
"Ada apa? Gimana kabar Rengganis di rumah Lo?" tanya Reyhan. "Kenapa bengong mulu dari tadi?" Reyhan meletakkan gitarnya, lalu duduk di samping Kenan.
"Yang lain mana?"
"Rangga lagi ngurus undangan pernikahan dia, Izza di rumah sakit sebentar lagi ke sini. Sementara Singha entahlah gak ada kabar, nanti kita tanya Izza."
"Selamat sore every body. Adakah seratus biar silaturahmi tidak putus?" Athala tiba.
"Anak tiktok datang." Reyhan mengambil makanan yang dibawa Athala.
"Ada apa, ada apa? Kenapa Kenan terlihat seperti bank emok yang membernya tidak mau bayar. Ruwet banget mukanya."
"Jiaaah, banh emok. Pernah jadi karyawan ya, Bung?"
"Member."
Reyhan tertawa.
"Banyak hal terjadi di rumah gue, salah satunya nyokap."
Reyhan dan Athala saling menatap dengan serius.
"Ken, nyokap Lo baik-baik aja kan?" tanya Reyhan.
"Hmmm, lebih baik malah."
Reyhan dana Athala bernafas lega. Mereka kembali mendengarkan Kenan yang berbicara dengan sangat serius.
"Dia mulai mau bergerak."
"Wah, bagus itu. Sekian lama kehilangan keinginan untuk hidup, sampai terlihat seperti mayat hidup, bernafas tapi tak bergerak akhirnya bergerak juga?"
"Gue gak tau gimana ceritanya, cuma karena itulah Rengganis malah ngurus nyokap sekarang."
"Rengganis? Hubungannya apa sama Rengganis?" tanya Reyhan sambil menyeruput es kopi yang dibawa Athala.
"Kata bokap, Rengganis yang bikin mama gue bergerak. Bokap seneng, gue juga. Tapi ...."
Reyhan dan Athala memasang wajah serius menunggu kelanjutan ucapan Kenan.
"Kalian udah lama?" tanya Izza.
"Eh, bro. Udah kerjanya? Lo mandi dulu kan sebelum ke sini, takut bawa virus." Athala berpura-pura menghindar. Melihat sikap Athala, Izza sengaja mendekatinya memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Sontak Athala si paling bersih itu berteriak.
"Kita bicarakan nanti," ucap Reyhan berbisik pada Kenan.
Athala dan Izza seperti tom and Jerry, mereka sering bertengkar saat bertemu. Ada hal-hal kecil yang selalu mereka perdebatkan.
__ADS_1
Perbedaan sikap dan sifat di antara keduanya membuat mereka selalu saja heboh setiap bertemu.
Reyhan, si musisi yang kalau kerja sangat lah serius sedang mengerjakan proyek untuk artis yang bernaung di label yang sama dengannya. Dibantu Kenan dan kedua anak kucing dan tikus itu. Meski sering bertengkar, Izza sangat piawai memainkan biola, sementara Athala bermain piano.
Mengerjakan musik memang sangat menyenangkan untuk mereka. Itulah kenapa mereka menjadikannya hobi yang menghasilkan tapi bukan menjadi pekerjaan utama.
"Balik lah, dah malem." Izza melihat jam di tangannya.
"Izz, Singha ke mana? Kenapa dia sangat jarang ke studio? Bahkan di grup pun dia hanya memantau saja."
"Sibuk dia, Rey."
"Sibuk?"
Izza mengangguk. "Gue balik ya. Eh, iya. Gimana Rengganis di rumah Lo? Dia bikin susah gak?"
"Menyusahkan sekali, tapi beruntungnya karena gue punya banyak pelayan. Ha ha ha."
"Syukurlah. Lo jaga dia deh."
"Gue cuma ketitipan bentar, nanti gue balikin lagi ke pemiliknya."
"Maksudnya Lo mau bikin dia mati?" tanya Athala. Semua menatapnya.
"Ke-kenapa? Kan Kenan bilang mau dibalikin ke pemiliknya."
Athala tersenyum. "Kirain. Iz, itu si tuan putri gimana kabarnya? Gue gak dapet kabar apa-apanya tentang dia?"
"Baik-baik aja. Anaknya selamat meski lahir sebelum waktunya, tapi sehat sih. Ibunya juga sehat. Cuma dia gak bakalan bisa punya anak lagi."
"Why?" tanya Kenan.
"Rahim dia robek, jadinya diangkat. Ya gak masalah sih orang udah punya anak kembar ini, ya kan?"
"Lo gak berperasaan banget, Izz. Parah Lo."
"Heh, Athala. Bukan gue yang gak berperasaan, si Santika bilang dia gak masalah rahimnya diangkat. Selain karena udah punya anak, dia memang gak mau hamil lagi, ribet katanya mual muntah terus."
"Luar biasa. Baru kali ini ada cewek kehilangan rahimnya tapi malah bersyukur. Harusnya dia berterima kasih sama Singha, ya gak?"
"Dodol." Izza menouor kepala Athala."Gue balik duluan, bye!"
"Bareng lah, gue juga mau jemput adik gue dulu."
"Dia mau balik?" tanya Kenan.
"Napa lo? Mau ikut jemput? Belum menyerah ngejar cinta adik gue?"
__ADS_1
"Gak ada kata menyerah dalam kamus gue. Eh, tapi sekarang gue gak bisa ke mana-mana, besok lah gue mampir ke rumah."
Athala melambaikan tangan pada Reyhan dan Kenan, lalu segera berlari menyusul Izza.
"Dasar mereka, berantem terus tapi gak mau jauh-jauh."
"Dia apa kabar ya, udah dua tahun gak pulang dan sekarang dia balik. Gue kangen banget sama dia."
"Ken, Lo kenapa setia banget sih. Padahal Lo jelas-jelas ditolak sama dia."
"Namanya juga cinta, ya mana gue tahu. Gue sendiri gak bisa mengendalikan hati gue, cuma masalahnya ...."
Reyhan menoleh dan menatap kenan. "Ada apa lagi?"
"Masih nyambung sama masalah tadi. Bokap mengira gue sama Rengganis pacaran. Dia bahkan sangat merestui kami yaaa karena udah bisa buat mama bergerak itu."
"Astaga."
"Rengganis sekarang diminta buat ngurus nyokap, dan dia mau. Dengan sangat senang hati dia mau."
Reyhan menyimpan gitar yang sedari tadi dia mainkan.
"Rengganis itu sejak kecil gak punya ibu, wajarlah jika dia selalu terpikat buat deket sama ibu-ibu. Semisal sama mertuanya sendiri aja kan? Nah, ini lagi sama mama Lo."
"Kenapa juga harus karena Rengganis mama gue punya kemajuannya, kenapa gak sama gue aja yang anak kandung dia. Kan gak ribet masalahnya. Lo, seriusan deh papa gue jadi sesuka itu sama Rengganis."
"Gue juga pasti akan begitu jika jadi bokap Lo."
"Iya, sih. Gue faham. Kata bokap gue, tiba-tiba mama menggenggam tangan Rengganis."
Reyhan mengerutkan kening. "Ini sih cuma omong kosong doang, ya. Biasanya seorang ibu itu lebih sensitif dan lebih peka terhadap sesuatu yang berhubungan dengan anak-anaknya. Mungkin saja nyokap Lo punya feeling kalau itu ...."
"Ngarang Lo. Mana mungkin dia adik gue yang hilang."
"Loh, siapa tau kan? dunia itu sempit, Ken. Kadang kita tidak bisa melihat gajah di pelupuk mata sendiri."
"Ya gak akan keliatan lah, orang kitanya mampus keinjek."
"Gue serius, Ken. Ya kenapa gak Lo selidiki kasus aja tentang Rengganis. Siapa tau dan semoga saja memang adik lo, ya kan? Kasian mama Lo sampe begini karena kehilangan putrinya."
Kenan menjadi gelisah dengan apa yang dikatakan oleh Reyhan. Ada harapan yang sangat besar dalam hati Kenan. Meski kenyataan itu belum terbukti, tapi hatinya berharap begitu dalam jika Rengganis benar-benar adiknya.
"Bantu gue, Rey. Tapi tolong rahasiakan ini dari siapapun. Sama satu lagi, jangan buat Rengganis tahu jika dia sedang kita selidiki."
"Oke, gue akan lakukan apapun buat bantu Lo nemuin adik lo, Ken."
Kenan mengangguk mantap. Matanya terasa hangat, dan hatinya begitu berdebar.
__ADS_1