
Athala membuka matanya lebar-lebar sehingga dengan mulut menganga. Dia tidak percaya jika adik Kenan yang selama ini hilang adalah Rengganis.
Sementara Izza dan yang lainnya tersenyum senang dan lega. Dan Singha ... Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya diam sambil menghabiskan rokoknya yang tinggal setengah.
"Kalau gitu, tidak ada halangan lagi dong buat Rengganis dan Singha bersama. Bukankah Rengganis berasal dari keluarga baik-baik dan terpandang," ujar Rangga.
"Begitu?" tanya Kenan dengan senyuman sinisnya. "Setelah apa yang dilakukan keluarga mereka, lalu bokap gue akan begitu saja menyerahkan putrinya? tunggu dulu, Bro."
Rengganis yang sejak tadi dirangkulnya langsung menoleh pada Kenan.
"Seberapa besar kamu dipermalukan Tante Maria? Itu merupakan luka buat keluarga kita."
"Tapi Kenan, eh, kakak. Pengorbanan aku sudah terlalu banyak untuk bisa sampai ke titik ini. Syarat Tante Maria cuma satu, dia butuh validasi agar istri Singha adalah keluarga baik-baik. Dan ... Sekarang aku udah memenuhi syarat tersebut."
"Kita lihat saja nanti apa yang akan papa lakukan setelah tau putrinya diperlakukan seperti itu."
Rengganis melepaskan tangan Kenan dari bahunya.
"Kenapa selalu seperti ini?" tanya Rengganis sambil berlinang air mata. "Selalu saja hampir mencapai kebahagiaan, tapi pasti ada halangan baru. Apakah aku memang tidak berhak untuk bahagia?"
"Bukan begitu, adik."
"Jika masalahku semakin banyak, jika kesedihanku semakin bertambah, maka aku akan memilih untuk tetap tinggal bersama bapak. Setidaknya hanya fisikku yang dirusaknya.Tidak dengan hatiku dan batinku."
"Sudah, cukup. Lagi pula aku memang tidak akan bisa menikahi kamu, Rengganis. Emmm sorry, Shakeera."
Kini semua perhatian orang teralihkan pada Singha.
"Aku sudah dijodohkan dengan wanita lain. Jadi, restu orang tuamu sudah tidak dibutuhkan lagi. Aku akan menikah dengan orang lain."
"Kak? Lo setuju perjodohan mami?"
"Izza, Lo tau masalah ini?" tanya Reyhan.
"Ya kali keluarga gak tau."
"Lo kenapa gak cerita sama kita semua."
"Ini masalah keluarga kami, tidak semua masalah dalam keluarga harus gue ceritain sama Lo semua, bukan?"
"Tapi ini mengangkut Rengganis juga."
"Iya, gue tau. Tapi --"
"Adik!" Kenan memanggil Rengganis yang pergi berlari. Kenan segera mengambil kunci motor, dan tasnya. "Gue balik duluan." Kenan pamit pada semua orang.
__ADS_1
Singha melemparkan gelas yang ada di sampingnya, menjambak rambutnya dengan kasar. Dalam diam, air mata Singha menetes. Hal yang tidak pernah teman-temannya lihat selama ini.
Semua orang pun terdiam. Tidak ada lagi yang menyalahkan siapapun. Seperti apa keputusannya nanti, Singha dan Rengganis lah yang paling tersakiti di sini. Pasti ada hal yang membuat Singha akhirnya menyerah dan manut pada Maria untuk menerima perjodohan itu.
Rengganis menangis sepanjang perjalanan. Kenan bisa merasakan itu dari hangatnya air mata yang menembus bajunya.
Hati Kenan merasa sangat marah dan kesal pada keluarga Singha.
Sampailah mereka di halaman rumah Kenan. Saat itu Rengganis merasa ragu melangkahkan kaki ke dalam.
"Adik, ayo." Kenan mengulurkan tangannya pada Rengganis. Gadis itu menyambutnya.
Rengganis merasakan tangan Kenan begitu dingin dan bergetar. Bibirnya pun bergerak seperti menahan tangisan. Matanya berkaca-kaca.
"Kakak." Rengganis merapatkan tubuhnya pada Kenan saat mereka berjalan.
Tok tok tok. Kenan mengetuk pintu kamar orang tua mereka.
"Eh, kalian sudah pulang? Rengganis .... Sabar, ya, Nak." Nugraha memeluk sekilas tubuh Rengganis, memberikan support pada Rengganis yang bersedih ditinggal oleh bapaknya.
Kenan menundukkan wajah sesaat hingga air matanya menetes.
"Ken, kenapa? Bapak Rengganis yang meninggal tapi kenapa kamu yang terlihat sangat sedih?" tanya Nugraha.
"Ma ... Mama harus segera sembuh, ya. Aku sudah membawa Shakeera kembali, Ma."
Nugraha mengerutkan kening. Dia segera mendekati anaknya.
"Ken, apa maksudnya?"
Kenan menangis. "Shakeera sudah kembali, Papa. Adik aku sudah kembali." Kenan menangis di atas pangkuan mama nya yang duduk di kursi roda.
Perlahan jari jemari tangan Nhabira mulai bergerak. Kenan yang sedang menangis langsung berhenti, dia mendongak menatap wajah mamanya.
"Ma?"
"Mana adik kamu?" tanyanya dengan sangat terbata-bata, dan dengan waktu yang cukup lama.
"Sayang...." Nugraha langsung bersimpuh. Digenggamnya tangan sang istri dengan penuh bahagia.
"Mana anak kita, Pa?" masih dengan terbata-bata.
Nugraha langsung menatap Kenan. "Apa yang kamu lakukan, Ken? Mana adik kamu?"
Kenan mengeluarkan baju seragam keluarganya dari tas.
__ADS_1
"Ini seragam pelayan yang mengambil adik bukan? Masih ada namanya di sini."
Mata Nhabira membelalak saat melihat nama yang ada di baju itu. Dia sepertinya mengingat sesuatu. Tiba-tiba Nhabira histeris. Dia menjerit-jerit dengan suara terpatah-patah sambil mengambil baju seragam itu.
Sontak Nugraha panik. Dia memeluk istrinya, berusaha menenangkannya agar tidak histeris ketakutan. Sepertinya Nhabira trauma melihat baju itu.
Rengganis yang sedari tadi hanya berdiri langsung berlari. Dia memeluk Nhabira dengan sangat erat.
"Mama ...." Rengganis berbisik. Nhabira yang histeris, berangsur tenang. Nugraha terdiam.
"Mama, aku sudah kembali. Mama ... Ini aku, Ma. Aku bayi yang dulu hilang. Aku anak mama." Rengganis memeluk semakin erat sambil menangis.
...***...
Setelah semuanya tenang, Kenan mulai menjelaskan apa yang sebenernya terjadi.
"Kalung ini ada di laci lemari ibu saya berserta seragam itu," ujar Rengganis.
Nugraha mengambil kalung itu, dia memeriksa apakah kalung itu asli atau tidak.
Pria itu menangis sambil mencium kalung tersebut.
"Ma ... Ini benar kalung shakeera. Papa tidak mungkin lupa karena papa yang mendesain kalung ini. Hanya ada dua di dunia."
"Dua?" tanya Kenan.
Nugraha mendekati istrinya, lalu mengeluarkan liontin yang sedang dipakai Nhabira.
"Satunya di sini."
Kenan tertawa haru.
"Kalian lihat, desain kalung ini sangat unik. Jika kalung shakeera memiliki inisial dengan huruf timbul, maka berbeda dengan yang dipakai mama. Hurufnya cekung ke dalam. Jika disatukan, maka mereka akan saling melengkapi."
"Wah, papa memang sangat jenius." Puji Kenan. "Itu artinya Rengganis memang adik aku kan, Pa?"
"Meski begitu, kita masih harus melakukan sesuatu agar kita benar-benar yakin bahwa Rengganis ini adalah shakeera atau bukan."
"Test DNA."
"Kamu benar, Ken."
"Adik, kamu tidak tersinggung bukan jika kita melakukan test DNA?"
Rengganis menggelengkan kepalanya.
__ADS_1