
"Kita ke mana?" tanya. Rengganis saat memasuki sebuah gedung.
"Studio."
"Foto?"
"Rekaman. Kebetulan bisnisku di dunia musik."
"Oooh," Rengganis mengangguk-angguk. Mereka berjalan melalui sebuah lorong dengan foto beberapa artis dan album dari sebuah grup band dan penyanyi terkenal.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu. Singha membukanya, dan mereka masuk.
"Wah, ada tamu rupanya. Halo, Rengganis." Kenan menyapa.
"Hai, ternyata kalian sedang ngumpul. Wah, Rangga ternyata bisa main gitar ya?"
"Itu cuma pencitraan," Athala menimpali.
Rangga hanya tertawa malu-malu.
"Kalian, tolong coba cek nada ini dong," ucap Reyhan.
"Kamu duduk di sini dulu, aku kerja sebentar."
Rengganis duduk di sofa sambil melihat sekeliling. Mereka berlima berbincang tentang sesuatu yang tidak Rengganis mengerti.
Perasaan mereka itu ada enam orang, satunya ke mana ya? Oh, iya, waktu di kebun pinus pun kayaknya kurang satu.
Rengganis mengambil ponselnya, ada chat masuk.
//Mba di mana? Kenapa kak Anggara pulang sendirian?//
Rengganis mematikan ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Mau minum?" tanya Singha mendekati Rengganis.
"Tidak perlu, terimakasih. Aku tidak haus."
"Mau makan?"
Rengganis menggelengkan kepala.
"Sebentar lagi kami selesai, nunggu gak apa-apa?"
"Santai aja, aku gak sedang buru-buru kok."
"Oke."
Singha kembali pada teman-temannya. Satu jam, dua jam, tiga jam hingga lima jam sudah Rengganis berada di studio itu. Lelah dengan semua masalah yang ada, Rengganis tertidur lelap.
"Singha, Lo kenapa selalu saja bertemu dengan perempuan itu? Kalian janjian?" tanya Rey.
"Janjian? Nomor ponselnya saja gue gak tau," jawabnya sambil membuka lembaran demi lembaran kertas musik yang ada di tangannya.
"Apa hanya kebetulan? Emmm klise sih, cuma takdir itu kan emang nyata." Athala ikut menimpali.
"Bro, dia istri orang."
Singha menoleh ke arah Kenan dengan tatapan matanya yang tajam.
"Ayolah, mana mungkin pemimpin kita ini suka sama istri orang. Lagian mereka baru tiga kali bertemu. Saling kenal aja enggak, emang iya bisa jatuh cinta segitu mudahnya?"
__ADS_1
"Ga, sekali lagi aku bilang jika takdir itu nyata."
"Masa iya Singha ditakdirkan untuk mencintai isteri orang. Kayak gak ada perempuan lain aja."
"Bahkan yang menikah dengan kita pun belum ditakdirkan sebagai jodoh."
Ucapan Singha membuat semua orang terdiam dan hanya bisa saling menatap.
"Contohnya orang tua gue. Mereka cerai, kalau menikah dengan orang lain. See? Mereka bahagia sekarang. Cuma gue yang menderita. Setidaknya perempuan itu belum punya anak, ya gak sih?"
Kenan menoyor kepala Reyhan.
"Baik bukan berarti cinta. Oke, semua udah selesai. Mari kita pulang."
"Tapi Singha, cewek Lo tidur. Gimana caranya Lo bawa dia balik? Ishhhh, gue kalau jadi suaminya pasti kesel. Tiap pulang selalu dianterin cowok yang sama," ujar Kenan.
"Kalian pulang lah dulu."
"Oke, kita akan pergi ke club'. Mau ikut? Sudah pasti enggak. Baiklah, tuan muda yang Soleh ini tidak akan mau diajak pergi ke tempat rame."
"Lagian Lo udah tau masih aja ngajak. Rey, Rey."
"Namanya juga usaha, Ken."
"Kita balik, Bro. Jagain itu istri orang baik-baik."
Setela merapikan semuanya, mereka pun pergi dan hanya tersisa Rengganis dan Singha.
Singha duduk di kursi yang berada di depan Rengganis. Menatap wajah lelap perempuan itu dengan seksama.
"Bagaimana caranya aku membangunkan dia? Tidak mungkin jika kamu harus menginap di sini."
Singha memutuskan untuk tetap menunggu Rengganis terbangun, namun seiring berjalannya waktu, Rengganis masih saja tidur.
Tidak ada cara lain selain menggendong Rengganis dan membawanya masuk ke dalam mobil, pikir Singha.
Namun, saat dia bersiap menggendong, dengan tangan sudah berada di posisi yang pas, Rengganis membuka matanya.
Baik Rengganis maupun Singha sama-sama terkejut. Mereka hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa.
"Kenapa gak dibangunin aja?"
"Iya, aku lupa." Singha nampak grogi.
Iya, ya. Kenapa gak dibangunin aja dulu? Kenapa langsung digendong?
Singha memejamkan matanya, menyadari kebodohan yang baru saja dia lakukan.
"aku antar kamu pulang."
"Kamu tau gak, barang kali ada apartemen atau rumah kos-kosan gitu?"
"Rupanya kamu sedang tidak ingin pulang."
"Ada?"
"Ikut aku."
Rengganis mengikut langkah Singha dari belakang. Saat keluar ruangan ada beberapa pegawai lain yang berpapasan dengan mereka.
"Waah, Pak. Itu artis baru kita?"
"Dia teman saya."
"Oh, kirain artis baru. Cantik padahal, jadiin artis saja."
"Saya ada urusan lain, boleh saya pergi?"
Orang itu langsung menghindar, dan memberikan jalan untuk Singha lewat.
Galak banget nih orang.
__ADS_1
Rengganis bergumam dalam hati. Tanpa banyak bicara dan Rengganis pun enggan untuk bertanya, mereka pergi ke suatu tempat.
"Ini apartemen yang disewakan itu? Tapi kayaknya bagus ya? Jangan yang mahal-mahal biaya sewanya. Aku cuma butuh waktu beberapa hari doang kok buat nenangin diri."
"Gratis."
"Hah? Masa?"
Singha tidak menjawab pertanyaan Rengganis. Mereka kembali berjalan menuju apartemen yang hendak ditempati Rengganis.
"Ini kuncinya."
"Oh, oke."
"Kamu bebas pakai apartemen ini sampai kapanpun."
"Ini punya kamu?"
"Hmm. Aku pulang dulu. Kalau butuh apa-apa hubungi saja pengelola."
"Boleh minta temenin tour dulu gak? Ya maksudnya mana saja yang boleh aku pakai, dan mana saja yang tidak boleh aku sentuh."
Singha mengambil kunci lalu membuka pintu apartemennya.
"Tidak terlalu besar, tapi kamu akan leluasa tinggal di sini."
"Ini sih gede banget buat ditempati satu orang. Berani gak ya aku tidur sendiri? Ada setannya gak?"
"Mau aku temani?"
Rengganis langsung menggelengkan kepala sambil berjalan cepat ke ruangan lain. Setelah puas melihat-lihat, Singha membuat minuman untuk mereka berdua.
"Ini."
"Terimakasih."
Mereka duduk di balok sambil minum teh. Pemasangan kota malam hari memang yang terbaik. Di tengah gelapnya malam, lampu-lampunya kelap kelip begitu indah mewarnai.
"Apa ada masalah lagi?" tanya Singha membuka pembicaraan.
"Hanya sedang merasa lelah."
"Kenapa begitu lelah? Apa kamu tidak punya waktu untuk istirahat? Bahkan matahari pun istirahat bergantikan malam."
"Kelemahan manusia adalah tidak bisa mengendalikan perasaan. Mungkin aku lelah karena itu."
"Bukan tidak bisa, hanya butuh usaha."
Rengganis menoleh.
"Aku kadang bertanya, setiap ada masalah atau sedang bersedih, kenapa kita selalu bertemu."
"Orang sakit biasanya pergi berobat. Mungkin aku adalah obat dari rasa sakitmu."
Rengganis tertawa. "Tapi memang aku akui, masalah meski tidak terselesaikan setidaknya berbicara dengan seseorang akan membuat beban pikiran kita sedikit berkurang."
"Kamu tau, tidak semua orang sakit langsung sembuh begitu minum obat. Semua butuh proses dan tentu saja harus bertemu dengan dokter yang tepat."
"Kamu benar. Tidak sedikit dokter yang salah mendiagnosa pasiennya."
Mereka kembali terdiam.
"Awalnya aku pikir sering berjalannya waktu hatinya akan luluh. Dia akan bisa menerimaku seutuhnya, tapi ternyata tidak. Aku keliru."
"Setidaknya kamu mencoba. Pada akhirnya kamu akan tau di mana posisimu dalam hidup dia."
"Ya, aku sadar. Aku tidak akan menang merebut hatinya."
"Saat hujan, jangan selalu berlindung dibawah payung. Toh kamu tetap saja akan basah di bagian tertentu. Sesekali nikmati hujan itu, lepaskan payungmu dan kamu akan menemukan kebahagiaan yang lainnya."
"Kita bukan sedang membicarakan hujan kan?"
__ADS_1
Singha tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Malam sudah sangat larut, namun Singha dan Rengganis masih asik dengan obrolan mereka.