Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Kejutan lain


__ADS_3

"Mau ke mana sekarang? Apa kamu punya tempat tinggal lagi?"


"Pertanyaan Lo ya, Kanan, gak berbobot. Kalau dia gak punya tempat tinggal, terus di mana dia hidup selama ini? berkelana?"


"Bukan, setidaknya dia harus punya tempat yang aman. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan keluarga Santika."


"Benar. Jika mereka marah dan ingin balas dendam sama lo, gimana? Kamu tinggal gue lagi aja, ya."


"Ya pasti ketahuan lah! Kakak kamu kan menantu mereka."


"Tapi kan kata orang tempat berbahaya itu adalah tempat teraman yang sebenarnya, Kak Athala."


"Semisal takut dimakan singa, kita berlindung di sangkar buaya, begitu?"


Amara terdiam.


"Tinggal bareng gue takutnya malah khilaf. Secara ... Gue kan cuma tinggal sendiri di apartemen," ujar Reyhan.


"Khilaf Lo tuh sengaja!" Athala menoyor kepala Reyhan.


"Di rumahku pun tidak mungkin karena aku dan Amara selalu terkait satu sama lain."


"Rumah gue aja," Kenan memberikan usul.


"Setuju!" mereka kompak.


Bagaimana tidak, Kenan adalah satu-satunya orang yang memiliki kekayaan dan pengaruh yang sama besarnya dengan keluarga Singha. Jika pun ada masalah, keluarga Singha akan berpikir panjang untuk terlibat masalah dengan Kenan.


"Terimakasih karena kalian peduli padaku, tapi sebaiknya aku sendiri saja mengurus hidupku. Aku tidak ingin melibatkan orang lain lagi dalam masalah ini."


"Terlanjur. Kita semua sudah menunjukkan langkah kepada siapa kami berpihak."


"Benar kata Kenan. Keluarga pak Budiono akan mengejar kami semua untuk menanyakan keberadaan kamu. Jika Kenan yang melindungi, kecil kemungkinan untuk mereka mengambil tindakan yang gegabah. Yah, setidaknya mereka tidak akan berani menyakiti Kenan."


"Rangga benar. Kamu putuskan sendiri. Ikut aku sementara atau ...."


Sebenarnya apa yang akan dilakukan keluarga Santika padaku nanti, aku tidak tahu dan rasanya aku begitu takut. Haruskah aku ikut Kenan? Apa ini jalan yang terbaik?


"Bagaimana?" tanya Kenan.


"Setidaknya sampai situasi tenang dulu, Mba. Setelah itu Lo bisa bebas pergi lagi. Gak akan diminta bayaran kan, Kak Kanan? semisal bayar air atau listrik," Amara memecahkan ketegangan yang terjadi.


"Ginjal Lo dijual semua pun gak akan sanggup bayar listrik dan air di rumah dia," ujar Athala.


Rengganis dan Amara tertawa.


"Tapi aku tidak ingin tinggal secara gratis di sana. Gimana kalau aku kerja saja. Jadi pembantu pun gak masalah."


"Buset, jadi pembantu. Neng, keluarga pak Budi mungkin tidak berani mencelakakan Kenan, tapi tidak dengan Singha. Hilangkan saja huruf H di nama dia. Itu! Dia akan jadi itu." Reyhan menjelaskan panjang lebar.


Kenan tertawa. "Reyhan benar. Kamu ikut saja dan bersikaplah seperti teman jauh yang sedang berkunjung. Jadilah tamu rumah kami, maka kamu akan diperlakukan seperti pemilik rumah di sana."


Rengganis semakin ragu dengan mengetahui seperti apa keluarga Kenan. Rasanya lebih menakutkan daripada keluarga Singha.


"Baiklah. Kita coba."

__ADS_1


Setelah mendapat hasil dari diskusi panjang itu, mereka membubarkan diri. Rengganis ikut bersama Kenan.


"Yang namanya tamu, kamu pasti harus membawa barang bukan? Ke mana kita harus ambil barang-barang kamu?"


Barang? pakaian dan yang lainnya ada di apartemen Singha. Apartemen itu hanya aku, Singha dan Izza yang tahu. Yang lain tidak boleh tahu sama sekali.


Rengganis menggelengkan kepala.


"Oke, kalau begitu kita beli saja. Kita butuh koper, tas berserta isinya."


Rengganis mengangkat kedua alisnya.



"Kenapa jadi banyak begini? Mana ini mahal semua."


"Kalau kamu membawa barang-barang murah, mana percaya mereka sama kamu kalau kamu itu temenku. Tenang saja, semua ini Singha yang bayar."


"Hah?"


Kenan tertawa.



Di rumah Anggara saja aku butuh waktu lama untuk mengetahui ruangan-ruangan yang ada. Bagaimana di sini?


"Ada apa? Ayo masuk, kamu tidak akan digigit." Kenan menarik tangan Rengganis. Mereka berjalan memasuki rumah yang begitu luas.



"Ada apa?" tanya Kenan.


Apanya yang ada apa? Aku merasa seperti sedang main film drama Korea.


"Mereka tidak akan mengigit kamu, Rengganis."


Cukup rasa terkejut ku dengan tiba-tiba mereka sigap mengambil koper dan tas-tas ku, sekarang aku hampir syok melihat mereka ada di depanku.


"Ayo." Kenan kembali menarik tangan Rengganis yang sejak tadi dia genggam.


"Perhatikan semuanya. Ini adalah Laura, temanku yang akan menginap di sini untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Jadi, kalian harus melayaninya dengan baik. Kalian faham?"


"Baik, Tuan." Mereka menjawab kompak.


"Ada apa, Kenan?"



"Pah."


Rengganis ikut menoleh saat Kenan menyebut papah pada seseorang yang baru saja memanggilnya.


Rengganis berbalik.


Untuk sesaat pria itu terdiam melihat Rengganis.

__ADS_1


"Emmm, Pah. Ini temanku. Dia Laura. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu."


Pria itu mengangguk pelan.


"Terimakasih, Pah." Kenan terlihat begitu senang. Pria itu pun pergi. Rengganis dan Kenan pun kembali berjalan. Entah apa yang membuat Rengganis kembali ingin menoleh, dan ternyata di saat yang bersamaan pun pria yang bernama Nugraha pun menoleh padanya.


Rengganis segera memalingkan wajahnya karena kepergok.


"Dia papa. Tampan bukan?"


"Eummm, meski sudah berumur tapi terlihat masih mempesona."


"Semoga kekaguman kamu itu tidak memiliki maksud lain."


"Ish!" Rengganis melepaskan pegangan tangannya.


Kenan tertawa, "Ya, ya, Singha jauh lebih mempesona bukan?"


"Sangat!"


Kenan mengusap kepala mengacak-acak kepala Rengganis hingga rambutnya berantakan.


Untuk sesaat Rengganis terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kenan. Namun saat dia melihat sekeliling, dia sadar banyak pelayan di sekitar mereka.


Mungkin Kenan hanya ingin menunjukkan bahwa kami memang akrab sebagai seorang teman. Pikir Rengganis.



"Kamu pakai kamar ini."


"Ini?"


"Kenapa? Tidak suka? baiklah, ayo kita pilih kamar lain."


"Tidak, jangan! Ini sudah sangat cukup," ucap Rengganis terbata-bata. Dia tidak ingin Kenan memberinya kamar yang jauh lebih besar dari kamar ini.


"Kamar ini masih satu area dengan kamarku. Jadi, jika perlu sesuatu kamu bisa menghubungiku dengan mudah."


Rengganis mengangguk.


"Sekarang kamu masuk, bereskan barang-barang, mandi lalu kita makan. Mereka berdua akan menunggu di depan pintu. Jaga-jaga siapa tau kamu perlu sesuatu, mereka siap membantu."


"Ba-baiklah."


"Sampai bertemu di meja makan." Kenan menepuk pundak Rengganis. Kenan pergi.


"Nona, kami akan membantumu merapikan pakaian dan barang-barang."


"Tidak perlu. kalian tunggu saja di sini, aku akan merapikannya sendiri." Rengganis segera masuk, lalu menutup pintu.


Huofttt!


Rengganis merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap langit-langit kamar yang sangat indah.


"Jika aku mengatakan nasibku buruk, itu memang benar. Tapi kenapa aku selalu beruntung seperti ini? Aku selalu berada di level lebih tinggi dari sebelumnya."

__ADS_1


Rengganis memejamkan mata, hingga dia terlelap.


__ADS_2