
"Kak, makan lah dulu."
Anggara tidak melakukan apa-apa selain diam di kamar. Menutup diri dengan selimut.
"Kenapa dilepas jika akhirnya kakak sendiri yang tersiksa."
Amara meletakkan kembali piring makanan nya di atas meja.
"Tidak ada cara lain selain menemui wanita itu. Gue harus membawa dia ke sini agar kak Anggara mau makan dan melanjutkan hidupnya."
Amara pergi ke kamarnya.
"Halo, sayang. Yang kamu bisa bantuin aku nggak?"
"Bantu apa?"
"Anterin aku menemui Santika."
"Santika? Buat apa? Bukannya kamu benci sama dia? Jangan-jangan kamu mau ngajak dia berantem?"
"Buruk sangka itu namanya. Aku mau minta dia supaya mau ke rumah."
"Aku gak salah denger?"
"Kak Anggara gak mau makan. Aku takut dia sakit, makanya mau minta Santika bujukin supaya kakak mau makan dan mau gerak."
"Oh, oke. Nanti sore ya, aku ada kerjaan dulu. Gak apa-apa kan?"
"Kelamaan dong. Masa kak Anggara harus nunggu sampe sore biar dia mau makan?" Amara merengek.
"Cuma ke rumah Santika kan? Aku minta Izza aja ya. Dia kan sodaranya. Nanti biar dia yang jemput kamu."
"Masa aku jalan sama cowok lain, sih? Gak mau ah."
"Oke, oke. Kamu ke kantor aku aja dulu, ya. Nanti kita ke sana bareng. Kan lumayan waktu dari sini ke rumah kamu juga lama, aku bisa ngerjain sesuatu di waktu itu. Gimana?"
"Ya udah, iya. Aku ke sana."
"Yank, bawain aku makan ya. He he he."
"Ihhh, modus kamu ya. Bilang aja mau dibawakan makan."
"Latihan, sayang ...."
Amara tersenyum malu-malu.
Setelah masak dibantu chef Rana, Amara kembali ke kamarnya untuk mandi agar tubuhnya tidak bau bawang dan bumbu dapur lainnya.
__ADS_1
"Masakan kamu enak ya. Nanti setelah menikah, kamu bawain aku makan siang tiap hari ya."
"Terus, kerjaan aku gimana?"
"Kamu gak perlu kerja, biar aku yang memenuhi semua kebutuhan kamu. Kamu itu hanya harus mengurus aku dan anak-anak kita nanti."
"Aku juga pengen kerja, bukan buat nyari uang tapi ya buat ... Emmm, aku emang pengen aja kerja."
"Kerja tapi di rumah. Kamu itu pintar bikin ini itu, pintar buat kue dan cake, online aja."
"Gitu ya, aku gak kepikiran sih."
"Intinya aku cuma pengen pas pulang kerja ada kamu yang selalu menyambut aku depan pintu. Cantik, wangi, dan seksi."
Amara menyenggol pinggang Rangga. Mereka tertawa.
Selama perjalan, Amara dan Rangga sibuk merangkai masa depan yang akan mereka jalani nanti. Menghayal apa yang akan mereka lakukan setelah menikah. Merencanakan akan menjadi apa anak mereka kelak.
Hingga mobil sampai di depan gerbang rumah. Gerbang itu terbuka.
"Ini rumah Santika?"
"Iya. Ayo kita turun." Rangga membukakan pintu untuk kekasihnya. Lalu menggenggam erat tangan Amara dan berjalan menuju rumah yang dituju.
Sesampainya di dalam, mereka disambut pelayan yang memang sudah mengenal Rangga.
"Bi, Santika nya ada? Tolong panggil ya."
Santika terkejut melihat siapa yang datang bersama Rangga. Wajahnya sumringah, lalu berjalan cepat menuruni tangga.
"Hati-hati, itu ada bayi di perut Lo."
"Upsss." Santika menutup mulutnya. Lalu Dia berjalan perlahan.
"Hai." Santika menyapa Amara dengan sopan.
Amara membalas sapaannya dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum ramah.
"Halo tante," Santika mengelus perutnya seolah menunjukkan pada janinnya tentang kedatangan Amara.
"Maaf, aku datang tanpa memberitahu sebelumnya."
"Nggak apa-apa rumah ini terbuka buat kamu kapan pun jam berapa pun pokoknya 24 jam deh."
Amara sangat terkejut melihat reaksi yang ditunjukkan Santika saat dia datang ke rumahnya. Awalnya Dia mengira Santika akan marah atau menunjukkan rasa tidak suka karena selama ini Amara begitu membencinya.
__ADS_1
"Ayo silakan dulu. Mau minum apa?"
"Tidak perlu. Aku datang ke sini ingin membicarakan sesuatu."
"He-em, tentang apa itu?"
"Kakak."
"Anggara? Iya, kenapa memangnya?"
"Kak Anggara ada menghubungi gak?"
"Komunikasi kami lancar sih, cuma ya agak sedikit jarang. Tapi setiap hari pasti ada kasih kabar. Kenapa memangnya?"
"Mba Rengganis sudah keluar dari rumah. Mereka sedang mengajukan proses perceraian tapi sepertinya tidak akan berjalan lama."
"Jadi aku harus bahagia atau gimana ya, bingung."
"Masalahnya ada pada kak Anggara. Semenjak mba Rengganis keluar dari rumah, dia tidak mau makan dan hanya diam di dalam kamar."
Santika tertawa terbahak-bahak jelas aja itu membuat Rangga dan Amara terheran-heran.
"Kok tertawa?"
"Dia memang sedang gak enak badan. Tapi kayaknya masih makan sih. Tadi barusan dia video call sambil makan."
Amara dan Rangga saling menatap.
"Udah, dia gak akan sesedih itu ditinggal Rengganis. Maaf ya, Amara. Tapi kakak kamu itu cinta nya cuma sama aku. Emmm, oke lah untuk sesaat dia mungkin goyah karena setiap hari bersama Rengganis, tapi hatinya hanya milikku. Kalau takut dia kenapa-kenapa bukan? Kamu tenang saja, dia baik-baik saja kok. Jangan cemas, ya."
Amara semakin heran dengan apa yang dikatakan Santika sungguh berbeda dengan apa yang dia lihat di rumah.
"Mendengar ucapan kamu, aku merasa lega. Syukurlah kalau memang kak Anggara baik-baik saja. Mungkin aku yang terlalu ketakutan."
"Wajar, kamu kan adiknya. Aku senang kamu ke sini buat membahas Anggara, itu artinya kamu mengakui saya ada di hidup Anggara."
"Ya?"
"Kamu mau minum apa? Ini belum aku sediain minuman apa-apa."
"Tidak perlu. Aku akan segera pulang ,kok."
"Buru-buru banget. Main aja dulu di sini."
"Aku harus pergi karena Rangga masih ada kerjaan. Iya kan, Sayang?"
"Oh, iya. Heem. Aku ada kerjaan yang belum selesai." Rangga gelagapan.
__ADS_1
"Oke, kalau gitu. Lain kali main lagi ya, Ra."
Amara mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah itu.