitungan detik.


Rengganis mulia menangis. Menangis nasib yang tidak pernah berpihak padanya. Sejak kecil hingga kini dia selalu saja sendiri.


"Meski selalu dipukul, setidaknya saat kecil aku memiliki seorang bapak. Bapak ... Apa kabarnya dia sekarang? Kau bahkan tidak tahu dia dipenjara di mana."


Rengganis menangis di teras hingga dia tertidur.


"Ck ck ck. Haruskah aku tertawa, apa aku harus menangis? Sungguh sia-sia dia bersedih." Izza kembali pulang setelah melihat apa yang terjadi di sana.


Dengan air dan kapas, Rengganis mengompres matanya yang bengkak setelah lama dia menangis semalaman.


"Neng ... neng ...."


"Ada apa ,Bu? Ibu dikejar setan pagi-pagi gini?"


Emi datang tergesa-gesa. "Ada tamu di depan. Katanya keluarga nenek."


Rengganis langsung membuang kapas itu, dia mencuci muka lalu mengeringkannya dengan handuk.


Ada dua orang pria paruh baya dan seorang wanita. Mereka adalah pelayan keluarga Oma yang datang berpura-pura menjadi keluarga.


"Halo. Kamu Rengganis kan?" tanya salah satu pria di sana.


Perempuan yang datang bersama mereka langsung menghampiri. Dia memasang muka sedih dan berusaha sekuat tenaga mengeluarkan air mata.


"Terimakasih telah merawat ibu saya, tapi ...."


"Ada apa?"


"Ibu saya kini sekarat. Dia terus saja meminta kamu untuk datang ke rumah. Saya mohon, kamu mau ya bertemu ibu saya."


Rengganis terperangah karena syok mendengar kabar yang dibawa anak-anak Oma.


Tanpa pikir panjang, Rengganis mau saat diajak pergi oleh mereka.


...***...


"Turunkan foto-foto Singha dari tembok. Jangan sampai dia melihatnya," titah Oma pada pelayan yang ada di rumahnya. Mereka mulai sibuk menjalankan apa yang diperintahkan. Butuh waktu cukup lama karena foto Singha begitu banyak di sana.


Terlebih saat menurunkan lukisan besar wajah Singha. Singha adalah putra mahkota di rumah itu, tidak heran banyak sesuatu hal yang menyangkut tentang dirinya.


"Oke, jadi Oma harus bagaimana sekarang, Iz?"


"Kenapa nanya Iz? Kan Oma yang pinter akting. Izza mana ngerti."


"Halahhh, orang kamu yang punya ide."

__ADS_1


Izza tertawa.


"Nyonya, mereka datang."


Oma panik. Dia salah tingkah sampai bingung mau melakukan apa.


"Oma tiduran aja, pura-pura lemes."


"Iya, iya. Oma akan lakukan."


Sementara di bawah sana, Rengganis tercengang melihat rumah yang baru saja dia masuki. Bukan tentang betapa besarnya rumah itu, karena hanya beda sedikit dengan rumah Bu Sari. Rengganis hanya tidak menyangka jika nenek linglung yang dia rawat adalah seorang konglomerat.


"Mari, silakan masuk." Wanita yang berpura-pura sebagai anak Oma mendadak sopan dan lupa dia sedang menjadi apa saat ini. Pria disampingnya menyikut wanita itu agar dia sadar.


"Ayo, kita temui ibu saya di atas." Dia kembali memasang wajah sedihnya.


Rengganis mencuri-curi pandang untuk melihat sekeliling rumah yang dia lewati, hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar.


"Silakan masuk, saya akan membawakan kamu mini dulu."


Rengganis mengangguk. Pintu terbuka, lalu dia masuk perlahan. Kamar yang sangat mewah, gumam Rengganis dalam hati.


Oma tertidur di atas kasur dengan keadaan lemah tak berdaya. Rengganis segera menghampiri.


"Nek ... Nenek kenapa? Kenapa jadi seperti ini? Pergi tanpa pamit sekarang bertemu malah dalam keadaan begini. Nenek jahat." Rengganis sesenggukan. Sementara Izz yang bersembunyi di balik lemari tak kuat menahan tawa. Dia menyumpal mulutnya dengan baju Oma yang menggantung.


"Nek, ini Rengganis. Nenek yang sehat ya, nanti kita makan ubi lagi, bakar opak lagi sambil menghangatkan tubuh kita depan tungku."


Mauuu. Duh, jadi kangen rumah Rengganis yang di sana. Gumam Oma dalam hati.


"Nek, bangun. Ini Rengganis." Rengganis menangis sambil memeluk tubuh Nenek.


Gubrakkkkk!


"Aaaagh!" Rengganis sangat terkejut hingga dia melompat dan berdiri saat mendengar bunyi benda jatuh.



"Izza?" gumam Rengganis terkejut bukan hanya karena suara yang mengagetkan dirinya, tapi karena melihat orang yang terjatuh itu.


Brakkkk! pintu terbuka keras hingga Rengganis kembali menjerit karena kaget. Dia lebih kaget lagi saat melihat siapa yang membuka pintu.


"Oma ... Oma ke--"


"Singha?" gumamnya lagi.


Dasar cucu-cucu tidak bergunaaaaa. Nenek menggerutu dalam hati sambil mengerat gigi karena kesal.


"Sudahlah! Kalian memang tidak bisa diandalkan." Oma bangun sambil membuka selimutnya dengan kesal.


Mata Rengganis melotot melihat Oma yang lemah tidak berdaya, bangun.

__ADS_1


"Hadeuuuh!" Izza memukul jidatnya.


__ADS_2