Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Dia datang


__ADS_3

"Mariaaa!" Oma berteriak begitu dia sampai di rumah.


"Oma, Izza pamit dulu ya. Ada kerjaan di rumah sakit."


Oma tidak memperdulikan Izza, dia pergi mencari menantunya.


"Ada apa, Bu?" tanya Maria menghampiri Oma.


"Ibu pergi hanya sebentar, dan kamu sudah berani melangkah tanpa berbicara dulu sama ibu?"


Maria mengerutkan kening tidak mengerti dengan apa yang dia katakan mertuanya.


"Kamu ... Kamu mau menjodohkan Singha dengan anak sahabat kamu? Siapa? Siapa gadis itu? Dengar baik-baik, Maria. Di dalam rumah ini tidak ada adat menjodohkan anak. Mereka bebas memilih dengan siapa mereka akan menikah selama dia gadis baik-baik. Kamu menjadi menantu ibu pun itu pilihan Yudistira sendiri."


"Tunggu ... Tunggu ... siapa yang bilang kalau Singha akan dijodohkan?"


"Izza."


"Izz? Dan ibu percaya?"


Oma terdiam sejenak. Hingga dia menyadari sesuatu.


"Izzaaaa! Mana anak itu? Bawa dia ke sini!"


...***...


"Berisik banget, sih, Lo." Singha menegur adiknya karena sedari tadi terus saja bersiul.


"Gue bahagia banget hari ini karena berhasil menjahili Oma. CK CK CK. Wanita, sepintar apapun dia kalau sudah mengenai urusan hati, akan terkecoh juga."


"Maksud Lo? Oma jatuh cinta."


"Gila aja. Ya kali Oma jatuh cinta, ngaco Lo, Kak."


Ponsel Singha berdering.


"Apa, Mih? Singha ada di galeri. Kenapa emangnya?"


"Adek kamu ada di sana enggak?"


"Ada."


"Suruh dia pulang sekarang. Awas aja itu anak, dia berani mengadu domba mami sama Oma."


"Maksudnya?"


"Udah, kamu suruh saja dia pulang, atau mobil baru dia mami jual lagi. Titik!"


Singha menjauhkan ponselnya dari telinga. Sakit, itulah yang dirasakan Singha saat ibunya berteriak.


Izza tertawa.


"Lo ngadu apaan emangnya?"

__ADS_1


"Gue bilang kalau kakak mau dijodohkan sama mami. Makanya Oma mau pulang. Dia gak mau Lo dijodohkan sama perempuan lain."


"Perempuan lain?"


"Iya, karena Oma sudah punya calon sendiri buat, Lo."


"Apa bedanya Mami sama Oma kalau gitu."


"Ada. Kalau mami cuma gue yang ngarang, kalau Oma beneran."


Singha mulai menatap Izza dengan tatapan serius.


"Gini, Kak. Oma itu kemarin pergi bukan buat pekerjaan. Dia menemui calon istri Lo. Dia butuh waktu beberapa bulan buat mastiin apakah perempuan itu layak buat Lo ... atau enggak. Dan sepertinya wanita itu kayak. Buktinya Oma marah saat tahu mami akan menjodohkan Lo dengan cewek lain."


Emosi Singha mulai naik.


"Gue sih cuma mau ngasih saran sama Lo, jangan tolak permintaan Oma karena itu buat kebaikan Lo juga. Percaya sama gue."


"Cih! Tradisi apa? Ujung-ujungnya gue tetap dijodohkan."


"Itu karena Lo gak segera nyari calon sendiri. Mau jomblo seumur hidup, Lo?"


"Lo tau sendiri alasan gue bukan?"


"Tau banget. Tapi gue jamin Lo akan menyesal jika menolak permintaan Oma. Mau taruhan?"


"Taruhan apa?"


"Menurut gue, Lo pasti gak akan menolak perjodohan ini."


"Kalau gue memang?"


"Tidak akan pernah. Gak usah terlalu percaya diri. Nyesel nanti Lo."


"Terlepas siapa yang menang atau kalah, tetep saj harus dibicarakan dari awal apa reward nya untuk yang menang."


"Black card gue buat Lo."


"Yakin?"


Singha menatap adiknya. Tanda dia tidak suka jika diragukan seperti itu.


Izza mengangguk senang. "Gue balik dulu. Bodo amat mami marah kek gimana juga, yang penting gue dapet black card."


Singha menggelengkan kepala.


...***...


"Neng, udah atuh jangan sedih lagi. Mungkin saja nenek itu pulang ke rumahnya."


"Iya, kalau dia pulang. Kalau nyasar lagi?"


"Kita doain aja supaya dia gak nyasar."

__ADS_1


"Bukan hanya takut dia nyasar, Bu. Aku sudah sangat senang dia ada di sini. Biasanya setiap malam aku sendirian, semenjak ada nenek, rasanya bahagia. Ada teman untuk diajak makan."


"Itu nenek-nenek kenapa bisa gak keliatan perginya, ya. Gak ada orang yang melihat sama sekali apa gimana sih?"


"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa sama dia."


Setiap malam, setelah Oma pergi dari rumah nya Rengganis lebih sering menangis dari sebelumnya. Dia merasakan kehangatan hanya sekejap, lalu kembali hilang.


Rasa kesepian yang mendera membuat dia merasa sengsara. Dia sadar, kini dia benar-benar sendiri. Tidak ada teman bahkan hanya sekedar diajak makan.


Aktifitas yang hanya itu-itu saja akan terasa lebih membosankan karena tidak adanya orang yang menemani.


Kebersamaannya setiap malam di depan tungku, menghangatkan badan sambil bertukar pikiran sangat Rengganis rindukan.


Kini, dia tidak dapat merasakan hal itu lagi. Rengganis kembali duduk sendiri di teras sambil melihat pematangan sawah yang gelap.


"Kenyamanan ini sangat tidak membahagiakan karena aku sendiri di sini."


Ibu, aku harus bagaimana sekarang?


Rengganis mengambil ponsel. Dia mencoba menyalakannya kembali setelah sangat lama tidak pernah dia aktifkan.


Semua nomor kontak yang ada di ponselnya dia blokir agar tidak ada yang bisa menghubunginya.


Rengganis terus menatap layar ponsel itu. Meski ragu, Rengganis membuka daftar kontak yang dia blokir, tidak banyak hanya beberapa orang saja karena memang hanya mereka itu teman yang dia punya.


"Jangan, lebih baik aku ganti nomor saja. Jangan menghubungi siapapun lewat nomor aku."


Rengganis kembali memasukkan ponselnya, lalu dia matikan.


Keesokan harinya saat dia mengantar ikan, Rengganis mampir untuk membeli kartu baru. Setelah melakukan registrasi, nomor Rengganis yang baru pun sudah aktif.


Dia mengirimkan lokasi di mana dia berada saat ini pada seseorang. Rengganis memutuskan untuk kembali ke kota. Orang-orang di sana pasti masih mau menerima kehadirannya. Tidak untuk tinggal, hanya sekedar berkunjung.


Rengganis membersihkan dirinya, memasak, lalu ke kebun untuk memetik beberapa sayuran yang akan dia masak esok hari.


"Neng, tomatnya udah banyak yang matang belum? Ibu minta ya mau masak sambal."


"Ambil aja, Bu."


"Oh, iya. Ibu tadi habis masak ayam kampung. Riweuh ngasih makannya kalau kebanyakan ayam. Jadi dimakan saja lah sama kita. Nanti ibu bawakan ke sini."


"Iya, Bu."


Emi pergi setelah memetik tomat dan cabai rawit.


Rengganis kembali melakukan aktifitas sebelumnya. Memilih sayuran yang sekiranya sudah siap dipetik.


"Apa tomat merahnya masih ada?" Seseorang di belakangnya bertanya.


Rengganis tersenyum sambil memejamkan mata karena merasa bahagia. Kedua bibirnya dia tarik ke dalam.


Rengganis membalikan badan, seraya tersenyum pada pemilik suara tersebut.

__ADS_1


"Aku sudah tau kamu pasti akan segera ke sini ... Singha."


__ADS_2