
Nafas mereka ngos-ngosan. Singha membelai kepala Rengganis dengan posisi kening mereka saling menempel.
"Aku tidak akan minta maaf atas apa yang terjadi. Aku melakukannya dengan sadar dan memang atas keinginanku sendiri," ucap Singha di sela-sela nafasnya. Rengganis membuka mata. Dia merasa malu dan juga kesal menjadi satu.
"Aku ingin istirahat. Pergilah." Rengganis mendorong tubuh Singha agar menjauhi dirinya.
"Aku akan mencari Marsha, dia ingin sekali bertemu denganmu."
Rengganis hanya melirik sekilas, meski penasaran siapa itu Marsha, dia tidak ingin bertanya.
"Aku pergi dulu." Singha mencium kening Rengganis sebelum keluar. Saat Singha menoleh, dia dikejutkan oleh keberadaan Angga yang sudah berdiri di depan pintu.
Mereka saling menatap dengan pandangan yang sama-sama penuh kemarahan.
Rengganis merasa heran karena Singha hanya berdiri dan tidak kunjung pergi. Lalu dia menyadari sesuatu hal, Rengganis mencium parfum suaminya. Dia langsung menoleh secepat kilat dan melihat Anggara sedang berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
"Mau pergi? Silakan." Anggara bergeser sedikit, memberikan jalan agar Singha segera pergi. Singha melirik Rengganis, lalu dia pun pergi.
Kini hanya tinggal mereka berdua. Melihat Anggara ada di sana, Rengganis begitu senang. Namun dia ingat pada apa yang telah dia lakukan dengan Singha barusan. Rengganis merasa malu dan jijik pada dirinya sendiri, hatinya dipenuhi rasa bersalah. Keinginan untuk memeluk suaminya dia kubur dalam-dalam. Rengganis kembali berbaring.
Anggara mengusap kepalanya, lalu berjalan menghampiri istrinya. Dia duduk di samping Rengganis.
"Kenapa dagu dan hidungmu? Tadi masih baik-baik saja kenapa sekarang malah tidur di sini?" tanya Anggara datar. Dia ingin sekali menyentuh dan mendekap istrinya, hanya saja hatinya sudah dipenuhi rasa amarah.
Rengganis tetap diam.
"Aku hanya pergi sebentar untuk menenangkan pikiran, tapi malah mendapatkan kabar istriku masuk rumah sakit. Kenapa kamu bisa sampai di sini?"
"Aku pikir aku akan baik-baik saja saat mengatakan iya padamu, Mas. Tapi ... Setelah kamu pergi, hatiku merasa sakit. Aku tidak rela kamu pergi menemui wanita itu. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku ... hatiku sakit mengetahui kamu akan menemani wanita itu, aku mengejar dengan begitu bodohnya. Dan inilah hasilnya."
"Aku tidak pergi menemui siapapun, hanya menenangkan diri dengan minum kopi di warung pinggir jalan."
Rengganis membelalakkan matanya.
"Tapi ya, aku memang sudah jahat memperlakukan kamu. Terlalu banyak luka yang aku berikan, dan sepertinya kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Bukankah kamu pun sepertinya sudah bisa membuka hati untuk pria lain."
Deg!
Rengganis langsung berdiri dan menatap wajah suaminya.
"Aku melihat semuanya," ujar Anggara bergetar. Air matanya lurus membasahi pipi.
"Mas ...."
"Aku akan melepaskan genggaman tanganku, Rengganis."
"Enggak, gak mau, Mas. Aku mohon jangan."
Anggara sesenggukan sambil menundukkan kepala.
"Aku minta maaf, Mas. Aku salah, tapi tolong jangan tinggalkan aku. Mas?" Rengganis berusaha menggenggam tangan Anggara namun pria itu langsung menghindar.
Anggara bangkit, lalu berjalan menuju luar ruangan.
"Mas, tunggu!" Rengganis pun menyusul suaminya. Selang infus yang menempel di lengannya, lepas. Darah pun menetes di lantai mengikuti arah kaki melangkah.
Anggara tidak memperdulikan panggilan dari istrinya. Saat di luar mereka berpapasan dengan Amara, Rangga, Singha dan Marsha.
__ADS_1
"Princess, ikut om yuk. Om lupa beli sesuatu." Rangga kembali membawa Marsha pergi karena tidak ingin anak kecil itu melihat apa yang akan terjadi di antara orang dewasa itu.
"Mas, aku minta maaf. Aku mohon jangan pergi." Rengganis memohon sambil menangis dengan kedua telapak tangan saling menempel.
Anggara tidak merespon. Dia hanya diam dengan pandangan mata mengarah ke yang lain.
"Aku mohon, Mas. Aku salah, aku minta maaf."
Anggara mendorong tubuh Rengganis agar dia tidak menghalanginya. Dia bahkan tidak peduli pada darah yang terus menetes dari tangan Rengganis akibat selang infus yang dicabut sembarangan.
Singha melangkahkan kakinya karena dia khawatir melihat tetesan darah itu.
"Rengganis." Singha menahan tubuh wanita itu yang hendak mengejar Anggara.
"Kak, tunggu dulu." Amara mengejar kakaknya.
"Dia melihat kita, dia melihat apa yang kita lakukan. Singha, tolong jelaskan padanya kalau itu sebuah kesalahan sesaat. Kita hanya melakukan kesalahan sesaat. Jelaskan padanya." Rengganis terus menangis.
"Hentikan! Sudah cukup sampai di sini, Rengganis!" Singha berteriak.
"Enggak, aku gak mau dia pergi."
"Cukup!" Singha mendorong tubuh Rengganis.
"Dia melakukan kesalahan yang lebih besar tapi kamu memaafkannya, karena apa? Karena kamu tulus mencintai dia! Lalu dia? Kita hanya kissing saja dia langsung meninggalkan kamu. Itu artinya perasaan dia dangkal, Rengganis! Sadar!"
Rengganis ambruk, dia duduk di atas lantai sambil menangis.
"Ayo kita masuk, darah kamu keluar banyak." Singha membantu Rengganis bangun sambil memegang tangan bekas jarum suntik infusan.
Singha memanggil petugas medis untuk menutupi luka yang membuat darah Rengganis keluar.
"Tidak perlu. Kamu tutup saja biar darahnya gak keluar lagi. Dokternya mana?"
"Sedang visit di ruangan lain."
"Panggil dokter Iz, suruh dia periksa pasien ini."
"Baik, Pak."
Tidak lama setelah perawat tadi pergi, dokter Iz datang.
"Kenapa, Bro?"
"Lo periksa dia. Udah boleh dibawa balik apa belum?"
"Ini kan ...."
"Udah periksa aja."
Iz menghampiri Rengganis, dia mulai memeriksa keadaan umumnya.
"Lo pegang yang bener, Iz."
"Emang ada yang salah? Terus gue harus gimana kalau gak boleh pegang-pegang?"
Singha memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ternyata pertemuan itu berlanjut sampai sekarang? Benar-benar kebetulan yang betul."
"Berisik Lo."
Iz tertawa. "Bawa dah pulang. Dia cuma butuh istirahat doang di rumah."
"Thanks."
"Iz, Lo yang bener aja itu anting dipake lagi kerja."
"Ciri khas. Gak bisa gue tinggal. Ini identitas gue sebagai dokter preman. Ha ha ha," ucapnya bangga.
"Perasaan tadi princess gue ada, ke mana dia sekarang?"
"Dibawa Rangga."
"Ya udah, gue cari dia deh. Lo mau balik? Gue bawa incess, ya. Mau gue ajak main."
"Jangan lama-lama, nanti mami marah."
"Iya. Kak, Lo mau bawa ke mana wanita ini? Nggak mungkin dibawa ke rumah kan?"
"Gila kali."
Izza tertawa.
"Apa kalian sodara?" tanya Rengganis yang sejak tadi memperhatikan.
"Ya, dia adikku."
"Pantas saja."
"Kenapa?"
"Good looking semua."
Singha menaikkan kedua alisnya. Dia menghampiri Rengganis. Kedua tangannya berada di kedua sisi tubuh Rengganis. Tubuh wanita itu terkunci.
Wajah mereka begitu dekat.
"Apa itu artinya aku tampan?"
Rengganis terdiam. Dia bahkan kesulitan untuk bernafas karena nafas Singha memenuhi rongga hidungnya.
Pria ini kenapa nafasnya begitu harum?
"Apa itu benar?"
"Semua orang pasti akan mengatakan iya."
"Aku tidak peduli dengan penilaian semua orang. Aku hanya butuh jawaban darimu. Apa aku tampan."
Rengganis terdiam.
"Katakan atau aku akan ...." Singha semakin mendekatkan wajahnya hingga bibirnya dan bibir Rengganis hanya berjarak dua saja.
__ADS_1
"Ya, iya ... Kamu tampan." Rengganis menarik kepalanya agar lebih menjauh dari Singha.