Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Datang dan Pergi


__ADS_3

"Sepertinya 99,9 % Lebih meyakinkan daripada 100%," guyon Athala. Kenan hanya tersenyum bahagia mendengar ucapan sahabatnya.


"Selamat, ya, Bro. Akhirnya adik Lo ketemu. Siapa sangka, kita yang selama ini mencari ke seluruh penjuru bumi, dia malah datang sendiri."


"Namanya juga takdir, Rangga. Kadang kita terlalu jauh melihat ke depan, sampai yang dekat tidak kita pandang. Ternyata hidup itu benar-benar penuh misteri," ujar Reyhan.


"Gue dan keluarga gue sangat berterima kasih sama Lo, Rey. Kalau bukan karena bantuan Lo, mungkin sampai saat ini kita tidak akan pernah tau siapa Rengganis yang sebenarnya."


"Hadiah?" tanya Athala.


"Oh course. Ayo ikut gue ke bawah."


Semua orang sangat antusias dengan hadiah apa yang akan diberikan keluarga Kenan pada Reyhan.



"Waaaaw, CK CK CK." Athala mengelilingi motor itu sambil mengelusnya. Dia tidak hentinya berdecak kagum pada hadiah yang didapatkan Reyhan.


"Ini terlalu berlebihan, Ken."


"Setara dengan kembalinya adik gue, Rey. Jika saja Lo jawab pas bokap gue nanya mau apa, gue rasa Lo minta pesawat pun bakalan dikasih."


Reyhan tersenyum sambil memeluk Kenan.


"Gimana kabar nyokap Lo setelah Shakeera kembali? Gue harap ada kabar baik tentangnya."


"Nyokap sekarang sedang proses terapi. Lo tau sendiri, nyokap bukan sakit karena suatu penyakit sampe dia gak bisa ngapa-ngapain. Cuma yaaa ... karena lama gak digunakan, ibarat besi sih karatan kali ya. Jadi kaku semua. Cuma banyak perubahan, salah satunya bicara. Dia sudah banyak bicara sekarang."


"Gue ikut seneng dengernya."


Sementara Athala dan Izza sibuk melihat-lihat hadiah dari Nugraha untuk Reyhan. Mereka berdua tampak sangat senang dan bahagia untuk sahabatnya.


"Lo udah nemuin adiknya Athala?"


Kenan menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis.


"Gue masih bergembira dengan kembalinya shakeera. Untuk saat ini belum kepikiran untuk hal yang lain."


"Masih belum menyerah? Lo tau sendirilah sebenarnya dia itu berbeda dari kita."


"Gue tau dia sakit, dan gue bertekad untuk buat dia sembuh dan kembali seperti seharusnya."


Reyhan menepuk-nepuk punggung Kenan bangga.

__ADS_1


...***...


"Mau makan apa, Ma? Ini ada ikan, ada lobster, sayur bayam, ada rolade sama apa lagi ya ini."


"Apa saja, Nak."


"Oke. Aku ambil ikan aja ya sama sayur biar mama gampang ngunyahnya."


"Huuuu, dikira mama itu nenek-nenek apa." Kenan menoyor kepala Rengganis.


"Awww, tuh kan. Papaaaa, ahhhh. Kakak tuh jitak kepala aku." Rengganis merengek manja.


"Ih, fitnah. Enggak, Pa. Aku tadi gak jitak dia kok."


"Kalian udahlah, tiap pagi, sore, malam, selalu saja berantem. Kenan, jangan usil lagi sama adik kamu."


"Biarin aja, Pa. Kenan kehilangan masa-masa itu saat dia kecil. Jadi, gak apa-apa kalau dia iseng sama Shakeera."


"Mama ... Kok malah belain kakak, sih? Paaah." Rengganis mendekati Nugraha guna meminta perlindungan dan pembelaan.


"Cup cup, tenang sayang. Nanti papa blokir semua keuangan Kenan."


"Paaah ...." Kenan tidak terima.


Rumah yang dulu sepi karena hilangnya Rengganis, kini kembali hangat. Kebahagiaan yang selama ini tidak Rengganis dapatkan, telah dia nikmati. Kembali bersama orang tua dan kakak yang sangat mencintainya.


Saat malam tiba, mereka akan berkumpul sambil menonton film. Kenan yang akan bermanja pada Nhabira, sementara Rengganis yang tak lain adalah shakeera bermanja pada Nugraha. Seperti penawar atas apa yang selama ini menjadi luka dalam diri Rengganis. Mendapatkan ayah seperti Nugraha merupakan obat untuk inner child Rengganis yang rusak parah.


Seperti orang yang kehausan di padang pasir, Rengganis begitu meminta perhatian lebih pada Nugraha. Apa yang selama ini hanya bisa dia bayangkan, menjadi kenyataan.


Dulu, dia hanya bisa melihat anak lain yang minta jajan pada ayahnya, kini dia bisa meminta lebih dari hanya sekedar jajanan anak-anak yang melintas di depan rumahnya.


Jika dulu Rengganis hanya bisa melihat anak-anak lain pergi sekolah diantar ayahnya, sementara dia berangkat bahkan dengan sepatu yang sudah sobek, kini dia bisa pergi ke manapun dan dengan kendaraan apapun bersama Nugraha.


Tidak ada pukulan, tidak ada tendangan, dan tidak ada lagi caci maki. Rengganis kecil yang malang kini menjadi tuan putri dengan belasan pelayan yang siap melakukan apapun yang dia mau. Belaian kasih sayang Nugraha, ucapan halus Nhabira, dan perhatian Kenan, membuat dia hampir sembuh total dari trauma masa kecilnya.


"Ma, Pa. Ada yang harus kalian tahu tentang aku. Sebenarnya sudah beberapa hari ini ku mau jujur tapi takut." Tiba-tiba Rengganis berbicara di tengah keseruan mereka menonton film.


Kenan menoleh. Dia mengangkat dagunya tanda bertanya pada Rengganis.


"Aku ini janda."


Nhabira dan Nugraha saling menatap.

__ADS_1


"Dulu ...."


"Sayang." Nugraha menggenggam tangan putrinya. "Kita tidak perlu membahas masa lalu, ya. Bukan papa tidak peduli sama kamu, papa hanya ingin kamu fokus pada masa depan dan masa kini yang sedang kita lewati. Apapun kamu di masa lalu, tidak akan merubah perasaan kami."


"Takutnya nanti ada masalah, terus papa sama mama terkejut karena tidak tahu apa-apa."


"Kami tetap akan membela kamu, Sayang. Kami akan ada di pihak kamu, Nak."


Rengganis bukannya tidak tahu jika mereka akan selalu berpihak padanya apapun yang terjadi. Hanya saja Rengganis merasa takut dan kadang tidak sadar jika mereka adalah orang tua kandung yang akan menerima putri mereka dalam keadaan apapun. Mungkin karena Rengganis merasa trauma atas apa yang selama ini terjadi.


Masa lalu dia selalu menjadi penghalang atas hidupnya.


"Shakeera bahkan pernah diancam keluarga Budiono. Papa masih ingat kan apa alasan Kenan membawa dia ke rumah waktu itu?"


"Kamu pikir papa ini siapa? Lucu aja kalau papa yang bisa melakukan apa saja tidak bisa mencari tahu tentang putrinya. Papa tahu, Ken."


"Papa juga tahu tentang Singha?"


Nugraha mengangguk. Ekspresi wajah Rengganis tiba-tiba berubah. Dia merasa cemas jika Nugraha akan melarang hubungan mereka.


Kenapa aku harus takut papa marah? Toh Singha akan dijodohkan dengan wanita lain.


"Papa tidak akan melarang kamu melakukan apapun jika itu bisa membuat kamu bahagia, Sayang."


Ada rona kebahagiaan tersirat di wajah Rengganis.


"Tapi bukankah dia akan dijodohkan dengan wanita lain?"


Rona bahagia itu sirna.


"Sha ... Papa akan melakukan apapun untuk membuat kamu bahagia. Papa bisa saja menjadikan Singha suami kamu. Tapi apa kamu mau Singha dan ibunya bertengkar gara-gara kamu, Nak?"


Rengganis menggelengkan kepala.


"Jadikan bahagia kamu bahagia nya orang lain juga. Jangan sampai kita bahagia di atas derita orang, apalagi menjadi kehancuran untuk hubungan orang lain. Apalagi ini hubungan ibu dan anak. Jangan, sayang."


"Iya ... Pah."


Nugraha menghela nafas saat melihat mata putrinya mulai berkaca-kaca.


"Suatu saat, kamu pasti akan mendapatkan laki-laki baik, laki-laki yang bisa membuat kamu bahagia."


Tapi aku bahagia saat bersama Singha, Pah. Kenapa aku selalu saja kehilangan sesuatu untuk bisa mendapatkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2